Showing posts with label kompos. Show all posts
Showing posts with label kompos. Show all posts

Sunday, 2 April 2017

Pengomposan ;Mencari Sumber Pupuk Organik

Mencari Sumber Pupuk Organik
Untuk mempertahankan dan meningkatkan bahan organik tanah, diperlukan penambahan organik secara berangsur. Masalah utama dalam penggunaan pupuk organik adalah perlu jumlah yang terlalu banyak, dan ketidak tersediaan sumber bahan organik di lapang. Memang pupuk kandang telah terbukti sejak nenek moyang kita sebagai pupuk yang mampu untuk mempertahankan bahkan memperbaiki kesuburan tanah. Kita tidak bisa mengandalkan pupuk kandang sebagai satu-satunya sumber bahan organik, mengingat populasi ternak yang dimiliki petani semakin lama semakin berkurang. Oleh karena itu perlu dicari sumber bahan organik yang potensial setempat. Potensial setempat yang dimaksud adalah sumber bahan organik tersebut mudah didapatkan dilapangan, dalam jumlah memadai, dan efektif dalam peningkatan keharaan tanah.

Sebenarnya sumber bahan organik yang ada di lapangan cukup banyak namun terkadang kita belum tahu atau tidak biasa menggunakannya. Berbagai sumber bahan organik yang dapat dikembangkan antara lain: pupuk hijau (hasil pangkasan tanaman), sisa tanaman (misal jerami), sampah kota dan limbah industri.

Pupuk Hijau.
Bahan organik yang digunakan sebagai sumber pupuk dapat berasal dari bahan tanaman, yang sering disebut sebagai pupuk hijau. Biasanya pupuk hijau yang digunakan berasal dari tanaman legum, karena kemampuan tanaman ini mampu mengikat N2-udara dengan bantuan bakteri rizobium, menyebabkan kadar N dalam tanaman relatif tinggi. Karena kandungan hara nitrogennya tinggi, maka penggunan pupuk hijau dapat diberikan langsung bersama pengolahan tanah, tanpa harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu. 

Sebenarnya penggunaan pupuk hijau ini bukan barang baru lagi, namun karena sudah banyak ditinggalkan oleh petani maka pupuk hijau ini terabaikan. Misalnya pada tahun tujuh puluhan, merupakan suatu keharusan pihak pabrik tembakau di Klaten, menanam Crotalaria juncea (orok-orok) pada setiap habis panen tembakau, bertujuan untuk mengembalikan dan memperbaiki kesuburan tanahnya. Setelah tembakau dipanen, ditanam orok-orok, setelah besar maka tanaman orok-ork ini dirobohkan dan dicampur dengan tanah saat pengolahan tanah (pembajakan) yang kemudian digenangi. Tetapi pada masa sekarang keharusan tersebut sukar dipenuhi baik oleh pihak pabrik maupun petani. Petani merasa keberatan bila sawahnya ditanami legum (orok-orok), karena dianggap tidak produktif, selama penanaman orok-orok (sekitar 1 bulan). Tanaman Crotalaria juncea di samping hasil biomasanya tinggi juga mempunyai kandungan N tinggi pula (3,01 % N).

Masih banyak tanaman legum lainya sebagai pupuk hijau yang dapat dikembangkan yang memiliki kualitas hara tinggi. Tanaman legum semusim yang berbentuk perdu yang lain yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau adalah Tephrosia candida, sedang yang berbentuk semak berbatang lembek antara lain Colopogonium muconaides (3,2 % N), Centrosema. Sp, dan Mimosa invisa yang banyak digunakan di perkebunan-perkebunan karet dan kelapa sawit. Untuk tanaman pupuk hijau yang berbentuk pohon yang biasa digunakan sebagai pohon pelindung atau sebagai tanaman pagar dalam sistem pertanian lorong antara lain Glerisedia sepium (gamal) (3,46 % N), Leucaena glauca (lamtoro) , dan Sesbania grandiflora (turi putih) (2,42 % N).

Tumbuhan air yang banyak dikembangkan sebagai pupuk hijau adalah Azolla ( A. mexicana, A. microphylla dan A. pinnata). Tanaman air ini termasuk tanaman penambat N2 udara. Azolla apabila dimasukkan dalam tanah, pada kondisi tergenang akan terombak dan selama 2 minggu mampu melepas 60-80 % dari N yang dikandungnya. Penggunaan Azzola sebagai pupuk ini cukup potensial dikembangkan dilahan persawahan. Dalam penelitian dilaporkan penggunaan Azolla untuk budidaya padi sawah mampu memasok 20-40 kg N per hektar ke dalam tanah dan mampu meningkatkan hasil padi 19,23 % atau 0,5 ton per hektar. Apabila penggunaan azolla diberikan dua kali yaitu sebelum dan sesudah tanam, peningkatan hasil padi bisa mencapai 38,46 % atau 1 ton per hektar.

Contoh lain tanaman air yang banyak digunakan masyarakat sekitar Rawapening adalah memanfaatkan tanaman enceng gondok sebagai sumber bahan organik untuk pupuk. Sebenarnya enceng gondok sebagai pencemar pengairan yang banyak kita dapatkan diperairan kita seperti di sungai-sungai, dam dan waduk yang dekat dengan perkotaan atau daerah pertanian, karena adanya pengayaan hara dalam perairan maka tumbuh tanaman ini. Walaupun tanaman ini tidak bisa menmbat N, namun karena pertumbuhan cepat dan biomasa/volumenya banyak dan bahannya sangat lunak dan berair, maka enceng gondok potensial dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berkulitas. Pupuk organik ini banyak digunakan untuk tanaman hias, hortikultura dan bahkan perkebunan.

Pada akhir-akhir ini, mengingat semakin terbatasnya bahan organik yang tersedia, maka dikembangkan tanaman-tanaman nonlegum untuk dapat digunakan sebagai bahan pupuk hijau yang cukup potensial. Tentunya harus ada pedoman atau patokan bahan tanaman yang potensial dapat digunakan untuk pupuk. Suatu tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau apabila;
  1. cepat tumbuh;
  2. bagian atas banyak dan lunak (succulent); dan
  3. kesanggupannya tumbuh cepat pada tanah yang kurang subur, sehingga cocok dalam rotasi.
Terkadang kita tidak berfikir penggunaan bahan organik mempunyai kelebihan dalam pelepasan hara dapat secara perlahan-lahan, sehingga akan berpengaruh pada penyediaan jangka panjangnya. Sehingga pengaruh residu bahan organik dapat dirasakan pada musim tanam berikutnya. 

Sebenarnya banyak bahan yang dapat kita gunakan sebagai sumber bahan organik untuk pupuk. Bahkan dalam penelitian yang telah saya lakukan, taaman kirinyu atau krenu (Cromolaena odorata) ternyata mempunyai potensi untuk digunakan sebagai tanaman pupuk hijau pada budidaya kacang tanah. Biomasa kirinyu mempunyai kandungan hara yang cukup tinggi, mengandung hara nitrogen 2.65% N, mengandung hara fosfor 0.53% P dan mengandung hara kalium 1.9% K sehingga biomasa kirinyu merupakan sumber bahan organik yang potensial untuk perbaikan kesuburan tanah. Contoh yang lain untuk daerah dataran tinggi, banyak tumbuh tanaman perdu lainya yang dapat digunakan sebagai bahan pupuk hijau antara lain tanaman paitan (Titonia diversifolia), tanaman ini telah dikembangkan sebagai sumber bahan organik untuk meningkatkan ketersediaan hara. 

Sisa tanaman dan Sampah Kota.
Sisa tanaman dapat digunakan sebagai pupuk yang berperan sebagai suatu cadangan yang dapat didaurkan kembali untuk meningkatkan ketersediaan dan pengawetan hara dalam tanah. Dalam penggunaan sisa tanaman ini tentunya harus dilihat kandungan haranya. Praktek-praktek pengelolaan sisa tanaman memegang peranan utama dalam mengatur ketersediaan hara yang terkandung dalam sisa tanaman. Jerami padi, jagung dan tebu merupakan sisa tanaman yang mempunyai nisbah C/N yang tinggi, sehingga perlu adanya waktu pemeraman (incubation), atau pengomposan terlebih dahulu dalam praktek pemakaiannya.

Sampah kota merupakan bahan organik yang banyak kita temukan di kota-kota besar, yang merupakan permasalahan lingkungan dalam penanganannya. Usaha penggunaan sampah kota untuk aplikasi langsung di lahan pertanian, umumnya mengalami berbagai permasalahan. Beberapa sebab ketidak berhasilan penggunaan sampah kota sebagai pupuk antara lain:
  1. masalah ekonomi pengumpulannya dan pemindahan bahan,
  2. kesulitan pemisahan dan pensortiran bahan yang tidak terlapukan secara biologis (seperti : kaca, plastik, logam),
  3. kandungan hara khususnya N setiap bahan sangat bervariasi.
Apabila bahan yang tahan lapuk telah dipilahkan, suatu teknologi yang dapat direkomendasikan untuk pemanfaatan sampah kota adalah pengomposan.

Sifat yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sampah kota :
  1. Adanya kontaminasi gelas, plastik dan logam, sehingga bahan-bahan ini perlu dikeluarkan dari bahan pupuk;
  2. Kandungan hara. Nilai C/N bahan pada umumnya masih relatif tinggi sehingga perlu pengomposan;
  3. Komposisi organik sampah kota sangatlah bervariasi, bahkan kadang-kadang terdapat senyawa organik yang bersifat racun bagi tanaman;
  4. Terdapat banyak sekali macam mikrobia dalam sampah kota baik bakteri, fungi dan actinomycetes, bahkan perlu diwaspadai adanya mikrobia patogen bagi tumbuhan atau manusia.
Pengomposan.
Pengomposan bertujuan untuk mematangkan bahan organik yang masih mentah. Bahan organik yang masih mentah (C/N tinggi), seperti jerami padi, jagung dan sampah kota, apabila diberikan secara langsung ke dalam tanah akan berdampak negatip terhadap ketersediaan hara tanah. Bahan organik langsung akan disantap oleh mikrobia untuk memperoleh energi, dan akan memerlukan hara untuk tumbuh dan berkembang, yang diambil dari tanah yang seyogyanya digunakan oleh tanaman, sehingga justru terjadi persaingan mikrobia dan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada. Oleh karena itu bahan harus kita komposkan dahulu.

Salah satu cara pengomposan yang sederhana adalah proses pengomposan aerob, cara ini paling mudah dilakukan dan hasilnya relatif memuaskan. Sebenarnya proses pengomposan aerobik sampah kota ini, dapat diterapkan dalam skala kecil. Yaitu sampah yang telah diambil dari rumah tangga yang telah dipisahkan dari sampah anorganik ditumpuk disuatu tempat dengan ketinggian tidak lebih dari 1,5 m, kemudian tumpukan sampah ini diusahakan jangan terjadi pemadatan untuk menjamin pasokan aliran udara (aerasi) di antara celah-celah antar sampah. Setelah itu aktifitas biologi (mikrobia) mulai berjalan untuk mulai proses perombakan sampah organik. Proses perombakan aerobik ini berlangsung kurang lebih dalam 45 hari.

Selama proses pengomposan berlangsung perlu kondisi kelembaban dan sirkulasi udara yang cukup baik untuk aerasi. Pada hari ke 5-25 suhu dalam tumpukan akan meningkat. Tumpukan bahan semakin tambah hari akan semakin menyusut. Selama pengomposan dalam keadaan aerob ini tidak menimbulkan bau busuk bahkan sering kali menimbulkan aroma yang menyegarkan. Proses akan lebih cepat jika kita siramkan air kencing sapi, domba dan lainnya. Unsur amoniak (N) dari kencing ini akan memacu proses perombakan. Atau dapat kita tambahkan hara (pupuk). Untuk menjaga kelembaban perlu penyiraman secara periodik. Pembalikan bahan perlu dilakukan. Kompos sudah matang jika temperaatur stabil dan tidak panas lagi serta bentuk fisiknya berubah. Oleh karena itu sumber bahan organik yang dapat kita gunakan dapat kita cari dari yang ada disekitar kita, sehingga saatnya kita menuju ke pertanian organik.

Jenis-Jenis Pupuk dan Fungsi Pupuk

JENIS DAN FUNGSI PUPUK
Fungsi pupuk adalah sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen , fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsure-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrien). Berdasarkan asal atau kejadiannya, pupuk dapat digolongkan sebagai berikut :

a. Pupuk Organik
Pupuk organic adalah semua sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsure hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukan oleh mikro organisme. Selain pupuk anorganik, pupuk organic juga harus dberikan pada tanaman. Macam-macam pupuk organic adalah sebagi berikut:

1. Kompos
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.

2. Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman. Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.

3. Pupuk kandang
pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O (tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya.

b. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan (dari senyawa anorganik) adlah puuk yang sengaja dibuat oleh manusia dalam pabrik dan mengandung unsure hara tertentu dalam kadar tinggi. Pupuk anorganik digunakan untuk mengatasi kekurangan mineral murni dari alam yang diperlukan tumbuhan untuk hidup secara wajar. Puuk anorganik dapat menghasilkan bulir hijau dan yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Berdasarkan kandungan unsure-unsurnya, pupuk anorganik digolongkan sebagai berikut :
1. Pupuk Tunggal
Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung hanya satu jenis unsure hara sebagai penambah kesuburan. Contoh pupuk tunggal yaitu pupuk N, P, dan K.

a. Pupuk Nitrogen
Fungsi nitrogen (N) bagi tumbuhan adalah:
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman, dan merangsang pertunasan.
  • Memperbaiki kualitas, terutama kandungan proteinnya.
  • Menyediakan bahan makanan bagi mikroba (jasad renik)
Nitrogen diserap dalam tanah berbentuk ion nitrat atau ammonium. Kemudian, didalam tumbuhan bereaksi dengan karbon membentuk asam amino, selanjutnya berubah menjadi protein. Nitrogen termasuk unsure yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman karena 16-18% protein terdiri dari nitrogen. Pupuk yang paling banyak mengandung unsure nitrogen adalah pupuk urea.

Macam-macam pupuk nitrogen sebagai berikut.
- pupuk urea(CO(NH2)2) yang mengandung 47% nitrogen (paling tinggi dibandingkan dengan pupuk nitrogen jeni lain). Urea sangat mudah larut dalam air dan juga mudah diubah menjadi ion nitrat (NO3-) yang mudah diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Cara pembuatan urea :

2NH3(g) +CO2(g) CO(NH2)2(s) +H2O (l)
  • ­pupuk ZA (Zwavel Ammonium) atau ammonium sulfat ((NH4)2SO4) yang mengandung 21% nitrogen.
  • Pupuk ammonium klorida (salmiak) atau NH4Cl, mengandung 20% nitrogen.
  • Pupuk ASN (ammonium Sulfat Nitrat) atau [(NH4)3(SO4)(NO3)], mengandung 23-26% nitrogen.
  • Pupuk natrium nitrat atau sodium nitrat (NaNO3), mengandung 15% nitrogen.
b. Pupuk Fosforus
Fosforus (P) bagi tanaman berperan dalam proses:
  • respirasi dan fotosintesis
  • penyusunan asam nukleat
  • pembentukan bibit tanaman dan penghasil buah.
  • Perangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, dan,
  • Mempercepat masa panen sehingga dapat mengurangi resiko keterlambatan waktu panen.
Unsure fosfor diperlukan diperlukan dalam jumlah lebih sedikit daripada unsure nitrogen. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk apatit kalsium fosfat, FePO4, dan AlPO4.

Macam-macam pupuk fosfor sebagai berikut :
  • pupuk superfosfat (Ca(H2PO4)2) yang sangat mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Contoh: Engkel superfosfat (ES) yang mengandung sekitar 15% P2O5, Double superfosfat (DS) yang mengandung sekitar 30% P2O5, dan Tripel Superfosfat (TSP) yang mengandung sekitar 45%P2O5.
  • Pupuk FMP (Fused Magnesium Phosphate) atau Mg3(PO4)2 yang baik digunakan pada tanah yang banyak mengandung besi dan aluminium.
  • Pupuk aluminium fosfat (AlPO4)
  • Pupuk besi (III) fosfat (FePO4)
c. Pupuk Kalium
Fungsi kalium bagi tanaman adalah
  • Mempengaruhi susunan dan mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman.
  • Mempercepat metabolisme unsure nitrogen,
  • Mencegah bunga dan buah agar tidak mudah gugur.
Macam-macam pupuk kalium sebagai berikut:
  • pupuk kalium klorida atau potassium klorida (KCl). Ada 2 macam pupuk KCl yang beredar di pasaran, yaitu KCl 80 (mengandung 50% K2O) dan KCl 90 (mengandung 53% K2O).
  • Pupuk ZK (Zwavel Kalium) atau kalium sulfat (K2SO4) yang baik digunakan pada tanaman yang tidak tahan te rhadap konsentrasi ion klorida tinggi. Ada 2 macam pupuk ZK yang beredar di pasaran, yaitu ZK 90 (mengandung 50% K2O) dan ZK 96 (mengandung 53% K2O).
2. Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsure hara yang digunakan untuk menambah kesuburan tanah. Contoh pupuk majemuk yaitu NP, NK, dan NPK. Pupuk majemuk yang paling banyak digunakan adalah pupuk NPK yang mengandung senyawa ammonium nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogen fosfat (NH4H2PO4), dan kalium klorida (KCL).

Kadar unsure hara N, P, dan K dalam pupuk majemuk dinyatakan dengan komposisi angka tertentu. Misalnya pupuk NPK 10-20-15 berarti bahwa dalam pupuk itu terdapat 10% nitrogen, 20% fosfor (sebagai P2O5)dan 15% kalium (sebagai K2O).

Penggunaan pupuk majemuk harus disesuaikan dengan kebutuhan dari jenis tanaman yang akan dipupuk karena setiap jenis tanaman memerlukan perbandingan N, P, dan K tertentu. Di Indonesia beredar beberapa jenis pupuk majemuk dengan komposisi N, P, dan K yang beragam.

Nilai suatu pupuk ditentukan oleh hal-hal berikut :
  • Kadar unsure, makin tinggi kadar unsure, akin tinggi nilai pupuk.
  • Higroskopisitas, pupuk buatan mulai menarik air pada kelembaban 51-99%. Pupuk yang mudah menarik air, misalnya urea mengalami masalah pada penympanan, sifat higroskopis secara langsung tidak mempengaruhi nilai pupuk sebagai penambah kesuburan tanah.
  • Kelarutan, mempengaruhi mudah tidaknya unsure-unsur yang terkandung diambil oleh tanaman.
  • Cara kerja, bekerjanya pupuk adalah waktu yang diperlukan hingga pupuk tersebut dapat dihisap oleh tanaman dan memperlihatkan pengaruhnya. Bekerjanya pupuk sangat mempengaruhi waktu dan cara penggunaan pupuk.
  • Keasaman, beberapa jenis pupuk dapat dipakai untuk meningkatkan, mempetahankan, atau mengurai keasaman tanah.
Pengaruh negatif penggunaan pupuk
a. Pengaruh negatif pupuk urea;
  • tanah akan bersifat agak asam
  • penggunaan urea berlebihan dalam kurun waktu yang berdekatan akan mengurangi proses tumbuhnya kecambah dari suatu bibit dan mengurangi daya serap akar.
b. Pengaruh negatif pupuk superfosfat;
  • Jika kelebihan superfosfat, tanah akan kelebihan asam. Hal ini dikarenakan superfosfat dapat meningkatkan konsentrasi hydrogen dalam tanah.
  • Dapat bersifat racun bagi tanaman jika diberikan pada tanaman yang tumbuh pada tanah yang mengandung banyak unsure aluminium. Hal ini dikarenakan superfosfat dapat mempercepat pembentukan racun aluminium, atau toxic aluminium.
c. Pengaruh negatif pupuk ammonium sulfat;
  • Dapat bersifat racun bagi tanah jika diberikan pada tanah tanpa disertai kapur. Tanpa adanya batuan kapur, ammonium sulfat akan bebas bereaksi dengan besi, aluminium, dan mangan membentuk racun besi, aluminium, dan mangan.
  • Kelebihan pupuk ammonium sulfat mengakibatkan tanah besifat asam. Dengan demikian, pupuk ini harus diberikan pada tanah yang bersifat basa.