Wednesday, 21 December 2016

Tujuan Analisis Risiko

Analisis Risiko
1. Umum
Tujuan dari analisis risiko adalah untuk membedakan risiko minor yang dapat diterima dari risiko mayor, dan untuk menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko. Analisis risiko termasuk pertimbangan dari sumber risiko, dan konsekuensinya. Faktor yang mempengaruhi konsekuensi dapat teridentifikasi. Risiko dianalisis dengan mempertimbangkan estimasi konsekuensi dan perhitungan terhadap program pengendalian yang selama ini sudah dijalankan.
Analis pendahuluan dapat dibuat untuk mendapatkan gambaran seluruh risiko yang ada. Kemudian disusun urutan risiko yang ada. Risiko-risiko yang kecil untuk sementara diabaikan dulu. Prioritas diberikan kepada risiko-risiko yang cukup signifikan dapat menimbulkan kerugian. 

2. Menetapkan/ Determinasi Pengendalian Yang Sudah Ada
Identifikasi manajemen, sistem teknis dan prosedur-prosedur yang sudah ada untuk pengendalian risiko, kemudian dinilai kelebihan dan kekurangannya. Alat-alat yang digunakan dinilai kesesuainnya. Pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan misalnya, seperti inspeksi dan teknik pengendalian dengan penilaian sendiri/ professional judgement (Control Self-Assessment Techniques/ CST).

3. Konsekuensi/ Dampak Dan Kemungkinan 
Konsekuensi dan probabilitas adalah kombinasi/ gabungan untuk memperlihatkan level risiko. Berbagai metode bisa digunakan untuk menghitung konsekuensi dan probabilitas, diantaranya dengan menggunakan metode statistik. 

Metode lain yang juga bisa digunakan jika data terdahulu tidak tersedia, dengan melakukan ekstrapolasi data-data sekunder secara umum dari lembaga-lembaga internasional maupun industri sejenis. Kemudian dibuat estimasi/ perkiraan secara subyektif. Metode ini disebut metode penentuan dengan professional judgement. Hasilnya dapat memberikan gambaran secara umum mengenai level risiko yang ada. 

Sumber informasi yang dapat digunakan untuk menghitung konsekuensi diantaranya adalah:
  1. Catatan-catatan terdahulu.
  2. Pengalaman kejadian yang relevan.
  3. Kebiasaan-kebiasaan yang ada di industri dan pengalaman-pengalaman pengendaliannya.
  4. Literatur-literatur yang beredar dan relevan.
  5. Marketing test dan penelitian pasar.
  6. Percobaan-percobaan dan prototipe.
  7. Model ekonomi, teknik, maupun model yang lain.
  8. Spesialis dan pendapat-pendapat para pakar.
Sedangkan teknik-tekniknya adalah: 
  • Wawancara yang terstruktur dengan para pakar yang terkait.
  • Menggunakan berbagai disiplin keilmuan dari para pakar
  • Evaluasi perorangan dengan menggunakan kuesioner.
  • Menggunakan sarana komputer dan lainnya.
  • Menggunakan pohon kesalahan (fault tree) dan pohon kejadian (event tree).
4. Tipe Analisis
Analisis risiko akan tergantung informasi risiko dan data yang tersedia. Metode analisis yang digunakan bisa bersifat kualitatif, semi kuantitatif, atau kuantitatif bahkan kombinasi dari ketiganya tergantung dari situasi dan kondisinya. 

Urutan kompleksitas serta besarnya biaya analisis (dari kecil hingga besar) adalah: kualitatif, semi kuantitatif, dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran umum tentang level risiko. Setelah itu dapat dilakukan analisis semi kuantitatif ataupun kuantitatif untuk lebih merinci level risiko yang ada. 

Penjelasan tentang karakteristik jenis-jenis analisis tersebut dapat dilihat dibawah ini:
A. Analisis Kualitatif 
Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk menjelaskan seberapa besar potensi risiko yang akan diukur. Hasilnya misalnya risiko dapat termasuk dalam:
  1. Risiko rendah
  2. Risiko sedang
  3. Risiko tinggi
Catatan: Tabel E1 dan E2 dalam lampiran E menggambarkan contoh bentuk kualitatif yang mudah atau skala deskriptif dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tabel E3 adalah sebuah contoh dari sebuah matriks yang dibuat berdasarkan prioritas kelas dengan menggambungkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Tabel tersebut perlu ditata kembali sesuai kebutuhan dari organisasi yang individu atau subjek tertentu dari penilaian suatu risiko.

Analisis kualitatif digunakan untuk kegiatan skrining awal pada risiko yang membutuhkan analisis lebih rinci dan lebih mendalam
B. Analisis Semi-Kuantitatif
Pada analisis semi kuantitatif, skala kualitatif yang telah disebutkan diatas diberi nilai. Setiap nilai yang diberikan haruslah menggambarkan derajat konsekuensi maupun probabilitas dari risiko yang ada. Misalnya suatu risiko mempunyai tingkat probabilitas sangat mungkin terjadi, kemudian diberi nilai 100. setelah itu dilihat tingkat konsekuensi yang dapat terjadi sangat parah, lalu diberi nilai 50. Maka tingkat risiko adalah 100 x 50 = 5000. Nilai tingkat risiko ini kemudian dikonfirmasikan dengan tabel standar yang ada (misalnya dari ANZS/ Australian New Zealand Standard, No. 96, 1999).

Kehati-hatian harus dilakukan dalam menggunakan analisis semi-kuantitatif, karena nilai yang kita buat belum tentu mencerminkan kondisi obyektif yang ada dari sebuah risiko. Ketepatan perhitungan akan sangat bergantung kepada tingkat pengetahuan tim ahli dalam analisis tersebut terhadap proses terjadinya sebuah risiko. Oleh karena itu kegiatan analisis ini sebaiknya dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan background, tentu saja juga melibatkan manajer ataupun supervisor di bidang operasi. 

C. Analisis Kuantitatif
Analisis dengan metode ini menggunakan nilai numerik. Kualitas dari analisis tergantung pada akurasi dan kelengkapan data yang ada. Konsekuensi dapat dihitung dengan menggunakan metode modeling hasil dari kejadian atau kumpulan kejadian atau dengan mempekirakan kemungkinan dari studi eksperimen atau data sekunder/ data terdahulu.

Probabilitas biasanya dihitung sebagai salah satu atau keduanya (exposure dan probability). Kedua variabel ini (probabilitas dan konsekuensi) kemudian digabung untuk menetapkan tingkat risiko yang ada. Tingkat risiko ini akan berbeda-beda menurut jenis risiko yang ada. 

5. Sensitifitas Analisis
Tingkatan sensitifitas analisis (dimulai dari yang paling sensitif sampai dengan yang kurang sensitif) adalah:
  • Analisis Kuantitatif
  • Analisis Semi-kuantitatif
  • Analisis Kualitatif
Evaluasi Risiko
Evaluasi Risiko adalah membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko dengan kriteria standar yang digunakan.
Hasil Evaluasi risiko diantaranya adalah:
  1. Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada.
  2. Gambaran tentang prioritas risiko yang perlu ditanggulangi.
  3. Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter biaya ataupun parameter lainnya.
  4. Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian.
Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko meliputi identifikasi alternatif-alternatif pengendalian risiko, analisis pilihan-pilihan yang ada, rencana pengendalian dan pelaksanaan pengendalian.

1. Identifikasi Alternatif-Alternatif Pengendalian Risiko 
Gambar 4.2 menjelaskan proses pengendalian risiko. Alternatif-alternatif pengendalian yang dapat dilakukan dapat dilihat di bawah ini:
a. Penghindaran risiko 
Beberapa pertimbangan penghindaran risiko : 
  1. Keputusan untuk menghindari atau menolak risiko sebaiknya memperhatikan informasi yang tersedia dan biaya pengendalian risiko. 
  2. Kemungkinan kegagalan pengendalian risiko. 
  3. Kemampuan sumber daya yang ada tidak memadai untuk pengendalian. 
  4. Penghindaran risiko lebih menguntungkan dibandingkan dengan pengendalian risiko yang dilakukan sendiri.
  5. Alokasi sumber daya tidak terganggu.
b. Mengurangi probabilitas
Contoh dapat di lihat di Lampiran G
c. Mengurangi konsekuensi 
Contoh dapat di lihat di Lampiran G
d. Transfer risiko
Alternatif transfer risiko ini, dilakukan setelah dihitung keuntungan dan kerugiannya. Transfer risiko ini bisa berupa pengalihan risiko kepada pihak kontraktor. Oleh karena itu didalam perjanjian kontrak dengan pihak kontraktor harus jelas tercantum ruang lingkup pekerjaan da juga risiko yang akan ditransfer. Selain itu konsekuensi yang mungkin terjadi dapat juga di transfer risikonya dengan pihak asuransi.

2. Penilaian Alternatif-Alternatif Pengendalian Risiko
Pilihan sebaiknya dinilai atas dasar/ besarnya pengurangan risiko dan besarnya tambahan keuntungan atau kesempatan yang ada. Seleksi dari alternatif yang paling tepat meliputi keseimbangan biaya pelaksanaan terhadap keuntungan. 

Walaupun pertimbangan biaya menjadi faktor penting dalam penentuan alternatif pengendalian risiko, tetapi faktor waktu dan keberlangsungan operasi tetap menjadi pertimbangan utama. 

Biaya dari pengurangan risiko ($) 
Seringkali perusahaan bisa mendapatkan manfaat besar dari pilihan kombinasi alternatif-alternatif pengendalian yang tersedia. Oleh karena itu sebenarnya tidak pernah terjadi penggunaan alternatif tunggal dalam proses pengendalian risiko.

3. Rencana Persiapan Pengendalian
Setelah ditentukan alternatif pengendalian risiko yang paling tepat, langkah berikutnya adalah menyusun rencana persiapan. Rencana persiapan ini berkaitan dengan pertanggungjawaban, jadwal waktu, anggaran, ukuran kinerja, dan tempat.
Untuk lebih jelasnya, tercatat pada bagian H5, Lampiran H. 

4. Implementasi Perbaikan Program
Idealnya, tanggungjawab dari pengendalian risiko seharusnya dilakukan oleh mereka yang benar-benar mengerti. Tanggung jawab tersebut harus disetujui lebih awal. Pelaksanaan pengendalian risiko yang baik membutuhkan sistem manajemen yang efektif, pembagian tanggungjawab yang jelas dan kemampuan individu yang handal.

Pemantauan Dan Telaah Ulang
Pemantauan selama pengendalian risiko berlangsung perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang bisa terjadi. Perubahan-perubahan tersebut kemudian perlu ditelaah ulang untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan. Pada prinsipnya pemantauan dan telaah ulang perlu untuk dilakukan untuk menjamin terlaksananya seluruh proses manajemen risiko dengan optimal.

Komunikasi Dan Konsultasi
Komunikasi dan konsultasi merupakan pertimbangan penting pada setiap langkah atau tahapan dalam proses manejemen risiko. Sangat penting untuk mengembangkan rencana komunikasi, baik kepada kontributor internal maupun eksternal sejak tahapan awal proses manajemen risiko. 

Komunikasi dan konsultasi termasuk didalamnya dialog dua arah diantara pihak yang berperan didalam proses manajemen risiko dengan fokus terhadap perkembangan kegiatan.

Komunikasi internal dan eksternal yang efektif penting untuk meyakinkan pihak manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.

Persepsi risiko dapat bervariasi karena adanya perbedaan dalam asumsi dan konsep, isu-isu, dan fokus perhatian kontributor dalam hal hubungan risiko dan isu yang dibicarakan. Kontributor membuat keputusan tentang risiko yang dapat diterima berdasarkan pada persepsi mereka terhadap risiko. Karena kontributor sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan maka sangat penting bagaimana persepsi mereka tentang risiko sama halnya dengan persepsi keuntungan-keuntungan yang bisa didapat dengan pelaksanaan manajemen risiko. 

DOKUMENTASI
Umum
Setiap tingkatan dari proses manajemen risiko harus didokumentasikan. Dokumentasi harus meliputi asumsi, metode, sumber data dan hasil.
Alasan Pendokumentasian
Alasan untuk pendokumentasian adalah sebagai berikut:
  • Menggambarkan proses manajemen risiko yang dilaksanakan telah berjalan dengan tepat.
  • Memberikan masukan data dan informasi untuk proses identifikasi dan analisis risiko.
  • Menyediakan daftar risiko yang ada dan mengembangkan database organisasi.
  • Menyediakan informasi untuk proses pengambilan keputusan yang relevan dengan rencana dan pelaksanaan manajemen risiko. 
  • Menyediakan informasi untuk mekanisme tanggung gugat dan peralatan.
  • Memfasilitasi pengawasan dan review yang berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi yang diperlukan untuk uji coba audit, dan
  • Mensosialisasikan dan mengkomunikasikan informasi yang berhubungan dengan manajemen risiko.
Lihat lampiran H. 
Lampiran B
LANGKAH-LANGKAH DALAM PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN PROGRAM MANAJEMEN RISIKO

TAHAP 1: Dukungan dari senior manajemen
Mengembangkan filosofi dan kesadaran pengorganisasian manajemen risiko pada tingkat senior manajemen. Hal ini mungkin dapat difasilitasi dengan pelatihan, pendidikan, dan keterangan singkat dari eksekutif manajemen.
  • Dukungan aktif yang berkesinambungan dari Pimpinan Eksekutif suatu organisasi sangatlah penting.
  • Seorang senior eksekutif manajer perlu memberikan dukungan kepada para pekerja untuk berinisiatif melaksanakan manajemen risiko.
  • Semua senior eksekutif sebaiknya memberikan dukungan penuh.
TAHAP 2: Pengembangan kebijakan organisasi
Pengembangan dan dokumentasi kebijakan perusahaan serta kerangka berfikir untuk mengelola risiko, berisi informasi-informasi seperti:
  • Obyektifitas kebijakan dan dasar berfikir untuk mengelola risiko;
  • Hubungan antara kebijakan dan strategi organisasi/ rencana perusahaan;
  • Batasan atau jangkauan dari isu-isu yang ada didalam sebuah kebijakan;
  • Pimpinan diharapkan dapat menjadi teladan;
  • Pembagian tanggungjawab dalam pengelolaan risiko;
TAHAP 3: Komunikasi Peraturan
Tujuan :
  • Meningkatkan kesadaran akan manajemen risiko.
  • Mengkomunikasikan sampai tingkat terendah diorganisasi tentang manajemen risiko dan peraturan organisasi.
  • Merekrut ahli manajemen risiko, contohnya konsultan. 
  • Mengembangkan keahlian sampai staf terendah dengan pendidikan dan pelatihan.
  • Menjamin terciptanya pelaksanaan sistem penghargaan dan sangsi.
TAHAP 4: Manajemen Risiko Pada Tingkat Organisasi

Pengaturan pada level organisasi terendah dalam mengaplikasikan sistem manajemen risiko. Proses manajemen risiko akan berintegrasi dengan strategi perencanaan dan proses manajemen organisasi secara keseluruhan. Ini akan melibatkan tehnik pendokumentasian sbb:
  • Organisasi dan konteks manajemen risiko.
  • Identifikasi risiko untuk organisasi.
  • Analisis dan Evaluasi risiko yang ada.
  • Pengendalian risiko.
  • Mekanisme pemantauan dan telaah ulang program. 
  • fStrategi peningkatan kesadaran dengan metode pelatihan dan pendidikan. 
TAHAP 5: Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko melalui rencana kegiatan program dan tingkatan tim. Pada tahap ini perlu dilakukan pengembangan sebuah program untuk pengendalian risiko di masing-masing bagian maupun area organisasi. 

TAHAP 6: Monitoring dan Telaah Ulang
Pengembangan dan pelaksanaan setiap tahapan manajemen risiko perlu dipantau untuk menjamin terciptanya optimalisasi manajemen risiko. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menjamin bahwa implementasi manajemen risiko tetap sejalan dengan kebijakan perusahaan. Perlu juga dipahami bahwa risiko adalah sesuatu yang dapat berubah setiap waktu (dinamis tidak statis) dan telaah ulang langkah-langkah yang diambil merupakan hal yang penting. Pada intinya kegiatan pemantauan dan telaah ulang ini akan menjamin efektifitas dan efisiensi pelaksanaan manajemen risiko agar berjalan optimal.1. Umum
Tujuan dari analisis risiko adalah untuk membedakan risiko minor yang dapat diterima dari risiko mayor, dan untuk menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko. Analisis risiko termasuk pertimbangan dari sumber risiko, dan konsekuensinya. Faktor yang mempengaruhi konsekuensi dapat teridentifikasi. Risiko dianalisis dengan mempertimbangkan estimasi konsekuensi dan perhitungan terhadap program pengendalian yang selama ini sudah dijalankan.

Analis pendahuluan dapat dibuat untuk mendapatkan gambaran seluruh risiko yang ada. Kemudian disusun urutan risiko yang ada. Risiko-risiko yang kecil untuk sementara diabaikan dulu. Prioritas diberikan kepada risiko-risiko yang cukup signifikan dapat menimbulkan kerugian. 

2. Menetapkan/ Determinasi Pengendalian Yang Sudah Ada
Identifikasi manajemen, sistem teknis dan prosedur-prosedur yang sudah ada untuk pengendalian risiko, kemudian dinilai kelebihan dan kekurangannya. Alat-alat yang digunakan dinilai kesesuainnya. Pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan misalnya, seperti inspeksi dan teknik pengendalian dengan penilaian sendiri/ professional judgement (Control Self-Assessment Techniques/ CST).

3. Konsekuensi/ Dampak Dan Kemungkinan 
Konsekuensi dan probabilitas adalah kombinasi/ gabungan untuk memperlihatkan level risiko. Berbagai metode bisa digunakan untuk menghitung konsekuensi dan probabilitas, diantaranya dengan menggunakan metode statistik. 

Metode lain yang juga bisa digunakan jika data terdahulu tidak tersedia, dengan melakukan ekstrapolasi data-data sekunder secara umum dari lembaga-lembaga internasional maupun industri sejenis. Kemudian dibuat estimasi/ perkiraan secara subyektif. Metode ini disebut metode penentuan dengan professional judgement. Hasilnya dapat memberikan gambaran secara umum mengenai level risiko yang ada. 

Sumber informasi yang dapat digunakan untuk menghitung konsekuensi diantaranya adalah:
  1. Catatan-catatan terdahulu.
  2. Pengalaman kejadian yang relevan.
  3. Kebiasaan-kebiasaan yang ada di industri dan pengalaman-pengalaman pengendaliannya.
  4. Literatur-literatur yang beredar dan relevan.
  5. Marketing test dan penelitian pasar.
  6. Percobaan-percobaan dan prototipe.
  7. Model ekonomi, teknik, maupun model yang lain.
  8. Spesialis dan pendapat-pendapat para pakar.
Sedangkan teknik-tekniknya adalah: 
  • Wawancara yang terstruktur dengan para pakar yang terkait.
  • Menggunakan berbagai disiplin keilmuan dari para pakar
  • Evaluasi perorangan dengan menggunakan kuesioner.
  • Menggunakan sarana komputer dan lainnya.
  • Menggunakan pohon kesalahan (fault tree) dan pohon kejadian (event tree).
4. Tipe Analisis
Analisis risiko akan tergantung informasi risiko dan data yang tersedia. Metode analisis yang digunakan bisa bersifat kualitatif, semi kuantitatif, atau kuantitatif bahkan kombinasi dari ketiganya tergantung dari situasi dan kondisinya. 

Urutan kompleksitas serta besarnya biaya analisis (dari kecil hingga besar) adalah: kualitatif, semi kuantitatif, dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran umum tentang level risiko. Setelah itu dapat dilakukan analisis semi kuantitatif ataupun kuantitatif untuk lebih merinci level risiko yang ada. 

Penjelasan tentang karakteristik jenis-jenis analisis tersebut dapat dilihat dibawah ini:
A. Analisis Kualitatif 
Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk menjelaskan seberapa besar potensi risiko yang akan diukur. Hasilnya misalnya risiko dapat termasuk dalam:
  1. Risiko rendah
  2. Risiko sedang
  3. Risiko tinggi
Catatan: Tabel E1 dan E2 dalam lampiran E menggambarkan contoh bentuk kualitatif yang mudah atau skala deskriptif dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tabel E3 adalah sebuah contoh dari sebuah matriks yang dibuat berdasarkan prioritas kelas dengan menggambungkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Tabel tersebut perlu ditata kembali sesuai kebutuhan dari organisasi yang individu atau subjek tertentu dari penilaian suatu risiko.

Analisis kualitatif digunakan untuk kegiatan skrining awal pada risiko yang membutuhkan analisis lebih rinci dan lebih mendalam
B. Analisis Semi-Kuantitatif
Pada analisis semi kuantitatif, skala kualitatif yang telah disebutkan diatas diberi nilai. Setiap nilai yang diberikan haruslah menggambarkan derajat konsekuensi maupun probabilitas dari risiko yang ada. Misalnya suatu risiko mempunyai tingkat probabilitas sangat mungkin terjadi, kemudian diberi nilai 100. setelah itu dilihat tingkat konsekuensi yang dapat terjadi sangat parah, lalu diberi nilai 50. Maka tingkat risiko adalah 100 x 50 = 5000. Nilai tingkat risiko ini kemudian dikonfirmasikan dengan tabel standar yang ada (misalnya dari ANZS/ Australian New Zealand Standard, No. 96, 1999).

Kehati-hatian harus dilakukan dalam menggunakan analisis semi-kuantitatif, karena nilai yang kita buat belum tentu mencerminkan kondisi obyektif yang ada dari sebuah risiko. Ketepatan perhitungan akan sangat bergantung kepada tingkat pengetahuan tim ahli dalam analisis tersebut terhadap proses terjadinya sebuah risiko. Oleh karena itu kegiatan analisis ini sebaiknya dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan background, tentu saja juga melibatkan manajer ataupun supervisor di bidang operasi. 

C. Analisis Kuantitatif
Analisis dengan metode ini menggunakan nilai numerik. Kualitas dari analisis tergantung pada akurasi dan kelengkapan data yang ada. Konsekuensi dapat dihitung dengan menggunakan metode modeling hasil dari kejadian atau kumpulan kejadian atau dengan mempekirakan kemungkinan dari studi eksperimen atau data sekunder/ data terdahulu.

Probabilitas biasanya dihitung sebagai salah satu atau keduanya (exposure dan probability). Kedua variabel ini (probabilitas dan konsekuensi) kemudian digabung untuk menetapkan tingkat risiko yang ada. Tingkat risiko ini akan berbeda-beda menurut jenis risiko yang ada. 

5. Sensitifitas Analisis
Tingkatan sensitifitas analisis (dimulai dari yang paling sensitif sampai dengan yang kurang sensitif) adalah:
  • Analisis Kuantitatif
  • Analisis Semi-kuantitatif
  • Analisis Kualitatif
Evaluasi Risiko
Evaluasi Risiko adalah membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko dengan kriteria standar yang digunakan.
Hasil Evaluasi risiko diantaranya adalah:
  1. Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada.
  2. Gambaran tentang prioritas risiko yang perlu ditanggulangi.
  3. Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter biaya ataupun parameter lainnya.
  4. Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian.
Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko meliputi identifikasi alternatif-alternatif pengendalian risiko, analisis pilihan-pilihan yang ada, rencana pengendalian dan pelaksanaan pengendalian.

1. Identifikasi Alternatif-Alternatif Pengendalian Risiko 
Gambar 4.2 menjelaskan proses pengendalian risiko. Alternatif-alternatif pengendalian yang dapat dilakukan dapat dilihat di bawah ini:
a. Penghindaran risiko 
Beberapa pertimbangan penghindaran risiko : 
  1. Keputusan untuk menghindari atau menolak risiko sebaiknya memperhatikan informasi yang tersedia dan biaya pengendalian risiko. 
  2. Kemungkinan kegagalan pengendalian risiko. 
  3. Kemampuan sumber daya yang ada tidak memadai untuk pengendalian. 
  4. Penghindaran risiko lebih menguntungkan dibandingkan dengan pengendalian risiko yang dilakukan sendiri.
  5. Alokasi sumber daya tidak terganggu.
b. Mengurangi probabilitas
Contoh dapat di lihat di Lampiran G
c. Mengurangi konsekuensi 
Contoh dapat di lihat di Lampiran G
d. Transfer risiko
Alternatif transfer risiko ini, dilakukan setelah dihitung keuntungan dan kerugiannya. Transfer risiko ini bisa berupa pengalihan risiko kepada pihak kontraktor. Oleh karena itu didalam perjanjian kontrak dengan pihak kontraktor harus jelas tercantum ruang lingkup pekerjaan da juga risiko yang akan ditransfer. Selain itu konsekuensi yang mungkin terjadi dapat juga di transfer risikonya dengan pihak asuransi.

2. Penilaian Alternatif-Alternatif Pengendalian Risiko
Pilihan sebaiknya dinilai atas dasar/ besarnya pengurangan risiko dan besarnya tambahan keuntungan atau kesempatan yang ada. Seleksi dari alternatif yang paling tepat meliputi keseimbangan biaya pelaksanaan terhadap keuntungan. 

Walaupun pertimbangan biaya menjadi faktor penting dalam penentuan alternatif pengendalian risiko, tetapi faktor waktu dan keberlangsungan operasi tetap menjadi pertimbangan utama. 

Biaya dari pengurangan risiko ($) 
Seringkali perusahaan bisa mendapatkan manfaat besar dari pilihan kombinasi alternatif-alternatif pengendalian yang tersedia. Oleh karena itu sebenarnya tidak pernah terjadi penggunaan alternatif tunggal dalam proses pengendalian risiko.

3. Rencana Persiapan Pengendalian
Setelah ditentukan alternatif pengendalian risiko yang paling tepat, langkah berikutnya adalah menyusun rencana persiapan. Rencana persiapan ini berkaitan dengan pertanggungjawaban, jadwal waktu, anggaran, ukuran kinerja, dan tempat.
Untuk lebih jelasnya, tercatat pada bagian H5, Lampiran H. 

4. Implementasi Perbaikan Program
Idealnya, tanggungjawab dari pengendalian risiko seharusnya dilakukan oleh mereka yang benar-benar mengerti. Tanggung jawab tersebut harus disetujui lebih awal. Pelaksanaan pengendalian risiko yang baik membutuhkan sistem manajemen yang efektif, pembagian tanggungjawab yang jelas dan kemampuan individu yang handal.

Pemantauan Dan Telaah Ulang
Pemantauan selama pengendalian risiko berlangsung perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang bisa terjadi. Perubahan-perubahan tersebut kemudian perlu ditelaah ulang untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan. Pada prinsipnya pemantauan dan telaah ulang perlu untuk dilakukan untuk menjamin terlaksananya seluruh proses manajemen risiko dengan optimal.

Komunikasi Dan Konsultasi
Komunikasi dan konsultasi merupakan pertimbangan penting pada setiap langkah atau tahapan dalam proses manejemen risiko. Sangat penting untuk mengembangkan rencana komunikasi, baik kepada kontributor internal maupun eksternal sejak tahapan awal proses manajemen risiko. 

Komunikasi dan konsultasi termasuk didalamnya dialog dua arah diantara pihak yang berperan didalam proses manajemen risiko dengan fokus terhadap perkembangan kegiatan.

Komunikasi internal dan eksternal yang efektif penting untuk meyakinkan pihak manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.

Persepsi risiko dapat bervariasi karena adanya perbedaan dalam asumsi dan konsep, isu-isu, dan fokus perhatian kontributor dalam hal hubungan risiko dan isu yang dibicarakan. Kontributor membuat keputusan tentang risiko yang dapat diterima berdasarkan pada persepsi mereka terhadap risiko. Karena kontributor sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan maka sangat penting bagaimana persepsi mereka tentang risiko sama halnya dengan persepsi keuntungan-keuntungan yang bisa didapat dengan pelaksanaan manajemen risiko. 

DOKUMENTASI
Umum
Setiap tingkatan dari proses manajemen risiko harus didokumentasikan. Dokumentasi harus meliputi asumsi, metode, sumber data dan hasil.
Alasan Pendokumentasian
Alasan untuk pendokumentasian adalah sebagai berikut:
  • Menggambarkan proses manajemen risiko yang dilaksanakan telah berjalan dengan tepat.
  • Memberikan masukan data dan informasi untuk proses identifikasi dan analisis risiko.
  • Menyediakan daftar risiko yang ada dan mengembangkan database organisasi.
  • Menyediakan informasi untuk proses pengambilan keputusan yang relevan dengan rencana dan pelaksanaan manajemen risiko. 
  • Menyediakan informasi untuk mekanisme tanggung gugat dan peralatan.
  • Memfasilitasi pengawasan dan review yang berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi yang diperlukan untuk uji coba audit, dan
  • Mensosialisasikan dan mengkomunikasikan informasi yang berhubungan dengan manajemen risiko.

Monday, 19 December 2016

Motor Listrik Satu Fasa Pada Peralatan Rumah Tangga

Pemakaian Motor Listrik Satu Fasa Pada Peralatan Rumah Tangga
1. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah selesai mempelajari topik ini mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan :

  1. Jenis-jenis motor listrik satu fasa yang digunakan pada peralatan rumah tangga.
  2. Bagian-bagian dan fungsi dari motor-motor listrik (motor split fasa, motor kapasitor, motor kutub bayangan dan motor universal).
  3. Prinsip kerja dan karakteristik motor listrik satu fasa
2. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa memiliki pemahaman tentang:

  • Prinsip kerja dan karakteristik motor split fasa dan motor kapasitor
  • Prinsip kerja dan karakteristik motor shaded pole atau kutub bayangan
  • Prinsip kerja dan karakteristik motor universal
3.3. Prinsip Kerja Motor Listrik Satu Fasa
Motor listrik satu fasa hanya memiliki satu fasa belitan, sehingga tidak dapat menghasilkan medan putar sendiri. Namun demikian, jika diberikan medan yang menghasilkan gaya putar terhadap medan rotor, maka motor dapat berputar secara kontinyu. Gaya putar pada motor listrik satu fasa dapat dihasilkan melalui tiga cara yaitu: 

  • Memberikan kumparan bantu (auxiliary winding) yang berbeda fasa dengan kumparan utama. 
  • Memberikan kutub bayangan (kutub semu).
  • Memberikan input dengan fasa yang berlawanan.
Berdasarkan tiga metode diatas maka motor listrik satu fasa yang umum digunakan dapat berupa motor split fasa, motor kapasitor, motor kutub bayangan dan motor universal (motor dc dengan suplay AC).

4. Motor dengan kumparan bantu
Motor jenis ini merupakan motor satu fasa yang menggunakan kumparan bantu untuk menghasilkan gaya putar. Jenis motor ini disebut juga motor fase belah, mempunyai kumparan utama dan kumparan bantu. Kumparan bantu digunakan untuk menghasilkan medan yang berbeda fasa dengan medan yang dihasilkan pada kumparan utama. Kumparan bantu ini dapat berupa belitan induktor dengan resistor dan induktor dengan kapasitor.
Motor split fasa (split phase winding)
Motor jenis ini bekerja berdasarkan perbedaan fasa antara kumparan bantu berupa induktor dengan resistor dengan kumparan utama. Jika kumparan bantu ini ditempatkan secara paralel dengan belitan utama maka nilai R/XL1 dari belitan bantu dapat diatur sedemikian rupa sehingga dihasilkan perbedaan fasa dibawah 900. Dengan menaikkan nilai R maka dihasilkan perbandingan R/XL1 yang lebih tinggi sehingga perbedaan fasa lebih mendekati 900 dan torka starting yang dihasilkan lebih besar. Motor jenis ini memiliki torka starting yang rendah. Karakteristik dan rangkaian ekuivalen motor jenis ini diperlihatkan pada gambar 3.1. Pada kumparan bantu juga dipasang saklar sentrifugal untuk memutuskan arus listrik pada kumparan bantu bila putaran motor mencapai 75% dari putaran nominal.
Motor Kapasitor
Pada motor kapasitor, kapasitornya dihubungkan seri dengan kumparan bantu. Motor ini mempunyai kopel start lebih tinggi, sehingga banyak digunakan pada mesin cuci, pompa air dan peralatan rumah tangga lain. Motor jenis ini terdiri atas dua tipe:
- Motor kapasitor start
Motor jenis ini menggunakan belitan bantu berupa induktor seri dengan kapasitor sehingga diperoleh pergeseran fasa yang mendekati 900. Sehingga diperoleh torka starting yang lebih besar dibandingkan dengan motor split fasa. Ketika motor sudah beroperasi mendekati 75 – 80 % dari kecepatan rating maka saklar sentrifugal akan beroperasi memutus belitan bantu, sehingga karakteristik torka - kecepatannya mendekati karakteristik jenis motor split fasa. Rangkaian ekuivalen dan karakteristik torka dari motor jenis ini diperlihatkan pada gambar 3.2.

- Motor kapasitor start dan running
Motor jenis ini digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan torka tinggi. Untuk menghasilkan torka starting dan running yang tinggi maka digunakan dua buah kapasitor dengan nilai yang berbeda. Kapasitor C1 digunakan untuk menghasilkan torka starting memiliki kapasitansi yang lebih rendah dari kapasitor C2 yang digunakan pada saat running. Saklar pemutus digunakan untuk memindahkan belitan dari C1 k C2 ketika kecepatan rating telah tercapai. Dengan cara ini maka kebutuhan torka tinggi pada saat starting dan running dapat dipertahankan. Perbandingan rangkaian ekuivalen kapasitor start dan kapasitor running diperlihatkan pada gambar 3.3.

4.1. Konstruksi motor
Susunan bagian-bagian pokok motor fasa belah terdiri dari : 

  • Stator 
  • Rotor 
  • Tutup sebagai penyangga 
Stator
Stator adalah bagian motor yang diam, dibagian dalamnya terdapat alur-alur untuk menempatkan gulungan-gulungan utama dan gulungan bantu. Diameter kawat gulungan utama pada umumnya lebih besar dari diameter kawat gulungan bantu.
Rotor
Rotor yang digunakan adalah tipe gulungan sangkar tupai yang pada salah satu ujungnya dilengkapi dengan kipas fungsinya sebagai pendingin pada waktu motor bekerja. Rotor juga dilengkapi dengan alat mekanis yang dapat mendorong saklar sentrifugal.

Tutup sebagai penyangga rotor.
Pada kedua tutup terdapat bantalan (bearing) penyangga poros rotor . Salah satu tutup pada bagian dalam dilengkapi dengan saklar sentrifugal, pada tempat inilah sambungan-sambungan dari gulungan motor dikeluarkan untuk selanjutnya dihubungkan pada terminal motor.

4.2 Ganggungan kerusakan motor fasa belah
Motor cepat panas, ini disebabkan karena beban motor terlalu berat atau saklar sentrifugal tidak bekerja. 
Motor tidak mampu berputar, hal ini disebabkan oleh hubungan kumparan bantu terlepas atau kapasitornya bocor. 
Gulungan statornya terbakar, hal ini mungkin disebabkan tegangan kurang. 

5. Motor Universal.
Motor ini banyak sekali dipakai pada peralatan rumah tangga, misalnya mixer, motor mesin jahit, bor listrik, gerinda, polisher dan lain-lain. Motor ini merupakan motor DC seri yang diberi suplai AC sehingga memiliki karakteristik kecepatan tinggi (diatas 3200 rpm). Motor jenis ini didesain dengan stator berupa lempengan besi yang dilaminasi, medan magnetis statis dan armatur. Belitan armatur dan belitan medan dirangkai secara seri melalui dua sikat arang, sehingga dihasilkan arah arus medan dan arus armatur yang sama meskipun motor disuplai dengan arus AC. Torka yang dihasilkan dari motor jenis ini berupa pulsa yang dihasilkan setiap setengah siklus ketika arus berubah arah melewati komutator. Kecepatan tanpa beban yang dihasilkan motor jenis ini sangat tinggi (2000 – 20.000 rpm) namun akan turun menjadi 50 – 80 % ketika berbeban, disebabkan oleh rugi – rugi gesekan dan belitan. Penggunaan roda gigi juga dapat diterapkan untuk memperoleh kecepatan sesuai kebutuhan aplikasi. Rangkaian ekuivalen dan karakteristik motor universal diperlihatkan pada gambar berikut.

5.1 Konstruksi Motor Universal
Stator
Stator adalah tempat kumparan medan magnit diletakkan, pada umumnya motor universal mempunyai dua kutub
Rotor
Rotor disebut juga jangkar (armature) yaitu bagian yang berputar. Rotor terdiri dari dua bagian yaitu jangkar dan komutator. Jangkar adalah tempat belitan kawat email dan ujung-ujung belitanya ditempatkan pada komutator yang sesuai dengan langkah belitan jangkar.

Pada salah satu ujung poros rotor (shaft) dibuat roda gigi memanjang untuk tempat memindahkan beban atau meneruskan putaran motor ke alat lain.
Bagian-bagian lengkap motor universal dapat dilihat pada gambar 3.6. di bawah ini.

5.2. Gangguan dan kerusakan 
Kerusakan yang sering terjadi pada motor universal adalah :
Sikat arang mengeluarkan bunga api, hal ini disebabkan karena kedudukan sikat tidak tepat, perpendekan sikat dan komutatornya kotor.
Gulungan magnit terbakar, hal ini disebabkan karena tegangan yang tidak sesuai.
Lamel komutator aus, sikat arang terlalu keras.

6. Motor Kutub Bayangan (Shaded Pole)
Motor shaded pole banyak digunakan pada alat-alat listrik yang memerlukan putaran dengan torsi yang ringan, seperti kipas angin, pompa air akuarium, motor kaset player dan lain-lain. Motor ini memiliki desain stator yang berupa lempengan besi yang dilaminasi, dengan salah satu ujung kutub stator dibagi dan dipasangi dengan cincin tembaga (cooper rings). Cincin ini dinamakan shading coil yang berfungsi menciptakan kutub bayangan. Ketika stator diberi tegangan AC, maka fluks magnetik terbentuk pada semua kutub stator, namun pada bagian cincin tembaga fluks ini akan berpotongan dan menghasilkan arus induksi pada cincin tembaga. Arus induksi pada cincin tembaga ini akan menghasilkan fluks yang berlawanan dengan fluks utama dan berfungsi sebagai kutub bayangan (belitan bayangan) sehingga dihasilkan medan putar. Motor ini menghasilkan torka awal yang sangat rendah sehingga dapat digunakan untuk memutar beban yang kecil (40 – 50 % torka beban penuh). Karena hanya memiliki satu belitan dan kutub bayangan maka arah putaran motor hanya satu arah dan tidak dapat dibalik. Motor jenis ini juga tidak membutuhkan saklar sentrifugal, sehingga tidak memerlukan perawatan. Prinsip kerja dan karakteristik motor shaded pole diperlihatkan pada gambar berikut.
6.1. Konstruksi Motor Kutub Bayangan
Konstruksi motor shaded pole sangat sederhana yaitu terdiri dari stator, rotor dan penyangga.
Bagian lengkap dari motor shaded pole seperti terlihat pada gambar 3.3 di bawah ini.
Stator
Bagian stator merupakan kutub-kutub yang bagian permukaannya ditempatkan cincin yang terbuat dari tembaga. Karena cincin inilah yang menyebabkan terjadinya kutub bayangan.
Rotor
Rotor adalah bagian yang berputar dan tipenya adalah rotor sangkar.
Penyangga
Penyangga poros rotor ini sangat sederhana yang dibuat dari besi plat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memegang bagian rotor yang berputar.
6.2. Kerusakan pada motor shaded pole
Kerusakan yang sering terjadi adalah kumparan penguat medan, sering terbakar yang disebabkan putaran rotor terganggu atau macet. Untuk memperbaikinya dapat digulung ulang.

Standar Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar

Standar Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Acuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran dan memantau perkembangan mutu pendidikan adalah standar kompetensi. Standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai “pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran” (Center for Civics Education, 1997: 2).

Menurut definisi tersebut, standar kompetensi mencakup dua hal, yaitu standar isi (content standards), dan standar penampilan (performance standards). Standar kompetensi yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap standar isi. Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa standar kompetensi memiliki dua penafsiran, yaitu:
  • pernyataan tujuan yang menjelaskan apa 86 yang harus diketahui siswa dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari suatu bidang studi, dan
  • spesifikasi skor atau peringkat kinerja yang berkaitan dengan kategori pencapaian seperti lulus atau memiliki keahlian.
Sesuai dengan Permen 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, terdapat delapan tema materi Pendidikan Kewarganegaraan. Kedelapan tema tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, Cinta lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan
  2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, Tata tertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturanperaturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistem hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan internasional
  3. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan kewajiban anggota masyarakat, Instrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM
  4. Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong, Harga diri sebagai warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan 87 mengeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri, Persamaan kedudukan warga negara
  5. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, Hubungan dasar negara dengan konstitusi
  6. Kekuasan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi
  7. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka
  8. Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan internasional dan organisasi internasional, dan Mengevaluasi globalisasi. Pada tingkat sekolah dasar delapan tema materi Pendidikan Kewarganegaraan tersebut kemudian dijabarkan secara operasional, disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi peserta didik sekolah dasar.

Teori Integratif dalam Komunikasi

Teori Integratif dalam Komunikasi
Organisasi
Teori sistem dalam komunikasi organisasi biasanya dipandang pula sebagai struktural-fungsionalisme, seperti yang telah sedikit dibahas pada bagian awal Kegiatan Belajar 3. Berangkat dari kerangka pikir klasik yang dikemukakan oleh Weber mengenai struktur dan fungsi organisasi, teori-teori sistem yang antara lain dikemukakan oleh Chester Barnard, Daniel Katz dan Robert Kahn, Herbert Simon dan James March, dianggap telah memberikan semacam otot dan daging bagi kerangka yang telah disusun oleh Weber. Teori-teori sistem yang mereka kemukakan telah memberikan lebih' banyak substansi, kompleksitas, dan reliabilitas mengenai organisasi daripada yang dilakukan oleh aliran klasik.
Pada bagian berikut kita akan membahas lebih lanjut suatu pendekatan sistem yang menekankan pada proses integratif dari konsep-konsep sistem.

TEORI INTEGRATIF
Teori yang dikemukakan oleh Richard Farace, Peter Monge, dan Hamish Russel ini menunjukkan suatu pandangan umum yang sangat menarik mengenai konsep-konsep sistem dari organisasi. karya mereka merupakan integrasi dari berbagai gagasan terbaik ke dalam suatu bentuk yang secara internal telah memberikan suatu sintesis mengenai pandangan sistem. Sebagai tambahan, karya mereka jUga menyatukan sejumlah besar pemikiran yang didasarkan atas penelitian, dan terakhir mereka menempatkan komunikasi sebagai pusat dari struktur organisasi.

Mereka mendefinisikan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang setidaknya terdiri dari dua orang (atau lebih), ada saling ketergantungan, input, proses dan output. Kelompok ini berkomunikasi dan bekerja sama untuk menghasilkan suatu hasil akhir dengan menggunakan energi, informasi, dan bahan-bahan lain dari lingkungan.

Salah satu sumber daya penting dalam organisasi adalah informasi. Dengan menggunakan teori informasi sebagai dasar, Farace dan rekannya mendefinisikan informasi dalam pengertian untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika orang mampu untuk memperkirakan pola-pola terjadi dalam aliran tugas yang terjadi dalam aliran tugas dan hubungan-hubungannya, maka ketidakpastian dapat dikurangi dan informasi berhasil diperoleh. Komunikasi sendiri, sebagian merupakan pengurangan ketidakpastian melalui informasi, pencygunaan 'bentUk-bentuk simbolis' umum karena komunikasi mencakup yang saling dimengerti oleh para partisipannya.

Dalam teorinya mereka mengemukakan dua bentuk komunikasi-komunikasi yang mengemukakan dengan dua bentuk informasi. Pertama adalah informasi absolut' yang terdiri dari keseluruhan kepingan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam sistem. Jadi keseluruhan informasi yang dikomunikasikan dalam suatu organisasi adalah komunikasi absolut. Sebaliknya informasi yang didistribusikan adalah informasi yang telah disebarkan melalui organisasi. Kenyataa bahwa informasi ada dalam suatu organisasi tidak menjamin bahwa informasi tersebut cukup dikomunikasikan di dalam sistem. Pertanyaan mengenai informasi absolute berkaitan dengan apa Yang diketahui sedangkan pertanyaan mengenai distribusi berkenaan dengan siapa yang mengetahuinya. Implikasi praktis dari perbedaan teoritis ini adalah bahwa kegagalan dalam kebijakan distribusi informasi disebabkan oleh kegagalan manajer untuk mengenali kelompok mana yang perlu mengetahui suatu hal tertentu atau kesalahan untuk mengarahkan di mana seharusnya kelompok-kelompok tersebut dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan.

Kerangka structural fungsional bagi komunikasi organisasi terletak pada tiga dimensi analisis. Pertama adalah `system level' yang terdiri atas empat sublevel: individual, dyadic, kelompok, dan organisasional, dalam suatu prinsip hierarki sistem. Individu berkomunikasi satu dengan yang yang lain dalam dyad; beberapa dyad berkerumun bersama-sama ke dalam berkelompok. Organisasi sebagai suatu keseluruhan adalah suatu sistem dari kelompok‑kelompok yang saling berhubungan dan membentuk suatu jaringan kerja makro.

Pada setiap level analisis, kita dapat mengamati fungsi-fungsi komunikasi yang sekaligus juga merupakan dimensi analisis yang kedua. Di antara berbagai fungsi komunikasi yang ada, Farace menekankan pada tiga fungsi, yaitu produksi, inovasi, dan pemeliharaan. Produksi mengacu pada pengarahan, koordinasi dan kontrol terhadap aktivitas organisasi. Inovasi membangkitkan atau mendorong perubahan dan gagasan barn dalam sistem. Sedangkan pemeliharaan diartikan untuk melindungi nilai-nilai individual dan hubungan antarpribadi yang dibutuhkan untuk mempertahankan system.

Dimensi ketika adalah struktur. Jika fungsi berkaitan dengan isi pesan, maka struktur berkaitan dengan tumbuhnya pola-pola atau aturan-aturan dalam penyampaian pesan. Pada setiap level organisasi (individual, dyadic, kelompok, dan organisasional) kita dapat meneliti cara-cara bagaimana komunikasi dapat berfungsi dan distrukturkan. Selanjutnya, Farace mengemukakan secara terperinci masing-masing dari keempat level pengorganisasian. Tetapi, pada bagian berikut kita hanya akan membahas level individu, dyad, dan kelompok secara ringkas, sekedar untuk memperoleh gambaran umum sebagai latar belakang. Oleh karna fokus perhatian Farace lebih kepada jaringan kerja makro, sebagai kontribusi terpenting teori ini, maka kita akan lebih banyak memusatkan perhatian pada masalah tersebut.

Konsep kunci yang berhubungan dengan komunikasi individual dalam organisasi adalah 'beban' (load). Beban/muatan komunikasi adalah tingkatan dan kompleksitas dari masukan informasi terhadap seseorang. Tingkatan adalah kuantitas dari masukan seperti pesan-pesan atau permintaan­permintaan, sedangkan kompleksitas adalah jumlah faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam memproses informasi. Ada dua lingkup persoalan berkaitan dengan muatan tersebut, yaitu underload dan overload. Underload terjadi ketika aliran pesan kepada seseorang berada di bawah kapasitas orang tersebut untuk memprosesnya. Overload terjadi ketika muatan melampaui kapasitas seseorang.

Sementara pengertian mengenai load, underload, dan overload berhubungan secara optimal dengan komunikasi yang diterima oleh individu tunggal, sehingga konsep ini juga dapat diterapkan pada seluruh level lainnya, termasuk dyadic, kelompok, dan organisasional. Jadi, ada kemungkinan suatu keseluruhan organisasi dapat menjadi underloaded atau overloaded.

Konsep kunci yang dapat diterapkan pada level dyad adalah aturan­aturan (rules). Para anggota dyad saling berhubungan sesuai dengan pola­pola harapan/tuntutan, di camping aturah-aturan eksplisit, maupiin iffiplis'it untuk berkomunikasi. Aturan-aturan ini secara eksplisit dan implicit menunjukkan kebijakan komunikasi dari organisasi. Isinya mengajarkan pada anggota organisasi bagaimana harus berkomunikasi, kapan harus berkomunikasi, kepada siapa harus berkomunikasi, dan hal-hal yang harus dikomunikasikan. Beberapa topik umum mengenai aturan-aturan tersebut antara lain meliputi siapa yang berinisiatif untuk berinteraksi, bagaimana memperlakukan penundaan, topik-topik apa yang dibicarakan dan bagaimana menyeleksinya, bagaimana menangani perubahan topik, bagaimana mengakhiri interaksi, dan seberapa sering komunikasi terjadi.

Melalui kontak setiap hari antar anggota organisasi, individu-individu dalam berbagai kelompok cenderung untuk bekerja, berinteraksi, dan berkomunikasi secara bersama-sama. Kenyataan menunjukkan bahwa struktur dari keseluruhan organisasi tergantung pada pengelompokan ini. Sejak orang bekerja bersama-sama dalam kelompok dan fungsi yang berbeda, maka muncul berbagai jenis kelompok yang berbeda dalarn suatu organisasi. Dan seseorang secara bersama dapat menjadi anggota dari beberapa kelompok sekaligus. Dengan menganalisis lebih jauh, kita harus menyadari bahwa organisasi terdiri dari banyak struktur (multiple structures). Misalnya: struktur dapat dibentuk berdasarkan hubungan tugas, hubungan kekuasaan, kesukaan dan sebagainya. Kita akan kembali pada struktur organisasional kemudian, namun sebelumnya kita akan melihat pada beberapa aspek dari berbagai kelompok individual.

Kita menyadari bahwa kelompok-kelompok itu cenderung untuk memiliki struktur internal, yang menurut Farace dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, struktur komunikasi; atau jaringan kerja mikro, yaitu pola-pola interaksi di dalarn k°Iompok. Pertanyaan yang muncul di sini adalah siapa berkomr iikasi dengan siapa di dalam kelompok? Jenis struktur kedua adalah struktur kekuasaan. Di sini pertanyaannya adalah siapa memiliki kekuasaan atas siapa? Jenis struktur ketiga yang ditekankan dalam teori ini adalah kepernimpinan. Struktur kepemimpinan berkaitan dengan distribusi peran di dalarn kelompok, terutama distribusi dari, peran-peran yang berhubungan dengan pengaruh antarpribadi dari para anggota kelompok.

Kembali pada jaringan kerja makro, Farace mengemukakan bahwa jaringan kerja makro adalah suatu pola yang berulang-ulang dari transmisi informasi di antara kelompok-kelompok dalam suatu organisasi. Jenis-jenis jaringan kerja 'dapat terjadi dalam suatu organisasi, clan masing-masing mempunyai fungsi tersendiri bagi organisasi. Mungkin jaringan kerja yang biasanya mudah dipahami adalah label atau diagram susunan organisasi formal, yang menjabarkan jaringan tugas. Meskipun demikian terjadi pula sejumlah jaringan tidak resmi atau informal networks, di mana setiap jaringan aringan terdiri dari dua bagian pokok yaitu: para anggota dan rantai/pertautan/kaitan yang menghubungkannya.

Rantai (links) ditandai oleh lima sifat. Pertama adalah 'simetri' atau tingkat yang menghubungkan para anggota, umumnya berupa suatu rantai interaksi atas dasar keseimbangan/kesejajaran. Dalam suatu hubungan yang simetris, para anggota memberi dan rnencrima informasi secara seimbang. Sedangkan rantai yang asimetris sifatnya searah, artinya memisahkan secara tegas pengirim dan penerima informasi. Ciri kedua adalah 'kekuatan' (strength) yang mengacu pada frekuensi interaksi. Orang yang lebih sering berkomunikasi akan memiliki rantai yang lebih kuat dari pada orang yang jarang berkomunikasi.

Sifat ketiga adalah 'resiprositas' (timbal-balik), yaitu tingkat kesepakatan para anggota mengenai hubungan mereka, jika seseorang merasa yakin bahwa dia sering berkomunikasi dengan orang lain, tetapi orang lain menyangkalnya, maka rantai hubungannya tidak resiprokal. Ciri keempat adalah `isi' (content) yang merupakan esensi dari interaksi. Hal ini menyangkut apakah komunikasi yang dilakukan terutama mengenai pekerjaan, masalah social, atau materi lainnya. Dengan mengamati isi dari berbagai rantai dalam suatu jaringan, kita dapat mengenai fungsi keseluruhan dari jaringan. Sifat kelima adalah 'cara' (mode), di sini pertanyaannya adalah bagaimana komunikasi dapat dicapai clan melalui saluran apa. Caranya dapat berupa pembicaraan langsung, pertemuan kelompok, atau komunikasi melalui surat/telepon.

Suatu jaringan terdiri dari anggota-anggota yang bersama-sama dihubungkan dalam berbagai cara untuk berbagi informasi. Untuk memahami suatu jaringan, kita harus memperhatikan pula beberapa faktor tambahan. Para anggota organisasi memiliki peran-peran yang berbeda dalam jaringan. Salah satu peran tersebut adalah isolasi/terpencil. Orang yang termasuk dalam kategori isolasi tidak memiliki rantai hubungan dengan anggota jaringan lainnya. Dari mereka yang Baling berhubungan satu sama lain, beberapa di antaranya berkerumun menjadi kelompok-kelompok. Dalam pengertian jaringan, kelompok ditandai oleh empat kriteria, yaitu: 
  • lebih dari separuh aktivitas komunikasi yang dilakukan kelompok berada di dalam kelompok; 
  • setiap individu harus dikaitkan dengan individu lain dalam kelompok, 
  • kelompok tidak akan hancur oleh keluarnya satu orang atau rusaknya satu rantai hubungan; 
  • kelompok harus memiliki minimal tiga anggota. 
Keempat kriteria di atas akan rnembuat kelompok relatif stabil
Jadi suatu jaringan adalah suatu rangkaian kelompok-kelompok dan anggota-anggota yang saling berkaitan. Dua peran lain yang juga penting dalam struktur jaringan adalah peran 'penghubung' (liaison) dan jembatan' (bridge). Bridge adalah anggota kelompok yang juga berhubungan dengan kelompok lainnya. Sementara liaison bukan anggota dari kelompok mana pun, meskipun dia menghubungkan dua kelompok atau lebih. Gambar 4.1 menunjukkan aspek-aspek dari struktur jaringan, yang memberikan suatu logika untuk mengamati struktur dan fungsi organisasi dalam pengertian komunikasi

Friday, 16 December 2016

PENGERTIAN SIKAP DAN JENIS SIKAP

2.1 Sikap 
2.1.1 Definisi Sikap
Sikap merupakan salah satu konsep yang menjadi perhatian utama dalam ilmu psikologi sosial. Sikap juga merupakan proses evaluasi yang sifatnya internal / subjektif yang berlangsung dalam diri seseorang dan tidak dapat diamati secara langsung, namun bisa dilihat apabila sikap tersebut sudah direalisasikan menjadi perilaku. Oleh karena itu sikap bisa dilihat sebagai positif dan negatif. Apabila seseorang suka terhadap suatu hal, sikapnya positif dan cenderung mendekatinya, namun apabila seseorang tidak suka pada suatu hal sikapnya cenderung negatif dan menjauh. Selain melalui perilaku, sikap juga dapat diketahui melalui pengetahuan, keyakinan, dan perasaan terhadap suatu objek tertentu. Jadi, sikap bisa diukur karena kita dapat melihat sikap seseorang dari yang sudah disebutkan sebelumnya.

Sikap berasal dari kata “aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi / tindakan atau dapat dianalogikan dengan keadaan seorang gladiator dalam arena laga yang siap menghadapi singa sebagai lawannya dalam pertarungan. Secara harfiah, sikap dipandang sebagai kesiapan raga yang dapat diamati (Sarwono, 2009). Berikut adalah beberapa definisi sikap dari para ahli:
  1. Menurut Allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman individual masing-masing, mengarahkan dan menentukan respon terhadap berbagai objek dan situasi (Sarwono, 2009).
  2. Sikap merupakan reaksi evaluatif yang disukai atau tidak disukai terhadap sesuatu atau seseorang, menunjukkan kepercayaan, perasaan, atau kecenderungan perilaku seseorang Zanna & Rempel, 1988 (dalam Sarwono, 2009)
  3. Sikap merupakan kecenderungan psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi entitas tertentu dengan beberapa derajat kesukaan atau ketidaksukaan (Eagly & Chaiken, 1993, dalam Sarwono, 2009)
  4. Sikap merupakan evaluasi terhadap beberapa aspek perkataan sosial Baron & Byrne, 2006 (dalam Sarwono, 2009)
  5. Menurut Thurstone, Likert, dan Osgood sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut (Azwar, 2012).
  6. LaPierre (1934) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimulus sosial yang telah terkondisikan (Azwar, 2012).
  7. Secord & Backman (1964) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya (Azwar, 2012).
Dari definisi-definisi mengenai sikap diatas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kecenderungan dan keyakinan seseorang terhadap suatu hal yang bersifat mendekati (positif) atau menjauhi (negatif) ditinjau dari aspek afektif & kognitif dan mengarahkan pada pola perilaku tertentu. Sedangkan definisi sikap terhadap operasi peneliti simpulkan sebagai kecenderungan dan keyakinan individu mengenai operasi yang bersifat mendekati (positif) dan menjauhi (negatif) ditinjau dari aspek afektif dan kognitif dan mengarahkan pada pola perilaku tertentu.

2.1.2 Komponen Sikap
Thurstone berpendapat tentang adanya komponen afektif pada sikap, Rokeach berpendapat pada sikap adanya komponen kognitif dan konatif (Walgito, 2011). Sedangkan komponen sikap menurut Mar’at 1984 (dalam Rahayuningsih, S. U., 2008) mencakup tiga hal yaitu:
  1. Komponen kognitif berhubungan dengan belief (kepercayaan dan keyakinan), ide, konsep. Bagian dari kognitif yaitu: persepsi, stereotype, opini yang dimiliki individu mengenai sesuatu.
  2. Komponen afeksi berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang, menyangkut perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Afeksi merupakan komponen rasa senang atau tidak senang pada suatu objek.
  3. Komponen perilaku / konatif merupakan komponen yang berhubungan dengan kecenderungan seseorang untuk berperilaku terhadap objek sikap.
2.1.3 Fungsi Sikap
Menurut Baron, Byrne, dan Branscombe (dalam Walgito, 2011), terdapat lima fungsi sikap sebagai berikut.
1. Fungsi pengetahuan
Sikap membantu kita untuk menginterpretasi stimulus baru dan menampilkan respon yang sesuai. Contohnya, karyawan baru harus diberi informasi sebelum masuk kerja, agar selalu ramah dan santun terhadap setiap klien, agar kerja sama bisa lebih maksimal dan terjaga.
2. Fungsi identitas
Sikap terhadap kebangsaan Indonesia (nasionalis) yang kita nilai tinggi, mengekspresikan nilai dan keyakinan serta mengkomunikasikan “siapa kita”. Dalam pertemuan resmi antar masyarakat Indonesia dengan luar negeri, orang Indonesia memakai kebaya atau batik untuk mencerminkan budaya dan identitas kita sebagai rakyat Indonesia.
3. Fungsi harga diri
Sikap yang kita miliki mampu menjaga atau menigkatkan harga diri. Misalnya, ketika ada perkumpulan yang mengharuskan kita berhadapan dengan banyak orang, sikap kita harus tetap terjaga untuk menjaga harga diri.
4. Fungsi pertahanan diri (ego defensive)
Sikap berfungsi melindungi diri dari penilaian negatif tentang diri kita. Misalnya, sikap kita harus tetap ramah terhadap atasan sekalipun kita tidak suka padanya, agar kita tetap terus bekerja di perusahaannya.
5. Fungsi memotivasi kesan (impression motivation)
Sikap berfungsi mengarahkan orang lain untuk memberikan penilaian atau kesan yang positif tentang diri kita. Contohnya, menjaga sikap seperti bahasa tubuh ketika pertama kali masuk ke lingkungan baru agar memberi kesan baik dan positif.

2.2 Persepsi Ketidakpastian
2.2.1 Definisi Persepsi
Teori Bem (1975) mengenai persepsi diri dapat dipandang sebagai teori yang sangat terbatas, yang berkaitan dengan keadaan khusus mengenai atribusi. Teori persepsi diri adalah teori yang berkaitan dengan pengertian individu mengenai atribusi dirinya sendiri dan merupakan laporan atau catatan semacam pengetahuan diri.

Konsep model utama yang dibangun Bem adalah proses persepsi diri, yang merupakan analisis fungsional tentang kejadian dari teori penguatan Skinner. Hal utama dari analisis Bem yang orisinil adalah fenomena pada atribusi diri, dibutuhkan pengetahuan diri yang baru, tidak diperlukan motivasi atau aspek kognitif dari pengetahuan diri yang lain. Ia mengemukakan bahwa individu menjadi tahu tentang sikap, kepercayaan, dan atribusi melalui observasi perilaku di lapangan dalam hubungannya dengan tuntutan lapangan.

Secara singkat, dalam analisis fungsi perilakunya, karena dipersepsikan secara bebas, tidak terkekang oleh tekanan lingkungan atau hambatan, perilaku dilihat sebagai refleksi dalam kaitannya dengan atribusi diri. Sebaliknya, apabila dihambat oleh lingkungan, perilaku tidak akan dilihat oleh actor sebagai refleksi keadaan internal, sifat, ataupun sikap (Walgito, 2011).

2.2.2 Persepsi Ketidakpastian
Ketidakpastian menurut Mishel (dalam Kang, 2002) dapat didefinisikan sebagai situasi yang melibatkan kognisi dimana subjek tidak dapat menetapkan nilai – nilai pada suatu kejadian atau objek dan tidak dapat memprediksikan hasil secara akurat karena kurangnya sinyal, dan informasi yang tidak jelas dan tidak tepat. Mishel mengemukakan teori Uncertainty in Illness yaitu ketidakpastian pada penyakit yang diderita. Menurut Mishel, meskipun ketidakpastian berawal dari hanya satu aspek diri, namun dapat menyebar menyebar ke aspek lain. Ketidakpastian semakin besar dengan meningkatnya gangguan – gangguan ke aspek identitas diri dan kehidupan seseorang (Mishel, dalam Davis, 2011).

Menurut teori Mishel (dalam Ko, 2005) ada tiga antecedent (hal yang mendahului) utama pada ketidakpastian yaitu
1. Stimulus frame. Tiga variable yang digunakan untuk mengukur stimulus pada model ini adalah karakteristik penyakit, sejarah penyakit, dan pengobatan-pengobatan selama perawatan. Tiga komponen dari stimulus frame adalah:
  • Informasi pada gejala-gejala yang berkaitan dengan sensasi fisik
  • Peristiwa / kejadian yang familiar berkaitan dengan lingkungan perawatan kesehatan
  • Kecocokan kejadian dimana stimulus nya terprediksi dan stabil
2. Structure providers. Komponen stimulus frame secara positif dipengaruhi oleh structure providers yang menurut Mishel didefinisikan sebagai antecedents / pendahulu dari ketidakpastian yang mencakup:
  • Autoritas yang dapat dipercaya
  • Dukungan social
  • Edukasi
3. Kapasitas kognisi. Antecedent ketiga secara positif mempengaruhi evaluasi pada stimulus frame. Kurangnya informasi yang didapatkan dan ketidakpahaman informasi mempersulit individu untuk mengkategorikan atau menyusun elemen pada penyakit dan operasinya.
Sumber: Nai-Ying Ko, 2005

Stimulus frame adalah karakteristik stimulus yang dipersepsikan oleh individu. Kapasitas kognitif adalah kemampuan pasien untuk memproses informasi. Structure providers adalah penyedia perawatan kesehatan atau suatu kelompok yang mendukung yang mempengaruhi pasien secara positif dan negative. Stimuli frame, cognitive capacities, dan structure providers adalah antecedents ketidakpastian. Ketidakpastian bisa menjadi positif atau negatif (suatu keuntungan / kesempatan atau bahaya). Inference adalah bagaimana pasien melihat diri mereka sebagai bagian dari lingkungan dan ilusi, salah satunya bisa menyebabkan bahaya yang membuat ketidakpastian menjadi negative atau kesempatan sebagai hal yang positif. Penggunaan mekanisme coping terhadap adaptasi ketidakpastian operasi.

Menurut teori, ketidakpastian berkembang dari beberapa variabel antecedents (penyedia struktur, kerangka stimulus, dan kapasitas kognitif), yang ditengahi dengan karakteristik kepribadian dan penilaian utama. Penengah antara ketidakpastian dan hasil dari ketidakpastian mencakup: keoptimisan (Christman, 1990); harapan (Hilton, 1994); penguasaan (Mishel, 1991); dan mencari informasi (Rosenbaum, dalam Albertsen, 2009).

Mishel (2006) memaparkan dalam teori Uncertainty in Illness menarik dari model proses informasi dan penelitian kepribadian dari disiplin psikologi, yang mengkarakteristikkan ketidakpastian sebagai keadaan kognitif akibat dari sinyal atau tanda-tanda yang tidak mencukupi untuk membentuk skema, atau representasi internal pada peristiwa atau situasi tertentu. Menurut Mishel, proses penilaian tiap individu pada ketidakpastian adalah apa saja yang membahayakan dan apa saja kesempatan yang dapat terjadi, atau apa saja hasil negatif dan positif yang terjadi.

Menurut Mishel, teori ketidakpastian adalah peristiwa di persepsikan tidak pasti karena individu tidak dapat menentukan hal-hal yang berkaitan dengan penyakit tersebut. Ketidakpastian terjadi ketika individu tidak dapat menetapkan nilai-nilai yang pasti pada objek / peristiwa tersebut karena kurangnya tanda dan informasi. Mishel mengkategorisasikan ketidakpastian sebagai sesuatu yang baru, kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakterdugaan dan kurangnya informasi. Menurut Mishel (1983), pasien dengan edukasi yang tinggi lebih memiliki kemampuan dalam mengakses informasi mengenai operasi dan penyakitnya sehingga mengecilkan keadaan ketidakpastian dalam diri (Mishel, 1988 dalam Madeo, dkk 2012).

Dari penjelesan di atas mengenai persepsi ketidakpastian dapat disimpulkan bahwa persepsi ketidakpastian adalah situasi dimana individu tidak dapat menetapkan nilai pada objek atau kejadian tertentu dan tidak dapat memprediksi hasil – hasil yang akan terjadi secara akurat karena ketidakjelasan, kerumitan, ketidakterdugaan dan kurangnya informasi.

2.2.3 Faktor-Faktor Persepsi Ketidakpastian
Faktor-faktor persepsi ketidakpastian, digunakan untuk skala MUIS (Mishel’s Uncertianty in Illness Scale) untuk membuat item – item pernyataan. Seperti dijelaskan oleh Mishel, (dalam Albertsen, 2009) faktor tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Ambiguity: ketidakjelasan mengenai operasi bagi dirinya, ketidakjelasan mengenai kondisi penyakit yang tidak jelas dan sering berubah – ubah
  2. Complexity: kompleksitas dan kerumitan mengenai operasi, prosedur dan perawatan operasi bagi dirinya.
  3. Lack of Information: informasi yang sedikit dan kurangnya informasi mengenai operasi bagi dirinya 
  4. Unpredictability: kemampuan pasien untuk memprediksikan mengenai hasil operasi dan memprediksikan gejala penyakit.
2.3 Identitas Ego
2.3.1 Definisi Identitas Ego
Teori identitas ego dari Erik Erikson berangkat dari psikoanalisa, tetapi mencakup pengaruh lingkungan social lebih luas dan aspek perkembangan social perluasan dari teori Freud psikoseksual. Menurut Freud, ego adalah suatu aspek kepribadian yang berhubungan dengan realita. ego dikembangkan oleh pikiran sebagai barisan utama dalam berinteraksi pada dunia luar. Identitas ego menurut tahapan perkembangan psikososial Erikson, menjadi isu remaja yang paling besar, dimana konflik dan krisis tersebut baru dialami oleh remaja dan berkembang hingga dewasa. Tiap tahapan perkembangan psikososial menurut Erikson, saling berhubungan dan tumbuh pada diri individu secara berkaitan satu sama lain. Semua tahapan perkembangan psikososial adalah proses yang berlangsung secara terus menerus dan saling berhubungan (Erikson, 1994).

Identitas ego adalah salah satu bagian dari perkembangan manusia yang dimulai dari anak-anak hingga dewasa. Pembentukan identitas ego mencakup perpaduan antara kemampuan, kepercayaan, dan identifikasi menjadi suatu keterkaitan, sesuatu yang unik dan utuh yang menciptakan rasa kontinuitas pada masa lalu dan arahan untuk masa depan. Identitas ego juga biasa disebut “perasaan”, “sikap”, “resolusi” dan lain-lain. Cara lain dalam menafsirkan identitas adalah sebagai self-structure yaitu sekumpulan dorongan internal, kemampuan, kepercayaan, dan sejarah individu. Semakin baik individu membangun struktur, semakin individu menyadari keunikan dan persamaan dengan orang lain, kelemahan dan kekuatan dirinya. Struktur identitas ego bersifat dinamis, unsur-unsur terus menerus ditambahkan dan dikesampingkan (Kroger dan Marcia, 2011).

Identitas ego dapat juga disebut sebagai self growth atau pertumbuhan diri. Individu membentuk identitas ego dari berbagai aspek seperti fisiologis, psikologis, biologis, dan social. Aspek-aspek tersebut di integrasi secara penuh oleh kesadaran dan ego yang matang. Pertumbuhan diri juga berasal dari pengalaman-pengalaman subjektif yang mencakup perilaku, pikiran, dan perasaan. Pengalaman-pengalaman subjektif tersebut membentuk identitas ego terutama komitmen yang semakin matang. Perkembangan identitas ego berkaitan dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan (Geise, 2008).

Identitas bisa dilihat dalam dua bentuk, pertama identitas sosial dan kedua identitas pribadi. Identitas soial adalah dimana individu mengkategorikan dan membedakan diri mereka ke dalam suatu kelompok sosial tertentu dengan menjadi anggota di dalamnya dan menyamakan nilai-nilai kelompok pada dirinya. Identitas pribadi yaitu jika individu membedakan dirinya dengan individu lain dimana tiap individu memiliki keunikan masing-masing dan tidak dapat diubah sekalipun dalam kelompok (Fearon, 1999).

Berikut ini adalah beberapa definisi identitas ego (Fearon, 1999).
  1. Identitas ego adalah konsepsi-konsepsi seseorang mengenai siapa mereka, orang seperti apakah mereka, bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain (Hogg & Abrams, 1988)
  2. Identitas ego dideskribsikan sebagai cara individu dan grup mendefinisikan diri mereka dan didefinisikan orang lainberdasarkan ras, etnik, agama, bahasa, dan budaya (Deng, 1995).
  3. Identitas ego didefinisikan sebagai pemahaman dan harapan diri yang cenderung stabil dan spesifik (Wendt, 1992).
  4. Identitas ego adalah komitmen dan identifikasi dalam diri yang dibentuk dari berbagai pengalaman apa yang terbaik dan bernilai, apa yang harus dilakukan, apa yang saya setujui dan ditentang (Taylor, 1989).
  5. Identitas ego sebagai struktur diri internal yang mencakup self-constructed, suatu dorongan, kemampuan, kepercayaan yang dinamis, dan sejarah individu. (Marcia, 1980).
  6. Identitas ego adalah rasa sadar pada diri yang berkembang dan dibentuk dari interaksi social sehingga individu menyadari keunikan dirinya yang berbeda dari orang lain (Erikson, 1994).
Dari definsi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa identitas ego adalah pengenalan diri dan pemahaman diri secara utuh agar dapat mengetahui keunikan kita yang membedakan diri kita dengan orang lain dan dapat mengkategorikan diri kita dalam kelompok social tertentu.

Menurut Erikson, sebagai sebuah potret diri, identitas ego terdiri dari berbagai potongan (Santrock, 2007):
  • Identitas pekerjaan / karir:Jalur karir dan pekerjaan yang ingin diikuti 
  • Identitas politik: Apakah seseorang itu memiliki aliran politik yang konservatif, liberal, atau berada di antara keduanya 
  • Identitas religious: Keyakinan spiritual seseorang 
  • Identitas relasi: apakah seseorang itu hidup melajang, menikah, bercerai, atau hidup bersama.
  • Identitas prestasi / intelektual: sejauh mana seseorang termotivasi untuk berprestasi dan menjadi srang yang intelek.
  • Identitas seksual: apakah seseorang itu heteroseksual, homoseksual, atau biseksual.
  • Identitas budaya / etnis: bagian dari dunia atau Negara manakah seseorang itu berasal dan seberapa intensifkah orang itu beridentifikasi dengan warisan budayanya
  • Minat: hal – hal yang gemar dilakukan seseorang, termasuk olahraga, music, da hobi
  • Kepribadian: karakteristik keoribadian individu (introvert, ekstrovert, cemas atau santai, bersahabat atau bermusuhan, dan seterusnya).
  • Identitas fisik: gambaran tubuh seseorang.
2.3.2 Karakteristik Identitas Ego
Menurut Erikson 1968 (dalam Kumru dan Thompson, 2003) untuk menentukan status identitas ego pada diri seseorang, ada 2 kriteria variable yang terdiri dari krisis dan komitmen, yang diaplikasikan ke pilihan pekerjaan, agama, dan ideology politik. Menurut Erikson, 19868 (dalam Bartoszuk dan Pittman, 2009) inti dari pembentukan identitas adalah individu melakukan eksplorasi pada berbagai alternatif pada suatu daerah tertentu dan membuat keputusan dan komitmen yang berarti bagi kehidupannya.

Ada dua definisi berbeda mengenai eksplorasi pada identitas. Pertama, eksplorasi menurut Marcia (dalam Dumas, Ellis, dan Wolfe, 2012) mengidentifikasi dua proses yang mendasari perkembangan identitas ego hasil pengembangan dari Erikson, pertama adalah self-exploration (yang biasa disebut Erikson krisis) atau eksplorasi diri yang berarti individu telah mempertimbangkan pilihan-pilihan yang berbagai alternatif yang bermakna dalam dirinya. Menurut Erikson (1968) eksplorasi disebut juga krisis yang terjadi pada individu, yaitu memilah-milah pilihan di kehidupannya sebelum berkomitmen atau menjatuhkan pilihan. Eksplorasi ini disebut exploration in-breadth.

Definisi eksplorasi kedua seperti yang dikemukakan oleh Meeus, Iedema, et al, 2002 (dalam Crocetti, Rubini, Meeus, 2008) bahwa eksplorasi adalah suatu penggalian dan pencarian informasi mengenai salah satu pilihan atau komitmen yang sudah ditentukan. Meeus meyakini bahwa individu yang sudah berkomitmen akan melanjutkan eksplorasi pada daerah pilihannya. Individu yang sudah berkomitmen pada suatu hal di dalam kehidupannya, secara aktif ia akan mengeksplor komitmen yang sudah ditetapkan dengan merefleksi pilihannya, menggali informasi mengenai pilihan tersebut, dan membicarakan pilihan tersebut dengan orang lain.

Ketika individu sudah menentukan pilihan atau berkomitmen pada daerah dalam hidupnya, mereka akan melakukan in-depth exploration, penggalian dan eksplorasi pada pilihan yang sudah ia tentukan. Individu cenderung akan menjaga komitmen mereka dengan mencari tahu informasi-informasi pilihan tersebut. Ketika individu sudah tidak ingin berkomitmen dengan pilihan sebelumnya, maka ia melakukan reconsideration of commitment, yaitu pencarian alternatif pilihan lain dan menentukan pilihan baru. Pada fase inilah individu mengeksplorasi alternatif lain dan tidak mengeksplorasi pilihan yang sudah mereka tentukan sebelumnya (Meeus dkk, 2010).

Karakteristik identitas ego berikutnya adalah komitmen. Komitmen pada identitas menurut Marcia (dalam Dumas, Ellis, dan Wolfe, 2012) yaitu individu sudah memilih suatu pilihan dari berbagai alternatif dan menentukan jalan hidup untuk dirinya. Komitmen terjadi apabila individu sudah mempertimbangkan pilihan-pilihan berbeda atau mengeksplorasi alternatif.

Identitas terus berubah dan akan mengalami revisi di sepanjang kehidupan. Manusia akan mempertimbangkan ulang dan megubah komitmen pada daerah-daerah di kehidupannya karena berbagai hal. Berubahnya komitmen mendorong individu untuk mencari alternatif lain. Konseptualisasi pertimbangan ulang komitmen, sama seperti definisi eskplorasi dari Marcia (1966), mencakup investigasi berbagai komitmen baru (Crocetti, Rubini, Meeus, 2008).

Identity achievement dan identity diffusion adalah dua status yang berlawanan menurut teori Erikson. Identity achievement bisa dicapai oleh individu apabila ia sudah mengalami periode krisis dan sudah berkomitmen pada bidang pekerjaan dan segala bidang dalam hidupnya. Sedangkan orang yang masih dalam fase identity diffusion belum mengalami periode krisis, dan masih kurang berkomitmen dengan bidang-bidang yang ada. Dia belum mempertimbangkan berbagai pilihan dari bidang pekerjaan dan minat yang ada.

Individu bisa mencapai tingkat kedawasaan identitas (mature adult identity) apabila dia sudah mengeksplorasi berbagai pilihan dan sudah berkomitmen pada suatu hal dalam hidupnya. Sedangkan individu yang tingkat eskplorasi dan komitmen pada dirinya rendah, maka ia tergolong identity diffused, yaitu sering dilemma dan berubah-ubah pilihan dan nilai kehidupannya (Marcia, 1966 dalam dalam Dumas, Ellis, dan Wolfe, 2012).

2.3.3 Identitas Ego Dewasa
Menurut Erikson (1968), pembentukan identitas ego adalah tugas perkembangan utama pada remaja, namun identitas ego sendiri dimulai dari masa anak-anak, remaja, dan dewasa. Identitas ego terus berkembang dan dapat berubah disepanjang rentang kehidupan. Pengalaman-pengalaman yang terjadi ketika remaja membentuk suatu rencana untuk masa depan, dan identitas ego yang dibentuk ketika remaja dan dewasa muda, mengakibatkan arah dan tujuan hidup yang jelas di masa yang akan datang. Perkembangan identitas ego dibangun oleh kejadian masa lampau, masa kini dan masa depan yang di integrasi menjadi suatu keseluruhan (Fadjukoff, 2007).

Identitas ego bukan hanya krisis yang dialami oleh remaja saja, namun identitas ego adalah krisis di seluruh kehidupan individu. Krisis yang dimaksud Erikson adalah krisis sejarah di kehidupan manusia, dimana krisis tersebut saling berkaitan. Kualitas identitas ego di usia-usia dewasa, bergantung dengan kualitas identitas ego yang dibentuk di masa remaja. Elemen-elemen diri pada masa anak-anak hingga dewasa adalah elemen yang tak terpisahkan. Elemen tersebut saling berhubungan dan bersatu menjadi suatu pertumbuhan diri yang sehat dan matang, apabila pertumbuhan diri sudah matang, maka semakin besar kesempatan untuk terbentuk achievement identity (Erikson, 1994).

Erikson (1968) mengkonseptualisasikan perkembangan identitas ego sebagai tahapan psikososial dan tugas utama bagi remaja yang bias berdampak pada konflik tahapan-tahapan di usia selanjutnya seperti intimasi, generativitas dan integritas. Sebagai struktur internal, identitas ego mencakup pengalaman-pengalaman yang dianggap penting disepanjang kehidupan. Identitas ego di masa remaja memainkan peran determinan yang sangat penting bagi identitas di usia dewasa. Dalam usia dewasa madya menurut Erikson, isu generativitas sedang berlangsung. Ekslplorasi dan komitmen pada usia 40-60 juga berhubungan dengan generativitas. Generativitas berarti memberikan tanggung jawab, ilmu, dan perlakuan yang baik bagi generasi selanjutnya. Eksplorasi yang terjadi di usia dewasa madya juga berhubungan dengan mortalitas, mengingat banyak munculnya penyakit degenerative pada usia tersebut. Komitmen agar dapat mencapai krisis generativitas bagi generasi berikutnya menandakan bahwa individu pada dewasa madya harus sehat agar dapat mengerahkan seluruh kemampuan dan tanggung jawabnya untuk generasi selanjutnya. Komitmen dan eksplorasi mengenai kesehatan pun harus tetap terjaga untuk menyeimbangkan konflik di usia tersebut (Fadjukoff, 2007).

2.4 Perkembangan Dewasa Madya
Masa dewasa merupakan salah satu fase dalam rentang kehidupan individu setelah masa remaja. Pada penelitian ini, difokuskan perkembangan masa dewasa madya.
2.4.1 Dewasa Madya
Menurut Hurlock (2008), rentang usia dewasa madya pada umumnya berkisar antara usia 40-60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental. Fisik sudah mulai agak melemah, termasuk fungsi-fungsi alat indra. Cirri-ciri masa dewasa madya menurut Hurlock yaitu:
1. Perubahan fisik yang demikian pesat.
Pada masa dewasa madya, terjadi perubahan kondisi fisik yang cukup pesat, namun bukan perubahan yang menuju kesempurnaan / kemajuan, namun perubahan yang mengarah kepada penurunan dan kemunduran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya.
2. Masa yang ditakuti.
Umumnya pada usia dewasa madya, mereka tidak lagi merasa menarik secara seksual dan memunculkan kekhawatiran akan kehilangan daya tarik bagi pasangan mereka. Perasaan takut dan kekhawatiran ini dapat mengganggu psikologisnya.
3. Usia berbahaya
Di usia dewasa madya, fisik mereka mulai rentan terhadap penyakit, juga kondisi psikologis yang cenderung menjadi lebih peka, yang berarti mudah tersinggung, tertekan, stress, hingga depresi.

2.5 Kerangka Berpikir
Identitas ego menurut Erikson (1950) berangkat dari teori psikoanalisa yang berfokus pada perkembangan psikososial. Ego adalah pusat pada diri manusia karena ego adalah struktur diri yang dihadapkan pada dunia nyata dan dihadapkan pada pengalaman hidup. Ego manusia terbentuk dan semakin matang seiring bertambahnya usia.

Menurut Erikson, 1968 (dalam Kumru dan Thompson, 2003) ada dua kriteria yang hadir dalam pembentukan identitas ego: eksplorasi (biasa disebut krisis) dan komitmen. Eksplorasi adalah proses dimana manusia memikirkan banyak hal dan mengkaji nya satu persatu, memilah-milah serta mencoba hal tersebut, dan mencoba berbagai peran di rentang kehidupan. Komitmen adalah sejauh mana manusia menanamkan dan menentukan nilai / tujuan dalam hidupnya dan mengekspresikannya dengan tindakan atau suatu kepercayaan. Orang yang sudah melakukan eksplorasi pada segala hal di kehidupannya, dan sudah berkomitmen, ialah yang identitas egonya tinggi atau sudah mencapai status achieved identity (pencapaian identitas). Menurut Erikson, orang yang sudah berkomitmen pasti sudah melakukan trial-and-error. Bagi individu yang sudah melewati masa krisis, mereka telah mencoba segala hal dengan berbagai konsekuensi yang ada. Beda hal dengan mereka yang tidak berani eksplorisasi, mereka tidak biasa mencari berbagai alternatif bagi dirinya, mungkin juga tidak berani dalam mengambil risiko dan hidup dalam ketidaktahuan atau ketidakpastian karena belum mencoba.

Peneliti akan mencari tahu apakah hal tersebut memprediksikan persepsi terhadap ketidakpastian, karena orang yang belum pernah bereksplorasi berbagai alternatif di hidupnya dan berkomitmen mengenai suatu hal, mereka tidak tahu apa yang terjadi dan mengalami ketidakpastian karena tidak pernah mencoba. Pasien yang tinggi pada komitmennya, berarti mereka sudah mennetukan nilai dan tujuan pada hidupnya.

Ketidakpastian terjadi ketika adanya berbagai konsekuensi yang terjadi dan kita tidak dapat memastikan dan memprediksi apa yang akan terjadi. Kurangnya pemahaman mengenai sesuatu juga menimbulkan ketidakpastian dalam diri. Setiap orang memiliki persepsi ketidakpastian yang berbeda, tergantung dari struktur dirinya dan dukungan eksternal. Persepsi adalah salah satu bagian dari komponen kognitif seseorang. Persepsi ketidakpastian ini menyebabkan individu menyikapi suatu hal. Dalam penelitian ini, ingin mengetahui apakah persepsi ketidakpastian mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis, lalu bagaimana korelasi prediksinya.

Penelitian ini juga ingin mengetahui apakah identitas ego dan persepsi ketidakpastian secara bersama mampu memprediksikan sikap pasien terhadap operasi medis atau tidak. Mishel (2006) mengemukakan jika persepsi ketidakpastian didukung oleh pengetahuan masing-masing individu menghasilkan sikap pasien terhadap bidang kesehatan. Pada BAB 1 diuraikan bahwa identitas ego dibentuk oleh kognisi seseorang. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa identitas ego mendukung persepsi ketidakpastian seseorang dalam menyikapi hal tertentu.