Showing posts with label Nilai-Nilai. Show all posts
Showing posts with label Nilai-Nilai. Show all posts

Friday, 31 March 2017

Jenis Nilai-nilai Luhur Pancasila

Nilai-nilai Luhur Pancasila
Manusia dilahirkan sebagai makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri, artinya manusia senantiasa memerlukan bantuan orang lain. Bantuan orang lain itu akan dirasakannya diperlukan ketika akan memenuhi kebutuhan, baik itu kebutuhan biologis, kebutuhan hiburan, kebutuhan rasa aman dan nyaman.

Nilai-nilai pancasila dijabarkan dari:
a. Keyakinan dan Kerukunan
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu: kepercayaan terhadap eksistensi Allah SWT Yang Maha Kuasa, toleransi antar pemeluk agama, kerukunan antar pemeluk agama, saling menghormati antar pemeluk agama, kebebasan menjalankan ibadah menurut agama yang diyakini.

b. Keadilan yang Beradab
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yaitu: bahwa manusia memiliki martabat, harkat, derajat yang tinggi sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia di bumi, manusia memiliki agama, manusia memiliki budaya, manusia memiliki daya piker, daya cipta, dan daya karsa untuk berbuat demi kemaslahatn umat, menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

c. Kebanggaan dan Kecintaan
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sila Persatuan Indonesia yaitu: kecintaan dan bangga terhadap tanah air, Negara yang berdaulat, bahasa, dan bendera merah putih, mencintai NKRI, mencintai kemerderkaan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang mensejahterakan dan memakmurkan rakyat, mencintai pejuang yang rela berkorban.

d. Ketaatan
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan adalah: taat melaksanakan keputusan dari hasil musyawarah mufakat, taat pada norma-norma ajaran agama, norma-norma kehidupan dalam masyarakat seperti taat pada hukum adat, menerima hasil keputusan bersama.

e. Keadilan Sosial
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sila Keadilan Sosial Bagi Selurih Rakyat Indonesia adalah: adil dalam arti tidak bertindak sewenang-wenang terhadap individu atau kelompok lain, adil dalam memberlakukan keputusan hukum, adil dalam member lapangan kerja, adil dalam memperjuangkan HAM, tidak merugikan orang lain, membela keadilan dan kebenaran, dan menghormati hak orang lain.

Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Luhur Pancasila
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa rumusan pancasila digali dari pola kehidupan, budaya dan adat istiadat masyarakat bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur yang merupakan suatu rangkaian sistem nilai dasar yang memperkuat satu sama lainnya. Kekuatan spiritual dan sistem nilai dasar inilah yang dihayati, diamalkan, diaktualisasikan oleh para pendiri republic ini.



Penerapan pancasila sebagai pandangan hidup di Indonesia tidak mudah. Negara ini adalah Negara yang pluralistic, jumlah etnisnya ± ada 300 kelompok yang sudah pasti memiliki adat istiadat, budaya dan pola hidup serta nilai-nilai kehidupan yang dianut pun berbeda. Belum lagi macam-macam agamanya dengan tata cara beribadah yang berbeda, bahasa, dialeg, watak etnisnya yang dipahami oleh pendatang lain. Kondisi pluralistic inilah kadang-kadang sebagai penyebab terjadinya benturan nilai-nilai yang saling berbeda yang dapat menimbulkan konflik social.

Internalisasi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Luhur Pancasila

Internalisasi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Luhur Pancasila
Pancasila sebagai falsafah bangsa yang identik dengan pandangan hidup bangsa Indonesia juga sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Pancaran wawasan yang bersumber dari kekuatan dan kesaktian pancasila ibarat pancaran sumber air yang member kehidupan. Apabila sumber-sumber air tersebut menyatu akan menjadi sumber kekuatan yang mampu menahan apa saja. Ibarat air laut yang merupakan kesatuan dari pancaran sumber air yang mampu menahan apa saja yang ada di permukaannya dan mampu pula menghantam dan menghancurkan apa saja yang menghalanginya. 

Pancasila adalah sumber kehidupan dalam arti pandangan hidup bangsa Indonesia, apabila diganggu dan dirongrong, berarti menggangu dan mengrongrong setiap aspek kehidupan bangsa. Sumber kehidupan berarti napas yang harus dijaga dari gangguan, hambatan, dan ancaman, bila tidak maka napas pasti berhenti dan konsekuensinya adalah mati. 

a) Internalisasi Nilai-Nilai Luhur Pancasila Di Perguruan Tinggi
Internalisasi yang dimaksud adalah menanamkan nilai-nilai luhur pancasila agar kokoh dan tidak mudah digoyahkan oleh siapapun, dan pendidikan nilai-nilai luhur pancasilla agar setiap perilaku intelektual insan perguruan tinggi mencerminkan nilai-nilai luhur pancasila.

b) Aktualisasi Nilai-Nilai Luhur Pancasila Di Perguruan Tinggi
Aktualisasi yang dimaksud adalah budayakan perilaku yang mencerminkan jati diri pancasialis dan membangun citra kampus pancasila.

D. Memahami Hakekat Manusia
1) Manusia sebagai makhluk beragama
Sesungguhnyaperilaku manusia yang berkarakter baik/ berakhlak mulia dan yang berkarakter tidak baik tergantung dari segumpal darah yang ada dalam tubuh manusia yaitu hati (Qalbu). Oleh karena itu, memelihara hati, menumbuh suburkan hati sangat penting melalui siraman hati. Siraman hati yang paling berharga adalah bersumber dari ajaran agama.

Manusia beragama hakekatnya ingin hidup damai, tentram, aman, dan tertib. Agama apapun mengajarkan kedamaian, ketentraman, keamanan, dan ketertiban baik lahir maupun batin. Intinya adalah menghayati, memahami, dan mengamalkan ajaran agama. Dalam keseharian perilaku sopan santun, atau adat istiadat, tata krama, menghormati orang tua dan guru, patuh dan taat adalah pembinaan karakter/ budi pekerti sejak dini.

2) Manusia adalah Makhluk yang Berbahaya
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT adalah makhluk yang berbudaya. Manusia berbudaya, unsur inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia dibekali dengan akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan akal manusia dapat mewujudkan bermacam karya sebagai hasil budaya. Manusia dibekali pula dengan perasaan. Perasaan untuk tidak menyinggung dan mengganggu orang lain adalah perasaan yang berkarakter/ berbudi pekerti. Perasaan kecintaan, kekeluargaan, kekerabatan, kepedulian, keakraban, dll bersumber dari hati yang bersih dan jernih. Sebagai makhluk berbudaya padda hakekatnya adalah manusia ingin maju, manusia ingin bersaing, manusia ingin menciptakan sesuatu yang baru, manusia ingin beradat istiadat, bersopan santun, manusia ingin menciptakan karya dan seni, manusia ingin menciptakan ilmu pengetahuan, manusia ingin menciptakan pembaharuan pendidikan, manusia ingin mememlihara tradisi.

4. Pendidikan Karakter Dalam Gurindam Dua Belas
A. Raja Ali Haji Penulis Gurindam Dua Belas
Gurindam Dua Belas yang dikenal sangat luas merupakan karya dari seorang Bapak Bahasa Indonesia, Pahlawan Nasional dibidang Bahasa yaitu Raja Ali Haji. Nama lengkapnya adalah Teungku Haji Ali al-Haji bin Tengku Haji Ahmad. Dilahirkan di Pulau Penyengat Indra Sakti di waktu itu menjadi pusat pemerintahan Kerajaaan Riau Lingga, Johor dan Pahang. Raja Ali Haji sebagai penulis Gurindam Dua Belas adalah seorang Pahlawan Nasional dibidang Bahasa Melayu sebagai asal Bahasa Indonesia.

B. Rumusan Gurindam Dua Belas
Gurindam Dua Belas adalah karya puisi yang diciptakan oleh Raja Ali Haji dengan memperlihatkan kepoloporan dalam meningkatkan kulitas Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia modern. Gurindam Dua Belas mengandung banyak nasehat, pesan, dan petuah bagi anak bangsa terutama sekali dalam membangun Karakter/ budi pekerti. Disebut Gurindam Dua Belas karena isi puisi terdiri dari dua belas pasal. Secara rinci dikutip berikut ini :

Ini Gurindam Pasal Yang Pertama
Barang siapa tiada memegang agama

Segala-gala tiada boleh dibilang nama 
Barang siapa mengenal yang empat 

Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tegahnya tiada ia menyala
Barang siapa mengenal diri

Maka telah mengenal akan tuhan yang bahri
Barang siapa yang mengenal dunia

Tahulah ia dunia mudharat

Ini Gurindam Pasal Yang Kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut

Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang

Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa

Tidaklah dapat dua temasa

Barang siapa meninggalkan zakat 

Tiadalah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji

Tiadalah ia menyempurnakan janji 

Inilah Gurindam Pasal Ketiga 
Apabila terpelihara mata 

Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping

Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah 

Niscaya dapat daripadanya faedah 
Bersunggguh-sungguh engkau memelihara tangan

Dari pada segala berat dan ringan 
Apabilaa perut terlalu penoh

Keluarlah fi’il yang tiada senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat

Disitulah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki

Daripada berjalan yang membawa rugi

Ini Gurindam Pasal Yang Keempat
Hati itu kerajaan di dalam tubuh

Jikalau zalim segala anggota pun rubuh 
Apabila dengki sudah bertanah 

Datanglah daripadanya beberapa anak panah 
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir

Di situlah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangaan dibela

Nanti hilang akal dikepala
Jika sedikitpun berbuat bohong 

Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong
Tanda orang yang amat celaka

Aib dirinya tiada dia sangka
Bakhil jangan diberi singgah 

Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa perkataan kotor 

Mulutnya umpama ketor
Di mana taau salah diri

Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaaan takabur jangan direpih

Sebelum mati didapat juga sepih

Ini Gurindam Pasal Yang Kelima
Jika hendak mengenal orang yang berbangsa 

Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbagia

Sangat mmeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu 

Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang mulia

Lihatlah pada kelakauan dia
Jika hendak mengenal orang yang berakal 

Di dalaam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baikperangai

Lihat pada ketika bercampur deengan orang yang ramai
Ini Gurindam Pasal Yang Keenam
Cahari olehmu akan sahabat

Yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akaan guru

Yang boleh tahukan tiap seteru
Cahari olehmu akan isteri

Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan 

Plih segala orang yang setiawan 
Cahari olehmu akan abdi

Yang ada baik sedikit budi

Ini Gurindam Pasal Yang Ketujuh
Apabila banyak berkata-kata

Disitulah banyak jalan masuk dosa
Apabila banyak berlebih-lebihan ssuka

Itulah tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat 

Itualah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tiada dilatih

Jika besar bapanya letih
Apabila banyak mencak orang

Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur 

Sia-sia sajalah umur
Apabila mendengar akan ada khabar

Menerimanya itu hendaklah sabar
Apabila mendengar akan aduan

Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut

Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar

Lekaslah sekalian orang gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar

Tidak boleh orang yang berbuat onar

Ini Gurindam Pasal Yang Kedelapan 
Barang siapa khianat akan dirinya 

Apalagi kepada yang lainnya
Kapada dirinya ia aniaya

Orang itu jangan engakau percaya 
Lidah suka membenarkan dirinya

Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar

Biar daripada orang datangnya khaabar
Orang yang suka menampakkan jasa

Setengah dari syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri sembunyikan

Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka

Ke’aiban diri hendaklah sangka

Ini Gurindam Pasal Yang Kesembilan
Tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan 

Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua

Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja

Di situlah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda

Di situlah syaitan tempat penggoda
Perkumpulan laki-laki daan perempuan 

Di situlah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua yang hemat

Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru

Dengan syaitan jadi berseteru

Ini Gurindam Yanng Kesepuluh
Dengan bapa jangan durhaka

Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat

Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai

Supaya boleh naik ke tengak balai
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa

Supaya kemaluan jangan menerpa
Dengan kawan hendaklah adil

Supaya tangannya jadi kapil

Ini Gurindam Pasal Yang Kesebelas
Hendak berjasa 

Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala

Buang perangai yang tercela
Hendak memegang amanat

Buanglah khianat
Hendak marah

Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalui
Hendak ramai

Murahkan perangai

Ini Gurindam Pasal Yang Keduabelas
Raja mufakat dengan menteri

Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja

Tanda jadi sebarang kerja
Hukum ‘adil atas rakyat

Tanda raja beroleh ‘inayat
Kasihkan orang yang berilmu

Tanda rahmat atas dirimu
Hormat orang yang pandai

Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati

Itulah asal berbuat bakti

Akhirat terlalu nyata

Kepada hati yang tidak buta

5. Karakter/Budi Pekerti Kepemimpinan Nasional
Manusia sudah ditakdirkan hidup berkelompok berdasarkan kepentingan bersama. Untuk mencapai kepentingan kelompok diperlukan seorang pemimpin untuk mengarahkan dan mengerahkan semua unsur dalam organisasi seperti manusia dengan pola tingkah laku dan pemikiran yang berbeda, sarana dan prasarana, serta dana agar menjadi satu potensi satu dalam rangka mencapai tujuan bersama. 

Kualitas seorang pemimpin tampak pada kemampuannya menggerakkan, memberi bimbingan , perintah dan motivasi sehingga bawahan termotivasi untuk berbuat demi kepentingan bersama mencapai tujuan yang disepakati bersama. Sehubungan dengan itu, arti kepemimpinan adalah suatu kiat ilmu dan seni memimpin yang tampak pada usaha mempengaruhi orang lain terutama bawahan yang dipimpinnya untuk mentaati perintah dan petunjuk secara suka rela guna mencapai tujuan organisasi.

Berpegang pada pengertian umum kepemimpinan tersebut maka yang dimaksud dengan Kepemimpinan Nasional adalah “kelompok elite bangsa pada segenap strata kehidupan nasional pada bidang sektor/profesi pada supra dan infra struktur, serta pemimpin non formal yang memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengarahkan/mengerahkan bangsa dan negara dalam pencapaian nasional.

Dalam situasi dan kondisi sekarang ini dunia terus berubah menurut “Kekuatan Perubahan” (Power of Change) dari waktu ke waktu. Situasi dan kondisi yang selalu berubah ini disebabkan oleh sistem kehidupan social yamg selalu berubah yang cenderung kearah yang lebih meningkat/maju. Oleh karena itu strategi kepemipinan pun tidak statis tetapi dinamis sesuai dengan arah gerakan perubahan tersebut.

A. Rasulillahi Uswatun Hasanah Pemimpin Umat
Dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab, ayat 21 Allah berfirman dengan : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang amat baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

“Akhlak Rasullah patut dicontoh oleh pemimpin sekarang adalah sejalan dengan reference diatas adalah pemurah, tidak kikir, berani, tidak pernah mundur dalam memutuskan, dan jujur serta terpercaya sepanjang hidupnya”. (KH. Abdullah Zaki Al-Kaaf :79). Al-Quran telah mengisyaratkan bahwa contoh teladan yang paling unggul dari yang unggul adalah Muhammad Rasulullah.

Seorang pemimpin yang baik memiliki sifat rendah hati, terbuka dan kritik, jujur, berani, mengatakan yang benar itu bener dan salah itu salah, memegang amanah, berlaku adil, memiliki komitmen dalam perjuangan, beritelegensi, dan mengabdi kepada Allah SWT.
  • Jangan tukar Rahmatan li a’lamin Rasulullah dengan kegelapan. 
  • Jangan tukar Syurga yang dirahasiakan Rasulullah dengan neraka.
  • Jangan tukar ke-Sidiq-an yang dicontoh Rasulullah dengan ketidak jujuran.
  • Jangan tukar ke-Taqlib-an yang dicontohkan Rasulullah dengan kesombongan .
  • Jangan tukar ke-Fathanahan yang diajarkan Rasulullah dengan kebodohan.

B. Contoh Kepemimpinan Berkarakter/Berbudi Pekerti
Kepemimpinan Nasional yang dirindukan oleh rakyat sekarang ini adalah “keteladanan”. Dalam era demokrasi sejatinya dalam pertarungan pemilihan kepemimpinan menerima lawan yang menang, sehingga kehidupan Negara tidak terganggunya oleh ulahnya kepemimpinan yang kalah.

Beberapa contoh kepemimpinan yang berkarakter kuat :
  1. Perdana Menteri Wanita Pertama Iggris Margaret Thatcher (Wanita Besi). Pemimpin yang tidak pernah putus asa jika tanda-tanda kemenangannya belum dilihat, ia berjuang sampai sukses, walau Thatcher sering pula mengalami kekalahan dalam dunia politik. Keputusannya penuh ketelitian, perhitungan, mendengar pendapat beberapa pihak.
  2. Le Kuan Yew, membawa Singapura yang semula hanya sebuah pulau kecil yang miskin sumberdaya menjadi Negara yang makmur.
Di sebuah Negara yang tidak memilki new leaders yang cakap atau situasi masyarakat yang cenderung statis seperti negara-negara Asia, akan lebih manjur, jika menggunakan pendekatan yang lebih otoritatif dengan sistem dan prosedur yang terukur. Ada situasi dimana fleksibilitas yang berlebihan malah membawa inefisiensi, minat kerja yang rendah, dan bahkan penyalahgunaan wewenang.

Strategi yang sama juga diterapkan di tempat dimana terdapat kesenjangan skill antara follower and leader sepwrti Indonesia. Bahkan sulit bagi kita untuk mengharapkan mereka yang pendidikannya terbatas untuk mengambil keputusan secara benar. Dengan strategi penerapan yang benar, sebuah negara bahkan akan berjalan dengan efektif, meskipun mungkin tidak semua orang simpati pada kebijakan kita maupun diri kita secara pribadi.

C. Kepemimpinan Nasional Yang Diharapkan
Masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini dalam hal kepemimpinan adalah bagaimana kader kepemimpinan nasional menghadapi krisis bangsa ini. Kerinduan terhadap pemimpin kuat bukan basa-basi. Pemimpin yang kuat bukan berarti otoriter yang kental dengan kekerasan. Tetapi pemimpin memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, kedalam wawasa, yang memiliki komitmen yang kuat untuk mengawal demokrasi, penegakan HAM dan hokum tanpa pandang bulu.

Pemimpin yang demokrasi dikawal oleh penegakan hukum, karena keduanya merupakan dua sisi mata uang yang saling memberi arti. Untuk memilih pemimpin seperti itu, persyaratannya adalah rakyat harus cerdas.

6. Pengaruh Perkembangan Lingkungan Strategis Dalam Membangun Karakter Anak Bangsa
Dalam era globalisasi dan demokrasi sekarang ini,bangsa indonesia tengah mengsikapi arus global. Era globalisasi merubah situasi dan kondisi dunia menjadi sempit. Di satu sisi, globalisasi ditandai dengan persaingan dan keunggulan, pada sisi lain globalisasi didukung oleh kemajuan teknologi informasi.Sejalan dengan itu, isu demokratisasi semakin menonjol dan juga isu politik lainnya bersamaan demokratisasi adalah transparansi. Namun, disisi lain persoalan yang dihadapi adalah bangsa yang masih dalam kondisi krisis multidemensi yang berkepanjangan.

A. Pengaruh perkembangan Lingkungan Strategis (Lingstra) Global / Internasional dan Regional 
Krisis moneter yang sedang melanda Republik indonesia yang tercinta ini disebabkan salah satu diantaranya adalah bahwa negara berkembang sangat tergantung kepada negara maju. Faktor lain yang mrngakibatkan negara ini terpengaruh yaitu lemahnya karakter/budi pekerti anak bangsa , lemahnya solidaritas nilai-nilai luhur yang sudah dibangun oleh leluhur ditinggalkan begitu saja.

1) Pengaruh dalam Bidang Politik
Dampak perkembangan lingkungan strategis global/ internasional dibidang politik dapat diikuti dari munculnya keyakinan diberbagai negara, khususnya negara berkembang. Perkembangan pada dimensi lain pada bidang politik yaitu munculnya lembanga politik internasional, lembaga keuangan internasional, perusahaan multi nasional, LSM , Badan-Badan Swasta nasional, Dll.

2) Pengaruh dalam Bidang Ekonomi
Pengaruh kekurangmantapan sistem moneter internasional tampak pada nilai tukar uang yang tidak menentu. Perkembangan lingkungan strategis regional lebih dominan dibidang ekonomi ini ditandai pula oleh meningkatnya hubungan dagang dan ekonomi diantara negara-negara Asean .Namun, perkembangan lingkungan strategis regional tampaknya sangat besar sekali yaitu krisis moneter yang hampir terjadi disetiap negara.

3) Pengaruh dalam Bidang Sosial Budaya
Dampak perkembangan lingkungan strategis global/ internasional dan regional dalam bidang sosial-budaya tampak jelas pada perilaku masyarakat seperti cara berpakaian,munculnya jenis-jenis makanan baru dengan segala macam merek, serta gaya hidup mewah ala ke barat-baratan,Dll. Hal ini menunjukkan perilaku yang mencotoh budaya global yang lebih ditontonkan ketimbang perilaku budaya bangsa sendiri. Kecendrungan mewujudkan demokratisasi sehingga tuntutan politik dalam segala mobilitasnya berdampak pula pada bidang sosial budaya.

4) Pengaruh dalam Bidang Pertahanan
Perkembangan lingkungan strategi global di bidang pertahanan juga adalah disentegrasi bangsa. Perkembangan kegiatan terorisme internasional yang ditandai dengan runtuhnya gedung WTC dan Pentagon di AS., dll. Pengaruh perkembangan lingkungan strategis regional dibidang pertahanan ditandai oleh adanya sengketa yang mengakibatkan terganggunya stabilitas nasional.

B. Pengaruh Perkembangan Lingkungan Strategis Nasional
1) Pengaruh dalam Bidang Politik
Orde reformasi lahir sebagai koreksi total terhadap penyelewengan-penyelewengan dalam bentuk KKN selama orde baru yang dimuati dengan “Kekuasaan”, Monopoli ekonomi, arongasi,Dll. Issue nasional juga adalah otonomi daerah yang mulai diberlakukan berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang masih memerlukan telah strategis.

2) Pengaruh Dibidang Ekonomi
Perkembangan lingkungan strategis nasional dalam bidang ekonomi yang berdampak pada stabilitas pembangunan nasional adalah belum seimbangnya pembangunan ekonomi dipusat dan didaerah, antara kota dan desa merupakan salah satu penghambat pembangunan nasional. Pada sisi lain, dalam sistem perekonomian nasional yang ikut mempengaruhi stabilitas nasional adalah munculnya deregulasi dan debirokratisasi perekonomian nasional untuk menghindari biaya yang tidak proporsional yang ditanggung oleh rakyat. Misalnya melalui tarif pajak telpon, listrik,air, BBm, serta menghindari monopoli dan oligopoli.

3) Pengaruh dalam Bidang Sosial Budaya
Keterbukaan dalam era globalisasi yang didukung oleh kekuatan jaringan ilmu pemgetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama teknologi informasi, teknologi komunikasi, teknologi transportasi telah merubah tantanan nilai norma kehidupan baru. Masalah sosial budaya lainnya yg belum tertuntaskan,seperti penyebaran penduduk menumpuk dikota-kota besar. Dampak perkembangan lingkungan strategis nasional lainnya adalah penegakkan supremasi hukum supaya masyarakat taat kepada hukum,Permasalahan dapatkah mereka meningkatkan ketahanan budaya agar arus budaya “Modernisasi” dan “Westernisasi” yg sulit dibendung termasuk muatan-muatan negatifnya.

4) Pengaruh dalam Bidang Pertahanan 
Berbagai krisis yg bermula direpublik ini bermula dari krisis moneter yg mengantar pada krisis multimensi sangat menganggu stabilitas nasional dan dapat merapuhkan ketahanan nasional. Kewaspadaan harus ditingkatkan karena berbagai peristiwa telah terjadi direpublik ini dari sabang sampai merauke, Misalnya di aceh terkenal dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) , Dipapua (OPM), Dll. Peristiwa tersebut berpengaruh pada semua aspek kehidupan yang mencakup semua bidang.

7. Bersikap Positif Terhadap Globalisasi
A. Mengemas Informasi Berkualitas
Globalisasi merupakan karunia dari Allah yang maha Kuasa, maha Besar, maha tahu, dan maha segala-galanya. Globalisasi menuntut kualitas yang pada hakekatnya bertujuan meningkatkan harkat dan martabat manusia, sebagai contoh sikap positif misalnya globalisasi informasi melalui media massa. Seyogyanya disadari bahwa informasi merupakan sesuatu yang mahal, Barang siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia, oleh karna itu, manusia sejatinya mengemas informasi supaya berkualitas. TV sebagai media komunikasi informasi hendaknya mampu menyampaikan informasi yang benar, misalnya:
  1. Informasi yang disampaikan sesuai dengan kenyataan 
  2. Informasi yang disampaikan mampu membendung kesalahan informasi yang lain,
  3. Informasi yang disampaikan mengandung kaedah ajaran yang benar 
  4. Informasi mengandung nilai-nilai luhur untuk kehidupan yang lebih bermutu.
Media masa harus bisa menjernihkan pandangan hidup umat manusia pada umumnya ,punya tanggung jawab terhadap perkembangan moral generasi yang akan datang.

B. Mengemas Pribadi Berkarakter/Berbudi Pekerti 
a) Mengendalikan Hati
Mengendalikan hati bukan pekerjaaan gampang,sebab pada diri manusia sejak lahir sudah ada perasaan dengki dan iri. Oleh karena itu, bebaskan diri dari kedua perasaan itu . Karna tidak akan sukses orang-orang yang memiliki sifat seperti itu.

b) Keterbukaan Berkomunikasi
Hidup ini tak sendiri, manusia hakekatnya adalah makhluk sosial, perlu teman perlu berkomunikas. Oleh karena itu miliki keberanian mendengarkan dan mengakui pendapat orang lain.

c) Manfaatkan Waktu 
Waktu adalah modal, sungguh beruntung yang adil dengan waktu. Ada waktu sholat, istirahat, bermain, olah raga, makan, rekreasi, dsbnya.

d) Hindari Membuat Masalah dan Sederhanakan Masalah
Masalah adalah rahmat Allah, karena dengan adanya masalah maka manusia akan berpikir untuk mengatasinya, untuk mencari jalan keluarnya dan karna itu pulalah manusia maju.

Jenis Nilai-Nilai Dasar Dalam Pendidikan Islam

Nilai-Nilai Dasar Dalam Pendidikan Islam
Berangkat dari konsep pendidikan Islam di atas, maka setiap aspek pendidikan Islam mengandung nilai-nilai yang mengarah kepada pemahaman dan pengalaman doktrin Islam secara menyeluruh. Adapun nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam pendidikan Islam menurut Zulkarnain adalah:

1. Nilai Tauhid/Aqidah
Aspek pengajaran tauhid dalam dunia pendidikan Islam pada dasarnya merupakan proses pemenuhan fitrah bertauhid. Fitrah bertauhid merupakan unsur hakiki yang melekat pada diri manusia sejak penciptaannya. Ketika berada di dalam arwah, manusia telah mengikrarkan ketauhidannya itu, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah QS. Al-A’raf: 172:
وَإِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِىْ آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلَى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُوُلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِنَّا كُناَّ هَذَا غَافِلِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kani), kami menjadi saksi . . .”

Pendidikan Islam pada akhirnya ditujukan untuk menjaga dan mengaktualisasikan potensi ketauhidan melalui berbagai upaya edukatif yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Nilai Ibadah (‘Ubudiyah)
Ibadah yang dimaksud adalah pengabdian ritual sebagaimana diperintahkan dan diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Aspek ibadah ini disamping bermanfaat bagi kehidupan duniawi, tetapi yang paling utama adalah sebagai bukti dari kepatuhan manusia memenuhi perintah-perintah Allah.

3. Nilai Akhlak
Akhlak menjadi masalah penting dalam perjalanan hidup manusia. Sebab akhlak memberi norma-norma baik dan buruk yang menentukan kualitas pribadi manusia. Dalam akhlak Islam, norma-norma baik dan buruk telah ditentukan dalam Al-Qur’an dan hadits. Islam menegaskan bahwa hati nurani senantiasa mengajak manusia mengikuti yang baik dan menjauhkan yang buruk. Dengan demikian hati dapat menjadi ukuran baik dan buruk pribadi manusia. Puncak dari akhlak itu adalah pencapaian prestasi berupa:
  • Irsyad, yakni kemampuan membedakan antara amal yang baik dan buruk,
  • Taufiq, yaitu perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dengan akal sehat,
  • Hidayah, yakni gemar melakukan perbuatan baik dan terpuji serta menghindari yang buruk dan tercela.
4. Nilai Kemasyarakatan
Bidang kemasyarakatan ini mencakup pengaturan pergaulan hidup manusia di atas bumi, misalnya pengaturan tentang benda, ketatanegaraan, hubungan antar negara, hubungan antar manusia dalam dimensi sosial, dan lain-lain.

Abdul Majid dan Dian Andayani mengutip dari Zayadi mengemukakan bahwa nilai-nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:

1. Nilai Ilahiyah
Dalam bahasa Al-Qur’an, dimensi hidup Ketuhanan ini juga disebut jiwa rabbaniyah atau ribbiyah. Dan jika dirinci apa saja wujud nyata atau substansi jiwa ketuhanan itu, maka kita dapatkan nilai-nilai keagamaan pribadi yang amat penting yang harus ditanamkan kepada setiap peserta didik. Diantara nilai-nilai yang sangat mendasar adalah:
  • Iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah. Jadi tidak cukup hanya percaya adanya Allah, melainkan harus mengingat menjadi sikap mempercayai kepada adanya Tuhan dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.
  • Islam, sebagai kelanjutan iman, maka sikap pasrah kepada-Nya, dengan meyakini bahwa apapun yang datang dari Tuhan tentu mengandung hikmah kebaikan yang tidak mungkin diketahui seluruh wujudnya oleh kita yang dhaif.
  • Ihsan, yaitu kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir atau berada bersama kita di manapun kita berada. Berkaitan dengan ini, dan karena selalu mengawasi kita, maka kita harus berbuat, berlaku, dan bertindak menjalankan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab, tidak setengah-setengah dan tidak dengan menjauhi atau menjaga diri dari sesuatu yang tidak diridhai-Nya,
  • Taqwa, yaitu sikap yang sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berusaha berbuat hanya sesuatu yang diridhai Allah, dengan menjauhi atau menjaga diri dari sesuatu yang tidak diridhai-Nya.
  • Ikhlas, yaitu sikap murni dalam tingkah laku atau perbuatan, semata-mata demi memperoleh ridha dan perkenan Allah, dan bebas dari pamrih lahir dan batin, tertutup maupun terbuka.
  • Tawakal, yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah, dengan penuh harapan kepada-Nya dan keyakinan bahwa Dia akan menolong kita dalam mencari dan menemukan jalan yang terbaik. Karena kita mempercayai atau menaruh kepercayaan kepada Allah, maka tawakal adalah suatu kemestian.
  • Syukur, yaitu sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan, dalam hal ini atas segala nikmat dan karunia yang tidak terbilang jumlahnya, yang dianugerahkan Allah kepada kita. Sikap bersyukur sebenarnya sikap optimis kepada Allah, karena itu sikap bersyukur kepada Allah adalah sesungguhnya sikap besyukur kepada diri sendiri.
  • Sabar, yaitu sikap tabah menghadapi segala kepahitan hidup, besar dan kecil, lahir dan batin, fisiologis maupun psikologis keyakinan yang tak tergiyahkan bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Tentu masih banyak lagi nilai-nilai Ilahiyah yang diajarkan dalam Islam. Walaupun hanya sedikit yang disebutkan di atas itu akan cukup mewakili nilai-nilai keagamaan mendasar yang perlu ditanamkan pada anak, sebagai bagian amat penting dari pendidikan.

2. Nilai Insaniyah
Selain nilai-nilai Ilahiyah, nilai-nilai Insaniyah juga perlu diajarkan kepada anak. Tentang nilai-nilai budi luhur (Insaniyah), sesungguhnya kita dapat mengetahuinya secara akal sehat (common sense) mengikuti hati nurani kita. adapun nilai-nilai Insaniyah yang patut ditanamkan kepada peserta didik diantaranya adalah:
  • Shillaturrahim, yaitu pertalian rasa cinta kasih antara sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, tetangga dan lain-lain. Sifat Utama Tuhan adalah kasih (rahim, rahmah) sebagai satu-satunya sifat Ilahi yang diwajibkan sendiri atas diri-Nya. Maka manusia pun harus cinta kepada sesamanya, agar Allah cinta kepadanya.
  • Al-Ukhuwah, yaitu semangat persaudaraan, lebih-lebih kepada sesama orang yang beriman (biasa disebut ukhuwah islamiyah).
  • Al-Musawah, yaitu pandangan bahwa semua manusia, tanpa memandang jenis kelamin, kebangsaan atau kesukuannya, dan lain-lain, adalah sama dalam harkat dan martabat. Tinggi rendahnya manusia hanya dalam pandangan Allah yang tahu kadar ketaqwaannya.
  • Al-‘Adalah, yaitu wawasan yang seimbang atau balance dalam memandang, menilai atau menyikapi sesuatu atau seseorang, dan seterusnya. Sikap ini juga disebut tengah (wasth) dan Al-Qur’an menyebutkan bahwa kaum beriman dirancang oleh Allah untuk menjadi golongan tengah (ummat wasathan) agar dapat menjadi saksi untuk sekalian umat manusia, sebagai kekuatan penengah.
  • Husnu al-dzan, yaitu berbaik sangaka kepada sesama manusia, berdasarkan ajaran agama bahwa manusia itu pada asal dan hakikat aslinya adalah baik, karena diciptakan Allah dan dilahirkan atas fitrah kejadian asal yang suci.
  • At-Tawadhu’, yaitu sikap rendah hati, sebuah sikap yang tumbuh karena keinsafan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah, maka tidak sepantasnya manusia mengklaim kemuliaan itu kecuali dengan pikiran yang baik dan perbuatan yang baik, yang itupun hanya Allah yang menilainya.
  • Al-Wafa, yaitu tepat janji. Salah satu sifat orang-orang yang benar-benar beriman ialah sikap selalu menepati janji bila membuat perjanjian.
  • Insyirah, sikap lapang dada, yaitu sikap penuh kesediaan mengahargai orang lain dengan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya, seperti dituturkan dalam Al-Qur’an mengebai sikap Nabi sendiri disertai pujian kepada beliau.
  • Al-Amanah, dapat dipercaya, sebagai salah satu konsekuensi iman ialah amanah atau penampilan diri yang dapat dipercaya. Amanah sebagai budi luhur adalah lawan dari khiyanah yang amat tercela.
  • Iffah atau ta’affuf, yaitu sikap penuh harga diri, namun tidak sombong, jadi tetap rendah hati, dan tidak mudah menunjukkan sikap memelas atau iba dengan maksud mengundang belas kasihan orang lain dan mengharapkan pertolongannya.
  • Qawamiyah, yaitu sikap tidak boros (isrof) dan tidak perlu kikir (qatr) dalam menggunakan harta, melainkan sedang (qawam) menggambarkan bahwa orang yang boros adalah teman setan yang menentang Tuhannya.
l. Al-Munfiqun, yaitu sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang besar untuk menolong sesama manusia, terutama mereka yang kurang beruntung (fakir, miskin, dan terbelenggu oleh perbudakan dan kesulitan hidup lainnya) dengan mendermakan sebagian dari harta benda yang dikaruniakan dan diamanatkan kepada mereka. Sebab manusia tidak akan mendapatkebaikan sebelum mendermakan sebagian harta yang dicintainya itu.

Sama halnya dengan nilai-nilai Ilahiyah yang membentuk ketaqwaan, nilai-nilai Insaniyah juga membentuk akhlak mulia di atas itu tentu masih dapat ditambah dengan deretan nilai-yang banyak sekali. Namun, kiranya yang tersebut di atas akan sedikit membantu mengidentifikasi agenda pendidikan (keagamaan), baik dalam rumah tangga maupun di sekolah, yang lebih kongkrit dan operasional.

Selain nilai-nilai di atas, juga masih ada nilai-nilai yang berharga yang harus dijadikan paradigma dalam pendidikan Islam. Menurut Tobroni, secara singkat nilai-nilai tersebut terdiri dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman. Dari ketiga kategori tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Nilai-nilai Filosofis
Filsafat sebagai the art of life (pengetahuan tentang hidup) membicarakan secara mendalam tentang nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Kualitas hidup manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana manusia komitmen untuk menegakkan nilai kebenaran dan keadilan ini dalam berbagai dimensi kehidupannya, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dan sebaliknya, kesengsaraan manusia manakala nilai-nilai tersebut dilecehkan oleh manusia itu sendiri. Nila-nilai keadilan dan kebenaran harus dijadikan paradigma dan tujuan dalam pendidikan Islam dengan cara menanamkan nilai-nilai itu kepada peserta didik, dan menjadikannya sebagai spirit dalam setiap aktifitas pendidikan.

2. Nilai-nilai Akhlak
Islam adalah agama akhlak. Sebagai agama puncak evolusi samawi, sebagaimana dikemukakan Rasulullah mengemban misi diutus untuk membangun akhlak karimah, yaitu peradaban adiluhung atau puncak peradaban manusia. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: “Barang siapa Ku kehendaki kebaikan, Ku beri dia akhlak yang baik, dan barang siapa Ku kehendaki keburukan, Ku beri dia akhlak yang buruk”. Betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia dalam pandangan Islam, niscaya dijadikan dasar dan tujuan dalam pendidikan Islam.

3. Nilai-nilai Ilmiah
Islam adalah agama ilmu, dan Al-Qur’an adalah kitab ilmu. Karena itu hanya orang yang berilmu yang dapat memahami Islam dan mengamalkan ajarannya. Karena Islam menyatakan menuntut ilmu itu wajib bagi laki-laki dan perempuan, kapan saja, dimana saja, dan perintah itu berlaku sepanjang hayat. Nilai-nilai ilmiah itu antara lain seperti sikap obyektif, kritis, skeptis, dan analitis. Sikap-sikap yang merupakan pengejawentahan dari nilai-nilai ilmiah ini harus ditanamkan dalam diri peserta didik.

4. Nilai-nilai Spiritual
Yang dimaksud nilai-nilai spiritual di sini adalah nilai-nilai rohani dan prinsip-prinsip moral dalam batin seseorang yang memberi warna pada pandangan dunia, etos dan tingkah laku seseorang. Pendidikan Islam harus memberikan nilai-nilai spiritual yang Islami, yang kondusif dan fungsional bagi pembentukan pandangan dunia peserta didik. Al-Qur’an menyatakan, bahwa kehidupan dunia adalah tempat bertanam dan akhirat tempat menuai, kehidupan dunia adalah ibarat sebuah pertandingan antara menang dan kalah dan umat Islam diperintahkan untuk memenangkan pertandingan itu. Dari nilai-nilai spiritualitas Islam ini berarti anak harus diberi pemahaman yang benar tentang hakikat hidup di dunia, supaya mereka berprestasi dan beramal sholeh ketika di dunia, dan sebaliknya tidak membenci atau menjauhi dunia.

5. Nilai-nilai Karya
Islam disamping agama ilmu juga merupakan agama amal. Islam menghendaki ilmu bermanfaat secara luas yang diibaratkan seperti pohon yang berbuah lebat dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Sebaliknya Islam mengecam ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang disembunyikan untuk dirinya yang diibaratak seperti pohon tak berbuah. Karena itu, ilmu yang baik adalah yang alamiah dan amal yang baik adalah amal ilmiah. Dalam hidup dan berkarya, Islam mengajarkan untuk senantiasa exellen oriented dalam berkarya.

6. Nilai-nilai Ekonomi atau Harta
Islam adalah agama kemanusiaan dan salah satu kebutuhan manusia yang fundamental adalah ekonomi atau harta. Islam memandang wanita, anak dan harta (emas, perak, kendaraan yang bagus, binatang ternak, dan sawah ladang) sebagai perhiasan hidup dan keindahan. Kalau Islam memandang harta sebagia keindahan, berarti manusia diperintahkan untuk mencari danmenjaga harta itu agar tetap indah, dengan cara mencarinya melalui cara-cara yang halal dan mendayagunakan proporsionalnya. Islam menghendaki umatnya menggunakan pakaian yang bagus dan memakai harum-haruman, memakan makanan yang halal lagi berkualitas dan senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan.

Dalam rangka mencapai suasana ideal dan mengambil langkah-langkah pencapaiannya, nilai-nilai Islam tentang hidup tersebut perlu dirumuskan dalam pendidikan Islam dan dapat memberikan gambaran tentang luas lingkup yang hendak dijangkau oleh pendidikan Islam. Karena manusia yang dibina itu merupakan totalitas sebagai makhluk individu dan sosial. Dengan demikian pendidikan harus mampu mengemban misi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan pribadi masyarakat.

Saturday, 18 March 2017

Nilai-Nilai Filosofi dan Pengembangannya Secara Teoritis

Nilai-Nilai Filosofi dan Pengembangannya Secara Teoritis
Dwight Waldo [1949] mengemukakan bahwa administrasi publik adalah gabungan antara seni dan ilmu-ilmu pemerintahan yang akhirnya berkembang menjadi seni dan ilmu-ilmu manajemen. Efisiensi dan ekonomi menjadi hal yang pokok dalam teori manajemen, dan hak masyarakat menjadi hal yang pokok dalam teori pemerintahan. Di awal tahun perkembangan administrasi publik di Amerika yang modern, Woodrow Wilson [1887, 1941] menjadi tokoh utamanya. Teori efisiensi bisnis dapat digabungkan dengan teori pemerintahan yang demokratis – yang mengemukakan bahwa pemerintah dapat menggabungkan antara efisiensi dengan keadilan. Di pertengahan tahun 1960an, teori manajemen mempertanyakan tentang hak dan keadilan. Meskipun demikian, pendapat umum beranggapan bahwa administrasi publik adalah bagian dari proses politik.

Di awal-awal tahun, diyatakan pula bahwa administrasi publik harus netral dan tidak dipengaruhi oleh kebijakan politik, dan mengabaikan keadilan sosial. Administrasi merupakan bagian dari politik, yang seringkali terjadi, pemimpin terlibat dalam proses kebijakan, dan diharapkan netralitasnya. Keadilan sosial sebagai panduan bagi tindakan administrasi dengan keseimbangan nilai-nilai ekonomi dan efisiensi.

Willbern [1973] berpendapat bahwa hak masyarakat “tidak tepat untuk mendefinisikan tujuan atau nilai-nilai administrasi” [hal 376]. Ia menyatakan bahwa “hak masyarakat dapat ditolak dengan mengunakan bukti-bukti”. Tetapi kesalahan besar ini dapat dihilangkan oleh kaum intelektual yang menyatakan bahwa ada sesuatu yang bernilai dan memiliki konsekuensi nyata pada pemahaman mengenai perilaku manusia dalam situasi administratif [378].

Hak masyarakat membutuhkan kesempurnaan, sebelum menambahkan efisiensi dan ekonomi dalam 3 pilar yang mendasari administrasi publik. Proses ini dimulai dengan Symposium on Social Equity and Public Administration yang dimunculkan dalam Public Administration Review [Frederickson, 1974]. Peranan penting dalam simposium ini mengilustrasikan tentang teori – proses pengembangan dalam administrasi publik.

Pertama, hak masyarakat dipahami sebagai [1] dasar dari demokrasi masyarakat, [2] berpengaruh pada perilaku manusia dalam berorganisasi, [3] sebagai dasar hukum untuk distribusi pelayanan publik, [4] sebagai dasar untuk menerapkan pelayanan publik, [5] sebagai dasar dari pembentukan kelompok, dan [6] sebagai tantangan bagi penelitian dan analisis [Frederickson; 1974].

Kedua, setelah membicarakan tentang bagian dari subyek, bangunan teori apabila dikumpulkan secara bersama akan menjadi lebih baik walaupun kita tetap saja tidak dapat menggabungkannya.

Ketiga, kita dapat memulainya dari definisi yang ada. Di sini diprioritaskan pada teori distribusi keadilan. Douglas Rae dan teman-temannya [1981] mengatakan “keadilan adalah satu hal yang paling sederhana dan abstrak, termasuk didalamnya menciptakan dunia yang konkrit dan kompleks. Dapatkah kita membayangkan formasi pemerintahan sebelumnya? (hal.3 ) Hak masyarakat menjadi pilar ketiga dari administrasi publik.

Kita kembali pada teori deskriptif, yang definisinya dapat digunakan untuk teori dan praktek dalam administrasi publik. Mengikuti pendapat Ray dan kawan-kawan, kita menyatukan dalam bahasa yang belum sempurna mengenai keadilan dengan definisi dan contoh. Kita dapat memperkirakan contoh untuk mengkonstruksikan sebagai gabungan teori tentang hak-hak masyarakat. Dalam bab ini, akan disajikan dasar-dasar dari pertimbangan hukum dan perspektif penelitian tentang hak masyarakat.