Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Saturday, 25 March 2017

PERSAMAAN BAHASA DENGAN GENDER DALAM KOMUNIKASI

BAHASA DAN GENDER
Tiga puluh tahub lalu, sebuah karya besar telah dihasilkan dalam komunikasi dan gender. Dalam bagian ini, kita mengkaji teori-teori yang berhubungan dengan gender sampai tradisi social budaya. Semua teori ini terkait dengan bagaimana gender memengaruhi bahasa dan sebaliknya membangun sebuah dunia social khusus. Teori pertama yang kami uji adalah Cheris Kramarae.

Bahasa layaknya Gender. Seperti Burke, Cheris Kramarae meyakini bahwa fitur utama dari dunia adalah sifat linguistiknya serta kata-kata dan sintaksis dalam struktur pesan dari pemikiran seseorang serta interaksi yang mempunyai pengaruh besar pada bagaimana kita mengarungi dunia. Implikasi yang timbul dari bahasa adalah perhatian utama Kramarae, sebagaimana penelusurannya pada bagaimana cara pesan memperlakukan wanita dan pria secara berbeda. Pengalaman seseorang tidka mungkin lepas dari pengaruh bahasa. Bahkan, kategori laki-laki dan wanita adalah hasil dari pembentukan secara linguistic. Dengan kata lain, kita “ dididik untuk melihat dua jenis kelamin. kemudian, kita melakukan banyak kegiatan untuk terus melihat hanya dua jenis kelamin ini.”

Kramarae tidak hanya mencatat kepentingan bahasa dalam penafsirannya; ia juga mengarahkan pada dimensi kekuasaan. System bahasa memiliki hubungan kekuasaan yang ditambahkan didalamnya dan mereka yang menjadi bagian dari system linguistic yang dominan, cenderung memiliki persepsi mereka sendiri, mengalami, dan mode ekspresi yang menyatu dalam bahasa. Pada kasusnya bahasa inggris, kramarea yakin bahwa ini adalah “ bahasa buatan laki-laki “ dan demikian menanamkan sudut pandang maskulin daripada feminism. Persepsi laki-laki kulit putih kelas menengah, secara khusus, nyatanya dinormalkan secara standar dalam linguistic. Laki-laki adalah standar, dalam hal pekerjaan, dan wanita adalah kategori yang menyimpang dari kebiasaan : waiter dan waitress, actor dan actress. Mr., sebagai sebuah gelar panggilan tidak berisi informasi tentang status perkawiinan, sedangkan istilah miss dan mrs., jelas memberikan informasi yang lebih berguna bagi laki-laki dibandingkan bagi wanita. Bukan hanya bahasa itu sendiri, tetapi juga instrument dari bahasa kamus menonjolkan sudut pandang laki-laki kulit putih, seperti halnya struktur dan institusi masyarakat yang didapat dari bahasa, seperti lembaga pendidikan, teknologi, dan sebagainya.

Ide bahwa penyusunan kekuasaan social sebagian besar ditanam dalam bahasa yang juga berarti bahwa bahasa dan dunia sering meredam wanita dengan berbagai cara.pada point yang kedua, kramarae menyatukan karya antropolog Edwin Ardener dan Shirley Ardener dalam teori kelompok terendam ( muted-group theory ). Edwin Ardener mengamati bahwa antropolog cenderung menggolongkan sebuah budaya dalam istilah maskulin, menyarankan bahwa etnografi itu semu pada pengamatan laki-laki dalam sebuah kebudayaan. Selain itu, pada pengujian yang lebih deket, Ardener memandang bahwa bahasa asli dari sebuah kebudayaan memiliki unsure bias yang melekat pada pria, bahwa pria menciptakan pemaknaan terhadap suatu kelompok dan bahwa suara feminin ditekan atau “ dihilangkan.” Penghilangan wanita dalam penelitian Ardener, membawa ketidakberdayaan wanita untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dalam gaya bahasa pria.

Shirley Ardener menambahkan dengan menyarankan bahwa pembungkaman wanita memiliki beberapa menifestasi dan bukti pada wacana public. Wanita kurang dapat merasa nyaman dan kurang ekspresif dimuka umum daripada pria serta mereka kurang bisa nyaman di muka umum daripada dalam situasi lebih pribadi. Sebagai akibatnya, wanita mengawasi komunikasi mereka sendiri lebih intensif daripada yang pria lakukan. Wanita memperhatikan apa yang mereka katakana serta menerjemahkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan kedalam istilah pria. Ketika pemaknaan maskulin dan feminine serta pertanyaan konflik, maskulin cenderung menang karena dominasi laki-laki di masyarakat. Hasilnya adalah wanita dihilangkan.

Kramarae memperluaskan karya Ardener dengan cara menyatukan dengan hasil penelitian pada wanita dan komunikasi. Kramarae memberikan perhatian khusus pada cara wanita menerjemahkan persepsi mereka sendiri kedalam dunia sudut pandang pria dalam rangka untuk ikut andil dalam kehidupan public. Bagi seseorang, wanita terkadang kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka sendiri daripada pria. Pengalaman wanita biasa adalah tidak dapat berkata-kata terhadap pengalaman yang digolongkan sebagai feminin, nampaknya karena pria tidak membagi perasaannya tidak mengembangkan kaidah untuk feminin. Akan tetapi disaat yang sama, memahami pemaknaan pria lebih mudah daripada pria yang memahami wanita karena mereka harus mengetahui kebiasaan system yang dominan.

Dari sumbernya….
Tidak ada yang sederhana tentang pembungkaman. Bukan selalu masalah yang harus “ dipecahkan.” Ada keheningan Dalam meditasi; melepaskan diri dari kehidupan bising urban; menghargai diri kita sendiri dan orang lain; rasa kebersamaan dengan orang lain; beristirahat dari paksaan untuk berbicara. Keheningan dapat juga menjadi sebuah perlindungan, yang tidak harus dibicarakan dengan mengharapkan kebaikan orang lain.

-Cheris Kramarae
Lebih jauh, Kramarae mencatat bahwa karena mereka secara verbal bisu, wanita lebih bergantung pada ekspresi non-verbal dan menggunakan bentuk non-verbal yang berbeda daripada laki-laki. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, sebagai contoh, ekspresi wajah, penghilangan vocal, dan gerak tubuh lebih penting dalam pembahasan wanita daripada pria. Wanita juga nampaknya menunjukkan sebuah ekspresi keragaman dalam percakapan mereka. Sebagai akibat dari menjadi bungkam, wanita merespons dalam berbagai cara. Salah satu responsnya adalah wanita menciptakan ekspresi mereka sendiri diluar dominasi system pria. Kesadaran yang meningkat dari suatu kelompok dan bentuk lain dari “ jadwal gadis keluar malam “ memberi ruang dan waktu bagi wanita untuk menghabiskan waktu dengan wanita lainnya yang dibuat oleh mereka sendiri.

Penciptaan bentuk ekspresi alternatif adalah khas bagi semua populasi yang dibungkam. Selama zaman Rel Kereta Bawah Tanah, selimut kapas banyak tergantung di langsiran kereta api untuk “ mengeluarkan udara “ selama sehari; Pada kenyataannya, mereka mengisyaratkan kepada pelarian budak bahwa ini adalah rumah persembunyian. Bahkan, pola dari selimut kapas sendiri member petunjuk untuk budak tersebut. Ketika pola monyet memegang kunci inggris ditunjukkan, berarti para budak harus segera mengemasi barang yang dibutuhkan selama di perjalanan; ketika pola katak terguling muncul, berarti waktunya untuk pergi; dan pola selimut kapas “ Dresden “ mengidikasikan bahwa budak harus menuju ke Dresden, kanada. Akan tetapi, karena selimut kapas dipandang tidak signifikan oleh budaya dominan, mereka dapat berfungsi sebagai bentuk sebuah pesan khas yang bahkan tidak dapat “ dipahami “ oleh penangkapan budak.

Sebagai contoh kontemporer, Foss and Foss mewawancarai sejumlah wanita dan menguji bentuk komunikasi mereka. Buku mereka, women speak : the eloquence of women’s lives, meragukan sejumlah asumsi tentang apa yang mendasari komunikasi yang mengesankan, menunjukkan bahwa banyak bentuk komunikasi yang digunakan wanita bernilai dalam kewenangan mereka sendiri, walaupun dianggap tidak signifikan dalam public dunia maskulin. Buku tersebut membuat karya ini lebih dikenal public dalam usahanya untuk memberikan suara pada wanita yang secara normal dihilangkan dari masyarakat.

Kramarae adalah seorang penyokong yang kuat agar wanita memiliki kendali pada dunianya sendiri dengan membuat bentuk komunikasi yang lebih nyaman dan ramah untuk mereka. Ia ingin melihat wanita membuat dunia yang aman untuk kebebasan dan penggalian ide-ide kritis. Hal ini dapat terjadi ketika manusia mengolah semua bentuk penekanan, termasuk bentuk bahasa arogan. Ia ingin melihat sebuah dunia yang saling berkaitan daripada pemisahan dan sebuah dunia yang menghargai daripada yang menolak perbedaan. Ia ingin sebuah dunia di mana informasi dengan bebasnya dpat masuk bagi semua orang.

Bagi Kramarae, untuk menyadari dunia semacam ini berarti mengambil ahli bahasa dan emansipasi dari dominasi patriarki. Menganalisis dan memahami terkadang sulit dipisahkan dari pola dominasi linguistic adalah satu cara untuk mencapai tujuan ini. Kedua, sangatlah penting untuk mempelajari komunikasi wanita dan komunikasi kelompok lain yang terpinggirkan untuk lebih belajar mengenai bentuk komunikasi alternatif. Akhirnya, bentuk baru pasti terbentuk dan digunakan.

Kramarae sendiri, bersama dengan koleganya Paul Treichler and Ann Russo, telah menulis sebuah feminist dictionary yang didalamnya terdapat penciptaan makna baru dan membantu membangun dunia peran wanita yang lebih besar. Karya ini berusaha untuk menangkap fitur-fitur dari sebuah wacana dunia feminis dengan menyertakan kata-kata yang memiliki arti khusus untuk wanita sebagaimana definisi yang terkandung, tidak dengan pria, tetapi dengan perasaan wanita. Sebagai tambahan , kamus tersebut mencakup berbagai kata dan sering berlawanan dengan definisi dari sebuah kata, menyarankan bahwa sebuah kata mungkin berbeda arti dalam konteks, waktu, dan individu yang berbeda. Sebagai contoh, nama lahir ( birth name ) adalah “ sebuah istilah yang digunakan oleh feminis sebagai sebuah label yang lebih akurat untuk nama yang diterima saat lahir dari istilah sebelumnya, nama gadis ( maiden name ) yang memiliki standar implikasi seksual ganda.” Hysterical adalah “ sebuah opsi peran alternatif untuk wanita era Victoria kelas menengah yang dihadapkan dengan konflik pengharapan ( menjadi seorang “ lady “, untuk mengurus rumah, untuk menekan angka kelahiran anak ).” Home adalah “ barak yang nyaman,” “ dimana revolusi dimulai,” serta “ lokasi bekerja dan rekreasi untuk wanita dengan anak kecil.”

Karya bahasa dan kekuasaan menggambarkan sebuah cara bagi karya akademisi feminis untuk meningkatkan kesadaran tentang hubungan kekuasaan dan menyarankan strategi untuk meningkatkan kekuataan dari wanita. Selain itu, jenis karya lain yang terkadang berbeda, yaitu sejenis karya feminis yang melibatkan pengenalan terhadap bentuk strategis dari komunikasi yang sifatnya lebih feminin daripada semua yang sudah ada pada bahasa. Kita sekarang berahli ke teori sejenis ini.

Gaya Femini. Teory gaya femini di anjurkan pertama kali oleh Karlyn Kohrs dan di teliti oleh Bonnie J. Dowdan Mari Boor Toon, meneliti usah-usaha Kramarae ubtuk memahami aspek gender pada bahasa. Inti teorynya adaah bahwa gaya femini berasall daru apa yang telah terhubung pada apa yang telah disebut oleh Acambell “craft learning” dalam hal ini Campbell tidak hanya memaknai keahlian secara harfiah yang secara tradisional berhubung dengan ibu rumah tangga dan dunia ibu (peranan feminine) seperti halnya menjahit, menyulam memasak dan mengurus tanaman, tapi juga keahlian secara emosional, seperti pemeliharaan, empati, dan alasan yang konkret.

Campbell menyatakan bahwa selain gaya ini tidaj membatasu wanita, baik sebagai penbicara atau anggota pendenga, munculnya perasaan yang jauh dari rumah dan keudian menghasilkan jenis pesan: “wacana tersebut kedengaranya pribadi (keahlian di pelajari langsung dari mentor), sangat bergantung pada pengalaman pribadi, anekdot, dan contoh lainya. Halini cenderung akan menjadi sruktur (keahlian di pelajari sedikit demi sedikit, contoh demi contohm yang muncul penyamarataan) hal ini mengundang partisipasa pendengar aakan di sebut sebagai kerabat, dengan pengenalan perasaan berdasarkan pepngalaman”. Salah satu strategi dimana orator wanita menggunakan gaya ini untuk Nampak lebih “seperti wanita”di muka umum dan wanita terus mensesialisasikan untuk berkomuikasii dengan cara yang sesuai dengan kpribadian wanita secara tradisional.

Bonnie J. Dow dan Mari boor Toon memperluas karya gaya feminine mereka, menyisakan sebuah strategi yang efektif dimana pembicara wanita kenteporer bias mendapatkan akses kepada system politik; mereka menggunakan pidato mantan gubernur Texas, Ann Richard, untuk memperliharkan keadaan gaya feminine dalam alur wacana politik dan untuk memperlihatkan bagai manna gaya ini berfungsi sebagai sebuah strategi penguasa pendengaran. Mereka menemukan bahwa Richard berdasarkan pengalamannya mengutuip dari surat pemilih, sebagai contohnya, untuk mengistimewakan alas an konkret dari alas an abstrak. Iya juga menggunakan nada pidato pribadi serta kaidah kasih sayang. Pertalian dan hubungan untuk menguasai pendengaranya supaya mempercayai persepsi dan penelitan mereka sendiri. Di saat yang sama, cara dia menyampaikan maksudnya dengan humor, kisah pribadi dan anekdot membuat wacana lebih dapat di terima pendengaran yang tidak pernah di gunakan pada seorang wanita dalam dunia politik. Dow dan Toon mengajukan bahwa gaya feminine Richard terjadi di balik “adaptasi terhadap rintangan yang diteranngkan oleh patriarkis untuk menawarkan alternative terhadap mode pemikiran dan patriarkis.” Mereka menai pandangan alternative ini sebuah ruang penolakan feminis publick (feminis counter-publick sphere)”.

Jane Blankenship dan Deborah Robson menguji wacana kebijakan wanita di muka umum antara tahun 1991 dan 1994 untuk menentukan apakah sebuah gaya feminine dapat di akui kebenaranya dalam wacana politik kontemporer. Mereka menyipukln bahwa pada kenyataannya memang ada dan di golongkan kepada 5 hal yan paling meninjol: 1. Pengalaman konkret sebagai dasar penilaian politik; 2. Cakupan dan hubungan; 3. Kantor public yang terkonsep seperti sebuah tempat “penyelesaian” dan menguasai orang lain; 4. Pendekatan suci kepada bentuk kebjakan; dan 5. Membawa legislasi wanita ke depan umum. Apa yang tersisa, menurut blankship dan Robson adalah apakah gaya feminin membuat atau mencerminkan sebuah perbedaan dalam proses atau hasil dari kebijakan public.

Dengan tradisi sosiokultural, kita bergerak dalam elemen-elemen pesan terhadap keterkaitan yang lebih besar mengenai cara pesan menciptakan hubungan antar individu dalam kelompok budaya masyarakat. Sebagai mana kita bergerak ke tradisi sosiopsikologis anda akan melihat perubahan dari pesan itu sendiri terhadap proses pesikologis yang terlibat dalam produksi dan penerimaan semua pesan tersebut.

TEORI AKSI BERBICARA

TRADISI SOSIOKULTURAL
Tradisi semiotika dalam teori komunikasi sangat membantu untuk menunjukkan susunan komponen dan pengaturan dari sebuah pesan, tetapi komunikasi adalah sebuah hal yang besar, lebih dari struktur dari sebuah pesan. Penting juga untuk mempertanyakan apa yang kita lakukan dengan kata-kata dan kode-kode non-verbal. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita sekarang bergerak ke tradisi social budaya. Tradisi ini menjauhkan kita dari perbedaan individu dan pengolahan kesadaran terhadap hubungan social, kelompok dan makna yang dihasilkan melalui interaksi. Disini, kita akan melihat teori aksi berbicara ( speech act ), identifikasi, dan bahasa, dan gender.

TEORI AKSI BERBICARA
Jika anda membuat sebuah janji, maka anda menyampaikan sebuah niat tentang sesuatu yang anda lakukan di masa depan dan mengharapkan pelaku komunikasi lain sadar terhadap apa yang anda katakana dan niat anda, “ anda berasumsi orang lain tahu makna dari kata-kata anda. Mengetahui kata-kata tidaklah cukup. Mengetahui niat anda untuk menyelesaikannya dengan menggunakan kata-kata adalah vital. Teori kemampuan berbicara yang kebanyakan dihubungkan dengan john Searle dirancang untuk membantu kita memahami bagaimana manusia menyempurnakan hal dengan kata-katanya.

Kapan pun anda membuat pernyataan seperti, “ saya akan membalas anda,” anda menyelesaikan beberapa hal. Pertama, anda menghasilkan sebuah wacana. Hal ini disebut dengan aksi terungkap ( utterance act ), sebuah penyebutan kata-kata dalam kalimat dengan sederhana. Kedua, anda sedang menegaskan sesuatu tentang dunia atau melakukan sebuah aksi usulan ( propositional act ). Dengan kata lain, anda mengatakan sesuatu, baik anda menyakininya sebagai kebenaran maupun anda mencoba supaya orang lain memercayainya. Ketiga, dan yang paling penting dari perspektif aksi berbicara, anda memenuhi sebuah niat yang disebut sebuah aksi berkehendak ( illocutionary act ). Aksi berkehendak menjadi inti dari teori ini yang akan dibahas lebih mendalam paada bab ini. Akan tetapi, sebelum kita melakukannya, mari kita lihat empat kemungkinan pemenuhan dari sebuah pesan. Ini adalah aksi mempengaruhi ( perlocutionary act ) yang dirancang supaya berpengaruh pada perilaku orang lain.

Misalnya, teman anda mengirim e-mail ­kepada anda dan berkata, “ saya ingin keluar malam ini.” Kalimat bahasa inggris teman anda adalah sebuah aksi terungkap, biasa saja atau problematic. Kedua, ia menunjukkan usulan atau kebenaran pernyataan yang bermakna sesuatu tentang apa yang dia ingin lakukan, tetapi pada kasus ini sangat susah untuk mengatakannya karena itu sudah sangat jelas. Ketiga, pesan teman anda adalah sebuah aksi berkehendak yang anda tafsirkan menjadi sebuah penawaran atau undangan meminta anda pergi dengannya. Keempat, ia berusaha supaya anda melakukan sesuatu, dan jika anda menerima undangannya, ia telah melengkapi sebuah aksi memengaruhi.

Perbedaan ini lebih penting daripada kedengarannya. Mari kita mulai dengan perbedaan antara aksi berkehendak dan aksi memengaruhi. Aksi berkehendak adalah sebuah tindakan yang menjadi perhatian utama pembicara, yaitu pendengar memahami maksud untuk membuat janji, sebuah undangan, sebuah permintaan, atau apa pun. Aksi memengaruhi adalah sebuah tindakan yang pembicara harapkan pendengar tidak hanya mengerti akan maksudnya, tetapi untuk melakukannya. Jika anda berkata, “ saya haus, “ dengan maksud supaya saudara anda mengerti bahwa anda memerlukan sesuatu yang dapat diminum, maka anda melakukan aksi berkehendak. Jika anda juga ingin ia membawakan sebuah Diet Coke, maka anda menyampaikan aksi memengaruhi. Dalam literature aksi berbicara, contoh ini disebut permintaan tidak langsung serta keduanya adalah aksi berkehendak dan aksi memengaruhi.

Sekarang, mari kita lihat perbedaan antara aksi berkehendak dan aksi memengaruhi. Sebuah proposisi, seperti satu aspek yang terkandung dari sebuah pernyataan, menandakan beberapa kualitas atau hubungan dari sebuah objek, situasi, atau peristiwa. “ Kuenya lezat,” “garam berbahaya bagi tubuh,” dan “ namanya adalah Marta” semua contoh ini adalah usulan. Permasalahan dapat dievaluasi dari nilai kebenarannya, tetapi disinilah teori aksi berbicara menjadi sangat penting. Anda hampir selalu ingin menyampaikan sesuatu lebih dari permasalahan yang sebenarnya; anda ingin melakukan sesuatu yang lain dengan kata-kata anda.

Dalam teori aksi berbicara, kebenaran tidak terlalu penting. Malahan, pernyataan sebenarnya adalah apa maksud dari pembicara dengan mengutarakan permasalahan tersebut. Proposisi dalam aksi berkehendak bagi Searle harus dipandang seperti sebuah bagian dari konteks yang besar. Beberapa contohnya adalah : saya bertanya apakah kue itu lezat; saya peringatkan anda bahwa garam itu berbahaya bagi tubuh; saya nyatakan bahwa namanya adalah Mata. Apa yang pembicara lakukan dengan proposisi adalah aksi berbicara dalam contoh ini adalah bertanya, memperingatkan, dan menyatakan.

Makna dari aksi berbicara adalah kekuatan memengaruhi. Sebagai contoh, pernyataan, “ saya lapar,” dapat dianggap sebagai sebuah permintaan jika pembicara bermaksud supaya pendengar menawarkan makanan. Disini lain, hal ini dapat dianggap sebagai sebuah penawaran, jika pembicara bermaksud untuk mengatakan bahwa ia akan mulai membuat makan malam; atau mungkin secara sederhana memiliki kekuatan memengaruhi dari sebuah rancangan pernyataan yang hanya untuk menyampaikan informasi dan tidak lebih. Menurut Searle, kita tahu maksud di balik sebuah pesan tertentu karena kita berbagi permainan bahasa sederhana yang terdiri dari sejumlah aturan yang membantu kita untuk mendefinisikan kekuatan memengaruhi dari sebuah pesan.

Searle menyatakan secara dasar bahwa “ berbicara sebuah bahasa adalah menyatu dengan sebuah bentuk aturan yang diatur oleh perilaku.” Dua jenis aturan yang sangat penting pokok dan regulatif. Aturan pokok ( constitutive ) sebenarnya menciptakan permainan; yaitu permainan telah diciptakan atau “ ditetapkan,” dengan aturannya. Sebagai contoh, permainan sepak bola ada hanya karena berdasarkan atas aturannya. Peraturan yang menyusun permainan. Ketika anda mengamati seseorang yang mengikuti peraturan tersebut, anda tahu permainan sepak bola sedang dimainkan. Oleh karena itu, peraturan ini memberitahukan anda untuk menafsirkannya seperti sepak bola ( football ) yang berlawanan dengan baseball atau soccer. Dalam aksi berbicara, aturan pokok memberitahukan anda apa yang harus ditafsirkan seperti sebuah janji yang berlawanan dengan sebuah permintaan atau sebuah perintah. Maksud anda sangatlah dimengerti oleh orang lain karena aturan pokok; mereka memberitahukan orang lani apa yang diharapkan dari sebuah aksi berbicara seperti itu.

Sebagai contoh, bagaimana anda mengetahui sebuah janji ketika anda mendengarkannya satu kali? Janji melibatkan lima peraturan dasar: pertama, hanya menyertakan sebuah kalimat yang menunjukan pembicara akan melakukan suatu tindakan. Kedua, ungkapan hanya dinilai sebagai sebuah janji jika pendengar lebih suka pembicara melakukan tindakan tersebut daripada hanya berbicara. Dengan kata lain, dalam konteks interaksi, pendengar mengharapkan sebuah janji. Ketiga, sebuah penyataan adalah sebuah janji hanya jika dilakukan di luar rangkaian peristiwa normal. Jika anda melakukan, maka janji tidak diperlukan. Keempat, pembicara harus cenderung akan melakukan tindakan. Akhirnya, sebuah janji melibatkan pembentukan sebuah kewajiban bagi pembicara untuk berbuat sesuatu. Kelima, orang itu “ menegaskan “ sebuah rangkaian keadaan yang cukup untuk aksi berbicara supaya dinilai sebuah janji.

Walaupun banyak aksi berbicara yang mengaruh dan melibatkan kegunaan dari sebuah pernyataan dengan maksud eksplisit, aksi berbicara lainnya adalah tidak langsung. Untuk meminta keluarganya dating ke meja untuk makan malam, seorang ayah mungkin berkata, “ Ada yang lapar?” nampaknya ini adalah sebuah pertanyaan, tetapi dalam keadaan sebenarnya, hal ini adalah permintaan secara tidak langsung dan bahkan dapat juga menjadi sebuah perintah.

Searle menguraikan lima jenis aksi berkehendak. Pertama, ia menyebutkan penegasan ( assertive ). Penegasan adalah pernyataan yang mengikat pembicara untuk menyokong kebenaran dari sebuah permasalahan. Hal ini mencakup tindakan, seperti menyatakan, menegaskan, menyimpulkan, dan meyakinkan. Kedua, arahan ( directives ). Aksi berkehendak yang berusaha supaya pendengar melakukan sesuatu. Bentuk-bentuk dari arahan adalah perintah, permintaan, pembelaan, berdoa, permohonan, undangan, dan seterusnya. Ketiga, keterikatan ( commissives ), mengikat pembicara pada tindakan selanjutnya. Mereka terdiri atas hal-hal, seperti berjanji, bersumpah, ikrar, kontrak, dan jaminan. Keempat, pernyataan ( expressive ), tindakan yang menyampaikan beberapa aspek psikologis dari kondisi pembicara, seperti berterima kasih, mengucapkan selamat, permintaan maaf, menghibur, dan penyambutan. Terakhir deklarasi ( declaration ), dirancang untuk menciptakan sebuah proposisi, sangat menuntut, yang membuatnya seperti itu. Contohnya meliputi penunjukan, pernikahan, pemecatan, dan pensiunan. Untuk menggambarkannya, anda tidak akan menikah sampai orang yang berwenang mengatakan kata-kata, saya meresmikan anda sebagai suami dan istri.

Beberapa aksi berkehendak harus mengikuti sejumlah aturan pokok dalam rangka untuk menganggapnya sebagai sebuah aksi berkehendak. Aturan isi proposisi menetapkan beberapa kondisi dari objek yang dituju. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, pembicara harus menyatakan bahwa tindakan selanjutnya akan dilakukan. Mungkin untuk membayar utang. aturan pendahuluan melibatkan asumsi perkiraan dari pembicaraan dan pendengar yang penting untuk tindakan yang akan terjadi. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, ungkapan tidak memiliki makna kecuali pendengar labih suka tindakan selanjutnya dapat terlaksana daripada hanya sekedar diungkapkan. Pada ilustrasi awal, pendengar ingin membalas kembali. Aturan kesungguhan, pembicara perlu untuk bersungguh-sungguh pada apa yang ia katakan. Anda harus benar-benar berniat untuk membayar utang supaya pernyataan dapat dinilai sebagai janji. Aturan esensial menyatakan bahwa tindakan yang diambil oleh pendengar dan pembicara untuk mewakili apa yang terlihat, menjadi benar-benar ada. Dengan kata lain, janji membangun sebuah kontrak kewajiban antara pembicara dan pendengar. Jenis aturan pokok ini diyakini untuk menerapkan kedalam variasi aksi berkehendak yang lebih luas, seperti menanyakan kembali, menegaskan , mempertanyakan , berterima kasih, menyarankan, memperingatkan, menyalami, dan mengucapkan selamat.

Peraturan kedua yang dibutuhkan dalam aksi berkehendak adalah regulatif. Aturan regulatif memberikan petunjuk untuk beraksi didalam permainan. Perilaku telah diketahui dan ada sebelum digunakan dalam tindakan serta mereka memberitahukan bagaimana menggunakan kemampuan berbicara untuk mencapai sebuah maksud tertentu. Sebagai contoh, jika saya menginginkan sesuatu, maka saya membuat permintaan. Ketika saya meminta sesuatu pada anda, maka anda berkewajiban untuk mengabulkan atau tidak.

Aksi berbicara tidak akan berhasil ketika kehendak tidak dipahami dan mereka dapat dievaluasi dalam hubungannya dengan tingkatan saat mereka memakai aturan dari aksi berbicara tersebut. Mengingat proposisi ddievaluasi dengan kebenarannya atau validitas, aksi berbicara dapat dievaluasi dari keakuratan atau tingkatan saat kondisi dari tingkatan telah sesuai. Kesesuaian sebuah janji adalah apakah aturan yang penting untuk melaksanakan janji, telah disepakati.

Kami memasukkan teori klasik aksi berbicara dalam bab ini karena berfokus pada elemen pesan yang mendasari aksi berbicara secara khusus. Teori aksi berbicara mengidentifikasi apa yang terjadi untuk membuat pernyataan yang berhasil, supaya maksud dapat dipahami. Akan tetapi, aksi berbicara jarak terisolasi; mereka biasanya bagian dari percakapan. Bagaimana kita mengatur percakapan, penting bagi teori komunikasi dan kami mengangkat subjek ini secara detail pad bab 6. 

TRADISI SEMIOTIK ( Teori Sistem Non-verbal dan Pondasi Klasik Bahasa )

TRADISI SEMIOTIK
Semiotik telah menjadi hal penting yang membantu kita dalam memahami apa yang terjadi dalam pesan, bagian-bagiannya, dan bagaimana semua bagian itu disusun. Teori ini juga membantu kita untuk memahami bagaimana menyampaikan pesan supaya bermakna. Sebagai contoh, jika anda menyampaikan sebuah pidato, maka pendengar memperhatikan pada kata-kata yang anda pilih, tata bahasa, intonasi, dan gerak tubuh, kontak mata, serta cara anda menempatkan diri dengan pendengar. Teori semiotik kurang memperhatikan karakteristik anda sebagai seorang pelaku komunikasi, pendengar merespon pesan anda atau situasi social dan budaya saat pidato itu disampaikan, walaupun teori semiotik manganggap bahwa makna yang anda dan pendengar berikan pada kata-kata serta gerak tubuh dari pidato anda bergantung pada semua hal-hal diatas tersebut. Disini , kita akan menyertakan tiga teori semiotik : teori symbol, teori bahasa, dan teori perilaku non-verbal.

Teori Simbol Susanne Langer
Teori symbol yang terkemuka dan sangat bermanfaat diciptakan oleh Susanne Langer, penulis Philosophy in a new key yang sangat diperhatikan oleh pelajar yang mempelajari simbolisme. Teori Langer sangat bermanfaat karena teori ini menegaskan beberapa konsep dan istilah yang biasa digunakan dalam bidang komunikasi, Teori ini memberikan sejenis standardisasi untuk tradisi semiotik dalam kajian komunikasi.

Langer, seorang filsuf, memikirkan simbolisme yang menjadi inti pemikiran filosofi karena simbolisme mendasari pengetahuan dan pemahaman semua manusia. Menurut Langer, semua binatang yang hidup didominasi oleh perasaan, tetapi perasaan manusia dimediasikan oleh konsepsi, symbol dan bahasa. Binatang merespons tanda, tetapi manusia menggunakan lebih dari sekedar tanda sederhana dengan mempergunakan symbol. Tanda ( sign ) adalah sebuah stimulus yang menandakan kehadiran dari suatu hal.sebagai contoh, jika anda melatih anjing anda untuk berguling , ketika anda memberikan perintah yang tepat maka kata guling  adalah sebuah tanda untuk anjing supaya berguling. Dengan demikian sebuah tanda berhubungan erat dengan makna dari kejadian sebenarnya. Awan dapat menjadi tanda untuk hujan, tertawa tanda untuk kebahagiaan, dan sebuah jingga tua atau oranye “ kawasan pekerja “ merupakan petunjuk untuk konstruksi selanjutnya. Hubungan sederhana ini disebut pemaknaan ( signification . anda akan berjalan pelan ketika melihat sebuah tanda konstruksi oranye karena adanya pemaknaan.

Sebaliknya, symbol digunakan dengan cara yang lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berfikir tentang sesuatu yang terpisah dari kehadirannya. Sebuah symbol adalah “ sebuah instrument pemikiran “ symbol adalah konseptualisasi manusia tentang suatu hal, sebuah symbol ada untuk sesuatu. Sementara tertawa adalah sebuah tanda kebahagiaan , kita dapat mengubah gelak tawa menjadi sebuah symbol dan membuat maknanya berbeda dalam banyak hal terpisah dari acuannya secara langsung. Dapat berarti kesenangan, kelucuan, ejekan, cemoohan, pelepaskan tekanan, diantara banyak hal. Kemudian, symbol merupakan inti dari kehidupan manusia dan proses simbolisasi penting juga untuk manusia seperti halnya makan dan tidur. Kita arahkan kedunia fisik dan social kita melalui symbol-simbol dan maknanya serta makna membuat suatu hal sering menjadi jauh lebih penting daripada objek sesungguhnya atau keterangan mereka.

Sebuah symbol atau kumpulan symbol-simbol bekerja dengan menghubungkan sebuah konsep, ide umum, pola, atau bentuk. Menurut Langer, konsep adalah makna yang disepakati bersama-sama diantara pelaku komunikasi. Bersama, makna yang disetujui adalah makna denotative, sebaliknya, gambaran atau makna pribadi adalah makna konotatif. Sebagai contoh, jika anda sedang melihat lukisan karya Vincent Van Gogh, anda akan memberikan makna bersama-sama dengan orang yang sedang melihat lukisan tersebut secara nyata sebuah makna denotative. Bagaimana pun,pelukis sendiri mempunyai makna pribadi sendiri atau konotasi untuk arti dari lukisan itu.

Pada lukisan Van Gogh, still life with open bible, sebagai contoh, anda akan melihat Bible besar terletak disamping sebuah lilin. Disebelah Bible ada sebuah novel kecil dan jika anda lihat lebih dekat, maka anda akan melihat bahwa itu adalah novel Emile Zola, the joy of Living. Kemudian, lukisan menunjukkan sebuah Bible, lilin, dan sebuah buku. Akan tetapi, bagi Van Gogh sendiri, lukisan memiliki konotasi pribadi yang lebih banyak menyimbolkan kehidupan dan kematian ayahnya, seorang menteri. Oleh karena itu, Bible adalah symbol dari seorang bapak. Kematiannya disimbolkan oleh lilin yang menerangi bagian Isaiah tentang penderitaan pelayan. Buku yang lebih kecil menyimbolkan kehidupan sesepuh Van Gogh. Langer memandang makna sebagai sebuah hubungan kompleks diantara symbol, objek, dan manusia yang melibatkan denotasi ( makna bersama ) dan konotasi ( makna pribadi ).

Abstraksi, sebuah proses pembentukan ide umum dari sebentuk keterangan konkret, berdasarkan pada denotasi dan konotasi dari symbol. Langer mencatat bahwa proses manusia secara utuh cenderung abstrak. Ini adalah sebuah proses yang mengesampingkan detail dalam memahami objek, peristiwa, atau situasi secara umum. Sebagai contoh, kata anjing secara denotative mengacu pada sebuah binatang berkaki empat, tetapi bukan gambaran secara keseluruhan, tingkatan detail apa pun atau abstraksi selalu menyisakan sesuatu. Semakin abstrak symbol, gambaran semakin kurang lengkap : seekor anjing adalah mamalia, yaitu seekor binatang : seekor binatang adalah organisme, yaitu benda hidup. Setiap istilah dalam rangkaian ini lebih mendetail, sehingga lebih abstrak daripada istilah sebelumnya.

Walaupun denotasi biasanya lebih mendetail, konotasi dapat memasukkan banyak detail menyangkut makna symbol bagi individu. Konotasi dari anjing dapat cukup spesifik, seperti halnya anda memikirkan anjing yang anda miliki saat masih anak-anak, seekor anjing yang pernah menggigit anda, atau anjing tetangga anda yang menggonggong semalam suntuk. Baik denotative maupun konotatif, tidak dapat menangkap gambaran anjing  secara lengkap.

Penggunaan symbol pada manusia dirumitkan oleh fakta bahwa tidak ada hubungan langsung symbol dan objek sebenarnya. Bahkan, lebih dirumitkan lagi oleh fakta bahwa kita menggunakan symbol dalam kombinasi. Signifikansi sebenarnya dari bahasa adalah wacana, yang di dalamnya menghubungkan kata-kata menjadi kalimat dan paragraph. Wacana mengekspresikan proposisi, dimana symbol-simbol kompleks yang menghadirkan sebuah gambaran dari sesuatu. Kata anjing menimbulkan sebuah gambaran, tetapi gabungannya dengan kata lain memberikan gambaran yang menyatu : anjing cokelat kecil berbaring diatas kaki saya. Organisasi dan kombinasi bahasa berpotensi membuat bahasa benar-benar kaya dan sarana yang tidak tergantikan bagi umat manusia. Dengan bahasa, kita berfikir, merasa, dan berkomunikasi. Langer menyebut hal ini dengan simbolisme tidak berhubungan ( discursive symbolism )

Langer juga membahas kepentingan symbol non-diskursif atau presentasional. Peristiwa yang paling penting bagi manusia adalah emosional dan paling baik dikomunikasikan melalui ibadah, seni, dan music. Memang, lukisan Van Gogh adalah symbol presentasional. Sekarang, kita beralih pada teori-teori tambahan untuk ide-ide Susanne Langer tentang symbol lingustik atau symbol non-verbal.

Pondasi Klasik Bahasa
kajian bahasa telah sangat dipengaruhi oleh semiotic dan sebaliknya. Dalam buku ini, kita tidak punya cukup ruang untuk menguraikan teori linguistic satu per satu, tetapi penting juga untuk mengetahui sesuatu tentang struktur bahasa sebagaimana sebagaimana hal itu mempengaruhi pesan. Penemu lingustik modern adalah Ferdinand de Saussure yang memberikan banyak kontribusi pada tradisi structural dalam komunikasi. Saussure mengajarkan bahwa tanda, termasuk bahasa, dapat berubah-ubah. Ia mencatat bahwa bahasa yang berbeda menggunakan kata-kata yang berbeda untuk hal yang sama dan biasanya tidak ada hubungan secara fisik antara sebuah kata den acuannya. Oleh karena itu, tanda adalah kaidah yang ditata oleh aturan. Asumsi ini tidak hanya mendukung ide bahwa bahasa adalah sebuah struktur, tetapi juga memperkuat ide dasar bahwa bahasa dan realitas adalah terpisah. Kemudian, Saussure melihat bahasa sebagai sebuah system representasi realitas.

Saussure meyakini bahwa peneliti linguistic harus memperhatikan hal yang membentuk bahasa, seperti bunyi pengucapan, kata-kata, dan tata bahasa karena walaupun struktur bahasa berubah-ubah, tetapi tidak untuk penggunaan bahasa. Perlu menetapkan ketentuan. Dengan kata lain, anda tidak dapat memilih satu kata pun semau anda untuk mengutarakan maksud, tidak pula untuk menyusun kembali tata bahasa sekehendak anda, jika anda ingin dimengerti.

Bahasa yang digambarkan dalam kaidah structural adalah sebuah system hubungan baku tanpa inti. Hanya ketika makna ditambahkan pada fitur-fitur strukturaldari bahasa, yang menjadikannya menggambarkan sesuatu. Kunci untuk memahami struktur dari system Saussure adalah perbedaan. Elemen dan hubungan yang ditambahkan pada bahasa dibedakan oleh perbedaan mereka. Suatu bunyi terdengar berbeda dengan yang lainnya ( seperti bunyi “p” dan “b” ); suatu kata berbeda dengan yang lainnya ( seperti kata “pat” dan “bat” ); suatu bentuk tata bahasa berbeda dengan yang lainnya ( seperti pembentukan “ has run “ dan “ will run “). System perbedaan ini mendasari struktur bahasa. Baik bahasa tertulis maupun yang diucapkan, berbeda diantara tanda objek-objek di dunia, dapat diidentifikasi dengan mencocokkan perbedaan-perbedaan diantara tanda-tanda linguistic. Tidak ada unit linguistic yang memiliki signifikansi didalam atau diluarnya; hanya berlawanan dengan unit linguistic lainnya yang menjadi struktur tertentu mendapatkan makna.

Saussure meyakini bahwa semua orang yang mengenal dunia ditentukan oleh bahasa. Tidak seperti kebanyakan penganut semiotic lainnya, Saussure tidak melihat tanda sebagai referensial. Tanda tidak menandakan objek nelainkan mendasari mereka. Dapat saja tidak ada objek yang terpisah dari tanda yang digunakan untuk merancangnya, hal ini menghubungkannya secara jelas dengan gagasan Langer bahwa dunia kita terdiri dari makna yang dikaitkan dengan symbol-simbol penting dalam kehidupan kita.

Saussure membuat sebuah pembeda penting antara bahasa formal, yang disebut langue, dan kegunaan bahasa sebenarnya dalam komunikasi, yang ia sebut sebagai parole. Kedua istilah prancis ini dapat disamakan seperti bahasa inggris bahasa dan pengucapan. Bahasa ( langue ) adalah sebuah system baku yang dapat dianalisis terpisah dari kegunaanya dalam kehidupan sehari-hari. Pengucapan ( parole ) adalah kegunaan sebenarnya dari bahasa untuk mencapai tujuan. Pelaku komunikasi tidak menciptakan peraturan bahasa. Peraturan ini berfungsi melalui periode waktu yang lama dan “ dianugerahkan “ kepada kita saat bersosialisasidalam sebuah komunitas bahasa. Sebaliknya, pelaku komunikasi menciptakan berbagai bentuk pengucapan setiap saat. Dengan kata lain, anda tidak sedang duduk-duduk dengan teman andadan menemukan pola tata bahasa untuk menandakan masa lalu, sekarang, dan masa depan; tetapi anda melakukannya melalui interaksi, menggunakan bentuk-bentuk ini dengan kreatif dab secara konstan mengubah sesuatu. Inilah perbedaan antara bahasa dan pengucapan.

Sebuah contoh bagus yang begitu fleksibel dan mengubah sifat pengucapan adalah perubahan dengan bagaimana istilah “ to be “ dan “ like “ lebih banyak digunakan dalam logat gereja orang amerika. Berikut ini adalah hal yang tidak pernah diperkirakan berasal dari peraturan baku tata bahasa dan bahkan orang amerika dengan mudahnya akan memaham i ini

Dulu saya seperti how could you do this to me?
Dan dulu ia seperti what do you mean? Seperti
Ia tidak pernah mengakui apa yang telah ia lakukan, benar ? jadi saya seperti, seperti,oh,
Playing dumb now are we? [tertawa] dan ia telah,
Semua, kamu tahu, seperti kamu tahu,what,
What? Jadi,saya dulu seperti apa, oh,whatever.

Linguistic bagi soussure adalah kajian dari langue , bukan parole : “ secara keseluruhan, pengucapan [ parole ] terdiri banyak segi dan heterogen; tidak memihak pada beberapa area secara kesinambungan…. Kita tidak dapat memasukkan kedalam kategori fakta-fakta manusia karena kita tidak dapat mengungkapkan kesatuannya. Bahasa [ langue ], sebaliknya adalah keseluruhan jati diri dan sebuah prinsip dari klasifikasi.” Kita tidak dapat memiliki logat tanpa bahasa, tetapi logat kurang beraturan dan variabelnya lebih beragam daripada system bahasa baku sebagaimana asalnya. Dengan kata lain, ketika anda berbicara, maka anda sedang menggunakan bahasa, tetapi anda juga sedang mengutipnya – menggunakan logat – supaya anda dapat meraih tujuan komunikasi.

Dipengaruhi oleh karya Saussure, para ahli bahasa structural mengembangkan model standar struktur kalimat antara tahun 1950-an. Pada dasarnya, model ini memecahkan sebuah kalimat menjadi komponen-komponen dalam model hierarki. Bunyi dan kelompok bunyi menyatu untuk membentuk bagian-bagian kata, yang akibatnya menyatu untuk membentuk kata-kata, kemudian frase. Frase diletakkan bersama-sama untuk membuat klausa atau kalimat. Dengan demikian, bahasa dapat dianalisis dalam berbagai tingkatan, menghubungkan dengan bunyi, kata-kata, dan frase. Bagaimanapun, analisis structural dengan sendirinya tidak akan membuktikan dalam menjelaskan kegunaan bahasa untuk manusia. Sebagai akibatnya, para ahli linguistic telah bergerak melebihi pendekatan structural dan sekarang lebih biasa untuk merangkul sebuah pendekatan yang berbeda yang disebut generative grammar.

Utamanya, melengkapi karya Noam Chomsky dan kolega, generative grammar sebetulnya lebih berhubungan dengan tradisi sosiopsikologis daripada dengan semiotic. Sebagai seorang ahli linguistic muda pada tahun 1950-an, Chomsky memisahkan diri dengan ahli teori klasik untuk mengembangkan sebuah pendrkatan yang telah menjadi aliran dalam linguistic kontemporer. Cabang linguistic ini lebih memperhatikan system kognitif manusia – bagaimana aturan bahasa ditambahkan dalam pikiran manusia dan bagaimana sumber mental ini membuat kita mampu untuk menghasilkan bahasa yang diucapkan. Seperti beberapa teoretis, generative grammar sekarang memiliki beberapa posisi yang didalamnya mengalir dengan baik sesuai cakupan yang ada dalam buku ini. Akademisi komunikasi sudah kurang berminat lagi dalam struktur bahasa dan aturan mental linguistic dan lebih tertarik bagaimana setiap orang sebenarnya berbahasa dan berperilaku, yang terangkum dalam wacana untuk mencapai cita-cita. Hal terpenting dalam proses ini adalah kita padukan elemen-elemen verbal atau linguistic dan non-verbal yang akan kita bahas kemudian.

Teori-teori Sistem Non-verbal
Akademis komunikasi menganggap bahwa bahasa dan perilaku lebih sering tidak bekerja bersama, sehingga teori-teori tanda non verbal adalah elemen penting dalam tradisi semiotic. Para ahli tidak menyepakati apakah komunikasi itu sebenarnya , seperti Randall Harrison yang menegaskan:

Istilah “ komunikasi non-verbal “ telah diterapkan untuk menyusun berbagai peristiwa yang membinggungkan, dari masalah wilayah binatang sampai masalah peraturan diplomat. Dari mimik muka sampai hentakan otot. Dari dalam, tetapi tidak tercurahkan, berperasaan seperti monument rakyat di luar. Dari pesanan pijat sampai ajakan untuk minum. Dari menari dan drama sampai music dan pelawak. Dari arus pengaruh sampai arus lalu lintas. Dari mode busana sampai mode arsitektur dan computer analog. Dari bau harum bunga mawar sampai harum cita rasa daging bakar. Dari symbol-simbol Freudian sampai tanda-tanda astrologi. Dari kekejaman secara retorik sampai penari erotis tanpa penutup dada.

Membuat pertanyaan dalam komunikasi non-verbal bahkan lebih menantang, penelitian dalam permasalahan ini luas dan berasal dari berbagai bidang. Beragam topik yang sesuai dengan komunikasi non-verbal yang akan terkuak dalam buku ini; disini, kita akan berkonsentrasi pada metode structural persandian non-verbal yang menjadi inti dalam komunikasi semiotic.

Kode Non-verbal. Kode non-verbal adalah kumpulan perilaku yang digunakan untuk menyampaikan arti. Judee Burgoon menggolongkan system kode non-verbal seperti halnya memiliki beberapa struktur sifat. Pertama, kode non-verbal cenderung analog daripada digital. Sinyal digital mempunyai ciri tersendiri,seperti huruf dan angka, sedangkan sinyal analog berkesinambungan, membentuk sebuah tingkatan atau spectrum, seperti volume suara dan intensitas cahaya. Oleh karena itu, sinyal non-verbal, seperti ekspresi wajah dan intonasi suara tidak dapat dengan sederhana digolongkan menjadi kategori yang mempunyai ciri-ciri tersebut, tetapi lebih dilihat sebagai perbedaan.

Fitur kedua yang banyak ditemukan, tetapi tidak semua, dalam kode non-verbal adalah kemiripan ( inconicity ). Kode ikonis menyerupai benda yang telah disimbolkan ( seperti ketika anda menggambarkan bentuk sesuatu dengan tangan anda ). Ketiga, kode non-verbal tertentu kelihatannya memunculkan makna universal. Terutama dalam kasus yang berhubungan dengan tanda-tanda, seperti ancaman dan penunjukan emosi yang mungkin saja dapat ditentukan secara biologis. Keempat, kode non-verbal memungkinkan adanya transmisi berkesinambungan dalam beberapa pesan. Dengan wajah, tubuh, suara, dan tanda-tanda menimbulkan sebuah respons otomatis – menerobos lampu merah. Pada akhirnya, tanda-tanda non-verbal sering terpancar secara spontan, seperti ketika anda melepaskan rasa gugup dengan memainkan rambut anda atau menggoyangkan kaki anda.

Kode non-verbal memiliki dimensi semantik, sintaksis, dan pragmatik. Sematik mengacu pada makna dari sebuah tanda. Sebagai contoh, dua jari dipasangkan dibelakang kepala seseorang adalah sebuah cara untuk memanggilnya seorang “ setan “. Sintaksis mengacu pada metode bagaimana tanda-tanda tersebut disusun kedalam system dengan tanda lainnya. Sebagai contoh, seseorang mungkin menyimpan dua buah jarinya dibelakang kepala seseorang, tertawa dan berkata “ mengejek anda!”. Hal tersebut adalah sebuah gerak tubuh, sebuah tanda suara ( tertawa ), ekspresi wajah, dan bahasa bersatu untuk menciptakan makna. Progmatik mengacu pada pengaruh atau perilaku yang dimunculkan oleh sebuah tanda atau sekelompok tanda, sepeti ketika tanda “ setan “ dianggap sebuah lelucon daripada sebuah penghinaan. Tidak seperti bentuk verbal, makna yang diterapkan pada bentuk non-verbal terkungkung oleh konteks atau ditentukan dalam bagian dari situasi yang mereka hasilkan. Baik bahasa maupun bentuk non-verbalmengizinkan pelaku komunikasi untuk menggabungkan beberapa tanda yang berhubungan kedalam sebuah variasi kompleks yang hampir tidak terbatas dari pengungkapan makna.

System kode non-verbal sering digolongkan menurut jenis aktivitas yang digunakan dalam kode. Burgoon mengusulkan tujuh jenis : kinesis ( aktivitas tubuh ); vokalis atau paralanguage ( suara ); penampilan fisik, haptics ( touch ); proxemics ( ruang ); chronemics ( waktu ); dan artefak ( objek ). Dari semua ini, kinesis dan proxemics telah dikaji secara luas.

Kinesis. Ray Birdwhistell diakui sebagai orang pertama dibalik bidang kinesis. Seorang antropolog yang tertarik dangan bahasa, Birdwhistell, menggunakan linguistic sebagai metode untuk karya kinesisnya. Pada kenyataannya, hubungan ini sangat kuat yang mana istilah yang popular untuk kinesis adalah bahasa tubuh. Dalam bukunya, kinesics and context, Birdwhistell mengurutkan tujuh asumsinya yang menjadi dasar teorinya dalam bahasa tubuh.
  1. Semua gerakkan tubuh mempunyai makna penting dalam konteks komunikasi. Seseorang selalu dapat memberikan makna terhadap aktivitas tubuh.
  2. Perilaku dapat dianalisis karena telah diatur dan pengaturan ini dapat dikupas dengan analisis sistematis.
  3. Walaupun aktivitas tubuh memiliki keterbatasan secara biologis, kegunaan pergerakan tubuh dalam interaksi dianggap menjadi sebuah bagian dari system social. Oleh karena itu, kelompok yang berbeda akan menggunakan gesture- dan gerakan tubuh lainnya secara berbeda.
  4. Orang yang dipengaruhi oleh aktivitas tubuh orang lain yang terlihat.
  5. Cara aktivitas tubuh yang berfungsi dalam komunikasi dapat diselidikit.
  6. Makna yang terungkap dalam hasil penelitian kinesis ini berasal dari perilaku yang telah dikaji sebagaimana metode yang digunakan untuk penelitian.
  7. Seseorang yang menggunakan aktivitas tubuh akan mencari ciri-ciri idiosyncratic, tetapi juga akan menjadi bagian system social yang besar bersama-sama dengan yang lainnya.
Susunan karya Birdwhistell, Paul Ekman, dan Wallace Friesen yang berkaborasi dalam penelitian yang membawa sebuah model dasar sempurna dari perilaku kinesis, memusatkan karya mereka pada wajah dan tangan. Tujuan mereka sangatlah ambisius: “ tujuan kita adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap terhadap individu, perasaan, mood, kepribadian dan sikap, serta untuk meningkatkan pemahaman terhadap interaksi interpersonal yang ada, sifat dari hubungan, status atau kualitas komunikasi, impresi apa yang terbentuk, dan apa yang terungkap dari gaya atau kemampuan antarpersonal.” Para penulis ini menganalisis aktivitas non-verbal dengan tiga cara : asal, kode, dan penggunaan.

Sumber ( origin ) adalah sumber dari sebuah tindakan. Perilaku non-verbal mungkin saja bawaan lahir ( tersusun dalam system kegugupan ); species-constant ( perilaku universal yang dibutuhkan bagi para kelangsungan hidup ); atau variant lintas budaya, kelompok, dan individu. Sebagai contoh, seseorang dapat berspekulasi bahwa mengangkat alis sebagai sebuah tanda yang mengejutkanadalah bawaan lahir, yang menandai wilayah adalah species constant dan goyangkan kepala ke belakang dan keempatnya adalah indikasi dari ketiadaan budaya spesifik.

Sandi ( coding ) adalah hubungan dari tindakan dengan maknanya. Sebuah tindakan mungkin berubah-ubah dengan ketiadaan makna yang melekat pada tanda itu sendiri. Sebagai contoh, dengan budaya amerika, kita sepakat bahwa mengangguk adalah sebuah indikasi dari ya, tetapi sandi ini bermacam-macam dan dalam kebanyakan budaya lain, maknanya benar-benar berlawanan. Tanda non-verbal lainnya ikonis dan menyerupai dengan benda yang dimaknai. Sebagai contoh, kita sering mengambil gambar di udara atau posisi tangan kita mengilustrasikan apa yang sedang kita bicarakan. Kategori ketiga dari persandian ini adalah intrinsik. Secara intrinsik, penunjuk kode berisikan makna mereka diantara mereka dan mereka sendiri adalah bagian dari apa yang ditandai. Menangis adalah sebuah contoh dari kode intrinsik. Menangis adalah sebuah isyarat emosi, tetapi menangis juga merupakan bagian dari emosi itu sendiri.

Cara ketiga untuk menganalisis perilaku adalah dengan kebiasaan. Kebiasaan meliputi tingkatan sebuah perilaku non-verbal yang dimaksudkan untuk menyampaikan makna. Sebuah tindakan komunikatif digunakan untuk menyampaikan makna dengan sengaja. Tindakan interaktif sebenarnya mempengaruhi perilaku partisipan lainnya. Sebuah tindakan, baik itu komunikatif maupun interaktif adalah jika tindakan itu disengaja dan berpengaruh. Sebagai contoh, jika anda dengan sengaja melambaikan tangan kepada teman anda sebagai tanda anda member sapaan dan teman anda melambaikan tangan balik, isyarat anda berarti komunikatif, tetapi memberikan informasi untuk penerima. Tindakan tersebut dikatakan menjadi informatif. Pada suatu hari, ketika anda merasa kurang bersahabat, mungkin anda menunduk saat dijalan untuk menghindari teman anda.jika orang lain melihat penghindaran tersebut, maka perilaku anida sudah informatif walaupun anda tidak ingin menceritakannya.

Menurut Ekman dan Friensen, semua perilakun non-verbal dapat digolongkan menjadi satu dari kelima jenis tersebut, bergantung pada sumber, sandi, dan kebiasaan. Tipe pertama adalah lambang atau emblem. Lambang secara verbal dapat diartikan kedalam makna yang cukup tepat. Mereka biasanya digunakan pada sebuah kebiasaan yang disengaja untuk menyampaikan sebuah pesan tertentu. Sebagai contoh, “ V “ untuk tanda victory dan kekuatan kepalan tangan hitam. Lambang muncul dari budaya dan mungkin saja dapat berubah-ubah atau ikonis.

Illustrator adalah jenis kedua dari isyarat non-verbal. Illustrator digunakan untuk menggambarkan apa yang telah dikatakan secara verbal. Meraka disengaja, walaupun kita tidak selalu diarahkan untuk menyadari mereka dan termasuk di dalamnya adalah mengarahkan dan mengambil gambar diudara. Illustrator dipelajari dalam non-verbal yang kegunaanya mungkin saja komunikatif atau informatif; adakalanya mereka interaktif.

Jenis ketiga dari perilaku non-verbal adalah adaptor, yang mengabdi untuk memudahkan pelepasan tekanan fisik. Contohnya adalah remasan tangan, menggaruk kepala, atau menggoyangkan kaki. Self-adaptor ditujukan untuk tubuh seseorang. Mereka mencakup menggaruk, memukul, membersihkan, dan menekan. Alter-adaptor ditujukan untuk tubuh orang lain, seperti menampar orang dari belakang. Object-adaptor ditujukan untuk benda seperti memutar penjepit kertas. Pada beberapa kasus, adaptor dapat menjadi ikonis atau intrinsik. Mereka jarang yang disengaja dan seseorang biasanya tidak menyadari perilaku adaptif seseorang. Walaupun mereka jarang komunikatif, kadang-kadang mereka interaktif dan sering informatif.

Regulator, jenis keempat dari perilaku yang digunakan untuk mengendalikan atau mengoordinasikan interaksi. Sebagai contoh, kita menggunakan kontak mata untuk menandakan pembicaraan dan mendengarkan yang berperan dalam sebuah percakapan. Regulator utamanya adalah interaktif. Mereka dikodekan secara intrinsik atau ikonis, dan mereka berasal dari pembelajaran budaya.

Kategori terakhir dalam perilaku adalah affect display. Perilaku ini mungkin saja bagian dari bawaan lahir, melibatkan penunjukan perasaan dan emosi. Wajah adalah sumber yang kaya untuk penunjukan pengaruh, walaupun bagian tubuh lainnya mungkin juga terlibat. Penunjukan pengaruh dikodekan secara intrinsik. Mereka jarang komunikatif, sering interaktif, dan selalu informatif.

Proxemics. Kategori kedua pada non-verbal yang telah dikaji secara luas dadlam komunikasi adalah proxemics. Secara spesifik, proxemics mengacu pada penggunaan jarak dalam komunikasi. Ini adalah kajian dalam bagaimana manusia menyusun jarak yang kecil dalam praktik kehidupan sehari-hari mereka. Edward Hall, penemu proxemics, menggambarkannya sebagai sebuah jarak antara manusia dalam “ melakukan transaksi sehari-hari, pengaturan jarak dalam …… perumahan dan pergedungan, dan yang paling akhir adalah tata ruang dari …. Kota.”

Menurut Hall, metode jarak ini digunakan dalam interaksi, sangat bermasalah dengan kebudayaan. Pengertian yang berbeda penting bagi budaya yang berbeda. Dibeberapa negara seperti Amerika, pandangan dan pendengaran yang berkuasa; ditempat lain seperti budaya Arab, penciuman yang penting. Beberapa kebudayaan bergantung pada sentuhan lebih dari yang lainnya. Pada umumnya, pengertian yang menonjol dari sebuah kebudayaan biasanya menentukan jarak yang digunakan dalam kebudayaan tersebut. Kebudayaan juga mempunyai definisi yang berbeda sendiri, yang juga berpengaruh pada bagaimana jarak didefinisikan dan digunakan. Kebanyakan orang-orang dalam kebudayaan barat belajar untuk mengidentifikasi dirinya melalui kulit dan pakaian. Akan tetapi, Arab menempatkan dirinya lebih dalam ditengah raganya.

Hall mendefinisikan tiga jenis dasar jarak. Ruang karakteristik terbatas ( fixed-feature space ) terdiri dari benda-benda yang tidak dapat dipindahkan, seperti dinding dan kamar. Ruang katakteristik semi terbatas ( semi-fixed-feature space )­ meliputi objek yang dapat bergerak seperti furnitur. Ruang informal (informal space ) adalah daerah pribadi sekitar tubuh yang menjalar dengan tubuh seseorang dan menentukan jarak antarpribadi diantara manusia. Sebagai contoh, Budaya Anglo-Amerika menggunakan empat jenis jarak yang dapat dilihat: ( 0 – 8 inci ), pribadi ( 1 – 4 kaki ), sosial ( 4 – 12 kaki ), dan publik ( ebih dari 12 kaki ).

Hall juga menggambarkan delapan faktor yang mungkin memberi pengaruh bagaimana ruang digunakan ketika orang berinteraksi dalam percakapan :
  • Postur ( posture ) – faktor seks ( sex factors ): hal ini mencakup jenis kelamin partisipan dan posisi dasar tubuh ( berdiri, duduk, berbaring ).
  • Poros sosial keluar kedalam ( sociofugal-sociopetal axis ): kata sosiofugal berarti keputusan berinteraksi dan sosiopetal termasuk dorongan. Axis adalah poros yang relatif dengan orang lain. Pembicara mungkin saling berhadapan, mungkin saling membelakangi, atau mungkin saja diposisikan pada radius sudut tertentu. Dengan demikian, beberapa sudut, seperti bertatapan muka, mendorong interaksi, sementara yang lainnya, seperti saling membelakangi, mematikan interaksi.
  • Faktor kinestetik ( kinesthetic factors ): adalah kedekatan antarindividu yang berhubungan dengan sentuhan. Setiap individu mungkin saja melakukan kontak fisik atau pada jarak yang dekat, mungkin saja mereka diluar dari kontak tubuh; atau mungkin saja diantara kedekatan ini. Faktor ini juga mencakup penempatan bagian tubuh seperti halnya bagian-bagian yang sedang bersentuhan.
  • Perilaku sentuhan ( touching behavior ): manusia mungkin saja terlibat dalam elusan dan pelukan, merasakan, pelukan erat, saling menekan, sedikit sentuhan, bersentuhan secara kebetulan atau tidak ada kontak.
  • Sandi visual ( visual code ): kategori ini mencakup budaya kontak mata langsung ( mata ke mata ) sampai tidak ada kontak.
  • Sandi termis ( thermal code ): elemen ini melibatkan panas yang diterima dari pelaku komunikasi lainnya.
  • Sandi penciuman ( olfactory code ): faktor ini meliputi jenis dan tingkatan bau yang diterima dalam percakapan.
  • Kebisingan suara ( voice loudness ): kerasnya suara dapat memengaruhi jarak antarpribadi.
Perhatikan bahwa semua teori dalam bagian ini, teori-teori simbol, bahasa, dan komunikasi non-verbal, memberikan ide bahwa pesan terdiri atas bagian dan fitur tertentu, termasuk verbel ( linguistik ) dan non-verbal ( perilaku ), yang mana pelaku komunikasi memberikan makna. Inti dari hal ini adalah pemikiran semiotika, tetapi hal ini hanya menambah sebagian kecil dari dasar komunikasi yang sangat besar.

Kajian bahasa dapat berhubungan dengan sejumlah tradisi, bergantung pada fokusnya. Kajian yang melihat hubungan bahasa dengan kekuasaan akan mencerminkan suatu tradisi kritis, kajian yang menguji kegunaan bahasa dengan kelompok budaya yang beragam akan mencerminkan social budaya, dan kajian yang melihat pada bagaimana kita menafsirkan bahasa dari teks akan dengan jelas mencerminkan fenomenologis. Akan tetapi, kajian struktur bahasa sudah menjadi sifat dari semiotika karena hal ini memperlakukan tanda sebagai sebuah jembatan antara merasakan dunia dan memahami dunia. Bahasa adalah sebuah tempat tradisi yang dapat bekerja bersama-sama dengan banyaknya teori kritis, social budaya, dan fenomenologis memiliki dasar semiotika.

Kajian komunikasi non-verbal juga dapat menjadi penghubung dalam tradisi. Sebagai contoh, perilaku non-verbal menggabungkan semiotika dan budaya. Ketika keduanya dibawa bersama-sama dalam satu pandangan, maka tradisi semiotika dan social budaya muncul. Anda dapat melihat perilaku non-verbal sebagai sejanis perilaku individu, yang dapat membawa tradisi semiotika dan sosiopsikologis bersamaan. Pada kenyataannya, banyak teori komunikasi non-verbal yang secara jelas menggunakan sebuah pendekatan psikologis dan digolongkan dengan tradisi terakhir pada bab lain dalam buku ini. Untuk melanjutkan penelusuran kita terhadap pesan, mari kita berahli ke tradisi social budaya.

Monday, 17 October 2016

 GAYA BAHASA
1. Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah Style. Kata style diturunkan dari kata latin Stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 112)

Walaupun kata style berasal dari bahasa latin, orang yunani sudah mengembangkan sendiri teori-teori mengenai style itu. Ada dua aliran yang terkenal, yaitu :
  1. Aliran Platonik: memgungkap style sebagai kualitas suatu ungkapan; menurut mereka ada ungkapan yang memiliki style, dan ada juga yang tidak memiliki style.
  2. Aliran Aristoteles: menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang inheren, ada yang ada dalam tiap ungkapan.
Secara umum, Gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya. Begitu pula sebaliknya. Style atau gaya bahasa dapat di batasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Gorys Keraf, 2009 Hal. 113)

2. Sendi Gaya Bahasa
a. Kejujuran
Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam bahasa. Pemakaian kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mrngandung ketidakjujuran. Pemakaian bahasa yang berbelit-belit menandakan bahwa pembicara atau penulis tidak tahu apa yng akan dikatakannya. Bahasa adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul. Oleh sebab itu, ia harus digunakan pula secara tepat dengan memperhatikan sendi kejujuran. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 114)

b. Sopan-santun
Sopan-santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkata. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 114)

Adapun kejelasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu :
  1. Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat.
  2. Kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat.
  3. Kejelasan dalam pengaturan ide secara logis.
  4. Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan.
Kesingkatan jauh lebih efektif dari pada jalinan yang berliku-liku. Kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efesien, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih, yang bersinonim secara longgar, menghindari tautologi atau mengadakan reperisi yang tidak perlu. Diantara kejelasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan-santun, syarat kejelasan masih jauh lebih penting dari pada syarat kesingkatan. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 114)

c. Menarik
Kejujuran, kejelasan, serta kesingkatan harus merupakan langkah dasar dan langkah awal. Bila gaya bahasa hanya mengandalkan kedua atau ketiga, kaidah diatas, maka bahasa yang digunakan masih terasa tawar, tidak menarik. Oleh sebab itu, gaya bahasa harus pula menarik. Gaya bahasa menarik dapat diukur melalui beberapa komponen sebagai berikut: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi). (Gorys Keraf, 2009 Hal. 114)

Penggunaan variasi akan menghindari monotoni, dalam nada struktur, dan pilihan kata. Humor yang sehat berarti gaya bahasa itu mengandung tenaga untuk menciptakan rasa gembira dan nikmat. Vitalitas dan daya khayal adalah pembawaan yang berangsur-angsur dikembangkan melalui pendidikan, latihan dan pengalaman.

3. Jenis-jenis Gaya Bahasa
Gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandangan. Oleh sebab itu, sulit diperoleh kata sepakat mengenai suatu pembagian yang bersifat menyeluruh dan dapat diterima oleh semua pihak. Pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat tentang gaya bahasa sejauh ini sekurang-kurangnya dapat dibedakan, pertama, dilihat dari segi nonbahasa dan kedua dilihat dari segi bahasa. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 115)

a. Segi Nonbahasa
Pengikut Aristoteles menerima style sebagai hasil dari bermacam-macam unsur. Pada dasarnya style dapat dapat dibagi atas tujuh pokok sebagai berikut:
  1. Berdasarkan pengarang: Gaya bahasa yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri-ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sejamannya. Contoh: gaya Chairil, gaya Takdir dan sebagainya.
  2. Berdasarkan Masa: Gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Contoh: gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern dan sebagainya.
  3. Berdasarkan Medium: Yang dimaksud dengan medium adalah bahasa dalam arti alat komunikasi. Tiap bahasa karena struktur dan situasi sosial pemakainya, dapat memiliki corak tersendiri. Contoh: karangan yang ditulis dalam bahasa Jerman, gaya bahasanya berbeda dengan yang ditulis dengan bahasa Jepang, indonesia, Arab dan sebagainya.
  4. Berdasarkan Subjek: Subjek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Contoh yang kita kenal, gaya filsafat,ilmiah (hukum, teknik, sastra) dan sebagainya.
  5. Berdasarkan Tempat: Gaya ini mendapat namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasanya. Contoh: gaya jakarta, gaya jogja, gaya medan dan sebagainya.
  6. Berdasarkan Hadirin: Hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Contoh: adanya gaya populer yang cocok untuk masyarakat banyak, anak-anak, dewasa dan sebagainya.
  7. Bedasarkan Tujuan : Gaya berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang. Misal, gaya humoris, gaya teknis dan sebagainya.
b. Segi Bahasa
Dilihat dari sudut bahasa atau unsure-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsure bahasa yang dipergunakan, yaitu :
  • Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata.
  • Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana.
  • Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat.
  • Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
4. Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat yang sesuai untuk posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 117)

a. Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesepakatan-kesepakatan resmi, gaya yang dipergumakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Contoh: Amanat kepresidenan, pidato-pidato yang penting, dan sebagainya.(Gorys Keraf, 2009 Hal. 117)

b. Gaya Bahasa Tidak Resmi
Gaya bahasa tidak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan tidak formal atau kurang formal. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam artikel-artikel mingguan, buku-buku pegangan, majalah, tabloid dan sebagainya. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 118)

Gaya bahasa resmi dan tidak resmi dapat dibandingkan sebagai berikut : gaya bahasa resmi dapat diumpamakan sebagai pakian resmi, pakaian upacara, sedangkan gaya bahasa tidak resmi adalah bahasa dalam pakaian kemeja, yaitu berpakaian secara baik, konfesional, cermat, tetapi untuk keperluan sehari-hari, bukan untuk pesta peristiwa resmi. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 120)

c. Gaya Bahasa Percakapan
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan itu sendiri. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata yang populer atau kata-kata yang dikenal dan kata-kata percakapan. Penggunaan gaya bahasa ini digunakan ketika bercakap-cakap dengan orang lain, kebiasaan-kebiasaan dan sebagainya. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 120)

5. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti(ajakan) yang pancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata jika diikuti dengan suara dari pembicara, bila yang dihadapi adalah bahasa lisan. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 120)

Gaya bahasa dilihat dari sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas: gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga dan gaya menengah.

a. Gaya sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah pelajaran, perkuliahan, dan sebagainya. Gaya ini cocok pula digunakan untuk menyampaikan fakta atau pembuktian-pembuktian. Untuk mempergunakan gaya ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 121)

b. Gaya Mulia dan Bertenaga
Sesuai dengan namanya gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, dan biasanya digunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu itu tidak hanya dengan tenaga ungkapan pembicara tetapi juga mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Contoh khutbah tentang kemanusiaan dan keagamaan. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 122)

c. Gaya Menegah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai, karena tujuannya untuk menciptakan suatu keadaan yang senang dan damai, maka nada yang digunakan lemah lembut, penuh kasih sayang dan mengandung humor agar dapat menghibur pendengar. Contoh Pada kesempatan khusus seperti pesta, pertemuan, rekreasi dan sebagainya. (Gorys Keraf, 2009 Hal. 120) 


KESIMPULAN
Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata kata yang tepat atau menggunakan ungkapan ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.

Dilihat dari segi umumnya, makna dapat dibagi menjadi dua yaitu makna konotatif dan makna denotatif. Pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. Makna konotatif sifatnya lebih professional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan kondisi dan situasi tertentu.

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat dalam imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan penulis atau pembicara, Persoalan pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yaitu pertama, ketetapan pilihan kata, Kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata.

Secara umum, Gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya, Begitu pula sebaliknya. Gaya bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : segi bahasa dan segi non bahasa.

Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, gaya bahasa resmi, gaya bahasa tidak resmi, dan gaya bahasa percakapan. Sedangkan gaya bahasa berdasarkan nada dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, dan gaya menengah.

SUMBER;

Sunday, 9 October 2016

Pengertian Variasi bahasa

Variasi bahasa 
Bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu aspek bentuk yang meliputi bunyi, tulisan, struktur serta makna, baik leksikal maupun fungsional dan struktural (Nababan, 1984: 13). Jikalau kita memperhatikan bahasa dengan terperinci dan teliti, kita akan melihat bahwa bahasa itu dalam bentuk dan maknanya menunjukan perbedaan-perbedaan kecil atau besar antara pengungkapannya yang satu dengan pengungkapan yang lain. Pemakaian bahasa dalam masyarakat baik dalam bentuk dan makna menunjukan perbedaan-perbedaan. 

Perbedaan tersebut tergantung kemampuan seseorang atau kelompok orang dalam pengungkapan. Menurut Kartomihardjo (1988: 32) perbedaan-perbedaan itu terdapat pada pilihan kata-kata atau bahkan pada struktur kalimat. Perbedaan-perbedaan bentuk bahasa itulah yang disebut dengan variasi bahasa Menurut Suwito (1982: 20-21) faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya variasi bahasa adalah faktor kebahasaan (lingustik) dan faktor di luar kebahasaan (nonlinguistik). Faktor nonlinguistik dapat berupa faktor sosial dan faktor situasional. Faktor sosial berupa status sosial, umur, jenis kelamin, kemampuan ekonomi, dan sebagainya. Faktor sosional meliputi siapa yang berbicara, dimana, kapan, mengenai apa, dan menggunakan bahasa apa. 

Pendapat lainnya dikemukakan oleh Kridalaksana (1980: 12-13) variasi bahasa juga ditentuan oleh faktor waktu, tempat, faktor sosioliguistik, faktor situasi dan faktor medium pengungkapannya. Faktor waktu menimbulkan perbedaan bahasa dari masa ke masa. Variasi regional membedakan bahasa yang dipakai di suatu tempat dengan yang ada di tempat lain. Variasi sosio kultural membedakan bahasa yang dipakai suatu kelompok sosial yang lain atau membedakan atau membedakan suatu stratum sosial dari sosial yang lain. Variasi situasional timbul karena pemakai bahasa memilih ciri-ciri bahasa tertentu dalam situasi tertentu. Faktor medium pengungkapan membedakan bahasa lisan dan bahasa tulisan


1. Idiolek 
Pengertian idiolek menurut Kridalaksana (1980: 13) adalah keseluruhan ujaran seorang pembicara pada suatu saat yang dipergunakan untuk berinteraksi dengan orang lain, sedangkan menurut Chaer (1994: 55) idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek setiap orang mempunyai variasi bahasanya masing-masing yaitu berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, dan susunan kalimat yang paling dominan adalah warna suara, sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang hanya dengan 

2. Dialek 
Menurut Poedjosoedarmo (1978: 7) dialek adalah variasi sebuah bahasa yang adanya ditentukan oleh sebuah latar belakang asal si penutur. Nababan (1886: 4) menjelaskan bahwa idiolek-idiolek yang menunjukan lebih banyak persamaan dengan idiolek-idiolek yang lain dapat digolongkan dengan satu kumpulan kategori yang disebut dialek. Besarnya persamaan ini disebabkan oleh letak geografis yang berdekatan dan memungkinkan komunikasi antara penutur- penutur idiolek itu. Menurut Poedjosoedarmo (1979: 23) Jenis dialek dibedakan menjadi tiga macam yaitu dialek geografis, dialek sosial, dan dialek usia.

Pengertian Bahasa Menurut Ahli

Pengertian Bahasa 
Bahasa merupakan suatu ungkapan yang mengandung maksud untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang dimaksudkan oleh pembicara bisa dipahami dan dimengerti oleh pendengar atau lawan bicara melalui bahasa yang diungkapkan. Chaer dan Agustina (1995:14) fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. 

Hal ini sejalan dengan Soeparno (1993:5) yang menyatakan bahwa fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai tingkah laku sosial (sosial behavior) yang dipakai dalam komunikasi sosial. Suwarna (2002: 4) bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif sosial.

Kridalaksana (dalam Aminuddin, 1985: 28-29) mengartikan bahasa sebagai suatu sistem lambang arbitrer yang menggunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Effendi (1995:15) berpendapat bahwa pengalaman sehari-hari menunjukan bahwa ragam lisan lebih banyak daripada ragam tulis. 

Lebih lanjut Effendi (1995:78) menyampaikan bahwa ragam lisan berbeda dengan ragam tulis karena peserta percakapan mengucapkan tuturan dengan tekanan, nada, irama, jeda, atau lagu tertentu untuk memperjelas makna dan maksud tuturan. Selain itu kalimat yang digunakan oleh peserta percakapan tidak selalu merupakan kalimat lengkap. Jeans Aitchison (2008 : 21) “Language is patterned system of arbitrary sound signals, characterized by structure dependence, creativity, displacement, duality, and cultural transmission”, bahasa adalah sistem yang terbentuk dari isyarat suara yang telah disepakati, yang ditandai dengan struktur yang saling tergantung, kreatifitas, penempatan, dualitas dan penyebaran budaya. 

B. Pemerolehan Bahasa Anak 
Pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanan ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya (Chaer, 2002: 167). Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performensi. 

Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Teori atau hipotesis yang berkaitan dengan masalah pemerolehan bahasa yaitu 
1. Hipotesis Nurani Menurut Lenneberg (dalam Chaer, 2002: 168) hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang di lakukan para pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak. Diantara hasil pengamatan itu adalah berikut ini. 
  • Semua kanak-kanak akan memperoleh bahasa ibunya asal saja “diperkenalkan” pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, dia tidak diasingkan dari kehidupan ibunya (keluarganya). 
  • Pemerolehan bahasa tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kanak-kanak. Artinya, baik anak yang cerdas maupun yang tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu. 
  • Kalimat-kalimat yang didengar kanak-kanak serngkali tidak gramatikal, tidak lengkap, dan jumlahnya sedikit. 
  • Bahasa tidak dapat diajarkan kepada makhluk lain; hanya manusia yang dapat berbahasa. 
  • Proses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak di mana pun sesuai dengan jadwal yang erat kaitannya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak. 
  • Struktur bahasa sangat rumuit, komplrks, dan bersifat universal. Namun, dapat dikuasai kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam waktu anatara tiga atau emat tahun saja.
2. Hipotesis Tabularasi Hipotesis tabularasi menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulis atau diisi dengan penglaman-pengalaman. Semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia itu. 

3. Hipotesis Kesemestaan Kognitif Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperoleh berdasarkan struktur-struktur kognitif. Struktur-struktur ini diperoleh kanak-kanak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang di sekitarnya. Urutan pemerolehan ini secara garis besar adalah sebagai berikut.
  • Antara usia 0 sampai 1,5 tahun kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya, pola akal (mental). Kanak-kanak mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal yang lazim disebut kekekalan benda. Maksudnya, kanak-kanak sadar benda-benda yang diamatainya atau disentuhnya hilang dari pandangannya namun tidak berarti benda-benda itu tidak ada lagi dan dapat ditemukan di tempat lain.
  • Setelah struktur aksi dinuranikan, maka kanak-kanak memasuki tahap representasi kecerdasan, yang terjadi antara usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan mental, dan gambar- gambar. 
  • Setelah tahap representasi kecerdasan, dengan representasi simboliknya, maka bahasa kanak-kanak semakin berkembang, dan dengan mendapat nilai-nilai sosialnya. Struktur-struktur linguistik mulai dibentuk berdasarkan bentuk-bentuk kognitif umum yang telah dibentuk ketika berusia kurang lebih 2 tahun.
SUMBER;