Showing posts with label pengembangan. Show all posts
Showing posts with label pengembangan. Show all posts

Friday, 28 April 2017

PENGEMBANGAN MULTI MEDIA UNTUK PEMBELAJARAN PRONUNCIATION

PENGEMBANGAN MULTI MEDIA UNTUK PEMBELAJARAN PRONUNCIATION
Abstract
The objective of this research is to develop instructional media to be used in the class of pronunciation in the English Education Department, Faculty of languages and Arts, Yogyakarta State University. This research is included in the Research and development following the steps: 1) Need analysis, 2) developing syllabus and teaching materials, 3) developing the media, 4) trying out and revising the media. The setting of this research was the English Education Department, FBS UNY, so the media was tried out in the class of Pronunciation of that institution. The data were collected through the use of questionairs and classroom observation.The research result is that the audio-visual media for teaching and learning Pronunciation is in the form of CD. It contains all the materials needed for the whole semester, the models of pronunciation, materials for practice, and also feedback to student practices. Based on the try out, the media is found to be interesting and effective, and it can facilitate the Pronunciation teaching learning process very much. 

Key words: development, instructional media, pronunciation

A. Pendahuluan
Pronunciation di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris adalah salah satu matakuliah dasar yang sangat penting dalam pengembangan keterampilan berbahasa lisan, listening dan speaking. Tanpa penguasaan pronunciation yang memadai mustahil seseorang dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik. Kesalahan pronunciation dapat menimbulkan salah paham. Untuk dapat dipahami orang lain seseorang harus dapat mengucapkan bahasa Inggris dengan benar dan untuk dapat memahami bahasa Inggris orang lain seseorang harus dapat menangkap dan memahami pronunciation orang lain.

Penguasaan Pronunciation meliputi kemampuan memahami sistem tata bunyi atau fonologi bahasa Inggis dan kemampuan memproduksi bunyi bahasa Inggris dengan baik dan benar, yang meliputi kata-kata lepas, frase, kalimat dan dialog atau wacana bahasa Inggris. Untuk dapat memahami diperlukan teori, dan untuk dapat memproduksi diperlukan banyak latihan atau praktik. Karena hal inilah maka matakuliah Pronunciation di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY berisi teori sekaligus praktik dengan proporsi dua banding delapan. Seorang mahasiswa yang telah lulus matakuliah Pronunciation idealnya telah menguasai teori sistem tata bunyi Bahasa Inggris dan mampu mengucapkan bahasa Inggris dengan benar, sehingga mereka tidak akan melakukan kesalahan dalam mengucapkan kata-kata, frase, maupun kalimat Bahasa Inggris. Mereka semestinya juga memiliki keterampilan membaca simbol bunyi (transkripsi) yang digunakan dalam kamus-kamus sehingga jika menemukan kata baru yang belum diketahui secara pasti ucapannya dapat mengeceknya melalui kamus. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam berbagai kesempatan, bahkan dalam ujian skripsi, masih sering ditemukan mahasiswa yang salah mengucapkan kata-kata, bahkan kata-kata yang sering digunakan dalam komunikasi dan pembelajaran sehari-hari. Lebih parah lagi, jika mereka diminta mengecek ke dalam kamus, mereka tidak mampu membaca simbul bunyi dengan tepat. Fakta ini menunjukkan bahwa pembelajaran Pronunciation belum berhasil secara maksimal yang akan berdampak buruk pada penguasaan Bahasa Inggris secara keseluruhan, terutama pada bahasa lisan. Untuk itu perlu diupayakan usaha yang serius agar perkuliahan ini dapat berhasil dengan maksimal.

Hasil pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor. Menurut AECT (Association of Education Communication Technology), komponen sistem pembelajaran meliputi orang-orangnya (guru dan siswa), isi materi (bahan ajar), metode dan teknik pengajaran, media dan seting pengajaran (tempat dan waktu) (Miarso, 1994:9).

Siswa atau mahasiswa merupakan komponen utama dalam menentukan hasil belajar, karena merekalah yang menjadi subyek pelaku kegiatan belajar. Hasil belajar siswa sangat ditentukan oleh motivasi belajar, kemauan belajar, keaktifan dalam proses pembelajaran dan kemampuan dalam menerima dan memproses bahan belajar. Perbedaan karakteristik siswa ini akan mempengaruhi hasil belajar yang berbeda pula. Mahasiswa dengan motivasi belajar tinggi akan berusaha maksimal untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Untuk itu pembelajaran harus mampu menimbulkan motivasi belajar siswa. Selain motivasi belajar kemampuan awal juga ikut menentukan hasil belajar. Mahasiswa dengan kemampuan awal cukup cenderung lebih mudah dalam menerima dan memproses bahan ajar dan latihan dibanding dengan mahasiswa dengan kemampuan awal rendah. Kemampuan awal juga ikut berpengaruh pada komponen pembelajaran yang lain, seperti pada penentuan silabus, tingkat kesulitan bahan ajar, teknik pengajaran dan ragam latihan. Kemampuan awal siswa yang beragam cenderung menyulitkan guru dalam merencanakan dan mengelola pengajaran. Berdasarkan pengamatan selama ini, hasil belajar pronunciation yang baik hanya dapat dicapai oleh mahasiswa yang telah memiliki kemampuan awal cukup, sedangkan mahasiswa dengan kemampuan awal rendah kurang menampakkan hasil yang memuaskan.

Guru atau dosen turut juga dalam menentukan tinggi rendahnya hasil belajar siswanya. Peran dosen dalam pembelajaran Pronunciation adalah sebagai pengelola kegiatan pembelajaran, sebagai motivator, fasilitator dan model. Pengajar Pronunciation harus mampu merancang kegiatan PBM yang layak, memilih materi yang sesuai, membantu mahasiswa dalam latihan, memonitor latihan dan kemajuan belajar mahasiswa, dan juga harus dapat menjadi contoh atau model bagaimana mengucapkan Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Beban tugas dosen PBI yang terlalu padat terkadang menjadi pemicu kurang maksimalnya usaha dan peran dosen dalam proses belajar mengajar.

Selain ditentukan oleh pelaku pembelajaran, yaitu mahasiswa dan dosen, hasil belajar Pronunciation ini juga ditentukan oleh isi pembelajaran dan media yang dipakai untuk menyampaikan pesan pembelajaran tersebut. Isi pembelajaran ditentukan oleh kurikulum yang tercermin pada deskripsi mata kuliah, sedangkan media yang dipakai ditentukan oleh banyak hal, antara lain ketersediaan dan kualitas media, kemauan dan kemampuan dosen dalam memilih dan menggunakan media, serta ketersediaan sarana dan prasara pendukungnya. Media pembelajaran Pronunciation di jurusan Bahasa Inggris selama ini berupa modul yang ditulis sekitar sepuluh tahun yang lalu, yang memuat materi disertai bahan latihan yang cukup banyak. Meskipun demikian, dirasa modul ini masih belum mencukupi, sehingga para pengajar pronunciation masih harus mencari tambahan bahan lain yang diperlukan. Selain itu dosen juga masih harus bekerja keras untuk menjadi model bagaimana mengucapkan latihan-latihan yang ada di dalamnya. Hal ini dirasa cukup berat dan melelahkan bagi dosen saat mengajar, dan dilihat dari sisi mahasiswa pemodelan cara ini belum mencukupi, karena contoh ucapan hanya dapat didengar sekali atau dua kali saja, sehingga mahasiswa akan cepat lupa. Mahasiswa memerlukan model ucapan yang dapat didengar setiap saat diperlukan, sedangkan dosen memerlukan sarana yang dapat meringankan pekerjaannya. Masalah ini akan dapat diatasi dengan tersedianya media pembelajaran yang tepat.

Media belajar mengajar Pronunciation menggunakan komputer sebenarnya sudah banyak yang ditawarkan, misalnya adanya kamus audio-visual. Materi dan latihan pronunciation juga sudah banyak ditawarkan melalui internet. Kondisi ini sangat kondusif bagi dosen maupun mahasiswa, sehingga mereka dapat mencari sumber belajar lebih banyak, lebih variatif dan juga lebih menarik. Namun sayangnya, belum semua dosen dan mahasiswa mampu melakukan kegiatan ini. Di samping itu, waktu juga dapat menjadi kendala karena banyaknya bahan yang tersedia, kadang tidak terbatas, yang belum dipilih dan disusun sesuai dengan kebutuhan perkuliahan. Usaha untuk memilih dan menyusun bahan-bahan yang telah tersedia tersebut dirasa masih sangat diperlukan sehingga tersedia media pembelajaran pronunciation yang tepat yang dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar Pronunciation.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk: a) mengembangkan satu model multimedia untuk dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran Pronunciation dengan menerapkan langkah-langkah penelitian pengembangan, b) meneliti daya tarik media tersebut bagi mahasiswa, dan c) meneliti dampak media tersebut pada proses belajar mengajar pronunciation di Jurusan pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY.

B. Kajian Pustaka
1. Computer Assisted Language Learning (CALL)
Saat ini teknologi komputer yang digunakan dalam pembelajaran bahasa lebih dikenal dengan sebutan CALL (Computer assisted Language Learning). Beberapa ahli dalam pembelajaran bahasa menyatakan bahwa penggunaan multi media berbasis komputer sangat potensial untuk menciptakan pembelajaran bahasa yang efektif, karena kemanfaatannya untuk memadukan berbagai media seperti audio dan video dengan kualitas tinggi dan dapat diatur sendiri oleh si pembelajar. Penggunaan multi media berbasis komputer dalam pembelajaran bahasa menjadi sangat bermanfaat karena selain dapat menyajikan materi melalui media teks, gambar, film, suara, maupun grafik, ia juga memiliki fasilitas hipermedia. Fasilitas ini memberikan berbagai keuntungan bagi pembelajar bahasa, seperti: 1) terciptanya lingkungan/situai autentik, karena aspek mendengarkan sekaligus dipadu dengan aspek melihat, seperti yang terjadi dalam dunia nyata, 2). Integrated skill activity, yaitu kegiatan belajar yang melibatkan keterampilan terpadu antara mendengarkan, membaca, berbicara dan sekaligus menulis yang terpola dengan lebih mudah, 3) siswa memiliki keleluasaan untuk menjalankan kegiatan sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka dalam memilih materi yang lebih disukai dan mengulang kembali hal-hal yang masih perlu, menentukan rentang waktu belajar yang diperlukan, menentukan sendiri urutan langkah pembelajaran dimana untuk setiap individu belum tentu selalu sama (Warschaurer, 1996 dalam Harjanti, 2005).

Teknologi multimedia komputer mampu membuat proses pembelajaran menjadi suatu pengalaman yang berharga. Guru, pelajar dan lembaga yang terlibat dalam pendidikan tidak terikat dalam kaidah pengajaran kovensional. Di samping itu mereka dapat berinteraksi dengan negara lain dalam multimedia. Multimedia merupakan satu teknologi baru dan satu pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Untuk membuat maupun membaca file bertema multimedia tersebut tentunya dibutuhkan sebuah aplikasi yang mampu menerjemahkan format tersebut ke dalam bentuk yang dapat dinikmati oleh kita, baik itu berwujut gambar, suara ataupun gabungan keduanya yaitu animasi atau video. Secara garis besar aplikasi multimedia terbagi atas dua golongan utama yaitu player/viewer yang digunakan untuk menerjemahkan file multimedia ke dalam bentuk yang dapat dinikmati manusia seperti gambar, suara ataupun animasi dan maker/creator yang digunakan untuk membuat file multimedia tersebut. Tetapi banyak pula aplikasi yang menggabungkan kedua fungsi ini sehingga dapat dikatakan aplikasi tersebut selain dapat digunakan untuk membuat (maker/creator) juga sebagai penerjemah (viewer/player) (Avianto, 2005:1).

2. Software dalam pembuatan media berbantuan komputer
Ada bermacam-macam software yang dapat digunakan dalam pengembangan multimedia seperti Macromedia flash MX, Authorware, Dreamweare, Swismax, Uleat Cool, dsb. Pada pengembangan multimedia pembelajaran ini biasanya juga tidak lepas dari penggunaan software-sotfware lain sebagai pendukung, misalnya aplikasi pengolah gambar, seperti Photoshop, Corel photopaint, Corel Draw yang sudah menjadi aplikasi standar untuk malakukan desain grafik seperti untuk pembuatan logo, banner, publishing, dll.

Macromedia Flash adalah salah satu software yang paling popular saat ini terutama dalam hal animasi dan web. Software ini adalah program grafis animasi standar professional untuk menghasilkan halaman web yang menarik. Movie Flash terdiri grafik, teks, animasi, dan aplikasi yang mengutamakan grafis berbentuk vector. Flash memiliki akses lebih cepat dan akan terlihat halus pada skala resolusi layer besar atau kecil, selain itu juga memiliki kemampuan untuk mengimpor video, suara, suara dan aplikasi. Macromedia Flash MX juga bisa memasukkan aspek interaktif dalam movienya dengsn menggunakan actionscript (bahasa pemrograman berorientasi obyek), yang pengguna bisa berinteraksi dengan movie, dengan menggunakan keyboard atau mouse untuk berpindah-pindah ke bagian-bagian yang bebeda, dari sebuah movie, mengontrol movie, memindahkan obyek-obyek, memasukkan informasi melalui form dan operasionalisasi lainnya.

Area kerja Flash MX atau area gambar di Flash MX terdiri atas enam bagian, yaitu: 1) Menu, berisi kumpulan instruksi atau perintah-perintah yang digunakan dalam Flash. Misalnya, klik menu File, Save berfungsi untuk menyimpan dokumen. 2) Stage, adalah dokumen atau layer yang akan digunakan untuk meletakkan obyek-obyek dalam Flash. 3) Timeline, berisi frame-frame yang berfungsi untuk mengontrol obyek yang akan dianimasi; 4) Toolbox, berisi tool-tool yang berfungsi untuk membuat, menggambar, memilih , dan memanipulasi obyek atau isi yang terdapat di layer (stage) dan timeline. Toolbox dibagi menjadi empat bagian, yaitu Tool, View, Colors, dan Options. 5) Panel, berisi kontrol fungsi yang dipakai dalam Flash, yang berfungsi untuk mengganti dan memodifikasi berbagai atribut dan obyek atau animasi secara cepat dan mudah; dan 6) Properties, fungsinya sama dengan Panels, hanya saja Properties merupakan penggabungan atau penyedarhanaan dari panels. Jadi, dapat lebih mempercepat dalam mengganti dan memodifikasi berbagai atribut dan obyek, animasi, frame, dan komponen secara langsung. 

3. Pembelajaran Pronunciation
Selain hardware dan software, masalah yang harus mendapat perhatian lebih banyak dalam pengembangan media pembelajaran adalah isi dari media pembelajaran tersebut. Untuk itu perlu dikaji hakekat pengajaran Pronunciation dalam pengajaran Bahasa Inggris secara mendalam. Pertama, kita perlu mengkaji tujuan dan cakupan isi pembelajaran Pronunciation. Menurut Kenworthy (1977) belajar pronunciation memiliki dua tujuan, yaitu pertama untuk mencapai kemampuan memproduksi bunyi bahasa mendekati kualitas native speaker (penutur asli) dan yang kedua untuk bisa menghasilkan bahasa yang bisa dipahami dengan mudah dan benar, meskipun aksennya tidak begitu sempurna. Paulston dan Bruder (1976: 82) mengatakan bahwa tujuan belajar Pronunciation adalah kemampuan memproduksi bunyi bahasa kedua atau bahasa asing yang tidak menghambat jalannya komunikasi, baik dari sisi pembicara maupun pendengar. Berdasar pendapat ini, tujuan minimal belajar pronunciation adalah agar bahasa yang kita ucapkan dapat mudah dipahami (intelligible). Setiap orang yang belajar bahasa Inggris harus mencapai tujuan ini, sedangkan untuk mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris semestinya untuk tujuan yang lebih tinggi yaitu mampu memproduksi bahasa lisan sebagaimana para penutur asli atau mendekati penutur asli. Belajar Pronunciation meliputi kemampuan memahami (perception) dan kemampuan memproduksi bahasa yang dipelajari. Sedangkan menurut Kelly (2000), materi yang tercakup dalam pembelajaran Pronunciation meliputi tiga hal, yaitu : 1) Segmental features of phonology(consonants-voiced, unvoiced-, vowels-long and short- and diphtongs), 2) Suprasegmental features of phonology (stress, intonation), dan 3) Other aspects of connected speech (assimilation, elision, linking and intrusion, junctures and contractions).

Berikutnya kita juga mesti memperhatikan sumber kesulitan belajar Pronunciation bagi orang Indonesia, karena media yang akan dikembangkan ini diperuntukkan bagi mahasiswa Indonesia. Untuk mencapai hasil belajar Pronunciation yang maksimal, yaitu bisa dipahami orang lain terlebih jika ingin mendekati bahasa penutur asli tidaklah mudah.Tujuan ini sering tidak dapat dicapai dengan baik, sehingga masih sering ditemukan kesalahan pengucapan. Menurut Ur (1999: 52) kesalahan pronunciation dapat diakibatkan oleh : 1) bunyi bahasa tertentu tidak terdapat pada bahasa pertama / ibu, sehingga pembelajar tidak terbiasa memproduksi bunyi bahasa tersebut, sehingga cenderung menggantinya dengan bunyi bahasa yang mendekati, yang bisa dia produksi, 2) bunyi bahasa tersebut sebenarnya ada dalam bahasa pertama, tetapi tidak merupakan fonem tersendiri, sehingga pembelajar tidak mampu menangkap bunyi bahasa tersebut sebagai fonem tersendiri yang dapat membedakan makna kata, dan 3) pembelajar mampu memproduksi bunyi bahasa dengan benar, tetapi belum mempelajari pola tekanan (stress pattern) dalam bahasa Inggris, sehingga cenderung menggunakan intonasi bahasa pertama, yang tidak sesuai dengan bahasa target, Bahasa Inggris. Menurut Poulston dan Bruder (Yulia, 2004), kesalahan pronunciation disebabkan oleh perbedaan sistem tata bunyi bahasa target dan bahasa pertama. Yulia dkk (2004) membandingkan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dan menemukan perbedaan-perbedaan sebagai berikut: a). Beberapa bunyi konsonan bahasa Inggis tidak terdapat dalam bahasa Indonesia [θ, ð, ∫,ʒ,y,v], b) beberapa konsonan bahasa Inggris ada dalam bahasa Indonesia tetapi sifatnya berbeda, misalnya [dʒ, t∫, ∫, ʒ). Dalam bahasa Indonesia s, dan z ; s dan ∫ bersifat alofonik, sedangkan dalam bahasa Inggris merupakan fonem tersendiri. Perbedaan ini juga terdapat dalam vokal maupun difthong, [æ,i:,a:,з:,ei,uə,eə,au,əu dsb.].

Selain kesulitan yang disebabkan oleh sistem tata bunyi yang berbeda, ada juga sumber kesulitan yang lain yaitu masalah ejaan. Dalam bahasa Indonesia ejaan sangat dekat dengan ucapan, sehingga mengucapkan bahasa Indonesia yang ditulis sangatlah mudah, Bahasa seperti ini juga disebut bahasa fonetis. Bahasa Inggris bukanlah bahasa fonetis, karena hubungan antara ejaan dan ucapan sangat kompleks, sehingga dapat menjadi sumber kesulitan tersendiri dalam belajar pronunciation bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang mengenal bahasa Inggris berawal dari bahasa tulis (Kelly, 2000)

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, pronunciation biasanya diajarkan atau dibahas bersamaan dengan pembelajaran ketrampilan dan komponen bahasa lain, seperti misalnya, dalam Reading. Kelly (2000) menyebutkan 3 model pembelajaran Pronunciation, yaitu Integrated, Remidial, dan Practice. Integrated, ialah dimana pronunciation dijadikan komponen penting dalam analisis bahasa, dimasukkan dalam rencana dan pelaksanaan pembelajaran. Remidial, pembahasan pronunciation hanya merupakan reaksi dari ditemukannya kesalahan / kesulitan pronunciation yang muncul di kelas, dan practice, dimana poin-poin pronunciation tertentu dipisahkan dan dilatihkan secara tersendiri, dan menjadi topic utama dalam pelajaran.

Terkait dengan pembelajaran Pronunciation di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris model pembelajaran yang dipakai adalah model ketiga, yaitu model practice lesson, yang diberikan secara tersendiri selama satu semester dengan bobot dua sks. Kegiatan latihan ini terdiri dari dua macam, yaitu kegiatan reseptif dan produktif. Kegiatan reseptif berupa kegiatan mendengarkan. Aktifitas mendengarkan ini terkait dengan pemodelan dan latihan mengenali dan membedakan bunyi bahasa yang menjadi fokus latihan, sedangkan kegiatan produktif adalah berupa kegiatan mengucapkan bahan-bahan latihan (bahasa tulis).

C. Metode Penelitian
Untuk menghasilkan produk media pembelajaran yang layak pakai dan sesuai dengan kebutuhan, maka perlu ditempuh suatu pendekatan penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan merupakan metode untuk mengembangkan dan menguji suatu produk. Menurut Sukmadinata (2005: 57) dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan dapat digunakan untuk mengembangkan buku, modul, media pembelajaran, instrument evaluasi, model-model kurikulum, pembelajaran, evaluasi dan lain-lain. Menurutnya secara garis besar ada tiga langkah penelitian dan pengembangan, yaitu, :
  1. Studi pendahuluan dengan mengkaji teori dan mengamati produk atau kegiatan yang ada,
  2. Melakukan pengembangan produk atau program kegiatan baru, dan
  3. Menguji atau memvalidasi produk atau program kegiatan yang baru. Langkah pertama telah dilakukan studi pendahuluan dengan cara mengkaji teori tentang pembuatan media dan isi media yang akan dikembangkan yang tertuang dalam kajian pustaka.
Sedangkan untuk pengembangan media pembelajaran Pronunciation ditempuh dengan langkah: 1) melakukan analisis kebutuhan, 2) mengembangkan silabus, materi pembelajaran dan bahan latihan, 3) pembuatan media pembelajaran dalam bentuk CD, dan 4) melakukan ujicoba dan perbaikan media.

Penelitian ini di laksanakan di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, pada periode 2007-2008. Data penelitian diambil dari dosen-dosen dan mahasiswa klas Pronunciation dari tempat ini juga. Data berupa data kualitatif, yaitu berupa pendapat dan saran baik dari dosen maupun mahasiswa, yang dikumpulkan dengan cara diskusi dengan teman sejawat, observasi kelas, dan kuesioner. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan langsung diterapkan untuk pembuatan dan perbaikan media.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian ini berupa satu set media pembelajaran Pronunciation berbentuk CD yang berisi semua materi pembelajaran, bahan latihan yang dapat dibaca dan sekaligus didengar. Berikut dipaparkan proses pengembangan media tersebut. 

Pengembangan media ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 1) analisis kebutuhan, 2) pengembangan silabus dan penyusunan materi dan bahan latihan, 3) Pembuatan Media, 4) Uji coba dan perbaikan Media. 

1. Analisis kebutuhan
Untuk mengetahui dengan pasti media seperti apa yang dibutuhkan dalam pembelajaran Pronunciation di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY, peneliti melakukan refleksi tentang pembelajaran pronunciation yang telah berlangsung selama ini. Hasil refleksi ini dibahas dalam tim yang terdiri dari dosen-dosen pengajar pronunciation untuk mendapatkan tambahan dan validasi data tentang permasalahan yang ada dalam perkuliahan Pronunciation dan media seperti apa yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Pengajaran Pronunciation selama ini terasa belum berhasil dengan maksimal yang ditandai dengan berbagai hal. Pertama, hasil belajar mahasiswa kurang begitu memuaskan saat menempuh ujian. Sudah begitu banyak kata-kata, frase, kalimat yang dilatihkan pada mahasiswa untuk diucapkan di dalam kelas saat perkuliahan, namun tidak dapat diucapkan dengan benar saat ujian. Mahasiswa dapat menirukan apa yang diucapkan oleh dosen saat pengajaran, namun mereka cepat melupakannya. Hal ini bukannya tidak disadari oleh mahasiswa. Mereka sadar dan ketika ditegur atas kegagalannya, mereka mengungkapkan sebagai berikut:”Ibu, mbok suara ibu direkam dan kami diberi rekamannya, sehingga kami dapat berlatih di rumah”. Dari jawaban mahasiswa ini peneliti sadar bahwa mereka membutuhkan model pronunciation yang bagus yang dapat didengar dan ditirukan setiap saat mereka butuhkan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Selama ini model pronunciation diberikan langsung oleh dosen saat mengajar di dalam kelas saja.

Memberikan model pronunciation di dalam kelas langsung oleh dosen tanpa disertai dengan rekaman, disamping cepat dilupakan oleh mahasiswa juga cukup melelahkan bagi dosen pengajar. Dosen harus berteriak mengulang-ulang kata-kata, frase, kalimat-kalimat yang sama dari kelas ke kelas, karena dosen di jurusan ini biasa mengajar banyak kelas dalam seminggu, tidak hanya satu atau dua kelas, bahkan tiga, empat, lima, atau enam kelas parallel. Alangkah enaknya jika model pronunciation itu dibuat rekamannya dan dosen tinggal replay jika akan mengajar di kelas parallel yang lain.

Pemodelan langsung oleh dosen di dalam kelas juga menuntut penguasaan pronunciation oleh dosen pengajar secara maksimal. Dosen tidak semestinya membuat kesalahan ucapan baik dalam pengucapan bahan latihan maupun pengucapan Bahasa Inggris yang mereka gunakan saat memberikan perkuliahan. Kesalahan ucapan dosen akan ditirukan oleh mahasiswa dan ini akan berakibat fatal karena dapat merusak Bahasa Inggris mahasiswa. Di sisi lain, dosen Bahasa Inggris juga seorang pembelajar Bahasa Inggris yang dengan demikian kemungkinan untuk membuat kesalahan ucapan masih cukup besar. Ada kemungkinan dosen menemukan kata baru yang masih asing dan belum sempat mengecek ucapannya dengan pasti, sehingga dosen juga masih sering merasa ragu terhadap ucapan kata-kata tersebut. Ada kemungkinan juga dosen kurang menyadari bahwa ucapan bahasa Inggris yang dia tampilkan selama ini kurang tepat, sehingga sering memberikan model yang kurang bagus juga bagi para mahasiswa. Ini mungkin saja terjadi karena dosen-dosen ini bukanlah penutur asli Bahasa Inggris dan banyak juga yang belum pernah tinggal di Negara berbahasa Inggris. Untuk mengatasi masalah ini bahan-bahan rekaman dengan penutur asli Bahasa Inggris untuk pengajaran Listening atau pengajaran Pronunciation yang ada di internet dapat dimanfaatkan, namun sayangnya bahan-bahan tersebut belum dipilih dan disusun sesuai dengan kebutuhan perkuliahan Pronunciation di Jurusan Bahasa Inggris.

Pekerjaan mengumpulkan, memilih bahan ajar yang tepat dan menyusunnya sesuai dengan kebutuhan perkuliahan memerlukan waktu dan keseriusan dalam pengerjaannya. Kemungkinan semua dosen dapat malakukannya, namun karena kendala waktu pekerjaan ini tidak dapat terlaksana dengan baik, sehingga terkadang dosen hanya menggunakan bahan ajar seadanya yang terkadang tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum apalagi dengan tuntutan kemajuan jaman. Untuk mengatasi masalah ini modul perkuliahan yang baik sangat diperlukan. Bahan ajar Perkuliahan Pronunciation yang ada di Jurusan Bahasa Inggris selama ini berupa modul perkuliahan yang berjudul Learning English Pronunciation Systematically yang disusun oleh Prof. Suwarsih Madya Ph.D. Modul ini terdiri dari 12 lesson yang memuat semua materi perkuliahan disertai dengan bahan latihan yang cukup memadai. Sayangnya modul ini tidak disertai dengan rekaman model ucapan yang sangat diperlukan baik oleh dosen maupun mahasiswa. Dari sini terasa benar bahwa kita memerlukan modul perkuliahan yang baik yang disertai dengan rekaman model ucapan yang baik pula.

Membuatkan bahan rekaman untuk modul yang sudah ada sangat mungkin dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pronunciation, sehingga media pengajaran tidak hanya berupa modul tapi juga kaset rekaman bahan latihan yang akan memudahkan kerja dosen dalam memberikan model ucapan dan yang akan dapat digunakan oleh mahasiswa belajar di rumah. Namun jika mengingat kamajuan IT saat ini yang sudah berkembang dengan sangat pesat, pangajaran dengan modul dan kaset barang kali sudah tidak begitu menarik lagi. Sudah saatnya kita mengembangkan modul yang sudah ada ini menjadi media pengajaran Pronunciation yang lebih menarik dengan memanfaatan teknologi yang ada, yaitu dengan memanfaatkan teknologi komputer. Dengan teknologi ini kita juga dapat memanfaatkan internet dan kamus audio sebagai sumber belajar.

Hasil refleksi tentang pengajaran Pronunciation di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini dibawa ke forum diskusi dosen pengajar Pronunciation untuk mendapatkan tanggapan, tambahan dan kejelasan mengenai media seperti apa yang sebenarnya kita perlukan. Berikut adalah hasil dari diskusi tersebut.

Para dosen umumnya menghadapi permasalahan yang sama dalam pengajaran pronunciation, sehingga semua sepakat bahwa yang diperlukan adalah materi perkuliahan yang telah tersusun secara sistematis yang disertai dengan bahan-bahan latihan yang memadai disertai bahan rekaman materi latihan yang dapat dipakai dalam pengajaran pronunciation di kelas dengan mudah dan dapat dipelajari mahasiswa di rumah atau di luar kelas. 

Seorang dosen berpendapat bahwa bentuk media tidak harus sangat canggih bahkan cukup modul dan kaset rekaman. Namun ada juga yang berpendapat bahwa mestinya kita mengikuti perkembangan teknologi, sehingga tidak ada salahnya media ini berbasis computer sehingga kemudahan-kemudahan dan fasilitas yang ada dalam computer dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran maupun hasilnya.

Bahan-bahan yang mesti harus tercakup dalam media ini meliputi, bunyi-bunyi bahasa Inggris, pola tekanan kata maupun kalimat, intonasi, aspek-aspek lain dalam connected speech, hubungan antara ejaan dan ucapan. Sedangkan materi latihan harus meliputi kata-kata lepas, kelompok kata, kalimat berbagai bentuk, dialog, maupun paragraph.

Ada juga dosen yang berpendapat bahwa media yang ada mesti menarik, sehingga minat belajar mahasiswa dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dibuat dengan menambahkan unsur musik dan lagu ke dalamnya. Meskipun musik dan lagu ini bukan meteri perkuliahan dan latihan pokok dan hanya sebagai unsur tambahan saja, namun manfaatnya dapat dioptimalkan dengan cara memilih lagu dengan syair-syair bahasa Inggris yang bagus baik secara ucapan, kosa kata maupun tata bahasanya. Dari hasil diskusi ini maka disusunlan silabus, materi perkuliahan dan bahan latihan mata kuliah Pronunciation.

2. Penyusunan silabus, materi perkuliahan dan bahan latihan
Silabus perkuliahan disusun berdasarkan deskripsi mata kuliah Pronunciation Kurikulum Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY th.2000, tujuan pembelajaran Pronunciation yang diajukan oleh Kenworthy (1977), cakupan materi pengajaran Pronunciation yang diajukan oleh Kelly (2000), dan hasil diskusi dosen pengajar Pronunciation pada tahap analisis kebutuhan. Bahan latihan dikembangkan sesuai dengan materi perkuliahan ditambah dengan latihan-latihan lain untuk pengembangan keterampilan yang diperlukan yang meliputi pengucapan kata-kata lepas, kelompok kata, kalimat, paragraph dan dialog. Materi perkuliahan juga dilengkapi dengan lagu-lagu dengan syair yang bagus yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar tambahan yang menyenangkan. 
Silabus perkuliahan ini mencakup lima komponen:
  1. Topik pembelajaran,
  2. tujuan pembelajaran,
  3. materi pembelajaran,
  4. latihan, dan
  5. materi tambahan.
Berdasarkan silabus tersebut di atas, disusunlah materi perkuliahan yang terdiri dari lima unit pelajaran, yaitu: 1. Overview, 2. English Sounds and their transcription symbols, 3. Spelling and Pronunciation, 4. Stress Patterns, dan 5. Other Aspects of connected Speech. Setiap unit diawalai dengan paparan materi, contoh-contoh yang dikuti dengan latihan-latihan, dan ditutup dengan materi tambahan berupa lagu-lagu berbahasa Inggris. Materi perkuliahan sebagian besar diambil dari Kelly (2000) dalam bukunya yang berjudul How to teach Pronunciation, sedangkan bahan latihan diambil dari berbagai sumber, baik berupa buku-buku teks maupun sumber lain, misalnya dari internet. Materi perkuliahan dan latihan selengkapnya ditulis dalam modul perkuliahan.

3. Pembuatan Media
Materi perkuliahan dan bahan latihan yang telah tersusun kemudian dituangkan dalam bentuk CD pembelajaran interaktif. CD interaktif pronunciation ini dibuat dengan menggunakan program Macromedia Flash 2004. Program ini sebenarnya dapat digunakan untuk membuat gambar bergerak hingga film kartun. Namun, dalam CD ini, peneliti hanya menggunakan fitur sederhana dari program ini dengan memanfaatkan link dengan file lain, baik yang berbentuk halaman maupun MP3.

Pembuatan CD ini dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu: pengetikan materi, perekaman suara, dan pengecekan tiap halaman.

Materi yang telah dikembangkan pada langkah sebelumnya diketik pada program Microsoft Word karena jika materi diketik langsung pada progam Macromedia Flash, akan terlalu panjang dan sangat susah untuk diedit. Setelah semua materi selesai diketik, langkah selanjutnya adalah mengkopi materi ke dalam program Makromedia Flash. Setelah itu, pada setiap halaman file Makromedia disisipkan perintah yang dikehendaki yang antara lain menuju dan kembali ke halaman berikutnya ataupun sebelumnya, memutar dan menghentikan suara, menuju file lain, memutar dan menghentikan lagu, memunculkan gambar dan lain-lain.

Proses selanjutnya adalah perekaman suara. Suara hasil rekaman digunakan untuk mengisi setiap halaman yang terdapat dalam CD ini. Suara tersebut direkam dari suara dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan juga dari CD dan kamus elektronik yang menggunakan pengucapan penutur asli Bahasa Inggris. Suara direkam dengan menggunakan program Adobe Audition 1.5. Setelah suara direkam, file suara kemudian disimpan dalam format MP3 dan baru kemudian diedit untuk disesuaikan tinggi rendahnya, volumenya, dan menghilangkan noise yang ada. File suara yang telah diedit kemudian dihubungkan dengan file Macromedia yang telah disisipi perintah. 

Setelah tiap halaman dihubungkan dengan file suara, proses selanjutnya adalah pengecekan tiap halaman. Proses ini dilakukan untuk mengecek kesesuaian perintah yang diberikan dengan hasil yang dikehendaki. Pengecekan ini sangatlah diperlukan sebab setelah dicek, ternyata masih banyak perintah yang tidak berjalan maupun tidak sesuai dengan yang dikehendaki. Setelah file dicek, kemudian dilakukan pembenahan/perbaikan file yang dilakukan oleh peneliti sendiri.

4. Uji coba dan perbaikan media
Media pembelajaran yang telah dikembangkan ini kemudian diujicobakan untuk pembelajaran di kelas. Uji coba ini dilakukan di dalam kelas pronunciation untuk mengetahui lebih detail beberapa bagian yang mungkin masih belum terdeteksi pada proses pengecekan oleh peneliti. Proses ini juga sangat diperlukan untuk mendapatkan saran yang membangun dari mahasiswa.Uji coba ini melibatkan 22 mahasiswa kelas Pronunciation (Klas Dik 1B). Pada akhir pembelajaran mereka diminta memberikan komentar pada media pembelajaran yang baru saja mereka gunakan. Komentar mereka meliputi tiga hal, yaitu kelebihan dan kekurangan media tersebut serta saran perbaikannya. Berikut adalah komentar-komentar yang mereka ajukan.

Dari hasil uji coba tersebut, ternyata masih banyak ditemukan kesalahan baik yang berupa pengejaan kata maupun perintah sehingga dirasa perlu untuk menindaklanjuti dengan langkah perbaikan. Pertama, untuk membuat media tersebut lebih menarik, ditambahkan iringan musik, lagu-lagu, dan ilustrasi visual dalam bentuk gambar. Kedua, semua tulisan yang ada dalam media tersebut diteliti ulang, dan semua kesalahan ejaan diperbaiki, dan yang ketiga, model-model ucapan yang kurang jelas diperjelas.

Selanjutnya setelah dilakukan revisi-revisi yang diperlukan, CD tersebut kemudian di cek ulang. Dari hasil pengecekan ulang, ternyata dirasa perlu untuk menambah beberapa materi baru dan juga penambahan file teks dari CD serta lagu. Dengan demikian dilakukan revisi lagi untuk menindaklanjuti hasil pengecekan ulang tersebut.

Langkah selanjutnya adalah uji coba yang kedua, yaitu menggunakan CD yang telah direvisi tersebut dalam pembelajaran di kelas dan meminta mahasiswa untuk memberi umpan balik terhadap media pembelajaran yang berbentuk CD tersebut. Secara umum mahasiswa berpendapat bahwa media pembelajaran yang mereka gunakan saat itu sangat bagus, sangat cocok dengan kebutuhan mereka, sangat menarik, menyenangkan dapat membantu mereka belajar pronunciation dengan lebih baik dan dapat dipakai untuk belajar mandiri. Selain berkomentar, mereka juga memberikan beberapa masukan untuk perbaikan media ini lebih lanjut. Secara lengkap tanggapan mahasiswa pada tahap ini tertuang pada table berikut:

Dari proses uji coba tahap kedua ini diperoleh beberapa masukan yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan revisi seperlunya. Dengan revisi ini, CD interaktif yang dekembangkan dirasa telah sesuai dengan rencana dan harapan, dan siap digunakan.

E. Penutup
Setelah melalui proses pengembangan media dan melakukan ujicoba penggunaan media tersebut dalam pembelajaran Pronunciation di dalam kelas, peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Proses pengembangan media pembelajaran adalah bidang antar disiplin. Di sini diperlukan kerjasama yang sinergis antara dosen yang menguasai bidang ilmu dan pengajarannya dan orang yang ahli di bidang teknik pembuatan media, yang menguasai program-program komputer dan juga memahami bidang pengajaran yang akan dikembangkan. Selain itu masih diperlukan orang lain lagi untuk mengisi suara, dalam hal ini adalah orang yang membacakan materi pembelajaran. Selain bersuara bagus, orang ini juga dituntut memiliki kemampuan mengucapkan Bahasa Inggris mendekati sempurna, atau bahkan kalau perlu menggunakan penutur asli. Selain ketiga kelompok ini, media yang bagus masih memerlukan sentuhan ahli lain, yaitu ahli di bidang seni untuk memperindah tampilan baik visual maupun audial. 

2. Isi dari media pengajaran yang dikembangkan ini diambil dari sumber-sumber yang sudah ada, baik sumber yang berupa tulisan maupun rekaman suara. Sumber-sumber tertulis berasal dari Kelly, Suwarsih Madya, Philip Banham, dan Nilsen and Nilsen. Sedangkan sumber berupa rekaman suara berasal dari Kamus audio Cambridge, TOEFL practice materials, Nick Brieger and Jeremy Comfort, dan lagu-lagu yang dibawakan oleh artis-artis terkenal. Sumber-sumber tersebut milik orang lain, dengan demikian media pengajaran yang dikembangkan ini tidak boleh diperjual-belikan. Media ini hanya dipakai untuk kalangan terbatas, yaitu untuk pengajaran Pronunciation di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY

3. Media yang telah berhasil dekembangkan ini adalah media pembelajaran berbasis komputer, dengan demikian untuk dapat menggunakan media ini dalam pembelajaran diperlukan fasilitas tertentu. Misalnya laboratorium bahasa, laboratorium komputer, atau paling tidak ruang kelas biasa yang dilengkapi dengan komputer, LCD, dan speaker. Demikian juga bagi mahasiswa yang mau menggunakan CD ini untuk belajar mandiri di rumah, mereka harus memiliki komputer di rumahnya. Meskipun penggunaan media ini memerlukan syarat tertentu, yaitu adanya komputer, media ini cukup efektif dalam memfasilitasi guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar. Guru mendapatkan kemudahan dalam menyampaikan materi dan memberikan model ucapan yang baik dan benar. Siswa dapat lebih memahami isi materi, dapat menikmati proses belajar mengajar di kelas dengan senang dan tertarik untuk belajar dan belajar lagi, dan yang paling penting adalah siswa dapat berlatih secara mandiri sebanyak yang mereka inginkan di luar kelas. Di samping itu mahasiswa juga dapat dengan mudah memilih materi atau bahan latihan yang diinginkan.

Berdasarkan kesimpulan di atas diajukan beberapa saran, yaitu: 
Perlu digalang kerjasama antar disiplin ilmu untuk dapat menghasilkan media pembelajaran yang berkualitas. Di samping itu, dosen bidang studi tertentu, misalnya dosen Bahasa Inggris, juga perlu “melek komputer” dan teknik pemrograman sederhana, sehingga jika menemukan kesalahan atau kekurangan saat menggunakan media ini dapat melakukan perbaikan seperlunya.

Lembaga, dalam hal ini universitas atau fakultas perlu menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar sehingga dosen dan mahasiswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan maksimal. Fasilatas ruang kelas yang dilengkapi dengan komputer, LCD dan speaker adalah hal yang diperlukan dalam pembelajaran pronunciation yang baik.

Pengajar, guru atau dosen perlu senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pengajarannya dengan menggunakan media yang telah tersedia, atau dengan mengembangkan media yang diperlukan, karena pengajaran yang berkualitas akan mampu membantu mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Kualitas pembelajaran di kelas adalah salah satu indikator perguruan tinggi yang berkualitas

DAFTAR REFERENSI;
  • Avianto, 2005. Multimedia di Linux, diambil pada tgl.15 Juli 2006 
  • Binham,Philip, 1980. How to say it, Penerbit Kanisius Yogyakarta, Indonesia
  • Brieger, Nick dan Jeremy Comfort, 1995. Early Business Contacts, Phoenix ELT,
  • Prentice Hall International, London Hetch, B.F. dkk. 1987. The Acquisition of Second Language Phonology:
  • Interaction of Transfer and Development Factors, Cambridge, Newbury House Publisher Fry, Edward and Timothy Rasinski, 2007. Increasing Fluency with High
  • Frequency Word Phrases, Shell Education, Huntington Beach, CaliforniaUSA Kelly, Gerald, 2000. How to Teach Pronunciation, Longman Pearson Education Limited, England
  • Madya, Suwarsih. 2000. Learning English Pronunciation Systematically, Facultof Languages and Atrs, State University of Yogyakarta.
  • Nilsen, Don L.F. dan Alleen Pace Nilsen, 2002. Pronunciation Contrast in English, Pearson Education Inc., Waveland Illinois USA
  • Sadiman, A. dkk. 2005. Media Pendidikan. Jakarta. PT Raja Grafindo Perkasa Seels, B.B., Richey, R.C. 1994. Instructional Technology: The Definition and
  • Domain of the Field, Washington D.C: AECT Tomlinson, Brian (ed). 1998. Materials Development in Language Teaching.
  • Cambridge University Press, United Kingdom Yulia, M.F., dan Ouda Teda Ena, 2004. Pronunciation Problems of Indonesians 
  • EFL Teachers (the proceeding of the 9th English in Southeast Asia
  • Coference) USD., Yogyakarta

Saturday, 1 April 2017

Opini Audit Going Concern: Prediksi Kebangkrutan Dan Auditor Independen

Opini Audit Going Concern: Prediksi Kebangkrutan Dan Auditor Independen
Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha dan merupakan asumsi dalam pelaporan keuangan suatu entitas. Asumsi ini mengharuskan perusahaan secara operasional memiliki kemampuan mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) dan akan melanjutkan usahanya di masa depan. Perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya (Ikatan Akuntan Indonesia, 2007:5).

Kelangsungan hidup usaha selalu dihubungkan dengan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan agar dapat bertahan hidup. Ketika suatu perusahaan mengalami permasalahan keuangan (financial distress), kegiatan operasional perusahaan akan terganggu, yang akhirnya berdampak pada tingginya risiko yang dihadapi perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup usahanya di masa mendatang, hal ini akan berpengaruh terhadap opini audit yang diberikan oleh auditor.

Opini audit going concernmerupakan opini yang diterbitkan auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (Ikatan Akuntan Indonesia, 2007). Penerbitan opini audit going concern ini sangat berguna bagi para pemakai laporan keuangan untuk membuat keputusan yang tepat dalam berinvestasi, karena ketika seorang investor akan melakukan investasi perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, terutama yang menyangkut tentang kelangsungan hidup perusahaan tersebut (Hany et.al., 2003). Para investor mengharapkan auditor memberikan early warning akan kegagalan keuangan perusahaan (Chen dan Church, 1996). Situasi tersebut membuat auditor mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengeluarkan opini audit going concern yang konsisten dengan keadaan sesungguhnya.

Kesangsian terhadap kelangsungan hidup perusahaan merupakan indikasi terjadinya kebangkrutan. Altman dan McGough (1974) menemukan bahwa tingkat prediksi kebangkrutan dengan menggunakan suatu model prediksi mencapai tingkat keakuratan 82 persen, dan menyarankan penggunaan model prediksi kebangkrutan sebagai alat bantu auditor untuk memutuskan kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perusahaan yang terancam bangkrut berpeluang mendapatkan opini audit going concern dari auditor.

Tucker et. al. (2003) menemukan bahwa dari 228 perusahaan publik yang mengalami kebangkrutan, 96 perusahaan menerima opini wajar tanpa pengecualian pada tahun sebelum bangkrut. Di Indonesia terdapat beberapa kasus serupa, misalnya dilikuidasi beberapa bank setelah sebelumnya menerima pendapat wajar tanpa pengecualian. Pada awal 1990 Bank Summa dilikuidasi, selanjutnya terdapat 16 bank yang telah dilikuidasi pemerintah per 1 November 1997, Bank Prasidha Utama dan Bank Ratu di likuidasi di tahun 2000, Unibank di tahun 2001, Bank Asiatic dan Bank Dagang Bali dilikuidasi tahun 2004 serta Bank Global International di tahun 2005 (Rahayu, 2007). Terjadinya peristiwa pembekuan ijin empat akuntan publik yang terjadi pada tanggal 18 November 2002 dan kesalahan yang dilakukan oleh sejumlah Kantor Akuntan Publik (KAP) ketika melakukan audit terhadap laporan keuangan 38 bank beku kegiatan usaha (BBKU). Laporan audit yang dibuat oleh Kantor Akuntan Publik dalam peristiwa tersebut menyatakan bahwa kondisi perbankan saat itu sangat baik, tetapi dalam kenyataannya buruk. Keadaan seperti itu membuktikan bahwa Kantor Akuntan Publik memiliki peranan yang penting dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan. Kantor Akuntan Publik harus memiliki keberanian untuk mengungkapkan permasalahan mengenai kelangsungan hidup perusahaan klien. Barnes dan Huan (1993) mengungkapkan going concern perusahaan seharusnya diberikan oleh auditor pada saat opini audit itu diterbitkan.

Setyarno et. al. (2006), menyatakan bahwa auditor dalam menerbitkan opini audit going concern akan mempertimbangkan opini audit going concern yang telah diterima oleh auditeepada tahun sebelumnya. Penelitian tersebut memberikan bukti empiris bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap penerbitan opini audit going concern.

Mutchler (1984) menyatakan bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya lebih cenderung untuk menerima opini yang sama pada tahun berjalan. Mutchler (1985) menguji pengaruh ketersediaan informasi publik terhadap prediksi opini audit going concern, yaitu tipe opini yang telah diterima perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa model discriminant analysis yang memasukkan tipe opini audit tahun sebelumnya mempunyai akurasi prediksi keseluruhan yang paling tinggi sebesar 89,9 persen dibanding model yang lain

McKeown et.al. (1991) dan Louwers (1998) dalam penelitiannya menunjukkan auditor sering memberikan opini going concern ketika laporan audit tertunda lebih lama. Lennox (2002) menyatakan beberapa kemungkinan untuk menjelaskan hal ini. Pertama, auditor mungkin saja menemukan beberapa permasalahan ketika mereka melakukan beberapa pengujian audit tambahan. Kedua, auditor mungkin saja menguji ulang beberapa pengujian jika menemui permasalahan tentang going concernperusahaan. Kedua, manajer dan audit mungkin telah melakukan diskusi pendahuluan ketika terdapat ketidakpastian mengenai going concern perusahaan. Mutchler et.al. (1997) menemukan bukti bahwa keputusan opini going concern sebelum terjadinya kebangkrutan secara signifikan berkorelasi dengan probabilitas kebangkrutan dan variabel lag laporan audit. 

Auditor mempunyai peranan penting dalam menjembatani antara kepentingan investor dan kepentingan perusahaan sebagai pemakai dan penyedia laporan keuangan. Auditor pada saat ini harus mengemukakan secara eksplisit apakah perusahaan klien akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya sampai setahun kemudian setelah pelaporan.

Masalah timbul ketika banyak terjadi kesalahan opini (audit failures) yang dibuat oleh auditor menyangkut opini going concern (Sekar, 2003). Tidak adanya hasil-hasil penelitian yang konsisten yang dapat dijadikan acuan dalam memberikan pertimbangan opini going concern menyebabkan pemberian status going concern bukanlah suatu tugas yang mudah (Koh dan Tan, 1999).

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas mendorong peneliti melakukan penelitian tentang pengaruh prediksi kebangkrutan dan auditor independen terhadap opini audit going concen pada perusahaan manufaktur yang mengalami financial distress di Bursa Efek Indonesia.

Prediksi kebangkrutan diukur dengan model Altman tahun 1968, sedangkan kajian berdasarkan auditor independen ditinjau dari reputasi auditor, opini audit sebelumnya dan rentang waktu penyelesaian laporan audit (audit lag).

PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Teori Keagenan Jansen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai suatu kontrak antara manajemen (agent) dengan para pemegang saham (principal).

Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja untuk kepentingan pemegang saham. Manajemen berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan wewenang tersebut dengan membuat laporan keuangan. Dalam hal ini manajer yang melaporkan kinerjanya dalam laporan keuangan akan cenderung untuk melaporkan sesuatu yang dapat memaksimalkan utilitasnya. Principal akan kesulitan untuk memastikan apakah agent telah bertindak sesuai dengan keinginan principal atau tidak. Pihak ketiga yang independen sangat dibutuhkan sebagai mediator pada hubungan antara principal dan agent.

Auditor adalah pihak yang dianggap mampu menjembatani kepentingan pihak principal (shareholders) dengan pihak agent (manajer) dalam mengelola keuangan perusahaan (Setiawan, 2006). 

Principal mengharapkan auditor memberikan early warning mengenai kondisi keuangan perusahaan. Datadata perusahaan akan lebih mudah dipercaya oleh investor dan pemakai laporan keuangan lainnya apabila laporan keuangan yang mencerminkan kinerja dan kondisi keuangan perusahaan telah mendapat pernyataan wajar dari auditor (Komalasari, 2007). 

Opini Audit Going Concern Audit report dengan modifikasi mengenai going concern mengindikasikan bahwa dalam penilaian auditor terdapat resiko perusahaan tidak dapat bertahan dalam bisnis (Komalasari, 2007). Auditor harus mempertimbangkan hasil dari operasi, kondisi ekonomi yang mempengaruhi perusahaan, kemampuan pembayaran hutang, dan kebutuhan likuiditas di masa yang akan datang (Lenard et.al., 1998).

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) seksi 341 (IAI, 2007), memberikan pedoman kepada auditor tentang dampak kemampuan satuan usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap opini auditor sebagai berikut:
  • Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, ia harus:
  1. Memperoleh informasi mengenai rencana manajemen untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut.
  2. Menetapkan kemungkinan bahwa rencana tersebut secara efektif dilaksanakan.
  • Jika manajemen tidak memiliki rencana untuk mengurangi dampak negatif kondisi dan peristiwa terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, auditor mempertimbangkan untuk memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat.
  • Jika manajemen memiliki rencana tersebut, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh auditor adalah menyimpulkan efektivitas rencana tersebut.
  1. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut tidak efektif, auditor menyatakan tidak memberikan pendapat.
  2. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif dan klien mengungkapkan secara memadai, maka auditor akan memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
  3. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif akan tetapi klien tidak mengungkapkan secara memadai, maka auditor memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar.
Pengaruh Prediksi Kebangkrutan pada Opini Audit Going ConcernTingkat kesehatan suatu perusahaan dapat dilihat dari kondisi keuangan perusahaan (Ramadhany, 2004). McKeown dkk (1991) menemukan bahwa auditor hampir tidak pernah memberikan opini audit going concern pada perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan.

Krishnan (1996), menyatakan bahwa auditor lebih cenderung untuk mengeluarkan opini audit going concern ketika kemungkinan kebangkrutan berada diatas 28 persen dengan menggunakan model prediksi Zmijweski. Carcello dan Neal (2000) menyatakan bahwa semakin buruk kondisi keuangan perusahaan maka semakin besar probabilitas perusahaan menerima opini going concern. Dengan menggunakan model prediksi Z score Altman, hasil penelitian Ramadhany (2004) selaras dengan penelitian McKweon, Carcello dan Neal.

Beberapa penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa model prediksi kebangkrutan menggunakan rasiorasio keuangan lebih akuratdibandingkan pendapat auditor dalam mengelompokkan perusahaan bangkrut dan tidak bangkrut (Altman dan McGough,1974; Koh dan Killough,1990; Koh,1991). Altman dan McGough (1974) menemukan bahwa tingkat prediksi kebangkrutan dengan menggunakan suatu model prediksi mencapai tingkat keakuratan 82%, dan menyarankan penggunaan model prediksi kebangkrutan sebagai alat bantu auditor untuk memutuskan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perusahaan yang terancam bangkrut berpeluang mendapatkan opini audit going concern dari auditor.

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dikembangkan adalah:
H1: Model prediksi kebangkrutan berpengaruh negatif pada opini audit going concern.
Pengaruh Reputasi Auditor pada Opini Audit Going Concern Auditor bertanggungjawab untuk menyediakan informasi yang mempunyai kualitas tinggi yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan para pemakai laporan keuangan. Reputasi auditor menunjukkan prestasi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor tersebut. Lennox (2002) menyatakan adanya hubungan positif antara ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) dengan kualitas audit. Klien biasanya mempersepsikan bahwa auditor yang berasal dari KAP besar dan memiliki afiliasi dengan KAP internasional memiliki kualitas yang lebih tinggi, karena auditor tersebut memiliki karakteristik yang dapat dikaitkan dengan kualitas, seperti pelatihan, pengakuan internasional, serta adanya peer review (Craswell et.al., 1995).

DeAngelo (1981), mengemukakan bahwa KAP yang besar memiliki insentif yang lebih untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak reputasinya dibandingkan dengan KAP yang lebih kecil. KAP yang besar akan berusaha keras mempertahankan reputasi mereka serta menghindari tindakantindakan yang dapat merusa reputasi.

Auditor skala besar juga lebih cenderung untuk mengungkapkan masalah-masalah yang ada karena mereka lebih kuat menghadapi resiko proses pengadilan. Argumen tersebut berarti auditor skala besar memiliki kemungkinan atau dorongan yang lebih untuk melaporkan masalah going concern kliennya apabila terbukti terdapat masalah untuk melangsungkan usahanya dibandingkan dengan auditor skala kecil. Auditor skala besar dapat menyediakan kualitas audit yang lebih baik dibanding auditor skala kecil, termasuk dalam mengungkapkan masalah going concern. Semakin besar skala auditor maka akan semakin besar kemungkinan auditor untuk menerbitkan opini audit going concern.

Barbadillo et.al. (2004) menyatakan bahwa reputasi auditor berpengaruhsignifikan pada probability penerbitan opini audit going concern pada perusahaan yang mengalami financial distress di Bursa Efek Spanyol.

Penelitian yang dilakukan Rahayu (2007) menemukan bukti empiris bahwa reputasi auditor (big four dan non big four) berpengaruh terhadap opini audit going concern pada perusahaan sektor perbankan di Bursa Efek indonesia. Penelitian Januarti (2009), juga menunjukkan hasil bahwa reputasi auditor yang diproksikan dengan auditor spesialisasi industri berpengaruh signifikan terhadap penerbitan opini audit going concern.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang dikembangkan adalah:

H2: Reputasi auditor berpengaruh positif pada opini audit going concern.

Pengaruh Opini Audit Tahun Sebelumnya pada Opini Audit Going Concern Opini audit going concern tahun sebelumnya ini akan menjadi faktor pertimbangan penting auditor untuk menerbitkan kembali opini audit going concern pada tahun berikutnya.

Apabila auditor menerbitkan opini audit going concern tahun sebelumnya maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan akan menerima kembali opini audit going concern pada tahun berjalan (Mutchler, 1984). Nogler (1995) dalam Carcello dan Neal (2000) memberikan bukti bahwa setelah auditor mengeluarkan opini going concern, perusahaan harus menunjukkan peningkatan keuangan yang signifikan untuk memperoleh opini bersih pada tahun berikutnya, jika tidak mengalami peningkatan keuangan maka penerbitan opini audit going concern dapat diberikan kembali. Ramadhany (2004) menunjukkan hasil bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerbitan opini audit going concern.

Penelitian Setyarno et.al. (2006) menunjukkan bahwa auditor dalam menerbitkan opini audit going concern akan mempertimbangkan opini audit going concern yang telah diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya.

Penelitian-penelitian tersebut diatas memperkuat bukti ada hubungan positif yang signifikan antara opini audit going concern tahun sebelumnya dengan opini audit going concern tahun berjalan. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang dikembangkan adalah:

H3: Opini audit going concern tahun sebelumnya berpengaruh positif pada opini audit going concerntahun berjalan.

Pengaruh Audit Lag pada Opini Audit Going ConcernAudit lag didefinisikan sebagai jumlah hari antara akhir periode akuntansi sampai dikeluarkannya laporan audit. Penelitian menunjukkan bahwa auditor sering memberikan opini going concern ketika laporan audit tertunda lebih lama (McKeown et. al, 1991; Louwers, 1998). Lennox (2002) menyatakan beberapa kemungkinan untuk menjelaskan hal ini. Pertama, auditor mungkin saja menemukan beberapa permasalahan ketika mereka melakukan kembali beberapa pengujian audit tambahan. Kedua, auditor mungkin saja menguji ulang beberapa pengujian jika menemui permasalahan tentang going concern perusahaan. Ketiga, manajer dan auditor mungkin telah melakukan diskusi pendahuluan ketika terdapat ketidakpastian mengenai going concern perusahaan. Ashton dan Elliot (1987), dan Dodd et. al. (1984) menyatakan bahwa perusahaan yang menerima opini going concern membutuhkan waktu audit (audit delay) yang lebih lama dibandingkan perusahaan yang menerima opini tanpa modifikasi going concern. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang di kembangkan adalah:

H4: Rentang waktu penyelesaian laporan audit berpengaruh positif pada opini audit going concern.

METODE PENELITIAN
Sampel Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh auditee manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut:
  1. Auditee terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian (2002-2008).
  2. Memperoleh laba operasi negatif sekurangnya empat kali observasi. Laba operasi negatif digunakan untuk menunjukkan kondisi keuangan perusahaan yang bermasalah dan memiliki kecenderungan untuk menerima opini audit going concern (McKeown et.al., 1991).
  3. Menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen beserta laporan auditnya dari tahun 2002 sampai dengan 2008 dan data yang dibutuhkan tersedia lengkap.
  4. Menggunakan periode laporan keuangan mulai dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun yang bersangkutan.
Proses seleksi sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, disajikan pada Tabel.
Definisi Operasional Variabel Variabel dependen penelitian ini adalah opini audit going concern. Opini audit going concern merupakan opini audit dengan paragraf penjelasan mengenai pertimbangan auditor bahwa terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya di masa mendatang. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah variabel dummy. 

Kategori 1 untuk perusahaan yang menerima opini audit going concern dan 0 untuk perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern.

Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Prediksi kebangkrutan yang diukur dengan The Altman Model (1968). 
Rumus model Altman sebagai berikut:
Z = 1,2Z1 + 1,4Z2 + 3,3Z3 + 0,6Z4 + 0,999Z5 ...............................(1) 

Keterangan:
Z = Overall index
Z1 = working capital/total asset
Z2 = retained earnings/total asset
Z3 = earnings before interest and taxes/total asset
Z4 = market value of equity/book value of debt
Z5 = sales/total asset

b. Reputasi auditor merupakan prestasi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor tersebut. 

Reputasi auditor diukur dengan variabel dummy. Kategori 1 jika KAP termasuk dalam kategori The Big Four Auditors, dan kategori 0 jika tidak termasuk kategori The Big Four Auditorsc. Opini Audit tahun sebelumnya didefinisikan sebagai opini audit yang diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya. Variabel ini diukur dengan dummy, opini audit going concern (OGC) akan diberi kode 1, sedangkan untuk opini audit non going concern (NOGC) akan diberi kode 0.

d. Audit lag atau rentang waktu penyelesaian laporan audit adalah jumlah hari antara akhir periode akuntansi sampai dengan dikeluarkannya laporan audit.

Teknik Analisis Data Data dalam penelitian ini dianalisis dengan statistik deskriptif, kemudian dilakukan pengujian model, dan terakhir pengujian hipotesis. Statistik deskriptif memberikan gambaran tentang distribusi frekuensi variabelvariabel penelitian, nilai maksimum, minimum, rata-rata dan standar deviasi. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu model data diuji dengan menilai kelayakan model regresi, menilai keseluruhan model, dan menguji koefisien regresi. Metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah logistic regression. Ghozali (2006:225) menyatakan bahwa metode ini cocok digunakan untuk penelitian yang variabel dependennya bersifat kategorikal dan variabel independennya kombinasi antara metrik dan non metrik. Model penelitian ini disajikansebagai berikut:

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan kriteria sampel yang telah ditetapkan, diperoleh sebanyak 22 perusahaan manufaktur untuk periode selama 7 tahun yakni tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 dengan total observasi 154. Statistik deskriptif memberikan gambaran tentang distribusi frekuensi variabel-variabel penelitian, nilai maksimum, minimum, rata-rata dan standar deviasi. Hasil pengujian dengan statistik deskriptif disajikan pada Tabel.

Nilai rata-rata opini audit (OGC) sebesar 0,90 lebih besar daripada 0,50; menunjukkan bahwa opini audit dengan kode 1, yakni opini audit going concern merupakan opini audit yang paling banyak diberikan. Perusahaan yang menerima opini audit going concern sebanyak 139, dan 15 perusahaan menerima opini audit non going concern dengan standar deviasi sebesar 0,30.

Besarnya nilai Z score (Z68) tertinggi sebesar 11,63 dan terendah - 7,58 dengan standar deviasi 2,78. Nilai rata-rata Z score perusahaan adalah sebesar 0,14 lebih kecil daripada batas bawah tingkatan Z score sebesar 1,81.

Berdasarkan tingkatan Z score, perusahaan dengan nilai Z lebih kecil daripada 1,81 diklasifikasikan sebagai perusahaan yang berpotensi bangkrut.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan sampel mengalami permasalahan keuangan, yang dapat mengancam kelangsungan hidup usahanya.

Nilai rata-rata reputasi auditor (RAD) adalah sebesar 0,53 lebih besar daripada 0,50; menunjukkan bahwa nilai yang paling sering muncul adalah 
1, yang merupakan kode untuk KAP yang termasuk dalam The Big Fours. Perusahaan yang dijadikan sampel penelitian 154, sebanyak 73perusahaan menggunakan jasa auditor Non The Big Fours (kode 0), dan 81perusahaan menggunakan jasa auditor The Big Fours (kode 1). 

Nilai rata-rata opini audit tahun sebelumnya (OATS) sebesar 0,92 lebih besar dari 0,50 dengan standar deviasi 0,27. Hasil ini menunjukkan bahwa opini audit tahun sebelumnya yang paling sering muncul adalah opini audit going concern (kode 1), yaitu sebanyak142 perusahaan menerima opini audit going concern dan sisanya sebanyak 12 perusahaan menerima opini audit non going concern.

Variabel rentang waktu penyelesaian laporan audit (LAG) ratarata sebesar 74,95 hari (75 hari) dengan standar deviasi sebesar 20,55 (21 hari). Rentang waktu penyelesaian laporan audit yang paling cepat adalah 15 hari (sekitar setengah bulan) dan terlama 162 hari (sekitar 5 bulan) sejak tanggal laporan keuangan.

Tabel menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik pada taraf kesalahan 5 persen. Hasil pengujian regresi logistik menghasilkan model sebagai berikut:

Berdasarkan model regresi logistik yang terbentuk, diinterpretasikan hasil sebagai berikut:
1. Model prediksi kebangkrutan (Z score) mempunyai koefisien regresi negatif sebesar 0,542 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,004 < 0,05 Hasil ini menunjukkan bahwa prediksi kebangkrutan (Z score) berpengaruh pada opini audit going concern. Auditor dalam menerbitkan opini audit going concern, sangat memperhatikan kondisi keuangan auditee. Auditee yang mempunyai permasalahan keuangan yang serius, kesulitan likuiditas, kekurangan modal kerja, serta kerugian terus menerus yang mengakibatkan nilai Z score rendah berpeluang besar menerima opini audit going concern. 

2. Reputasi auditor mempunyai koefisien regresi positif sebesar 0,168 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.848 yang lebih besar dari 0,05. Hasil pengujian menunjukkan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh pada opini audit going concern. Besar kecilnya sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) tidak mempengaruhi besar kecilnya kemungkinan KAP tersebut untuk menerbitkan opini audit going concern. Profesi akuntan publik harus memperhatikan kualitas audit sebagai hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa profesi auditor dapat memenuhi kewajibannya kepada para pemakai jasanya. Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa auditor dalam menjalankan tugasnya patuh kepada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dalam hal ini SPAP seksi 341 yang mengatur pertimbangan auditor atas kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Penelitian ini juga menunjukkan KAP yang beraffiliasidengan Big Four atau non Big Four tidak mempunyai pengaruh pada opini audit going concern auditee, tetapi lebih dipengaruhi oleh ketaatan auditor terhadap kode etik, mempertahankan independensi, integritas, dan objektivitasnya.

Auditor dalam bertugas, harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional. Auditor juga harus mempertahankan integritas dan objektivitas, serta harus bebas dari benturan kepentingan. Etika profesional ini terikat untuk semua auditor, tanpa dipengaruhi apakah auditor tersebut berasal dari KAP besar (Big Four) atau KAP kecil (non Big Four). Auditor, baik dari KAP besar maupun kecil, akan tetap memberikan opini audit going concern apabila auditor tersebut meragukan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya, sehingga reputasi auditor yang diproksikan dengan ukuran KAP tidak berpengaruh pada opini audit going concern.

3. Pengujian atas variabel opini audit tahun sebelumnya ditemukan bukti empiris bahwa opini audit yang diterima pada tahun sebelumnya secara signifikan berpengaruh positif pada opini audit going concern pada tahun berjalan.

Hasil pengujian regresi logistik terhadap opini audit tahun sebelumnya menunjukkan angka probabilitas signifikansi 0,000 dibawah tingkat signifikansi 0,05, dengan nilai koefisien positif sebesar 4,339. Hasil temuan empiris ini menunjukkan bahwa auditor sangat memperhatikan opini going concern yang diterima pada tahun sebelumnya. Walaupun sebenarnya penerbitan kembali opini  going concern ini tidak didasarkan kepada opini going concern yang diterima pada tahun sebelumnya  semata, namun lebih kepada efek yang disebabkan oleh pemberian opini going concern tersebut yaitu hilangnya kepercayaan dari publik akan keberlanjutan usaha auditee termasuk dari investor, kreditur, dan konsumen sehingga akan semakin mempersulit manajemen perusahaan untuk dapat bangkit kembali dari kondisi keterpurukan (Jones, 2003).

4. Rentang waktu penyelesaian laporan audit (audit lag) mempunyaikoefisien regresi positif sebesar 0,043 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,022 lebih kecil dari 0,05. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rentang waktu penyelesaian laporan audit (audit lag) berpengaruh pada opini audit going concern. Hasil penelitian ini mendukung temuan McKeown et. al. (1991), dan Louwers (1998) menunjukkan bahwa auditor sering memberikan opini going concern ketika laporan audit tertunda lebih lama. Penelitian Ashton dan Elliot (1987), dan Dodd et.al. (1984) menyatakan bahwa perusahaan yang menerima opini going concern membutuhkan waktu audit (audit delay) yang lebih lama dibandingkan perusahaan yang menerima opini tanpa modifikasi going concern. Lennox (2002) menyatakan ketika laporan auditor memerlukan waktu penyelesaian yang lebih, mungkin saja auditor  menemukan permasalahan tentang going concern perusahaan dan melakukan pengujian ulang terhadap beberapa pengujian sebelumnya.

Friday, 31 March 2017

Sasaran Pengembangan Emosi di Taman Kanak-kanak

Sasaran Pengembangan Emosi di Taman Kanak-kanak
Sebagaimana teori belajar era Quantum yang menyatakan bahwa informasi yang memasuki otak akan menuju otak tengah. Otak tengah berfungsi sebagai semacam pusat pengarah. Jika memutuskan informasi penting, ia mengalihkan informasi tersebut ke “otak berpikir”. Fungsi otak tengah tidak hanya sebuah “pusat pengarah”, tetapi juga bagian otak yang mengendalikan emosi. Jadi jika informasi baru disampaikan dengan cara yang menyenangkan, maka seseorang dapat belajar dan mengingat dengan baik. Jika hal yang dipelajari memasukkan unsur wrna, ilustrasi, permainan dan iringan lagu, emosi terlibat secara positip sehingga orang akan belajar lebih baik.

Hal yang penting untuk diperhatikan dan dibutuhkan anak dalam upaya pengembangan emosi yang sehat adalah sebagai berikut:
  1. Rasa cinta dan kasih sayang
  2. Rasa saling memiliki
  3. Rasa diterima apa adanya
  4. Diberi kesempatan untuk mandiri dan membuat keputusan sendiri
  5. Rasa aman
  6. Diberi kepercayaan pada dirinya
  7. Diperlakukan sebagai seseorang yang mempunyai identitas.
Ada lima cara yang dapat dilakukan guru untuk membantu proses pengembangan emosi anak, yaitu kemampuan untuk mengenali emosi diri, kemampuan untuk mengelola dan mengeksprseikan emosi secara tepat, kemampuan untuk memotivasi diri, kemampuan untuk memahami perassaan orang lain dan kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain. Sedangkan materi pembelajaran emosi di taman kanak-kanak meliputi rasa cinta, kasih sayang, empati serta pengendalian emosi.

Metode Pengembangan Sosial di Taman Kanak-kanak 
Salah satu keahliah guru yang diharapkan adalah kemampuannya dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk peserta didiknya. Metode yang dapat digunakan untuk membantu proses pengembangan sosial diantaranya adalah:

1. Bernyanyi dan bermain musik
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia.oleh karenanya, bermain musik bagi anak penting dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pengembangan emosinya. Musik dapat menumbuhkan rasa kebangsaan, kesatuan, kagum, gembira,bahkan kepuasan rohaniah dan jasmani. Manfaat yang lain diantaranya adalah mendorong gerak pikir dan rasa membangkaitkan kekuatan dalam jiwa dan membantuk watak. Musik juga dapat memerikan kepuasan rohaniah dan membangkitkan kekuatan dalam jiwa dan membentuk watak. Selain itu....musik merupakan salah satu instrumen atau media bagi seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan ilahi serta semesta alam.

1. Bermain peran
Adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan tokok-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada disekitar anak. melalui permaian ini daya majinasi kreatvitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apapun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yyaang diharapkannya. Jika ia mengagumi ibunya, maka ia akan memerankan tokoh ibunnya seperti yang biasa ia lihat. 

Salah satu cara bagi anak untuk menelusuri dunianya, salah satunya adalah dengan meniru tindakan dan karaketr dari orang-orang yang berada disekitarnya. Ini merupakan bagian paling awal dari bentuk drama, yang tidak dapat disamakan dengan drama atau ditafsirkan sebagai penampilan. 

2. Hand puppet
Hand pupet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia TK.. melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak membutuhkan kawan dalam melakukannya, walaupun masih ada beberapa anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan bola tangannya. Namun sekalipun permainan dilakukan anak sendirian, itu pun tidak menjadi masalah selama anak tidak menolak teman-temannya. Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan Hand Pupetini untuk tarapi. Dengan permainan ini anak-anak yang mengalami permasalahan emosional pun akan tererbabantu. Yang menjadi catatan: hendaklah mencari boneka yang menakutkan bagi anak serta mengkomunikasikan tentang materi-materi yang sesuai dengan perkembangan anak.

3. Bercerita 
Bercerita bagi seorang anak adalah suatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apapun yang dia inginkan. Dalam cerita...seorang anak dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembangan sosialnya. Bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang erat dengan anak. melalui bercrita, para pendidik dapat berinteraksi secara hangat dan akrab, terlebih lagi jika mereka dapat melengkapi dengan cerita-cerit itu dengan unsur humor.

4. Permainan gerak dan lagu: merupakan aktivitas bermain musik sambil menari, dan anak akan lebih senang jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Teknik pelaksaaannya mudah, permata kita dapat memutar musik klasik di awal kegiatan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik. Tiba-tiba musik dimatikan di tenga-tengah dan anak-anak pun berhenti bergerak dan berpura-pura menjadi patung. Begitu dan seterusnya di ulang lagi dengan menggunakan berbagai macama lagu sehingga semakin menyenangkan dan emosi aanak aan semakin terekspresikan.

Metode Pengembangan Sosial di Taman Kanak-kanak

Metode Pengembangan Sosial di Taman Kanak-kanak
Salah satu keahliah guru yang diharapkan adalah kemampuannya dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk peserta didiknya. Metode yang dapat digunakan untuk membantu proses pengembangan sosial diantaranya adalah:

1. Bernyanyi dan bermain musik
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia.oleh karenanya, bermain musik bagi anak penting dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pengembangan emosinya. Musik dapat menumbuhkan rasa kebangsaan, kesatuan, kagum, gembira,bahkan kepuasan rohaniah dan jasmani. Manfaat yang lain diantaranya adalah mendorong gerak pikir dan rasa membangkaitkan kekuatan dalam jiwa dan membantuk watak. Musik juga dapat memerikan kepuasan rohaniah dan membangkitkan kekuatan dalam jiwa dan membentuk watak. Selain itu....musik merupakan salah satu instrumen atau media bagi seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan ilahi serta semesta alam.

1. Bermain peran
Adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan tokok-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada disekitar anak. melalui permaian ini daya majinasi kreatvitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apapun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yyaang diharapkannya. Jika ia mengagumi ibunya, maka ia akan memerankan tokoh ibunnya seperti yang biasa ia lihat.

Salah satu cara bagi anak untuk menelusuri dunianya, salah satunya adalah dengan meniru tindakan dan karaketr dari orang-orang yang berada disekitarnya. Ini merupakan bagian paling awal dari bentuk drama, yang tidak dapat disamakan dengan drama atau ditafsirkan sebagai penampilan.

2. Hand puppet
Hand pupet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia TK.. melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak membutuhkan kawan dalam melakukannya, walaupun masih ada beberapa anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan bola tangannya. Namun sekalipun permainan dilakukan anak sendirian, itu pun tidak menjadi masalah selama anak tidak menolak teman-temannya. Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan Hand Pupetini untuk tarapi. Dengan permainan ini anak-anak yang mengalami permasalahan emosional pun akan tererbabantu. Yang menjadi catatan: hendaklah mencari boneka yang menakutkan bagi anak serta mengkomunikasikan tentang materi-materi yang sesuai dengan perkembangan anak.

3. Bercerita 
Bercerita bagi seorang anak adalah suatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apapun yang dia inginkan. Dalam cerita...seorang anak dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembangan sosialnya. Bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang erat dengan anak. melalui bercrita, para pendidik dapat berinteraksi secara hangat dan akrab, terlebih lagi jika mereka dapat melengkapi dengan cerita-cerit itu dengan unsur humor.

4. Permainan gerak dan lagu: merupakan aktivitas bermain musik sambil menari, dan anak akan lebih senang jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Teknik pelaksaaannya mudah, permata kita dapat memutar musik klasik di awal kegiatan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik. Tiba-tiba musik dimatikan di tenga-tengah dan anak-anak pun berhenti bergerak dan berpura-pura menjadi patung. Begitu dan seterusnya di ulang lagi dengan menggunakan berbagai macama lagu sehingga semakin menyenangkan dan emosi aanak aan semakin terekspresikan.