Showing posts with label berbicara. Show all posts
Showing posts with label berbicara. Show all posts

Saturday, 25 March 2017

PERSAMAAN BAHASA DENGAN GENDER DALAM KOMUNIKASI

BAHASA DAN GENDER
Tiga puluh tahub lalu, sebuah karya besar telah dihasilkan dalam komunikasi dan gender. Dalam bagian ini, kita mengkaji teori-teori yang berhubungan dengan gender sampai tradisi social budaya. Semua teori ini terkait dengan bagaimana gender memengaruhi bahasa dan sebaliknya membangun sebuah dunia social khusus. Teori pertama yang kami uji adalah Cheris Kramarae.

Bahasa layaknya Gender. Seperti Burke, Cheris Kramarae meyakini bahwa fitur utama dari dunia adalah sifat linguistiknya serta kata-kata dan sintaksis dalam struktur pesan dari pemikiran seseorang serta interaksi yang mempunyai pengaruh besar pada bagaimana kita mengarungi dunia. Implikasi yang timbul dari bahasa adalah perhatian utama Kramarae, sebagaimana penelusurannya pada bagaimana cara pesan memperlakukan wanita dan pria secara berbeda. Pengalaman seseorang tidka mungkin lepas dari pengaruh bahasa. Bahkan, kategori laki-laki dan wanita adalah hasil dari pembentukan secara linguistic. Dengan kata lain, kita “ dididik untuk melihat dua jenis kelamin. kemudian, kita melakukan banyak kegiatan untuk terus melihat hanya dua jenis kelamin ini.”

Kramarae tidak hanya mencatat kepentingan bahasa dalam penafsirannya; ia juga mengarahkan pada dimensi kekuasaan. System bahasa memiliki hubungan kekuasaan yang ditambahkan didalamnya dan mereka yang menjadi bagian dari system linguistic yang dominan, cenderung memiliki persepsi mereka sendiri, mengalami, dan mode ekspresi yang menyatu dalam bahasa. Pada kasusnya bahasa inggris, kramarea yakin bahwa ini adalah “ bahasa buatan laki-laki “ dan demikian menanamkan sudut pandang maskulin daripada feminism. Persepsi laki-laki kulit putih kelas menengah, secara khusus, nyatanya dinormalkan secara standar dalam linguistic. Laki-laki adalah standar, dalam hal pekerjaan, dan wanita adalah kategori yang menyimpang dari kebiasaan : waiter dan waitress, actor dan actress. Mr., sebagai sebuah gelar panggilan tidak berisi informasi tentang status perkawiinan, sedangkan istilah miss dan mrs., jelas memberikan informasi yang lebih berguna bagi laki-laki dibandingkan bagi wanita. Bukan hanya bahasa itu sendiri, tetapi juga instrument dari bahasa kamus menonjolkan sudut pandang laki-laki kulit putih, seperti halnya struktur dan institusi masyarakat yang didapat dari bahasa, seperti lembaga pendidikan, teknologi, dan sebagainya.

Ide bahwa penyusunan kekuasaan social sebagian besar ditanam dalam bahasa yang juga berarti bahwa bahasa dan dunia sering meredam wanita dengan berbagai cara.pada point yang kedua, kramarae menyatukan karya antropolog Edwin Ardener dan Shirley Ardener dalam teori kelompok terendam ( muted-group theory ). Edwin Ardener mengamati bahwa antropolog cenderung menggolongkan sebuah budaya dalam istilah maskulin, menyarankan bahwa etnografi itu semu pada pengamatan laki-laki dalam sebuah kebudayaan. Selain itu, pada pengujian yang lebih deket, Ardener memandang bahwa bahasa asli dari sebuah kebudayaan memiliki unsure bias yang melekat pada pria, bahwa pria menciptakan pemaknaan terhadap suatu kelompok dan bahwa suara feminin ditekan atau “ dihilangkan.” Penghilangan wanita dalam penelitian Ardener, membawa ketidakberdayaan wanita untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dalam gaya bahasa pria.

Shirley Ardener menambahkan dengan menyarankan bahwa pembungkaman wanita memiliki beberapa menifestasi dan bukti pada wacana public. Wanita kurang dapat merasa nyaman dan kurang ekspresif dimuka umum daripada pria serta mereka kurang bisa nyaman di muka umum daripada dalam situasi lebih pribadi. Sebagai akibatnya, wanita mengawasi komunikasi mereka sendiri lebih intensif daripada yang pria lakukan. Wanita memperhatikan apa yang mereka katakana serta menerjemahkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan kedalam istilah pria. Ketika pemaknaan maskulin dan feminine serta pertanyaan konflik, maskulin cenderung menang karena dominasi laki-laki di masyarakat. Hasilnya adalah wanita dihilangkan.

Kramarae memperluaskan karya Ardener dengan cara menyatukan dengan hasil penelitian pada wanita dan komunikasi. Kramarae memberikan perhatian khusus pada cara wanita menerjemahkan persepsi mereka sendiri kedalam dunia sudut pandang pria dalam rangka untuk ikut andil dalam kehidupan public. Bagi seseorang, wanita terkadang kesulitan dalam mengekspresikan diri mereka sendiri daripada pria. Pengalaman wanita biasa adalah tidak dapat berkata-kata terhadap pengalaman yang digolongkan sebagai feminin, nampaknya karena pria tidak membagi perasaannya tidak mengembangkan kaidah untuk feminin. Akan tetapi disaat yang sama, memahami pemaknaan pria lebih mudah daripada pria yang memahami wanita karena mereka harus mengetahui kebiasaan system yang dominan.

Dari sumbernya….
Tidak ada yang sederhana tentang pembungkaman. Bukan selalu masalah yang harus “ dipecahkan.” Ada keheningan Dalam meditasi; melepaskan diri dari kehidupan bising urban; menghargai diri kita sendiri dan orang lain; rasa kebersamaan dengan orang lain; beristirahat dari paksaan untuk berbicara. Keheningan dapat juga menjadi sebuah perlindungan, yang tidak harus dibicarakan dengan mengharapkan kebaikan orang lain.

-Cheris Kramarae
Lebih jauh, Kramarae mencatat bahwa karena mereka secara verbal bisu, wanita lebih bergantung pada ekspresi non-verbal dan menggunakan bentuk non-verbal yang berbeda daripada laki-laki. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, sebagai contoh, ekspresi wajah, penghilangan vocal, dan gerak tubuh lebih penting dalam pembahasan wanita daripada pria. Wanita juga nampaknya menunjukkan sebuah ekspresi keragaman dalam percakapan mereka. Sebagai akibat dari menjadi bungkam, wanita merespons dalam berbagai cara. Salah satu responsnya adalah wanita menciptakan ekspresi mereka sendiri diluar dominasi system pria. Kesadaran yang meningkat dari suatu kelompok dan bentuk lain dari “ jadwal gadis keluar malam “ memberi ruang dan waktu bagi wanita untuk menghabiskan waktu dengan wanita lainnya yang dibuat oleh mereka sendiri.

Penciptaan bentuk ekspresi alternatif adalah khas bagi semua populasi yang dibungkam. Selama zaman Rel Kereta Bawah Tanah, selimut kapas banyak tergantung di langsiran kereta api untuk “ mengeluarkan udara “ selama sehari; Pada kenyataannya, mereka mengisyaratkan kepada pelarian budak bahwa ini adalah rumah persembunyian. Bahkan, pola dari selimut kapas sendiri member petunjuk untuk budak tersebut. Ketika pola monyet memegang kunci inggris ditunjukkan, berarti para budak harus segera mengemasi barang yang dibutuhkan selama di perjalanan; ketika pola katak terguling muncul, berarti waktunya untuk pergi; dan pola selimut kapas “ Dresden “ mengidikasikan bahwa budak harus menuju ke Dresden, kanada. Akan tetapi, karena selimut kapas dipandang tidak signifikan oleh budaya dominan, mereka dapat berfungsi sebagai bentuk sebuah pesan khas yang bahkan tidak dapat “ dipahami “ oleh penangkapan budak.

Sebagai contoh kontemporer, Foss and Foss mewawancarai sejumlah wanita dan menguji bentuk komunikasi mereka. Buku mereka, women speak : the eloquence of women’s lives, meragukan sejumlah asumsi tentang apa yang mendasari komunikasi yang mengesankan, menunjukkan bahwa banyak bentuk komunikasi yang digunakan wanita bernilai dalam kewenangan mereka sendiri, walaupun dianggap tidak signifikan dalam public dunia maskulin. Buku tersebut membuat karya ini lebih dikenal public dalam usahanya untuk memberikan suara pada wanita yang secara normal dihilangkan dari masyarakat.

Kramarae adalah seorang penyokong yang kuat agar wanita memiliki kendali pada dunianya sendiri dengan membuat bentuk komunikasi yang lebih nyaman dan ramah untuk mereka. Ia ingin melihat wanita membuat dunia yang aman untuk kebebasan dan penggalian ide-ide kritis. Hal ini dapat terjadi ketika manusia mengolah semua bentuk penekanan, termasuk bentuk bahasa arogan. Ia ingin melihat sebuah dunia yang saling berkaitan daripada pemisahan dan sebuah dunia yang menghargai daripada yang menolak perbedaan. Ia ingin sebuah dunia di mana informasi dengan bebasnya dpat masuk bagi semua orang.

Bagi Kramarae, untuk menyadari dunia semacam ini berarti mengambil ahli bahasa dan emansipasi dari dominasi patriarki. Menganalisis dan memahami terkadang sulit dipisahkan dari pola dominasi linguistic adalah satu cara untuk mencapai tujuan ini. Kedua, sangatlah penting untuk mempelajari komunikasi wanita dan komunikasi kelompok lain yang terpinggirkan untuk lebih belajar mengenai bentuk komunikasi alternatif. Akhirnya, bentuk baru pasti terbentuk dan digunakan.

Kramarae sendiri, bersama dengan koleganya Paul Treichler and Ann Russo, telah menulis sebuah feminist dictionary yang didalamnya terdapat penciptaan makna baru dan membantu membangun dunia peran wanita yang lebih besar. Karya ini berusaha untuk menangkap fitur-fitur dari sebuah wacana dunia feminis dengan menyertakan kata-kata yang memiliki arti khusus untuk wanita sebagaimana definisi yang terkandung, tidak dengan pria, tetapi dengan perasaan wanita. Sebagai tambahan , kamus tersebut mencakup berbagai kata dan sering berlawanan dengan definisi dari sebuah kata, menyarankan bahwa sebuah kata mungkin berbeda arti dalam konteks, waktu, dan individu yang berbeda. Sebagai contoh, nama lahir ( birth name ) adalah “ sebuah istilah yang digunakan oleh feminis sebagai sebuah label yang lebih akurat untuk nama yang diterima saat lahir dari istilah sebelumnya, nama gadis ( maiden name ) yang memiliki standar implikasi seksual ganda.” Hysterical adalah “ sebuah opsi peran alternatif untuk wanita era Victoria kelas menengah yang dihadapkan dengan konflik pengharapan ( menjadi seorang “ lady “, untuk mengurus rumah, untuk menekan angka kelahiran anak ).” Home adalah “ barak yang nyaman,” “ dimana revolusi dimulai,” serta “ lokasi bekerja dan rekreasi untuk wanita dengan anak kecil.”

Karya bahasa dan kekuasaan menggambarkan sebuah cara bagi karya akademisi feminis untuk meningkatkan kesadaran tentang hubungan kekuasaan dan menyarankan strategi untuk meningkatkan kekuataan dari wanita. Selain itu, jenis karya lain yang terkadang berbeda, yaitu sejenis karya feminis yang melibatkan pengenalan terhadap bentuk strategis dari komunikasi yang sifatnya lebih feminin daripada semua yang sudah ada pada bahasa. Kita sekarang berahli ke teori sejenis ini.

Gaya Femini. Teory gaya femini di anjurkan pertama kali oleh Karlyn Kohrs dan di teliti oleh Bonnie J. Dowdan Mari Boor Toon, meneliti usah-usaha Kramarae ubtuk memahami aspek gender pada bahasa. Inti teorynya adaah bahwa gaya femini berasall daru apa yang telah terhubung pada apa yang telah disebut oleh Acambell “craft learning” dalam hal ini Campbell tidak hanya memaknai keahlian secara harfiah yang secara tradisional berhubung dengan ibu rumah tangga dan dunia ibu (peranan feminine) seperti halnya menjahit, menyulam memasak dan mengurus tanaman, tapi juga keahlian secara emosional, seperti pemeliharaan, empati, dan alasan yang konkret.

Campbell menyatakan bahwa selain gaya ini tidaj membatasu wanita, baik sebagai penbicara atau anggota pendenga, munculnya perasaan yang jauh dari rumah dan keudian menghasilkan jenis pesan: “wacana tersebut kedengaranya pribadi (keahlian di pelajari langsung dari mentor), sangat bergantung pada pengalaman pribadi, anekdot, dan contoh lainya. Halini cenderung akan menjadi sruktur (keahlian di pelajari sedikit demi sedikit, contoh demi contohm yang muncul penyamarataan) hal ini mengundang partisipasa pendengar aakan di sebut sebagai kerabat, dengan pengenalan perasaan berdasarkan pepngalaman”. Salah satu strategi dimana orator wanita menggunakan gaya ini untuk Nampak lebih “seperti wanita”di muka umum dan wanita terus mensesialisasikan untuk berkomuikasii dengan cara yang sesuai dengan kpribadian wanita secara tradisional.

Bonnie J. Dow dan Mari boor Toon memperluas karya gaya feminine mereka, menyisakan sebuah strategi yang efektif dimana pembicara wanita kenteporer bias mendapatkan akses kepada system politik; mereka menggunakan pidato mantan gubernur Texas, Ann Richard, untuk memperliharkan keadaan gaya feminine dalam alur wacana politik dan untuk memperlihatkan bagai manna gaya ini berfungsi sebagai sebuah strategi penguasa pendengaran. Mereka menemukan bahwa Richard berdasarkan pengalamannya mengutuip dari surat pemilih, sebagai contohnya, untuk mengistimewakan alas an konkret dari alas an abstrak. Iya juga menggunakan nada pidato pribadi serta kaidah kasih sayang. Pertalian dan hubungan untuk menguasai pendengaranya supaya mempercayai persepsi dan penelitan mereka sendiri. Di saat yang sama, cara dia menyampaikan maksudnya dengan humor, kisah pribadi dan anekdot membuat wacana lebih dapat di terima pendengaran yang tidak pernah di gunakan pada seorang wanita dalam dunia politik. Dow dan Toon mengajukan bahwa gaya feminine Richard terjadi di balik “adaptasi terhadap rintangan yang diteranngkan oleh patriarkis untuk menawarkan alternative terhadap mode pemikiran dan patriarkis.” Mereka menai pandangan alternative ini sebuah ruang penolakan feminis publick (feminis counter-publick sphere)”.

Jane Blankenship dan Deborah Robson menguji wacana kebijakan wanita di muka umum antara tahun 1991 dan 1994 untuk menentukan apakah sebuah gaya feminine dapat di akui kebenaranya dalam wacana politik kontemporer. Mereka menyipukln bahwa pada kenyataannya memang ada dan di golongkan kepada 5 hal yan paling meninjol: 1. Pengalaman konkret sebagai dasar penilaian politik; 2. Cakupan dan hubungan; 3. Kantor public yang terkonsep seperti sebuah tempat “penyelesaian” dan menguasai orang lain; 4. Pendekatan suci kepada bentuk kebjakan; dan 5. Membawa legislasi wanita ke depan umum. Apa yang tersisa, menurut blankship dan Robson adalah apakah gaya feminin membuat atau mencerminkan sebuah perbedaan dalam proses atau hasil dari kebijakan public.

Dengan tradisi sosiokultural, kita bergerak dalam elemen-elemen pesan terhadap keterkaitan yang lebih besar mengenai cara pesan menciptakan hubungan antar individu dalam kelompok budaya masyarakat. Sebagai mana kita bergerak ke tradisi sosiopsikologis anda akan melihat perubahan dari pesan itu sendiri terhadap proses pesikologis yang terlibat dalam produksi dan penerimaan semua pesan tersebut.

TEORI AKSI BERBICARA

TRADISI SOSIOKULTURAL
Tradisi semiotika dalam teori komunikasi sangat membantu untuk menunjukkan susunan komponen dan pengaturan dari sebuah pesan, tetapi komunikasi adalah sebuah hal yang besar, lebih dari struktur dari sebuah pesan. Penting juga untuk mempertanyakan apa yang kita lakukan dengan kata-kata dan kode-kode non-verbal. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita sekarang bergerak ke tradisi social budaya. Tradisi ini menjauhkan kita dari perbedaan individu dan pengolahan kesadaran terhadap hubungan social, kelompok dan makna yang dihasilkan melalui interaksi. Disini, kita akan melihat teori aksi berbicara ( speech act ), identifikasi, dan bahasa, dan gender.

TEORI AKSI BERBICARA
Jika anda membuat sebuah janji, maka anda menyampaikan sebuah niat tentang sesuatu yang anda lakukan di masa depan dan mengharapkan pelaku komunikasi lain sadar terhadap apa yang anda katakana dan niat anda, “ anda berasumsi orang lain tahu makna dari kata-kata anda. Mengetahui kata-kata tidaklah cukup. Mengetahui niat anda untuk menyelesaikannya dengan menggunakan kata-kata adalah vital. Teori kemampuan berbicara yang kebanyakan dihubungkan dengan john Searle dirancang untuk membantu kita memahami bagaimana manusia menyempurnakan hal dengan kata-katanya.

Kapan pun anda membuat pernyataan seperti, “ saya akan membalas anda,” anda menyelesaikan beberapa hal. Pertama, anda menghasilkan sebuah wacana. Hal ini disebut dengan aksi terungkap ( utterance act ), sebuah penyebutan kata-kata dalam kalimat dengan sederhana. Kedua, anda sedang menegaskan sesuatu tentang dunia atau melakukan sebuah aksi usulan ( propositional act ). Dengan kata lain, anda mengatakan sesuatu, baik anda menyakininya sebagai kebenaran maupun anda mencoba supaya orang lain memercayainya. Ketiga, dan yang paling penting dari perspektif aksi berbicara, anda memenuhi sebuah niat yang disebut sebuah aksi berkehendak ( illocutionary act ). Aksi berkehendak menjadi inti dari teori ini yang akan dibahas lebih mendalam paada bab ini. Akan tetapi, sebelum kita melakukannya, mari kita lihat empat kemungkinan pemenuhan dari sebuah pesan. Ini adalah aksi mempengaruhi ( perlocutionary act ) yang dirancang supaya berpengaruh pada perilaku orang lain.

Misalnya, teman anda mengirim e-mail ­kepada anda dan berkata, “ saya ingin keluar malam ini.” Kalimat bahasa inggris teman anda adalah sebuah aksi terungkap, biasa saja atau problematic. Kedua, ia menunjukkan usulan atau kebenaran pernyataan yang bermakna sesuatu tentang apa yang dia ingin lakukan, tetapi pada kasus ini sangat susah untuk mengatakannya karena itu sudah sangat jelas. Ketiga, pesan teman anda adalah sebuah aksi berkehendak yang anda tafsirkan menjadi sebuah penawaran atau undangan meminta anda pergi dengannya. Keempat, ia berusaha supaya anda melakukan sesuatu, dan jika anda menerima undangannya, ia telah melengkapi sebuah aksi memengaruhi.

Perbedaan ini lebih penting daripada kedengarannya. Mari kita mulai dengan perbedaan antara aksi berkehendak dan aksi memengaruhi. Aksi berkehendak adalah sebuah tindakan yang menjadi perhatian utama pembicara, yaitu pendengar memahami maksud untuk membuat janji, sebuah undangan, sebuah permintaan, atau apa pun. Aksi memengaruhi adalah sebuah tindakan yang pembicara harapkan pendengar tidak hanya mengerti akan maksudnya, tetapi untuk melakukannya. Jika anda berkata, “ saya haus, “ dengan maksud supaya saudara anda mengerti bahwa anda memerlukan sesuatu yang dapat diminum, maka anda melakukan aksi berkehendak. Jika anda juga ingin ia membawakan sebuah Diet Coke, maka anda menyampaikan aksi memengaruhi. Dalam literature aksi berbicara, contoh ini disebut permintaan tidak langsung serta keduanya adalah aksi berkehendak dan aksi memengaruhi.

Sekarang, mari kita lihat perbedaan antara aksi berkehendak dan aksi memengaruhi. Sebuah proposisi, seperti satu aspek yang terkandung dari sebuah pernyataan, menandakan beberapa kualitas atau hubungan dari sebuah objek, situasi, atau peristiwa. “ Kuenya lezat,” “garam berbahaya bagi tubuh,” dan “ namanya adalah Marta” semua contoh ini adalah usulan. Permasalahan dapat dievaluasi dari nilai kebenarannya, tetapi disinilah teori aksi berbicara menjadi sangat penting. Anda hampir selalu ingin menyampaikan sesuatu lebih dari permasalahan yang sebenarnya; anda ingin melakukan sesuatu yang lain dengan kata-kata anda.

Dalam teori aksi berbicara, kebenaran tidak terlalu penting. Malahan, pernyataan sebenarnya adalah apa maksud dari pembicara dengan mengutarakan permasalahan tersebut. Proposisi dalam aksi berkehendak bagi Searle harus dipandang seperti sebuah bagian dari konteks yang besar. Beberapa contohnya adalah : saya bertanya apakah kue itu lezat; saya peringatkan anda bahwa garam itu berbahaya bagi tubuh; saya nyatakan bahwa namanya adalah Mata. Apa yang pembicara lakukan dengan proposisi adalah aksi berbicara dalam contoh ini adalah bertanya, memperingatkan, dan menyatakan.

Makna dari aksi berbicara adalah kekuatan memengaruhi. Sebagai contoh, pernyataan, “ saya lapar,” dapat dianggap sebagai sebuah permintaan jika pembicara bermaksud supaya pendengar menawarkan makanan. Disini lain, hal ini dapat dianggap sebagai sebuah penawaran, jika pembicara bermaksud untuk mengatakan bahwa ia akan mulai membuat makan malam; atau mungkin secara sederhana memiliki kekuatan memengaruhi dari sebuah rancangan pernyataan yang hanya untuk menyampaikan informasi dan tidak lebih. Menurut Searle, kita tahu maksud di balik sebuah pesan tertentu karena kita berbagi permainan bahasa sederhana yang terdiri dari sejumlah aturan yang membantu kita untuk mendefinisikan kekuatan memengaruhi dari sebuah pesan.

Searle menyatakan secara dasar bahwa “ berbicara sebuah bahasa adalah menyatu dengan sebuah bentuk aturan yang diatur oleh perilaku.” Dua jenis aturan yang sangat penting pokok dan regulatif. Aturan pokok ( constitutive ) sebenarnya menciptakan permainan; yaitu permainan telah diciptakan atau “ ditetapkan,” dengan aturannya. Sebagai contoh, permainan sepak bola ada hanya karena berdasarkan atas aturannya. Peraturan yang menyusun permainan. Ketika anda mengamati seseorang yang mengikuti peraturan tersebut, anda tahu permainan sepak bola sedang dimainkan. Oleh karena itu, peraturan ini memberitahukan anda untuk menafsirkannya seperti sepak bola ( football ) yang berlawanan dengan baseball atau soccer. Dalam aksi berbicara, aturan pokok memberitahukan anda apa yang harus ditafsirkan seperti sebuah janji yang berlawanan dengan sebuah permintaan atau sebuah perintah. Maksud anda sangatlah dimengerti oleh orang lain karena aturan pokok; mereka memberitahukan orang lani apa yang diharapkan dari sebuah aksi berbicara seperti itu.

Sebagai contoh, bagaimana anda mengetahui sebuah janji ketika anda mendengarkannya satu kali? Janji melibatkan lima peraturan dasar: pertama, hanya menyertakan sebuah kalimat yang menunjukan pembicara akan melakukan suatu tindakan. Kedua, ungkapan hanya dinilai sebagai sebuah janji jika pendengar lebih suka pembicara melakukan tindakan tersebut daripada hanya berbicara. Dengan kata lain, dalam konteks interaksi, pendengar mengharapkan sebuah janji. Ketiga, sebuah penyataan adalah sebuah janji hanya jika dilakukan di luar rangkaian peristiwa normal. Jika anda melakukan, maka janji tidak diperlukan. Keempat, pembicara harus cenderung akan melakukan tindakan. Akhirnya, sebuah janji melibatkan pembentukan sebuah kewajiban bagi pembicara untuk berbuat sesuatu. Kelima, orang itu “ menegaskan “ sebuah rangkaian keadaan yang cukup untuk aksi berbicara supaya dinilai sebuah janji.

Walaupun banyak aksi berbicara yang mengaruh dan melibatkan kegunaan dari sebuah pernyataan dengan maksud eksplisit, aksi berbicara lainnya adalah tidak langsung. Untuk meminta keluarganya dating ke meja untuk makan malam, seorang ayah mungkin berkata, “ Ada yang lapar?” nampaknya ini adalah sebuah pertanyaan, tetapi dalam keadaan sebenarnya, hal ini adalah permintaan secara tidak langsung dan bahkan dapat juga menjadi sebuah perintah.

Searle menguraikan lima jenis aksi berkehendak. Pertama, ia menyebutkan penegasan ( assertive ). Penegasan adalah pernyataan yang mengikat pembicara untuk menyokong kebenaran dari sebuah permasalahan. Hal ini mencakup tindakan, seperti menyatakan, menegaskan, menyimpulkan, dan meyakinkan. Kedua, arahan ( directives ). Aksi berkehendak yang berusaha supaya pendengar melakukan sesuatu. Bentuk-bentuk dari arahan adalah perintah, permintaan, pembelaan, berdoa, permohonan, undangan, dan seterusnya. Ketiga, keterikatan ( commissives ), mengikat pembicara pada tindakan selanjutnya. Mereka terdiri atas hal-hal, seperti berjanji, bersumpah, ikrar, kontrak, dan jaminan. Keempat, pernyataan ( expressive ), tindakan yang menyampaikan beberapa aspek psikologis dari kondisi pembicara, seperti berterima kasih, mengucapkan selamat, permintaan maaf, menghibur, dan penyambutan. Terakhir deklarasi ( declaration ), dirancang untuk menciptakan sebuah proposisi, sangat menuntut, yang membuatnya seperti itu. Contohnya meliputi penunjukan, pernikahan, pemecatan, dan pensiunan. Untuk menggambarkannya, anda tidak akan menikah sampai orang yang berwenang mengatakan kata-kata, saya meresmikan anda sebagai suami dan istri.

Beberapa aksi berkehendak harus mengikuti sejumlah aturan pokok dalam rangka untuk menganggapnya sebagai sebuah aksi berkehendak. Aturan isi proposisi menetapkan beberapa kondisi dari objek yang dituju. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, pembicara harus menyatakan bahwa tindakan selanjutnya akan dilakukan. Mungkin untuk membayar utang. aturan pendahuluan melibatkan asumsi perkiraan dari pembicaraan dan pendengar yang penting untuk tindakan yang akan terjadi. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, ungkapan tidak memiliki makna kecuali pendengar labih suka tindakan selanjutnya dapat terlaksana daripada hanya sekedar diungkapkan. Pada ilustrasi awal, pendengar ingin membalas kembali. Aturan kesungguhan, pembicara perlu untuk bersungguh-sungguh pada apa yang ia katakan. Anda harus benar-benar berniat untuk membayar utang supaya pernyataan dapat dinilai sebagai janji. Aturan esensial menyatakan bahwa tindakan yang diambil oleh pendengar dan pembicara untuk mewakili apa yang terlihat, menjadi benar-benar ada. Dengan kata lain, janji membangun sebuah kontrak kewajiban antara pembicara dan pendengar. Jenis aturan pokok ini diyakini untuk menerapkan kedalam variasi aksi berkehendak yang lebih luas, seperti menanyakan kembali, menegaskan , mempertanyakan , berterima kasih, menyarankan, memperingatkan, menyalami, dan mengucapkan selamat.

Peraturan kedua yang dibutuhkan dalam aksi berkehendak adalah regulatif. Aturan regulatif memberikan petunjuk untuk beraksi didalam permainan. Perilaku telah diketahui dan ada sebelum digunakan dalam tindakan serta mereka memberitahukan bagaimana menggunakan kemampuan berbicara untuk mencapai sebuah maksud tertentu. Sebagai contoh, jika saya menginginkan sesuatu, maka saya membuat permintaan. Ketika saya meminta sesuatu pada anda, maka anda berkewajiban untuk mengabulkan atau tidak.

Aksi berbicara tidak akan berhasil ketika kehendak tidak dipahami dan mereka dapat dievaluasi dalam hubungannya dengan tingkatan saat mereka memakai aturan dari aksi berbicara tersebut. Mengingat proposisi ddievaluasi dengan kebenarannya atau validitas, aksi berbicara dapat dievaluasi dari keakuratan atau tingkatan saat kondisi dari tingkatan telah sesuai. Kesesuaian sebuah janji adalah apakah aturan yang penting untuk melaksanakan janji, telah disepakati.

Kami memasukkan teori klasik aksi berbicara dalam bab ini karena berfokus pada elemen pesan yang mendasari aksi berbicara secara khusus. Teori aksi berbicara mengidentifikasi apa yang terjadi untuk membuat pernyataan yang berhasil, supaya maksud dapat dipahami. Akan tetapi, aksi berbicara jarak terisolasi; mereka biasanya bagian dari percakapan. Bagaimana kita mengatur percakapan, penting bagi teori komunikasi dan kami mengangkat subjek ini secara detail pad bab 6.