Showing posts with label Pupuk. Show all posts
Showing posts with label Pupuk. Show all posts

Sunday, 2 April 2017

Pengomposan ;Mencari Sumber Pupuk Organik

Mencari Sumber Pupuk Organik
Untuk mempertahankan dan meningkatkan bahan organik tanah, diperlukan penambahan organik secara berangsur. Masalah utama dalam penggunaan pupuk organik adalah perlu jumlah yang terlalu banyak, dan ketidak tersediaan sumber bahan organik di lapang. Memang pupuk kandang telah terbukti sejak nenek moyang kita sebagai pupuk yang mampu untuk mempertahankan bahkan memperbaiki kesuburan tanah. Kita tidak bisa mengandalkan pupuk kandang sebagai satu-satunya sumber bahan organik, mengingat populasi ternak yang dimiliki petani semakin lama semakin berkurang. Oleh karena itu perlu dicari sumber bahan organik yang potensial setempat. Potensial setempat yang dimaksud adalah sumber bahan organik tersebut mudah didapatkan dilapangan, dalam jumlah memadai, dan efektif dalam peningkatan keharaan tanah.

Sebenarnya sumber bahan organik yang ada di lapangan cukup banyak namun terkadang kita belum tahu atau tidak biasa menggunakannya. Berbagai sumber bahan organik yang dapat dikembangkan antara lain: pupuk hijau (hasil pangkasan tanaman), sisa tanaman (misal jerami), sampah kota dan limbah industri.

Pupuk Hijau.
Bahan organik yang digunakan sebagai sumber pupuk dapat berasal dari bahan tanaman, yang sering disebut sebagai pupuk hijau. Biasanya pupuk hijau yang digunakan berasal dari tanaman legum, karena kemampuan tanaman ini mampu mengikat N2-udara dengan bantuan bakteri rizobium, menyebabkan kadar N dalam tanaman relatif tinggi. Karena kandungan hara nitrogennya tinggi, maka penggunan pupuk hijau dapat diberikan langsung bersama pengolahan tanah, tanpa harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu. 

Sebenarnya penggunaan pupuk hijau ini bukan barang baru lagi, namun karena sudah banyak ditinggalkan oleh petani maka pupuk hijau ini terabaikan. Misalnya pada tahun tujuh puluhan, merupakan suatu keharusan pihak pabrik tembakau di Klaten, menanam Crotalaria juncea (orok-orok) pada setiap habis panen tembakau, bertujuan untuk mengembalikan dan memperbaiki kesuburan tanahnya. Setelah tembakau dipanen, ditanam orok-orok, setelah besar maka tanaman orok-ork ini dirobohkan dan dicampur dengan tanah saat pengolahan tanah (pembajakan) yang kemudian digenangi. Tetapi pada masa sekarang keharusan tersebut sukar dipenuhi baik oleh pihak pabrik maupun petani. Petani merasa keberatan bila sawahnya ditanami legum (orok-orok), karena dianggap tidak produktif, selama penanaman orok-orok (sekitar 1 bulan). Tanaman Crotalaria juncea di samping hasil biomasanya tinggi juga mempunyai kandungan N tinggi pula (3,01 % N).

Masih banyak tanaman legum lainya sebagai pupuk hijau yang dapat dikembangkan yang memiliki kualitas hara tinggi. Tanaman legum semusim yang berbentuk perdu yang lain yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau adalah Tephrosia candida, sedang yang berbentuk semak berbatang lembek antara lain Colopogonium muconaides (3,2 % N), Centrosema. Sp, dan Mimosa invisa yang banyak digunakan di perkebunan-perkebunan karet dan kelapa sawit. Untuk tanaman pupuk hijau yang berbentuk pohon yang biasa digunakan sebagai pohon pelindung atau sebagai tanaman pagar dalam sistem pertanian lorong antara lain Glerisedia sepium (gamal) (3,46 % N), Leucaena glauca (lamtoro) , dan Sesbania grandiflora (turi putih) (2,42 % N).

Tumbuhan air yang banyak dikembangkan sebagai pupuk hijau adalah Azolla ( A. mexicana, A. microphylla dan A. pinnata). Tanaman air ini termasuk tanaman penambat N2 udara. Azolla apabila dimasukkan dalam tanah, pada kondisi tergenang akan terombak dan selama 2 minggu mampu melepas 60-80 % dari N yang dikandungnya. Penggunaan Azzola sebagai pupuk ini cukup potensial dikembangkan dilahan persawahan. Dalam penelitian dilaporkan penggunaan Azolla untuk budidaya padi sawah mampu memasok 20-40 kg N per hektar ke dalam tanah dan mampu meningkatkan hasil padi 19,23 % atau 0,5 ton per hektar. Apabila penggunaan azolla diberikan dua kali yaitu sebelum dan sesudah tanam, peningkatan hasil padi bisa mencapai 38,46 % atau 1 ton per hektar.

Contoh lain tanaman air yang banyak digunakan masyarakat sekitar Rawapening adalah memanfaatkan tanaman enceng gondok sebagai sumber bahan organik untuk pupuk. Sebenarnya enceng gondok sebagai pencemar pengairan yang banyak kita dapatkan diperairan kita seperti di sungai-sungai, dam dan waduk yang dekat dengan perkotaan atau daerah pertanian, karena adanya pengayaan hara dalam perairan maka tumbuh tanaman ini. Walaupun tanaman ini tidak bisa menmbat N, namun karena pertumbuhan cepat dan biomasa/volumenya banyak dan bahannya sangat lunak dan berair, maka enceng gondok potensial dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berkulitas. Pupuk organik ini banyak digunakan untuk tanaman hias, hortikultura dan bahkan perkebunan.

Pada akhir-akhir ini, mengingat semakin terbatasnya bahan organik yang tersedia, maka dikembangkan tanaman-tanaman nonlegum untuk dapat digunakan sebagai bahan pupuk hijau yang cukup potensial. Tentunya harus ada pedoman atau patokan bahan tanaman yang potensial dapat digunakan untuk pupuk. Suatu tanaman dapat digunakan sebagai pupuk hijau apabila;
  1. cepat tumbuh;
  2. bagian atas banyak dan lunak (succulent); dan
  3. kesanggupannya tumbuh cepat pada tanah yang kurang subur, sehingga cocok dalam rotasi.
Terkadang kita tidak berfikir penggunaan bahan organik mempunyai kelebihan dalam pelepasan hara dapat secara perlahan-lahan, sehingga akan berpengaruh pada penyediaan jangka panjangnya. Sehingga pengaruh residu bahan organik dapat dirasakan pada musim tanam berikutnya. 

Sebenarnya banyak bahan yang dapat kita gunakan sebagai sumber bahan organik untuk pupuk. Bahkan dalam penelitian yang telah saya lakukan, taaman kirinyu atau krenu (Cromolaena odorata) ternyata mempunyai potensi untuk digunakan sebagai tanaman pupuk hijau pada budidaya kacang tanah. Biomasa kirinyu mempunyai kandungan hara yang cukup tinggi, mengandung hara nitrogen 2.65% N, mengandung hara fosfor 0.53% P dan mengandung hara kalium 1.9% K sehingga biomasa kirinyu merupakan sumber bahan organik yang potensial untuk perbaikan kesuburan tanah. Contoh yang lain untuk daerah dataran tinggi, banyak tumbuh tanaman perdu lainya yang dapat digunakan sebagai bahan pupuk hijau antara lain tanaman paitan (Titonia diversifolia), tanaman ini telah dikembangkan sebagai sumber bahan organik untuk meningkatkan ketersediaan hara. 

Sisa tanaman dan Sampah Kota.
Sisa tanaman dapat digunakan sebagai pupuk yang berperan sebagai suatu cadangan yang dapat didaurkan kembali untuk meningkatkan ketersediaan dan pengawetan hara dalam tanah. Dalam penggunaan sisa tanaman ini tentunya harus dilihat kandungan haranya. Praktek-praktek pengelolaan sisa tanaman memegang peranan utama dalam mengatur ketersediaan hara yang terkandung dalam sisa tanaman. Jerami padi, jagung dan tebu merupakan sisa tanaman yang mempunyai nisbah C/N yang tinggi, sehingga perlu adanya waktu pemeraman (incubation), atau pengomposan terlebih dahulu dalam praktek pemakaiannya.

Sampah kota merupakan bahan organik yang banyak kita temukan di kota-kota besar, yang merupakan permasalahan lingkungan dalam penanganannya. Usaha penggunaan sampah kota untuk aplikasi langsung di lahan pertanian, umumnya mengalami berbagai permasalahan. Beberapa sebab ketidak berhasilan penggunaan sampah kota sebagai pupuk antara lain:
  1. masalah ekonomi pengumpulannya dan pemindahan bahan,
  2. kesulitan pemisahan dan pensortiran bahan yang tidak terlapukan secara biologis (seperti : kaca, plastik, logam),
  3. kandungan hara khususnya N setiap bahan sangat bervariasi.
Apabila bahan yang tahan lapuk telah dipilahkan, suatu teknologi yang dapat direkomendasikan untuk pemanfaatan sampah kota adalah pengomposan.

Sifat yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sampah kota :
  1. Adanya kontaminasi gelas, plastik dan logam, sehingga bahan-bahan ini perlu dikeluarkan dari bahan pupuk;
  2. Kandungan hara. Nilai C/N bahan pada umumnya masih relatif tinggi sehingga perlu pengomposan;
  3. Komposisi organik sampah kota sangatlah bervariasi, bahkan kadang-kadang terdapat senyawa organik yang bersifat racun bagi tanaman;
  4. Terdapat banyak sekali macam mikrobia dalam sampah kota baik bakteri, fungi dan actinomycetes, bahkan perlu diwaspadai adanya mikrobia patogen bagi tumbuhan atau manusia.
Pengomposan.
Pengomposan bertujuan untuk mematangkan bahan organik yang masih mentah. Bahan organik yang masih mentah (C/N tinggi), seperti jerami padi, jagung dan sampah kota, apabila diberikan secara langsung ke dalam tanah akan berdampak negatip terhadap ketersediaan hara tanah. Bahan organik langsung akan disantap oleh mikrobia untuk memperoleh energi, dan akan memerlukan hara untuk tumbuh dan berkembang, yang diambil dari tanah yang seyogyanya digunakan oleh tanaman, sehingga justru terjadi persaingan mikrobia dan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada. Oleh karena itu bahan harus kita komposkan dahulu.

Salah satu cara pengomposan yang sederhana adalah proses pengomposan aerob, cara ini paling mudah dilakukan dan hasilnya relatif memuaskan. Sebenarnya proses pengomposan aerobik sampah kota ini, dapat diterapkan dalam skala kecil. Yaitu sampah yang telah diambil dari rumah tangga yang telah dipisahkan dari sampah anorganik ditumpuk disuatu tempat dengan ketinggian tidak lebih dari 1,5 m, kemudian tumpukan sampah ini diusahakan jangan terjadi pemadatan untuk menjamin pasokan aliran udara (aerasi) di antara celah-celah antar sampah. Setelah itu aktifitas biologi (mikrobia) mulai berjalan untuk mulai proses perombakan sampah organik. Proses perombakan aerobik ini berlangsung kurang lebih dalam 45 hari.

Selama proses pengomposan berlangsung perlu kondisi kelembaban dan sirkulasi udara yang cukup baik untuk aerasi. Pada hari ke 5-25 suhu dalam tumpukan akan meningkat. Tumpukan bahan semakin tambah hari akan semakin menyusut. Selama pengomposan dalam keadaan aerob ini tidak menimbulkan bau busuk bahkan sering kali menimbulkan aroma yang menyegarkan. Proses akan lebih cepat jika kita siramkan air kencing sapi, domba dan lainnya. Unsur amoniak (N) dari kencing ini akan memacu proses perombakan. Atau dapat kita tambahkan hara (pupuk). Untuk menjaga kelembaban perlu penyiraman secara periodik. Pembalikan bahan perlu dilakukan. Kompos sudah matang jika temperaatur stabil dan tidak panas lagi serta bentuk fisiknya berubah. Oleh karena itu sumber bahan organik yang dapat kita gunakan dapat kita cari dari yang ada disekitar kita, sehingga saatnya kita menuju ke pertanian organik.

PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN NITROGEN TERHADAP TANAMAN

PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN NITROGEN TERHADAP TANAMAN
ABSTRAK
Jagung manis merupakan tanaman yang responsif terhadap pemupukan. Pupuk nitrogen merupakan kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi jagung. Dosis pupuk Nitrogen yang direkomedasikan untuk tanaman jagung manis adalah cukup tinggi yaitu 200 N kg/ha. Penggunaan pupuk anorganik mempunyai beberapa kelemahan yaitu antara lain harga relatif mahal, dan penggunaan dosis yang berlebihan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apalagi kalau penggunaannya secara terus-menerus dalam waktu lama, dapat menyebabkan produktivitas lahan menurun, karena terjadi degradasi atau penurunan kesuburan tanah. Alternatif usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah pertanian secara berkelanjutan adalah dengan pemberian bahan organik. Penambahan bahan organik sangat membantu dalam memperbaiki tanah yang terdegradasi, karena pemakaian pupuk organik dapat mengikat unsur hara yang mudah hilang serta membantu dalam penyediaan unsur hara tanah sehinnga efisiensi pemupukan menjadi lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi pupuk organik dan anorganik dengan maksud mengurangi penggunaan dosis pupuk urea tanpa menurunkan pertumbuhan dan hasil jagung manis di lahan kering.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2004 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Karang Ploso Malang. Ketinggian tempat penelitian adalah 513 meter dpl, kondisi lahan kering jenis Inseptisol dengan pH 6.4. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari 12 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali, meliputi : P0 = tanpa perlakuan pemupukan, P1 = 200 N (dosis rekomendasi), P2 = Kompos rami 10 t/ha, P3 = Pupuk kandang sapi 10 t/ha, P4 = Kompos rami 10 t/ha + 200 kg N/ha, P5 = Kompos rami 10 t/ha + 150 kg N/ha, P6 = Kompos rami 10 t/ha + 100 kg N/ha, P7 = Kompos rami 10 t/ha + 50 kg N/ha, P8 = Pupuk kandang sapi 10 t/ha + 200 kg N/ha, P9 = Pupuk kandang sapi 10 t/ha + 150 kg N/ha, P10 = Pupuk kandang sapi 10 t/ha + 100 kg N/ha, P11 = Pupuk kandang sapi 10 t/ha +50 kg N/ha.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penggunaan pupuk organik maupun anorganik meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis, dimana produksi jagung manis meningkat sebesar 58,91% untuk perlakuan pupuk organik dan 241,33% untuk perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, yaitu hanya mampu menghasilkan 3,627 ton/ha. Penggunaan pupuk anorganik lebih meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, dimana hasil yang dicapai meningkat sebesar 114,8% dibandingkan perlakuan pupuk organik yang menghasilkan 5,7635 ton/ha. Kombinasi pupuk organik 10 ton/ha + anorganik (urea) 150 kg N/ha mampu meningkatkan hasil sebesar 20,42% dibandingkan perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi, dan meningkat sebesar 158,66% dibandingkan perlakuan poupuk organik. Kombinasi pupuk organik + urea 200 kg N/ha mampu meningkatkan hasil sebesar 17,26% dibandingkan perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi, dan bila dibandingkan dengan pupuk organik maka hasil meningkat sebesar 151,88%. Penggunaan pupuk organik baik berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik (urea) sebanyak 50 kg N/ha. Sebagai pupuk organik, kompos rami dan pupuk kandang sapi mempunyai potensi yang sama baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.

ABSTRACT
Sweet corn represent responsive crop to fertilizer application. Nitrogen fertilizer represent main key in increasing the corn production. Nitrogen fertilizer dose recommended for sweet corn crop is high enough, that is 200 N kg/ha. Using inorganic fertilizer have some weakness, that are for example high cost relative, and use abundant dose can cause environmental contamination and surely if its use continually during in the long time, can cause decreasing of farm productivity, because of the soil fertility degradation. Effort alternative to repair or to improve farmland fertility sustainable that are with organic matter. Organic matter addition very assistive in repairing soil which is degrade, because organic fertilizer usage can fasten soil nutrients that easy to disappear and also assist in ready soil element so fertilization efficiency become higher. Organic substance addition into soil can be done with residues or wastes of animal feces and crop. This research objective is to get inorganic and organic fertilizer combination for the purpose to decrease dose at using urea fertilizer without degrading growth and yield of sweet corn in dry farming.

The study was conducted from March 2004 until June 2004, at the field trial of research institute for tobacco and fibre crops (Balitas) Karang Ploso Malang. It is located at an altitude of 513 m above sea level, in dryland areas Inceptisol soil with pH 6,4. This research employ the experimental method of randomized block design comprising of twelve treatments and tree replications each, those are : P0 = without manure fertilizer ; P1= the inorganic fertilizer as according to recommendation (200 kg N/ha); P2= rammy compost 10 t/h ; P3= cow manure 10 t/ha; P4= rammy compost+200 kg N/ha; P5 = rammmy compost +150 kg N/ha; P6= rammy compost+100 kg N/ha; P7= rammy compost +50 kg N/ha; P8= cow manure+ 200 kg N/ha; P9 =cow manure+ 150 kg N/ha; P10 =cow manure+100 kg N/ha ; P11=cow manure + 50 kg N/ha.

The used organic and inorganic fertilizer can increase growth and yield of sweet corn. Yield of sweet corn increase until 58,91% with organic fertilizer treatment. The yield of sweet corn increase until 241,33% with inorganic fertilizer recomendation dose. It’s can bigger than not fertilizer treatment, that can produce only 3,627 ton/ha. The used inorganic fertilizer is bigger than organic fertilizer, it’s can increase until 114,8% from yield of organic fertilizer treatment, that can produce only 5,7635 ton/ha. Combination of organic fertilizer 10 ton/ha + urea dose 150 kg N/ha can increase yield until 20,42% compare inorganic fertilizer recomendation dose. Combination of organic fertilizer 10 ton/ha + urea dose 200 kg N/ha can increase yield on until 17,26% compare inorganic fertilizer recomendation dose. If we compare with organic fertilizer, yield of P5 and P9 to witness increase until 158,66% and yield of P4 and P8 increase until 151,88%. Using organic fertilizer originate from rummy compost and cow manure can to decrease dose at using inorganic (urea) fertilizer 50 kg N/ha. Between rummy compost and cow manure give same potentially to increase the growth and yield of sweet corn, can have serve the purpose as cow manure substitute.

PENDAHULUAN
Di Indonesia produksi jagung manis di tingkat petani masih sangat rendah. Banyak kendala yang dihadapi dalam pengusahaan jagung manis, salah satunya adalah rendahnya kesuburan tanah dan mahalnya harga pupuk kimia (anorganik). Tanaman jagung manis merupakan tanaman yang responsif terhadap pemupukan. Pemupukan sangat penting karena menentukan tingkat pertumbuhan dan hasil baik kuantitatif maupun kualitatif. Pupuk nitrogen merupakan kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi jagung. Absorbsi N oleh tanaman jagung berlangsung selama pertumbuhannya. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang baik maka unsur hara Nitrogen dalam tanah harus cukup tersedia selama fase pertumbuhan tersebut (Sutoro, Soelaeman dan Iskandar, 1988).

Kecenderungan petani untuk saat ini adalah menggunakan pupuk kimia (anorganik) karena alasan kepraktisannya. Padahal penggunaan pupuk anorganik mempunyai beberapa kelemahan yaitu antara lain harga relatif mahal, dan penggunaan dosis yang berlebihan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apalagi kalau penggunaannya secara terus-menerus dalam waktu lama akan dapat menyebabkan produktivitas lahan menurun. Alternatif usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah pertanian secara berkelanjutan adalah dengan pemberian bahan organik. Penambahan bahan organik ke dalam tanah dapat dilakukan dengan pemberian sisa atau limbah tanaman dan kotoran hewan. Pemanfaatan limbah tersebut dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan dan menekan biaya produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2002), bahwa peningkatan harga pupuk kimia mendorong kita untuk menggunakaan pupuk organik sebagai teknologi alternatif karena mempunyai harga relatif lebih murah dan memberikan pengaruh positif terhadap tanah dan lingkungan.

Penambahan bahan organik sangat membantu dalam memperbaiki tanah yang terdegradasi, karena pemakaian pupuk organik dapat mengikat unsur hara yang mudah hilang serta membantu dalam penyediaan unsur hara tanah sehingga efisiensi pemupukan menjadi lebih tinggi. Hal ini didukung oleh pendapat Rukmana (1995), bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, pemakaian pupuk organik hendaknya diimbangi dengan pupuk buatan supaya keduanya saling melengkapi. Salah satu pupuk yang mengandung N tinggi adalah urea (45%N). Hal ini sesuai dengan pendapat Hegde dan Dwivedi (1993), bahwa pemberian bahan organik ke dalam tanah dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia melalui perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta mempunyai pengaruh nyata pada hasil tanaman.

Pemberian pupuk organik saja belum menjamin kecukupan unsur hara bagi tanaman tetapi dapat memberikan kondisi yang lebih baik bagi pertumbuhan akar sehingga penyerapan unsur hara optimal. Ditambahkan oleh Hairiah et al., (2000), bahwa bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan mengurangi kehilangan unsur hara yang ditambahkan melalui pemupukan sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Oleh karena itu guna meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk perlu adanya penelitian tentang pemberian pupuk organik dengan anorganik (urea), dengan maksud mengurangi pengunaan dosis pupuk anorganik tanpa menurunkan pertumbuhan dan produksi jagung manis.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi jenis pupuk organik dan anorganik (urea), yang dapat mengurangi penggunaan dosis pupuk urea tanpa menurunkan pertumbuhan dan hasil jagung manis di lahan kering.

METODE PENELITIAN
Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret 2004 sampai Juni 2004 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Karang Ploso Malang. Ketinggian tempat penelitian adalah 513 meter dpl, kondisi lahan kering jenis Inceptisol dengan pH 6.4 dan bertekstur liat.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri atas 12 perlakuan, meliputi :
P0 = tanpa perlakuan pemupukan
P1 = Urea 200 kg N/ha (dosis rekomendasi)
P2 = Kompos rami 10 t/ha 
P3 = Pupuk kandang sapi 10 t/ha 
P4 = K. rami 10 t/ha + 200 kg N/ha 
P5 = K. rami 10 t/ha + 150 kg N/ha 
P6 = K. rami 10 t/ha + 100 kg N/ha 
P7 = K. rami 10 t/ha + 50 kg N/ha 
P8 = P. K. sapi 10 t/ha + 200 kg N/ha 
P9 = P. K. sapi 10 t/ha + 150 kg N/ha
P10 = P. K. sapi 10 t/ha + 100 kg N/ha
P11 = P. K. sapi 10 t/ha + 50 kg N/ha

Pengamatan dilakukan secara destruktif dan non destruktif dengan interval 10 hari sekali, yang dimulai saat tanaman umur 14 hst, 24 hst, 34 hst, 44 hst dan 54 hst serta panen. Peubah yang diamati dibedakan atas peubah pertumbuhan dan hasil. Peubah pertumbuhan meliputi : tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot kering tanaman.

Komponen hasil meliputi :
  • Bobot tongkol dengan klobot per tanaman dan per petak (g)
  • Bobot tongkol tanpa klobot per tanaman dan per petak dalam konversi ton/ha (hasil)
  • Diameter tongkol (mm)
  • Panjang tongkol (cm)
  • Kadar gula biji (%)
Pengamatan penunjang meliputi :
  • Analisis tanah awal.
  • Analisis pupuk kandang sapi dan kompos rami, yang meliputi : C/N ratio, bahan organik, C-organik, dan kandungan N, P, K.
  • Analisis N-daun.
  • Analisis laju fotosintesa dan respirasi.
  • Analisis N-tanah akhir (setelah panen)
  • Data cuaca selama percobaan berlangsung dari stasiun klimatologi Karangploso-Malang.
Data yang diperoleh selama pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (Anova). Apabila terdapat perbedaan diantara perlakuan yang dicobakan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda Duncan 5%. 

Pembahasan
Pengaruh pupuk organik dan anorganik dibandingkan tanpa pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

Pemberian pupuk organik, baik kompos rami maupun pupuk kandang sapi (P2 dan P3) serta pupuk anorganik N dalam bentuk urea (P1) mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, hal ini terlihat pada pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan berat kering tanaman. Hal ini berkaitan dengan fungsi masing-masing pupuk tersebut terhadap pertumbuhan tanaman. Pupuk organik secara umum mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Dengan kondisi tanah yang baik akan menciptakan lingkungan tumbuh yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman, yaitu tercermin pada penampilan tanaman yang berupa tinggi, jumlah daun, luas daun dan bobot kering tanaman yang baik. Walaupun genotifnya sama, dalam lingkungan yang berbeda akan berbeda pula penampilan suatu tanaman. Adapun peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah adalah menjadikan tanah berstruktur remah, demikian pula dengan aerasi tanah menjadi lebih baik karena porositas atau ruang pori bertambah. Aerasi tanah berhubungan dengan kandungan air, gas O2, N2 dan CO2 didalam tanah, yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan akar dan kehidupan mikroorganisme tanah.

Pemberian pupuk organik baik yang berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi sangat mendukung sekali pada penelitian ini karena tanah tempat penelitian merupakan lahan kering dengan kondisi tanah yang padat, keras dan liat serta kandungan C-organiknya rendah (berdasarkan hasil analisi tanah awal). Kandungan C-organik yang rendah disebabkan oleh masukan hara pada lahan hanya berupa pupuk anorganik tanpa diimbangi dengan pupuk organik. Kondisi tanah yang padat dan keras, antara lain disebabkan oleh sistem pengolahan tanah yang selalu menggunakan traktor. Dengan adanya tekanan yang besar dari alat berat tersebut akan menyebabkan tanah mengalami pemadatan dan keras, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan kesuburan tanah, sehingga dengan penambahan bahan organik sangat membantu dalam memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Karama et al., (1994), bahwa tanah yang kandungan bahan organiknya tinggi lebih mudah diolah dari pada tanah yang kandungan bahan organiknya rendah. Pemberian bahan organik pada lahan kering dapat memperbaiki sifat tanah, yaitu menurunkan kepadatan tanah, peningkatan porositas total dan meningkatkan kapasitas memegang air. Hal ini terlihat dengan pemberian pupuk organik baik berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi (P2, P3), maka produksi yang dicapai meningkat sebesar 58,91% bila dibandingkan dengan perlakuan P0 (tanpa pemupukan) yang hanya mampu menghasilkan produksi 3,627 ton/ha.

Nitrogen selalu bergerak dalam tubuh tanaman, daun yang lebih muda dan organ-organ yang aktif tumbuh mengambil N lebih banyak dari daun-daun bagian bawah dan telah tua, sehingga efisiensi N pertama kali tampak pada daun-daun yang lebih tua, hal ini sangat mengganggu proses pertumbuhan, antara lain tanaman tumbuh kerdil, menguning dan berkurangnya berat kering dan hasil panen. Kondisi ini tampak jelas pada perlakuan P0 (tanpa perlakuan pupuk organik dan urea), yaitu mempunyai pertumbuhan paling merana. Hasil penelitian menunjukkan P0 memiliki tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan bobot kering tanaman paling rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa jagung manis merupakan tanaman yang perlu unsur hara khususnya N dalam jumlah cukup selama pertumbuhannya. Dengan kecukupan N selama pertumbuhan, maka daun-daun tua dibagian bawah tanaman tidak perlu menstrasfer kebutuhan nutrisinya ke daun-daun muda yang baru tumbuh, yang pada akhirnya akan meningkatkan laju fotosintesa. Hal ini didukung oleh Gardner et al. (1991), bahwa adanya nutrisi yang cukup memungkinkan daun muda maupun tua memenuhi kebutuhan nutrisinya, dan nutrisi yang terbatas lebih sering didistribusikan ke daun–daun muda, sehingga mengurangi laju fotosintesa pada daun yang tua.

Dengan pemupukan N yang cukup, maka pertumbuhan organ-organ tanaman akan sempurna dan fotosintat yang terbentuk akan meningkat, yang pada akhirnya mendukung produksi tanaman. Terlihat dengan pemberian pupuk anorganik (urea) dosis rekomendasi (P1), maka produksi jagung manis yang dicapai meningkat sampai 241,33% bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan (P0).

Pengaruh pupuk organik dibandingkan anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman

Perlakuan pupuk N (urea) dosis rekomendasi (P1) memberikan pengaruh lebih baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis dibandingkan pemberian pupuk organik, baik berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi. Adapun produksi yang dicapai oleh P1 meningkat sebesar 114,8% dibandingkan dengan perlakuan pupuk organik, yang hanya mampu berproduksi 5,7635 ton/ha. Hal ini karena unsur hara yang dikandung oleh pupuk anorganik (urea) lebih cepat tersedia dan kandungan hara N lebih tinggi dibandingkan pupuk organik, sehingga langsung dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan pengaruhnya langsung tampak pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Nitrogen adalah unsur hara utama bagi pertumbuhan organ-organ tanaman karena merupakan penyusun asam amino, amida dan nukleoprotein yang merupakan unsur penting bagi pembelahan sel. Pembelahan sel yang berlangsung baik akan menunjang pertumbuhan tanaman karena pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran, volume, bobot dan jumlah sel. Selain itu unsur hara N berfungsi dalam meningkatkan jumlah klorofil, sehingga apabila N tersedia dalam jumlah cukup, maka akan meningkatkan laju fotosintesis dan pada akhirnya fotosintat yang terbentuk akan banyak.

Pertumbuhan dan hasil yang dicapai pada perlakuan pupuk organik (P2 dan P3) lebih rendah dibandingkan pupuk anorganik (urea), hal ini antara lain disebabkan oleh pemberian pupuk organik sebanyak 10 ton/ha kurang mencukupi kebutuhan tanaman guna menunjang pertumbuhan dan hasil, karena tanah tempat penelitian mempunyai C-organik kategori rendah. Selain itu unsur hara yang dikandung oleh pupuk organik tergolong rendah dibandingkan dengan pupuk anorganik, ditambah lagi sifat dari pupuk organik yang slow release, sehingga unsur hara yang dikandung oleh kompos rami dan pupuk kandang sapi belum dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh tanaman, mengingat jagung manis merupakan tanaman yang berumur pendek (69 hst). Namun untuk jangka panjang, pemakaian pupuk organik memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan penggunaan pupuk anorganik bagi kesuburan dan produktivitas tanah dan tanaman.

Pengaruh kombinasi pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman 
Perlakuan kombinasi pupuk organik dan urea dosis 150 kg N/ha dan 200 kg N/ha mempunyai pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis paling baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal ini karena kondisi tanah yang sangat mendukung bagi perkembangan perakaran maupun proses penyerapanya, selain juga kebutuhan tanaman akan unsur hara tercukupi selama pertumbuhannya, baik yang berasal dari pupuk organik maupun anorganik (urea). Dengan penambahan bahan organik maka sifat pupuk urea yang mudah hilang akan diperkecil karena pupuk organik mampu mengikat unsur hara dan menyediakan unsur hara sesuai kebutuhannya, sehingga dengan adanya pupuk organik efektifitas dan efisiensi pemupukan menjadi lebih tinggi. Adapun peningkatan produksi yang dicapai pada perlakuan kombinasi pupuk organik + urea 150 kg N/ha (P5, P9) sebesar 20,42% dan pada perlakuan kombinasi pupuk organik + urea 200 kg N/ha (P4, P8) meningkat sebesar 17,26% jika dibandingkan perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi (P1).

Perlakuan pemberian pupuk organik + urea 150 kg/ha dan 200 kg/ha mempunyai luas daun paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sehingga laju fotosintesis dan fotosintat yang dihasilkan juga paling tinggi. Seiring dengan peningkatan luas daun dan laju fotosintesis maka produk biomassa yang dihasilkan juga tinggi, tampak perlakuan P4, P5, P8 dan P9 mempunyai bobot kering tanaman paling besar dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 1.). Sesuai dengan pendapat Yunus (1991), bahwa bahan organik yang dikandung oleh pupuk organik mampu bersatu dan membalut partikel-partikel tanah menjadi butiran-butiran tanah yang lebih besar. Butiran-butiran tanah tersebut mampu menyimpan unsur hara anorganik dan menyediakan pada saat tanaman memerlukannya. Selain itu pupuk organik yang diberikan dapat membuat keseimbangan hara di dalam tanah dan meningkatkan mutu fisik tanah dengan membuat tekstur tanah, porositas dan struktur tanah menjadi lebih baik. Peningkatan produksi yang dicapai pada perlakuan kombinasi pupuk organik + pupuk urea 150 kg N/ha (P5, P9) sebesar 158,66% dan pada perlakuan kombinasi pupuk organik + urea 200 kg N/ha (P4, P8) meningkat sebesar 151,88% jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk organik (P2, P3).

Nilai ekonomis tanaman jagung manis adalah berupa tongkol beserta bijinya serta kandungan gula. Tongkol tersebut dapat berupa ukuran (panjang dan diameter), bobot tongkol tanpa klobot dan dengan klobot.

Daun merupakan organ utama pada proses fotosintesis, perlakuan P4, P5, P8 dan P9 memiliki luas daun paling tinggi, sehingga permukaan daun yang aktif melakukan fotosintesis juga semakin besar. Hal ini berkaitan dengan fotosintat (karbohidrat) yang dihasilkan semakin tinggi, terlihat pada tingginya produk biomassa tanaman yang berupa bobot kering tanaman yang dihasilkan. Produk fotosintesis tersebut sebagian besar untuk pembentukan biji dan pembesaran tongkol. Arnon (1975), mengatakan bahwa hasil tanaman jagung sangat ditentukan oleh produksi bahan kering total tanaman persatuan luas. Jumlah bahan kering total yang dihasilkan oleh tanaman tergantung pada keefektifan fotosintesa yang dilakukan oleh tanaman yaitu efisiensi dan luasnya daerah asimilasi. Pada tanaman, daun merupakan organ tanaman yang dapat melakukan proses fotosintesa, dan peningkatan luas daun tanaman akan mendukung dalam pencapaian produksi yang optimal.

Hubungan antara luas daun, bobot kering tanaman dan hasil tongkol (ton/ha) disajikan pada Gambar 2., yakni peningkatan luas daun memberikan pengaruh yang bersifat linier terhadap bobot kering tanaman dan hasil tongkol (ton/ha), masing-masing Y = 0,0262 X - 35,135 dan Y = 0,0071 X – 13,488 , yang dapat diartikan bahwa peningkatan luas daun sebesar 1 cm2 akan meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 0,0262 g dan hasil tongkol 0,0071 ton/ha.

Perlakuan kombinasi pupuk organik dan N dosis 150 kg/ha dan 200 kg/ha memiliki bobot tongkol tanpa klobot dan dengan klobot paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, hal ini disebabkan karena tercukupinya kebutuhan N oleh tanaman selama pembentukan tongkol dan pengisian biji. Sesuai dengan pendapat Koswara (1992), yang mengatakan bahwa N berperan dalam penyempurnaan pollen dan tongkol jagung manis. Sebagian besar energi digunakan untuk penyempurnaan polen dan tongkol pada satu minggu sebelum antesis. Kekurangan N atau adanya gangguan metabolisme N pada kisaran waktu tertentu akan membatasi ukuran tongkol. Oleh karena itu untuk memperoleh produksi tongkol yang tinggi unsur hara N harus tersedia dengan cukup selama fase pertumbuhannya. Hal ini terlihat perbedaannya pada panjang tongkol dan diameter tongkol yang ada, dimana perlakuan P4, P5, P8 dan P9 memiliki panjang dan diameter tongkol paling besar dibandingkan perlakuan yang lain. Hal ini didukung oleh pendapat Mimbar (1990), yang menyatakan bahwa pemupukan N mengakibatkan meningkatnya panjang tongkol dan diameter tongkol jagung, sehingga berat tongkol meningkat. Pada Gambar 3. dapat dijelaskan bahwa peningkatan panjang tongkol 1 cm dan diameter tongkol 1 cm memberikan pengaruh yang bersifat linier terhadap hasil tongkol tanpa klobot per tanaman sebesar 20,547 g dan 75,838 g. ada perlakuan kombinasi pupuk organik + pupuk urea 150 kg N/ha (P5, P9) sebesar 158,66% dan pada perlakuan kombinasi pupuk organik + urea 200 kg N/ha (P4, P8) meningkat sebesar 151,88% jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk organik (P2, P3).

Nilai ekonomis tanaman jagung manis adalah berupa tongkol beserta bijinya serta kandungan gula. Tongkol tersebut dapat berupa ukuran (panjang dan diameter), bobot tongkol tanpa klobot dan dengan klobot.

Daun merupakan organ utama pada proses fotosintesis, perlakuan P4, P5, P8 dan P9 memiliki luas daun paling tinggi, sehingga permukaan daun yang aktif melakukan fotosintesis juga semakin besar. Hal ini berkaitan dengan fotosintat (karbohidrat) yang dihasilkan semakin tinggi, terlihat pada tingginya produk biomassa tanaman yang berupa bobot kering tanaman yang dihasilkan. Produk fotosintesis tersebut sebagian besar untuk pembentukan biji dan pembesaran tongkol. Arnon (1975), mengatakan bahwa hasil tanaman jagung sangat ditentukan oleh produksi bahan kering total tanaman persatuan luas. Jumlah bahan kering total yang dihasilkan oleh tanaman tergantung pada keefektifan fotosintesa yang dilakukan oleh tanaman yaitu efisiensi dan luasnya daerah asimilasi. Pada tanaman, daun merupakan organ tanaman yang dapat melakukan proses fotosintesa, dan peningkatan luas daun tanaman akan mendukung dalam pencapaian produksi yang optimal.

Hubungan antara luas daun, bobot kering tanaman dan hasil tongkol (ton/ha) disajikan pada Gambar 2., yakni peningkatan luas daun memberikan pengaruh yang bersifat linier terhadap bobot kering tanaman dan hasil tongkol (ton/ha), masing-masing Y = 0,0262 X - 35,135 dan Y = 0,0071 X – 13,488 , yang dapat diartikan bahwa peningkatan luas daun sebesar 1 cm2 akan meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 0,0262 g dan hasil tongkol 0,0071 ton/ha

Nugroho, Basuki dan Nasution (1999), menyatakan bahwa peningkatan bobot tongkol pada tanaman jagung manis seiring dengan meningkatnya efisiensi proses fotosintesis maupun laju translokasi fotosintat ke bagian tongkol. Perlakuan P4, P5, P8 dan P9 mempunyai laju fotosintesis dan produk biomasa (bobot kering tanaman) yang tinggi karena dengan tersedianya N dalam jumlah cukup akan mempercepat pengubahan gula heksosa untuk mengalami polimerisasi menjadi tepung dan komponen struktural seperti sellulose, hemisellulose, dll, dan bisa juga dirubah menjadi polisakarida (sebagai cadangan makanan) atau sukrose yang terbentuk segera masuk ke sistem pernafasan sel dan dibongkar untuk menghasilkan energi guna perkembangan dan pembesaran tongkol serta pengisian biji. Cepatnya proses pengubahan karbohidrat lebih lanjut terkait dan diimbangi dengan laju respirasi. Terlihat bahwa laju respirasi yang tinggi terjadi pada perlakuan P1, P4, P5, P8 dan P9, yaitu memiliki pertumbuhan vegetatif dan generatif yang paling baik dan memiliki produksi tongkol yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner et al. (1991), bahwa produk fotosintesis akan segera digunakan untuk cadangan makanan, pembentukan senyawa struktural, respirasi dan pertumbuhan sel-sel aktif. Seberapa besar efisiensi tanaman membagikan hasil fotosintesa ke organ mempunyai pengaruh besar terhadap hasil panen.

Selama memasuki fase reproduktif (perkembangan tongkol dan pengisian biji), maka daerah pemanfaatan reproduksi menjadi sangat kuat dalam memanfaatkan hasil fotosintesis dan membatasi pembagian hasil asimilasi untuk daerah pertumbuhan vegetatif (terhenti). Hal ini menyebabkan fotosintat yang dihasilkan difokuskan untuk ditransfer ke bagian tongkol guna perkembangannya serta untuk pengisian biji. Pertumbuhan vegetatif pada perlakuan P4, P5, P8 dan P9 adalah paling baik sehingga produk hasil asimilasi yang dicapai juga banyak, sehingga terlihat bobot tongkol yang dihasilkan paling tinggi dibandingkan perlakuan yang lain. Selain juga letak tongkol adalah disekitar daun-daun yang aktif melakukan proses fotosintesis sehingga tranfer fotosintat secara cepat langsung diterima oleh tongkol dan biji.

Diatas telah disebutkan bahwa energi yang dihasilkan dari proses respirasi selama fase generatif, banyak dimanfaatkan untuk penyempurnaan polen dan perkembangan tongkol. Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa laju respirasi tertinggi dicapai oleh kombinasi perlakuan pupuk organik dengan pupuk anorganik N 200 kg/ha dan diikuti dengan N dosis 150 kg/ha. Oleh karena itu proses pembentukan biji dan pengisian biji pada perlakuan tersebut berlangsung dengan baik, akibatnya produksi bobot tongkol segar per tanaman dan per petak baik dengan klobot maupun tanpa klobot menunjukkan hasil tertinggi, dengan kondisi tongkol terisi biji penuh. Sedangkan untuk perlakuan kontrol (tanpa pemupukan) ditemukan hampir semua tongkol yang ada tidak ada bijinya.

n hasil tongkol (ton/ha) disajikan pada Gambar 2., yakni peningkatan luas daun memberikan pengaruh yang bersifat linier terhadap bobot kering tanaman dan hasil tongkol (ton/ha), masing-masing Y = 0,0262 X - 35,135 dan Y = 0,0071 X – 13,488 , yang dapat diartikan bahwa peningkatan luas daun sebesar 1 cm2 akan meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 0,0262 g dan hasil tongkol 0,0071 ton/ha. 

Berdasarkan persamaan regresi pada Gambar 4 dapat dikatakan bahwa peningkatan dosis pupuk urea menunjukkan produksi yang terus meningkat, yang berarti bahwa dengan pemberian urea sampai 200 kg N/ha baik untuk kompos rami maupun pupuk kandang sapi masih belum dicapai titik optimum. Hal ini antara lain disebabkan oleh kondisi lahan kering tersebut mempunyai kandungan unsur hara N dan C-organik rendah, sehingga dengan pemberian pupuk organik sebanyak 10 ton/ha masih belum mencukupi kebutuhan tanaman, atau disebabkan juga oleh pupuk organik yang bersifat slow release dalam menyediakan unsur hara, sehingga belum dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh tanaman mengingat jagung manis merupakan tanaman yang berumur pendek. Kemungkinan lain adalah sebagian pupuk urea tercuci karena selama penelitian berlangsung ada beberapa kali turun hujan lebat.

Berdasarkan pengamatan secara umum terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, menunjukkan bahwa pemakaian pupuk organik, baik berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi dapat menurunkan pemakaian pupuk anorganik (urea) sebanyak 50 kg N/ha, tampak pada pemakaian urea 150 kg N/ha tidak berbeda nyata dengan 200 kg N/ha, walaupun dosis urea optimum belum didapatkan sampai dengan pemberian 200 kg N/ha. Hal ini terbukti bahwa pemberian pupuk organik mampu memperbaiki kondisi fisik, biologi dan kimia lahan kering tempat penelitian berlangsung, sehingga pupuk urea yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tanaman, selain juga pelepasan hara yang dikandung pupuk organik mampu menyumbangkan nutrisi bagi tanaman, sehingga pemberian urea 150 kg N/ha merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan, selebihnya dipenuhi oleh pupuk organik yang diberikan.

Tidak adanya perbedaan nyata antara perlakuan kompos rami dan pupuk kandang sapi antara lain disebabkan oleh unsur hara yang dikandung oleh kedua pupuk organik tersebut relatif sama, selain itu dosis pupuk yang diberikan sama yaitu 10 ton/ha.

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa kadar gula pada biji jagung manis tidak berbeda nyata antar perlakuan yang dicobakan, hal ini antara lain berkaitan dengan sifat gen Su-1 (Sugary), bt-2 (brittle) ataupun sh-2 (Shrunken) yang stabil (untuk Honey Jean) sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh perlakuan yang dicobakan.

KESIMPULAN DAN SARAN;
Kesimpulan ;
  1. Penggunaan pupuk organik maupun anorganik meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis, dimana produksi jagung manis meningkat sebesar 58,91% untuk perlakuan pupuk organik dan 241,33% untuk perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, yaitu hanya mampu menghasilkan 3,627 ton/ha.
  2. Penggunaan pupuk anorganik lebih meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, dimana hasil yang dicapai meningkat sebesar 114,8% dibandingkan perlakuan pupuk organik yang menghasilkan 5,7635 ton/ha.
  3. Kombinasi pupuk organik 10 ton/ha + anorganik (urea) 150 kg N/ha mampu meningkatkan hasil sebesar 20,42% dibandingkan perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi, dan meningkat sebesar 158,66% dibandingkan perlakuan poupuk organik. Kombinasi pupuk organik + urea 200 kg N/ha mampu meningkatkan hasil sebesar 17,26% dibandingkan perlakuan pupuk anorganik dosis rekomendasi, dan bila dibandingkan dengan pupuk organik maka hasil meningkat sebesar 151,88%.
  4. Penggunaan pupuk organik baik berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik (urea) sebanyak 50 kg N/ha.
  5. Sebagai pupuk organik, kompos rami dan pupuk kandang sapi mempunyai potensi yang sama baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.
Saran-saran ;
  • Penggunaan pupuk masih dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, sehingga disarankan perlu dilakukan. 
  • Penggunaan kombinasi pupuk organik 10 ton/ha + anorganik (urea) 150 kg N/ha dianjurkan sebagai dosis pemupukan jagung manis didaerah tersebut. 
  • Penggunaan pupuk organik yang berasal dari limbah dekortikasi rami yang telah dikomposkan dapat digunakan sebagai pengganti pupuk kandang kotoran sapi. 
DAFTAR PUSTAKA ;
  • Arnon. I, 1975. Mineral Nutrition of Maize. Int. Potash. Ints. Worbloufen. Bern Switzerland. 
  • Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia. Jakarta. 
  • Hairiah, K., H., Widianto ., S.R. Utami., D. Suprayogo ., Sunaryo., S.M. Sitompul., B. Lusiana., R. Mulia ., M.Van Noordwijk dan G. Cadisch, 2000. Pengelolaan Tanah Masam Secara Biologi. ICRAF. Bogor. 
  • Hegde, D.M. and B.S, Dwivedi. 1993. Integrated Nutrient Supply and Management as a Strategy To Meet Nutrient Demand In : Fert News. 38: 49-59. 
  • Karama, A.S., A.R. Marzuki., dan I. Manwan., 1994. Penggunaan Pupuk Organik Pada Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP). Pusat Penelitian dan Pengembangan . Bagian Teknologi Pertanian. Jakarta. 
  • Koswara .J , 1992. Pengaruh Dosis dan Waktu Pemberian Pupuk N dan K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis Seleksi Dermaga 2 (SD2) J.II. Pert. Indonesia 2(1) : 1-6. 
  • Mimbar, S.M. 1990. Pola Pertumbuhan dan Hasil Jagung Kretek Karena Pengaruh Pupuk N. Agrivita 13(3): 82-89. 
  • Nugroho, A., N.Basuki dan M.A. Nasution, 1999. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang dan Kalium Terhadap Kualitas Jagung Manis pada Lahan Kering. Habitat 10 (105). p. 33-38. 
  • Rukmana, R. 1995. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Yogyakarta. 
  • Sutanto. R, 2002. Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta. 
  • Sutoro, Y., Soelaeman dan Iskandar, 1988. Budidaya Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan . Bogor. 
  • Yunus, M. 1991. Pengelolaan Limbah Peternakan. Jurusan Produksi Ternak LUW-Universitas Brawijaya. Animal Husbandry Project. p.117. 

Jenis-Jenis Pupuk dan Fungsi Pupuk

JENIS DAN FUNGSI PUPUK
Fungsi pupuk adalah sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen , fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsure-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrien). Berdasarkan asal atau kejadiannya, pupuk dapat digolongkan sebagai berikut :

a. Pupuk Organik
Pupuk organic adalah semua sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsure hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukan oleh mikro organisme. Selain pupuk anorganik, pupuk organic juga harus dberikan pada tanaman. Macam-macam pupuk organic adalah sebagi berikut:

1. Kompos
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.

2. Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman. Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.

3. Pupuk kandang
pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O (tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya.

b. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan (dari senyawa anorganik) adlah puuk yang sengaja dibuat oleh manusia dalam pabrik dan mengandung unsure hara tertentu dalam kadar tinggi. Pupuk anorganik digunakan untuk mengatasi kekurangan mineral murni dari alam yang diperlukan tumbuhan untuk hidup secara wajar. Puuk anorganik dapat menghasilkan bulir hijau dan yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.

Berdasarkan kandungan unsure-unsurnya, pupuk anorganik digolongkan sebagai berikut :
1. Pupuk Tunggal
Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung hanya satu jenis unsure hara sebagai penambah kesuburan. Contoh pupuk tunggal yaitu pupuk N, P, dan K.

a. Pupuk Nitrogen
Fungsi nitrogen (N) bagi tumbuhan adalah:
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman, dan merangsang pertunasan.
  • Memperbaiki kualitas, terutama kandungan proteinnya.
  • Menyediakan bahan makanan bagi mikroba (jasad renik)
Nitrogen diserap dalam tanah berbentuk ion nitrat atau ammonium. Kemudian, didalam tumbuhan bereaksi dengan karbon membentuk asam amino, selanjutnya berubah menjadi protein. Nitrogen termasuk unsure yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman karena 16-18% protein terdiri dari nitrogen. Pupuk yang paling banyak mengandung unsure nitrogen adalah pupuk urea.

Macam-macam pupuk nitrogen sebagai berikut.
- pupuk urea(CO(NH2)2) yang mengandung 47% nitrogen (paling tinggi dibandingkan dengan pupuk nitrogen jeni lain). Urea sangat mudah larut dalam air dan juga mudah diubah menjadi ion nitrat (NO3-) yang mudah diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Cara pembuatan urea :

2NH3(g) +CO2(g) CO(NH2)2(s) +H2O (l)
  • ­pupuk ZA (Zwavel Ammonium) atau ammonium sulfat ((NH4)2SO4) yang mengandung 21% nitrogen.
  • Pupuk ammonium klorida (salmiak) atau NH4Cl, mengandung 20% nitrogen.
  • Pupuk ASN (ammonium Sulfat Nitrat) atau [(NH4)3(SO4)(NO3)], mengandung 23-26% nitrogen.
  • Pupuk natrium nitrat atau sodium nitrat (NaNO3), mengandung 15% nitrogen.
b. Pupuk Fosforus
Fosforus (P) bagi tanaman berperan dalam proses:
  • respirasi dan fotosintesis
  • penyusunan asam nukleat
  • pembentukan bibit tanaman dan penghasil buah.
  • Perangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, dan,
  • Mempercepat masa panen sehingga dapat mengurangi resiko keterlambatan waktu panen.
Unsure fosfor diperlukan diperlukan dalam jumlah lebih sedikit daripada unsure nitrogen. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk apatit kalsium fosfat, FePO4, dan AlPO4.

Macam-macam pupuk fosfor sebagai berikut :
  • pupuk superfosfat (Ca(H2PO4)2) yang sangat mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Contoh: Engkel superfosfat (ES) yang mengandung sekitar 15% P2O5, Double superfosfat (DS) yang mengandung sekitar 30% P2O5, dan Tripel Superfosfat (TSP) yang mengandung sekitar 45%P2O5.
  • Pupuk FMP (Fused Magnesium Phosphate) atau Mg3(PO4)2 yang baik digunakan pada tanah yang banyak mengandung besi dan aluminium.
  • Pupuk aluminium fosfat (AlPO4)
  • Pupuk besi (III) fosfat (FePO4)
c. Pupuk Kalium
Fungsi kalium bagi tanaman adalah
  • Mempengaruhi susunan dan mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman.
  • Mempercepat metabolisme unsure nitrogen,
  • Mencegah bunga dan buah agar tidak mudah gugur.
Macam-macam pupuk kalium sebagai berikut:
  • pupuk kalium klorida atau potassium klorida (KCl). Ada 2 macam pupuk KCl yang beredar di pasaran, yaitu KCl 80 (mengandung 50% K2O) dan KCl 90 (mengandung 53% K2O).
  • Pupuk ZK (Zwavel Kalium) atau kalium sulfat (K2SO4) yang baik digunakan pada tanaman yang tidak tahan te rhadap konsentrasi ion klorida tinggi. Ada 2 macam pupuk ZK yang beredar di pasaran, yaitu ZK 90 (mengandung 50% K2O) dan ZK 96 (mengandung 53% K2O).
2. Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsure hara yang digunakan untuk menambah kesuburan tanah. Contoh pupuk majemuk yaitu NP, NK, dan NPK. Pupuk majemuk yang paling banyak digunakan adalah pupuk NPK yang mengandung senyawa ammonium nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogen fosfat (NH4H2PO4), dan kalium klorida (KCL).

Kadar unsure hara N, P, dan K dalam pupuk majemuk dinyatakan dengan komposisi angka tertentu. Misalnya pupuk NPK 10-20-15 berarti bahwa dalam pupuk itu terdapat 10% nitrogen, 20% fosfor (sebagai P2O5)dan 15% kalium (sebagai K2O).

Penggunaan pupuk majemuk harus disesuaikan dengan kebutuhan dari jenis tanaman yang akan dipupuk karena setiap jenis tanaman memerlukan perbandingan N, P, dan K tertentu. Di Indonesia beredar beberapa jenis pupuk majemuk dengan komposisi N, P, dan K yang beragam.

Nilai suatu pupuk ditentukan oleh hal-hal berikut :
  • Kadar unsure, makin tinggi kadar unsure, akin tinggi nilai pupuk.
  • Higroskopisitas, pupuk buatan mulai menarik air pada kelembaban 51-99%. Pupuk yang mudah menarik air, misalnya urea mengalami masalah pada penympanan, sifat higroskopis secara langsung tidak mempengaruhi nilai pupuk sebagai penambah kesuburan tanah.
  • Kelarutan, mempengaruhi mudah tidaknya unsure-unsur yang terkandung diambil oleh tanaman.
  • Cara kerja, bekerjanya pupuk adalah waktu yang diperlukan hingga pupuk tersebut dapat dihisap oleh tanaman dan memperlihatkan pengaruhnya. Bekerjanya pupuk sangat mempengaruhi waktu dan cara penggunaan pupuk.
  • Keasaman, beberapa jenis pupuk dapat dipakai untuk meningkatkan, mempetahankan, atau mengurai keasaman tanah.
Pengaruh negatif penggunaan pupuk
a. Pengaruh negatif pupuk urea;
  • tanah akan bersifat agak asam
  • penggunaan urea berlebihan dalam kurun waktu yang berdekatan akan mengurangi proses tumbuhnya kecambah dari suatu bibit dan mengurangi daya serap akar.
b. Pengaruh negatif pupuk superfosfat;
  • Jika kelebihan superfosfat, tanah akan kelebihan asam. Hal ini dikarenakan superfosfat dapat meningkatkan konsentrasi hydrogen dalam tanah.
  • Dapat bersifat racun bagi tanaman jika diberikan pada tanaman yang tumbuh pada tanah yang mengandung banyak unsure aluminium. Hal ini dikarenakan superfosfat dapat mempercepat pembentukan racun aluminium, atau toxic aluminium.
c. Pengaruh negatif pupuk ammonium sulfat;
  • Dapat bersifat racun bagi tanah jika diberikan pada tanah tanpa disertai kapur. Tanpa adanya batuan kapur, ammonium sulfat akan bebas bereaksi dengan besi, aluminium, dan mangan membentuk racun besi, aluminium, dan mangan.
  • Kelebihan pupuk ammonium sulfat mengakibatkan tanah besifat asam. Dengan demikian, pupuk ini harus diberikan pada tanah yang bersifat basa.