Showing posts with label gereja. Show all posts
Showing posts with label gereja. Show all posts

Saturday, 27 October 2018

Pengertian Gereja dan Gambaran Gereja Secara Rohani

Pengertian Gereja
Gereja telah ada sejak jaman rasul-rasul mendapatkan perintah dari Tuhan untuk menyebarkan kabar sukacita dan menjadikan semua bangsa sebagai muridNya. Gereja mula-mula saat itu merupakan sekumpulan orang percaya yang bersekutu untuk beribadah kepada Tuhan. Dengan adanya perkembangan gereja yang semakin luas pada setiap jamannya, maka kemudian gereja dibagi kedalam wilayah-wilayah dan tempat yang tetap untuk beribadah, dari hal itu kemudian berkembanglah pengertian akan sebuah gereja, berbagai pengertian dan pemaknaan tersebut sebenarnya menuju kepada esensi yang sama secara non fisik mengenai arti gereja tersebut.

Dalam perkembangannya, secara fisik orang mengenal gereja sebagai sebuah bangunan tempat umat Kristiani berkumpul untuk beribadah. Sebenarnya bangunan gereja tersebut merupakan representasi makna dari gereja sebagai jemaat yang dinaunginya. Tetapi kemudian pada perkembangan selanjutnya gereja hanya dianggap sebagai sebuah bangunan saja, dan hanya sedikit orang yang mengetahui makna dan arti dari gereja yang sebenarnya. Dilihat dari asal usulnya Gereja dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari Bahasa Portugis “igreja”. Dalam Bahasa Portugis merupakan serapan dari Bahasa Latin yang diserap pula dari Bahasa Yunani “ekklêsia” yang berarti dipanggil keluar (ek = keluar; klesia dari kata kaleo = memanggil). Jadi ekklesia berarti kumpulan orang yang dipanggil ke luar (dari dunia ini) untuk dapat memuliakan nama Allah. Dalam perkembangannya, seperti yang telah disinggung sebelumnya gereja dalam Bahasa Indonesia memiliki beberapa arti:
  1. Arti pertama ialah “umat” atau lebih tepat persekutuan orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen. Jadi, gereja pertama-tama bukan sebuah gedung.
  2. Arti kedua adalah sebuah perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Bisa bertempat di rumah kediaman, lapangan, ruangan di hotel, atau pun tempat rekreasi. Jadi, tidak melulu mesti di sebuah gedung khusus ibadah.
  3. Arti ketiga ialah mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristen. Misalkan Gereja Katolik, Gereja Protestan, dll. d. Arti keempat ialah lembaga (administratif) daripada sebuah mazhab Kristen. Misalkan kalimat “Gereja menentang perang Irak”.
  4. Arti terakhir dan juga arti umum adalah sebuah “rumah ibadah” umat Kristen, di mana umat bisa berdoa atau bersembahyang. Gereja (untuk arti pertama) terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta, yaitu ketika Roh Kudus yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus. Dalam Alkitab Perjanjian Baru kata gereja dipakai untuk menggambarkan sifat-sifat gereja (jemaat) tersebut. Dapat diketahui beberapa macam sebutan gereja tersebut antara lain:
  • Gereja Universal Gereja Universal adalah gereja yang terdiri dari semua orang yang memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Di sini digambarkan bahwa seluruh jemaat yang percaya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah bagian dari gereja universal tersebut, sehingga tidak ada perbedaan diantara tiap-tiap anggota gereja karena Kristus telah menjadi pemersatu jemaat-jemaat tersebut. Gambaran mengenai Gereja sebagai Gereja Universal dapat ditemukan dalam kitab 1 Korintus 12:13-14 “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh…”
  • Gereja Lokal Gereja Lokal adalah perkumpulan/kelompok orang yang bertemu dalam sebuah tempat/lokasi secara khusus. Gereja lokal merupakan bagian dari Gereja Universal. Dalam Perjanjian Baru, yang dimaksud Gereja Lokal yaitu jemaat-jemaat di masing-masing kota pada jaman Perjanjian Baru. Beberapa tulisan Paulus dalam Perjanjian Baru merupakan surat kiriman kepada beberapa jemaat lokal, antara lain jemaat yang berada di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika. Berea, Tiatira, dll. Seperti dicontohkan dalam kitab Galatia 1:1-2 “Dari Paulus, seorang rasul, ... dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia.”.
  • Gereja sebagai Sebuah Perhimpunan/Perkumpulan Gereja sebagai perhimpunan/perkumpulan dimaksudkan sebagai perhimpunan dari individu-individu untuk suatu tujuan. Hal ini dapat dilihat dalam kitab 1 Korintus 11:18 “…bahwa apabila kamu berkumpul sebagai jemaat…” Gereja yang sudah ada sejak berabad-abad lamanya telah memiliki banyak sekali perkembangan, dari hal tersebut maka sangatlah mungkin terjadi pergeseran-pergeseran makna, tata cara bahkan esensi gereja itu sendiri. Dari perjalanan perkembangan gereja tersebut didapat beberapa pergeseran makna yang sebenarnya bukan merupakan makna yang sesungguhnya dari gereja, tetapi hal ini telah ada dan mengakar pada masyarakat diseluruh dunia bahkan kemudian lebih dikenal sebagai arti sebenarnya mengenai gereja. Beberapa pergeseran makna yang merupakan pandangan yang salah tentang pemaknaan gereja antara lain:
  • Gereja adalah Gedung/Bangunan Pandangan gereja adalah sebuah gedung/bangunan merupakan pandangan yang salah yang paling banyak dimengerti oleh setiap orang tetang arti gereja. Pandangan tersebut sudah mengakar di hati banyak orang baik itu non Kristen, denominasi bahkan kalangan gereja Tuhan sendiri. Bila melihat definisi dari kata Ekklesia, jelas bahwa gereja itu tidak ditujukan kepada bangunan fisik. Gereja adalah bait Allah yang tidak dibuat dengan tangan manusia (1 Korintus 3:16, 17; Kisah Rasul 7:48). Gereja adalah rumah tetapi bukanlah bangunan. Gereja adalah rumah tempat Allah bertahta. Gereja adalah keluarga Allah yang dibangun atas landasan batu yang hidup yaitu Yesus Kristus. Jadi jika berbicara tentang gereja, maka yang dimaksud adalah manusianya baik secara universal, lokal maupun individual. Pandangan yang mengatakan bahwa gereja adalah bangunan sebuah pandangan yang salah dan keliru. Bangunan itu adalah tempat ’gereja’ berbakti atau bertemu. Bangunan hanya mengekspresikan ‘gereja’ yang adalah jemaat itu sendiri.
  • Gereja adalah Denominasi Gereja bukanlah denominasi. Denominasi sendiri berarti pembagian sekte secara keseluruhan. Jika dilihat dari sudut pandang Alkitab hal ini sama saja dengan perpecahan. Pembagi-bagian denominasi ini bukan merupakan sifat dari gereja karena gereja adalah satu dan tidak dapat dipisah-pisahkan, walaupun gereja secara fisik terpisah-pisah tetapi gereja tetaplah merupakan satu kesatuan di dalam Kristus. Kristus itu adalah satu dan tidak pernah dibagi-bagi (1Korintus 1:10). Denominasi tercipta atas dasar pemikiran manusia dan dengan memakai nama kelompok atau golongan. 
Gambaran Gereja Secara Rohani
  1. Gereja sebagai Kerajaan (Kingdom) Gereja sebagai Kerajaan menunjukkan sifat pemerintahan dalam gereja, pemerintahan gereja itu bersifat monarkhi absolut maksudnya hanya ada satu raja yaitu Kristus (Matius 28:28). Seperti pada suatu sistem kerajaan yang didalamnya terdapat raja, rakyat, hukum, teritori, hukuman bagi yang melanggar dan berkat bagi yang taat, begitulah gereja digambarkan secara rohani. Bentuk suatu kerajaan didasarkan pada tatanan hirarki dengan raja sebagai hirarki tertinggi, sehingga dalam Gereja posisi Tuhan adalah raja, yang ditinggikan oleh rakyat (umatnya).
  2. Gereja sebagai keluarga Allah (God’s Family) Gereja secara keseluruhan adalah membawa umat manusia untuk berkumpul bersama sebagai keluarga Allah1 . Seperti selayaknya sebuah keluarga, disini gereja digambarkan memiliki keterkaitan hubungan antar anggotanya seperti hubungan satu sama lain dalam keluarga sebagai saudara. Dengan baptisan air dan roh yang seturut dengan Firman Allah (Yohanes 3:3) jemaat dilahirkan dengan pemberitaan injil yang menjadikan setiap jemaat merupakan satu keluarga. Gereja disebut keluarga Allah, menunjukkan hubungan yang tidak terpisahkan satu sama lain, tidak merasa asing antara satu dengan yang lain. Dalam keluarga, anggota merasa terbebas dari tekanan, dan memiliki ikatan yang kuat.
  3. Gereja sebagai Tubuh (Body) Gereja sebagai Tubuh menekankan hubungan di antara anggota tubuh (Roma 12:4, 5; 1 Korintus 12:12). Sama seperti tubuh secara fisik gereja memiliki fungsi tertentu untuk dilaksanakan2 , tubuh gereja memiliki satu kepala yang adalah Kristus dan anggota-anggota tubuh sebagai jemaatnya. Satu fakta mendasar dari gereja sebagai tubuh adalah dimana tubuh itu hanya bisa digerakkan dan diarahkan oleh kepala. Tubuh harus dapat selalu bekerja sama sehingga apa yang menjadi tujuan yang telah direncanakan oleh kepala dapat dilaksanakan dengan baik. Peran dari kemampuan masing-masing anggota tubuh sangat menentukan tercapainya tujuan tersebut.
  4. Gereja sebagai rumah Allah (God’s Temple) (1 Korintus 3:16) Sebagai rumah Allah, gereja mengindikasikan suatu kesucian, yaitu kesucian gereja sebagai sebuah rumah suci karena Allah yang Maha Suci bertahta dalam tempat yang suci. Firman Allah akan menjaga dan memelihara kesucian rumah Allah. Seperti dalam Perjanjian Lama, Allah telah menentukan imam-imam Lewi untuk melayani di rumahNya dan saat ini tentunya semua orang Kristen adalah imam yang berhak melayani Allah dalam rumah Allah.
  5. Gereja sebagai Tiang Penopang Kebenaran (Pillar and Ground of the Truth) “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Timotius 3:15). Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa Gereja sebagai tiang penopang kebenaran memiliki tanggung jawab untuk memberitakan dan mempertahankan kebenaran (kebenaran firman Allah) sehingga visi dan misi gereja yang diimpartasikan ke jemaat dapat dipahami oleh setiap orang dan terwujud. 

Kesimpulan Pandangan Terhadap Esesnsi Gereja
Jika dilihat dari gambaran pandangan dan esensi secara menyeluruh tentang gereja seperti yang dipaparkan diatas dapat diketahui bahwa arti gereja adalah jemaat itu sendiri, bukan saja jemaat secara fisik (tubuh yang berkumpul untuk beribadah) saja melainkan juga jemaat dalam artian keseluruhan (tubuh, jiwa dan roh) yang melakukan aktivitas dan kehidupan Kristiani. Aktivitas dan kehidupan Kristiani itu ditujukan kepada Allah sebagai pusat aktivitas jemaat tersebut, sedangkan jemaat sendiri adalah sebagai pelaku dari aktivitas tersebut.

Pada setiap aktivitas Kristiani terdapat 2 pelaku utama yang menjadikan aktivitas tersebut berjalan dan menjadi ’hidup’. Kedua pelaku tersebut adalah jemaat dan Allah itu sendiri. Jemaat disini terdiri dari sekumpulan / sekelompok orang yang melakukan aktivitas beribadah. Jemaat tersebut dalam melakukan aktivitasnya haruslah memiliki kelengkapan bagian-bagiannya yang terdiri dari umat, pemimpin serta pelayan Tuhan. Umat tersebut dalam melakukan aktivitasnya dipimpin oleh seorang pemimpin rohani (pendeta, rohaniwan, dsb) dan dalam menjalankan aktivitas tersebut kemudian bersama-sama dibantu oleh para pelayan Tuhan.


Allah yang menjadi pusat dari aktivitas Kristiani juga memegang peran penting dalam kehidupan aktivitas tersebut, karena Allah menjadi penentu dari ’hidup’nya sebuah aktivitas jemaat tersebut. Allah merespon setiap aktivitas jemaatNya dalam wujud kehadiran Allah ditengah-tengah jemaat. Kehadiran Allah tersebut berupa Roh Kudus yang memberikan pengalaman pribadi kepada masing-masing jemaat. Dengan adanya respon timbal balik antara jemaat dan Allah dalam sebuah aktivitas Rohani Kristen tersebut maka gereja akan menjadi sebuah keutuhan, yaitu keutuhan sebagai sebuah kerajaan dimana jemaat adalah rakyat dan Allah adalah Raja, sebagai sebuah tubuh dimana jemaat sebagai tubuh dan Allah adalah kepala, sebagai sebuah keluarga dimana jemaat adalah mempelai wanita dan Allah adalah mempelai pria, dan sebagai rumah Allah dimana jemaat adalah rumah dan Allah yang bertahta dan tinggal didalamnya. Dari hal tersebut kemudian barulah gereja secara keseluruhan dapat menjalankan fungsi dan perannya di dunia ini, yaitu sebagai jemaat Allah yang dipanggil keluar dari dosa dan hidup dalam kekudusan serta dipanggil keluar untuk memberitakan kabar baik kepada semua orang.

Sumber;

Pengertian Ibadah dan Iman Kristiani

Ibadah dan Iman Kristiani
Pengertian Ibadah dan Iman Kristiani
Menurut kepercayaan dan Iman umat Kristiani ibadah adalah segala aktivitas, perbuatan, perkataan dan pikiran yang ditujukan demi kemuliaan nama Kristus dan dapat mengusir iblis. Sehingga pengertian ibadah yang hanya merupakan suatu aktivitas Kristiani di dalam sebuah bangunan gereja bukanlah pengertian yang benar. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan bagian-bagian dari ibadah yang menjadi wujud ucapan syukur jemaat dan terekspresikan melalui pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Gereja Kristiani percaya bahwa di dalam setiap perayaan ibadah Allah hadir bersama-sama dengan gerejaNya dan bertahta di atas pujian umatNya. Aktivitas ibadah Kristiani biasa terbagi menjadi dua bagian, yaitu Pujian dan Penyembahan dan Khotbah. Pujian dan Penyembahan mempunyai makna bahwa gereja memberikan ungkapan iman dan syukur kepada Tuhan melalui nyanyian, tari-tarian, dan doa. Sedangkan Khotbah memiliki makna bahwa Tuhan berbicara kepada gerejaNya melalui Pengkhotbah/Pendeta dalam penyampaian firmanNya. Makna secara keseluruhan dari ibadah dalam Kristiani adalah suatu wujud hubungan antara Tuhan dengan Gereja, hubungan ini bersifat dua arah sehingga ibadah ini juga merupakan komunikasi Tuhan dan jemaatNya.

Komunikasi ini memberikan pengalaman religius yang suci. Kata religius berhubungan dengan kata religare, bahasa Latin yang berarti mengikat, sehingga religius berarti ikatan. Jadi ibadah bukan hanya sebagai pengalaman filosofis dan intelektual semata, tetapi juga melibatkan perasaan dan tindakan manusia dalam ikatan hubungannya dengan Tuhan. Ibadah yang dilakukan oleh Gereja tersebut ada karena iman atau kepercayaan jemaat kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Iman ini merupakan pengakuan seluruh jemaat Kristus bahwa Yesus-lah jalan keselamatan dan hidup dan hanya melalui Yesus-lah umat manusia dapat diselamatkan dari dosa dan maut. ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” Ibrani 11:1. Dari pengertian Iman seperti yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian Baru dapat diketahui bahwa iman adalah hal yang paling mendasar dari kehidupan umat Kristiani. Iman kepada Kristus merupakan inti Kristiani itu sendiri.

Pujian dan Penyembahan (Praise and Worship)
Seperti yang telah diungkapkan diatas, bahwa kegiatan Pujian dan Penyembahan (Praise and Worship) dalam ibadah Kristiani merupakan bagian yang utama bahkan memiliki ukuran yang sama dengan Khotbah, maka hal inilah yang menjadi poin paling penting yang menjadi salah satu aktivitas utama gereja Kristiani. Dalam Pujian dan Penyembahan jemaat berusaha berhubungan langsung dengan Tuhan. Disini tugas bagi pelayan-pelayan Tuhan untuk dapat membantu jemaat agar lebih mudah berhubungan dengan Tuhan, Team PW (Praise & Worship) berperan besar disini. Team PW tersebut terdiri dari seorang WL (Worship Leader), para pemusik dan beberapa penyanyi 

(singer). Dikarenakan sifat jemaat yang aktif pada saat Pujian dan Penyembahan maka jemaat-lah yang kemudian membentuk pola-pola Pujian dan Penyembahan tersebut menjadi sesuatu yang menarik yang menyenangkan hati Tuhan. Pujian dan Penyembahan sebagai ucapan syukur terbentuk melalui nyanyian (suara), tari-tarian (gerak) dan doa jemaat. Bentukan pola-pola Pujian dan Penyembahan ini kemudian dapat diketahui melalui ekspresi jemaat seperti yang juga tertulis dalam Alkitab mengenai wujud Pujian dan Penyembahan jemaat melalui istilah-istillah dalam Pujian dan Penyembahan.

a. Pengertian Ucapan Syukur, Pujian dan Penyembahan ;
  1. Pengertian Ucapan Syukur Ucapan syukur adalah respon jemaat terhadap anugerah/ karunia Allah dalam kehidupan jemaat. Biasanya dilakukan secara pribadi. Dalam bahasa Gerika kata syukur disebut Kharis, yang berarti karunia/anugerah.
  2. Pengertian Pujian Pujian adalah cara/tindakan untuk mengagungkan, membesarkan dan memuliakan Tuhan atas apa yang telah, sedang, dan akan Tuhan perbuat dalam hidup jemaat6 . Pujian adalah sebuah tindakan kemauan, dari hal ini pujian harus berfungsi menurut kehendak dan bukan emosi. Jemaat harus mau dan memutuskan untuk tetap memuji Tuhan walaupun dalam keadaan tidak senang untuk melakukannya, jadi pujian tidak didasarkan oleh keadaan yang sedang menimpa jemaat melainkan didasarkan pada kebesaran Tuhan. Fokus atau arah pujian dibagi menjadi dua yaitu bersifat vertikal, yaitu pujian pengagungan, sesuatu yang langsung ditujukan kepada Tuhan dan bersifat horizontal, sesuatu yang diungkapkan kepada orang lain tentang Tuhan.
  3. Pengertian Penyembahan Penyembahan adalah ekspresi hati (bukan emosi) dalam wujud kasih dan pemujaan sebagai hasil dari suatu hubungan, dengan sikap dan pengakuan akan kepribadian dan ke TuhananNya. Penyembahan bukanlah musik, tetapi musik dapat dipakai untuk mengekspresikan kasih dalam penyembahan. Penyembahan dalam Kristiani adalah sebuah hubungan antara Roh jemaat dan Roh Allah yang saling memberi respon. Penyembahan adalah menikmati pribadi Allah itu sendiri. Saat menyembah Tuhan menyatakan setiap rencanaNya dalam masing-masing individu jemaatNya, dan semakin diubahkan serupa dengan Tuhan.
b. Istilah-Istilah Pujian dan Penyembahan
Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari Pujian dan Penyembahan umat Kristiani, dapat dilihat istilah-istilah Pujian dan Penyembahan yang terdapat dalam Alkitab. Istilah-istilah tersebut diambil dari bahasa asli Alkitab (bahasa Ibrani, dan Yunani/Gerika) seperti yang dipaparkan ulang dari ”Handbook of Ministry Departemen Praise and Worship GBI Aletheia”

c. Tujuan Pujian dan Penyembahan
Dengan sifat pujian dan penyembahan yang dimulai dari tindakan jemaat terhadap suatu bentuk religinya baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, maka pujian dan penyembahan memiliki beberapa tujuan, seperti yang dipaparkan ulang dari ”Handbook of Ministry Departemen Praise and Worship GBI Aletheia”, yaitu:
  1. Aspek Vertikal Dalam aspek vertikal tujuan pujian dan penyembahan adalah untuk melayani Tuhan, memberkati Tuhan dan memuliakan Tuhan. Tujuan ini kemudian lebih khusus ditujukan untuk menyediakan tempat persemaian untuk mengoperasikan karunia-karunia rohani dan untuk membuka komunikasi antara Tuhan dengan jemaatnya (Bapa - anak).
  2. Aspek Horizontal Aspek horizontal sebagai tujuan pujian dan penyembahan 
  3. Aspek Kedalam (hati individu) Tujuan pujian dan penyembahan ke dalam
Kesimpulan Pujian dan Penyembahan dalam Ibadah Kristiani 
ari paparan mengenai ibadah dan iman Kristiani diatas, dapat diketahui bahwa antara ibadah dan iman memiliki keterkaitan yang erat dan tak terpisahkan. Ibadah adalah merupakan wujud nyata dari iman kepada Tuhan, dan didalam ibadah terdapat pujian dan penyembahan yang merupakan cara yang lebih spesifik lagi dari ibadah secara keseluruhan. Wujud ibadah dalam bentuk pujian dan penyembahan merupakan bentuk yang secara Roh diterima oleh Tuhan sebagai suatu pernyataan iman dan ucapan syukur, dan wujud ini juga diungkapkan secara fisik yang dapat diterima oleh indera manusia, sehingga wujud ibadah dalam Kristiani merupakan suatu ibadah totalitas yang menyentuh ke semua aspek, Allah secara Roh yang berhubungan langsung dengan setiap hati individu (keterkaitan aspek vertikal – aspek kedalam) serta hubungan keterikatan sesama dengan masing-masing hati individu jemaat gereja (keterkaitan aspek horizontal – aspek kedalam) yang terwujud secara fisik melalui ekspresi pujian dan penyembahan.

Bentuk-bentuk pujian dan penyembahan yang terdapat dalam istilah-istilah diatas memiliki penekanan yang berbeda-beda tetapi ada ikatan diantara masing-masing istilah tersebut yang menjadikannya suatu kesatuan. Barak yang menekankan suatu keheningan, berhubungan dengan pengakuan hati dalam keheningan tentang kebesaran Tuhan, kemudian hal itu terwujud dalam tindakan fisik sebagai ungkapan syukur melalui bentuk Towdah, sebuah rasa syukur dari hati yang muncul tanpa melihat keadaan disekeliling maupun keadaan yang menimpa jemaat tersebut. Towdah tersebut kemudian sangat erat hubungannya dengan Yadah sebagai wujud ungkapan fisik rasa syukur melalui penggunan tangan (mengangkat tangan) dan kemudian ekspresi tersebut selanjutnya mengungkapkan sebuah penyerahan diri masing-masing individu jemaat kepada Tuhan. Ketiga bentuk pujian tersebut (Barak, Towdah dan Yadah) merupakan bentuk pujian yang lebih diwujudkan melalui pengakuan hati, ekspresi di dalam, penggunaan ekspresi fisik sangat sedikit ditekankan, tetapi ekspresi fisik tersebut (mengangkat tangan) merupakan wujud pujian yang dapat dilihat dari istilah-istilah pujian tersebut, Pujian jenis ini merupakan pujian yang masih erat berhubungan dengan penyembahan, hubungan tersebut merupakan hubungan antara Barak -Shachah -Proskuneo yang kemudian berhubungan dengan Latreuo. Pujian Barak dan istilah-istilah Penyembahan memiliki keterkaian filosofi yaitu arti kata Barak-lutut dengan arti kata Shachah-tersungkur, Proskuneo-membungkukan badan dan kemudian semuanya merupakan espresi dari seorang hamba-Latreuo.

Tinjauan Umum Perkembangan Jenis Gereja Gereja awal mula memiliki satu ajaran yang sama, namun seturut perkembangan jaman, tujuan dan motivasi jemaatnya menjadi beraneka ragam sehingga timbullah bermacam-macam visi dan misi yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan adanya pembedaan dalam pengajarannya dimana ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan oleh kelompok jemaat dalam Gereja-Gereja. Di Indonesia banyak sekali jenis-jenis Gereja. Pada umumnya Gerejagereja di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga atau empat aliran utama, yaitu Gereja Katolik Roma, Gereja-gereja Protestan dan sekarang hadir pula Gereja Ortodoks. Gereja-gereja Pentakosta kadang-kadang digolongkan terpisah dari Gereja-gereja Protestan. Karena latar belakang penjajahan Belanda, Gereja-gereja Protestan di Indonesia kebanyakan berlatar belakang Calvinis. Namun Gereja-gereja ini pada umumnya terbagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok suku dan regional, misalnya GBKP, GKI, GKJW, GMIM dan lain-lain. Ada pula Gereja-gereja Lutheran yang pada umumnya terkonsentrasi di Sumatera Utara, dan merupakan hasil misi dari Jerman, seperti Gereja HKBP, GKPI, GKPS, BNKP dan lain-lain. Karena pengaruh gerakan misi dari Amerika Serikat, sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, hadir pula di Indonesia Gereja-gereja yang berasal dari negara tersebut, seperti Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Baptis, Pentakosta, Karismatik dan lain-lain. Selain dikarenakan aliran pengajaran yang berbeda-beda, pembagian gereja-gereja tersebut juga dikarenakan perbedaan liturgi atau tata cara ibadah. Baik yang sangat ketat (begitu runtut dan mengikuti aturan) hingga yang sangat fleksibel (bebas mengikuti keinginan Tuhan saat itu). Tata cara ibadah tersebut juga mempengaruhi bagaimana cara umat mengeskpresikan diri, baik ekspresi bersama (warna dalam ibadah) maupun ekspresi individu terhadap kebaikan dan kemuliaan nama Tuhan. 

Tinjauan Umum Perkembangan Fungsi Gereja
Saat ini sebuah bangunan Gereja tidak lagi dimanfaatkan hanya sebagai tempat peribadahan umat Kristiani pada hari Minggu saja. Banyak kegiatan ibadah yang berlangsung di Gereja hampir setiap harinya, sehingga tidak ada lagi anggapan bahwa Gereja tutup selain hari Minggu. Perkembangan tersebut membuat para jemaat dapat lebih sering berkomunitas dengan sesama, sehingga satu sama lain dapat saling membangun dan menguatkan. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain adalah : 
  1. Ibadah Raya (Kebaktian Umum) Ibadah Raya merupakan ibadah yang diawali dengan melakukan nyanyian pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Nyanyian pujian dan penyembahan ini dikenal dengan Praise & Worship. Praise & Worship dipimpin oleh seorang WL (Worship Leader) dan diiringi oleh team PW (Praise & Worship) yang terdiri dari singer dan tim pemusik. Setelah pujian dan penyembahan dinaikan bagian Tuhan untuk menentukan bagaimana selanjutnya dengan memberi hikmat kepada pendeta yang memimpin ibadah tersebut, apakah dilanjutkan dengan penyampaian firman Tuhan kepada jemaat atau diadakan Altar Call, atau bahkan terjadi suasana yang tak terduga, dimana semuanya tergantung kepada kehendak Tuhan pada saat itu. Pada Ibadah raya ini jemaat yang beribadah bersifat heterogen, dari remaja hingga yang berusia lanjut. Ibadah Raya dilaksanakan pada hari Minggu dan terdapat pula pada hari Sabtu. 
  2. Ibadah Youth Ibadah Youth juga tidak jauh beda esensinya dengan Ibadah Raya, hanya karena jemaat yang beribadah semua terdiri dari anak muda maka Praise & Worship dengan menggunakan lagu-lagu beritme cepat dan bersemangat. Jika ada penyampaian firman Tuhan, firman Tuhan yang disampaikan pun berbeda dengan firman yang disampaikan pada Ibadah Raya, firman di Ibadah Youth lebih kearah lika-liku kehidupan remaja. Ibadah Youth dapat dilaksanakan pada akhir pekan seperti hari Jumat atau Sabtu.
  3. Sekolah Minggu Di Sekolah Minggu anak-anak berusia dibawah 14 tahun diajak untuk melakukan ibadah yang serupa dengan Ibadah Raya namun dengan menggunakan lagu rohani anak-anak dan juga masih dalam bimbingan kakak-kakak pembimbing Sekolah Minggu. Ibadah Sekolah Minggu diadakan bersamaan dengan Ibadah Raya, ketika orang-orang tua beribadah maka anak-anak dapat ‘dititipkan’ kepada kakak pembimbing untuk dapat mengikuti ibadah.
  4. Cell Group Setelah pada hari Minggu atau Sabtu mendengarkan firman Tuhan saat Ibadah Raya, maka ada kalanya diadakan sharing mengenai pertanyaanpertanyaan yang timbul. Cell Group inilah wadah untuk mensharingkan firman Tuhan dan berkomunitas. Dengan berkomunitas jemaat dapat saling membangun satu sama lain dan dapat saling menguatkan ketika terdapat banyak masalah.
  5. Pertemuan Pengerja Pertemuan Pengerja gereja diadakan tergantung kesepakatan bersama dari setiap gereja. Tujuan diadakannya adalah untuk mempererat setiap individu dengan beribadah bersama. Selain itu para pelayan Tuhan yang hadir diajak memahami visi dan misi gereja secara lebih mendalam melalui penyampaian khotbah yang lebih fokus terhadap visi dan misi dari Tuhan.
  6. Konseling Kegiatan konseling dilakukan oleh hanya satu atau beberapa orang saja dengan bimbingan seorang atau dua orang pelayan Tuhan. Tujuan diadakannya konseling adalah untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dialami umat yang bersangkutan.
Yunani “semeion” yang berarti tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan. Dalam menganalisis sistem tanda pada bangunan peribadatan khususnya pada bangunan gereja Kristen, digunakan pendekatan dengan melihat suatu sistem tanda melalui teks dan kode yang merupakan metode analisis semiotika. Analisis teks dan kode ini digunakan karena desain arsitektur khususnya bangunan peribadatan memiliki banyak tanda didalamnya yang dapat dianggap sebagai sebuah teks, karena produk desain (bangunan) tersebut merupakan kombinasi elemen tanda-tanda dengan kode dan aturan tertentu, sehingga menghasilkan sebuah ekspresi bermakna dan berfungsi. Analisis ini didasarkan pada teori semiotika Saussure, Peirce dan Barthes. Teori Saussure menjelaskan bahwa tanda sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan yaitu antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Kemudian menurut teori Peirce tanda dikelompokan menjadi jenis, yaitu indeks (index), ikon (icon), dan simbol (symbol). Indeks adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petanda di dalamnya bersifat kausal. Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat keserupaan. Sedangkan simbol adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat arbiter. Sedangkan untuk menghasilkan makna yang bertingkat, menurut Barthes tanda dibagi menjadi tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.

Penggunaan tanda pada bangunan gereja Kristen banyak sekali menggambil simbol-simbol yang terdapat dalam Alkitab. Simbol yang lazim digunakan dan menjadi simbol agama Kristen adalah Salib, sebuah simbol yang bermakna penebusan dosa umat manusia. Selain itu salib juga sebagai ikon yang memperlihatkan bentuknya sebagai sebuah tanda salib (persilangan garis vertikal dan horizontal) dan secara indeks menunjukan makna ibadah Kristiani yaitu hubungan horizontal-antar jemaat dan hubungan vertikal-antara jemaat dengan Tuhan. Salib tersebut juga menjadi indeks yang menunjukan bentuk memusat, yaitu bentuk perkumpulan jemaat Kristen di dalam satu Tubuh Kristus.

Bentuk tanda yang lain yang biasa terdapat pada bangunan gereja Kristen adalah penggunaan cahaya, baik cahaya alami yang masuk ke dalam bangunan, maupun cahaya buatan yang dibuat memancar pada suatu area. Cahaya tersebut merupakan tanda yang menyimbolkan kehadiran Tuhan, terang Tuhan. Selain itu cahaya juga sebagai indeks yang menunjukan rahmat dan berkat Tuhan yang dicurahkan kepada umatNya. Hampir pada semua bangunan gereja, cahaya memegang peranan penting yang selain memiliki makna simbolik cahaya juga dapat menentukan dan mengarahkan suasana yang ada pada bangunan tersebut. Intensitas cahaya mengandung simbol yang dapat mempengaruhi aktivitas. Dengan penataan posisi dan Penggunaan tanda yang juga biasa terdapat pada bangunan gereja Kristen adalah penggunaan warna-warna sebagai tanda yang memiliki makna-makna religius didalamnya. Warna sebagai pembentuk karakter ruang dan elemen-elemen bangunan tersebut biasa diperkuat kesannya dengan penggunaan dan penataan cahaya serta permainan tekstur yang melapisi permukaan bidang tersebut. Setiap warna mengandung makna yang berbeda dan dengan penerapan-penerapan warna tersebut pada elemen bangunannya maka selain warna tersebut memiliki makna, warna tersebut juga memperkuat makna yang ingin disampaikan pada elemen-elemen bangunan yang juga menjadi tanda pada bangunan tersebut. Warna sangat berperan penting dalam penyampaian suatu pesan, karena warna itu juga merupakan tanda yang kemudian diterima oleh setiap orang sebagai sebuah sensasi yang menjadikan warna tersebut memiliki kesan. Warna dalam desain memiliki pengaruh yang kuat pada perasaan dan emosi penggunanya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa keadaan fisik penggunapun dapat dipengaruhi oleh warna-warna tertentu yang terdapat pada ruang yang ditempatinya. Dari hal itu penggunan warna kemudian dimaksudkan dapat menciptakan suasana yang mendukung pemaknaan dari obyek yang diwarnainya maupun ruang dan lingkungan fisik disekitarnya.

SUMBER;
https://mangihot.blogspot.com/2018/10/teori-gereja-dan-iman-kristiani.html

Tuesday, 10 October 2017

OTORITAS PROTESTANTISME MULA-MULA

PROTESTANTISME MULA-MULA 
Dalam banyak hal, inti kontroversi di antara kaum Katolik dan Protestan tepatnya adalah dalam hal otoritas. Apakah Alkitab akan berfungsi sebagai panduan bagi gereja ataukah otoritas gerejawi di masa lampau dan masa kini yang akan mengarahkannya?

Pertama-tama, kita akan memperhatikan pandangan Protestan tentang otoritas Alkitab dan, kedua, pandangan Protestan tentang otoritas gerejawi. Mari kita lihat terlebih dulu pandangan Protestan tentang otoritas Alkitab.

Otoritas Alkitab
Seperti yang kita lihat, pandangan Katolik Zaman Pertengahan tentang Alkitab bersifat ekstrim dalam beberapa cara yang signifikan. Dalam bagian ini, kita akan melihat bahwa kaum Protestan mula-mula menanggapi kesalahan-kesalahan ini dengan mengkalibrasi ulang doktrin inspirasi, makna, dan kejelasan dari Alkitab. Kita tinjau terlebih dulu doktrin inspirasi. 

Inspirasi
Sejak awal harus kita katakan bahwa seperti halnya para teolog Zaman Pertengahan, para Reformator mengerti bahwa Alkitab memiliki asal usul ilahi sekaligus manusiawi. Di satu pihak, mereka melihat Alkitab sebagai suatu kitab supernatural yang berasal dari Allah. Luther, Zwingli dan Calvin menyatakan secara tegas bahwa Alkitab diberikan kepada umat Allah melalui inspirasi ilahi. Mereka menganggap serius perkataan rasul Paulus di dalam 2 Timotius 3:16 bahwa:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).

Sebagaimana diajarkan oleh nas ini, Alkitab terutama berasal dari Allah, dan dirancang untuk menyediakan bagi umat Allah wahyu khusus yang sepenuhnya dapat diandalkan.

Para Reformator percaya bahwa tangan Allah melindungi Alkitab dari kesalahan. Allah secara supernatural memberikan kepada para penulis Alkitab informasi tentang masa kini, masa lampau dan masa yang akan datang, dan Ia membimbing mereka dalam proses penulisannya sehingga semua yang mereka tuliskan itu benar. Yang paling penting, inspirasi ilahi memberikan kepada Alkitab otoritas absolut yang tidak mungkin diragukan.

Akan tetapi, para Reformator menghindari kesalahan gereja Zaman Pertengahan dengan mengakui juga bahwa para penulis manusia yang menulis Alkitab memberikan kontribusi-kontribusi yang signifikan terhadap isi dan makna Alkitab. Ketimbang memperlakukan Alkitab seakan-akan kitab itu telah jatuh dari langit, kaum Protestan mula-mula menekankan bahwa Alkitab datang melalui instrumen manusiawi, melalui proses-proses sejarah. Perhatian pada kepengarangan manusiawi ini sangat sesuai dengan cara Yesus dan para penulis Alkitab itu sendiri kerap memperlakukan Alkitab.

Sebagai contoh, di dalam Matius 22:41-44 kita membaca catatan ini:

Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.” Kata-Nya kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu” (Matius 22:41-44).

Dalam nas ini Yesus menggunakan Mazmur 110:1 untuk membingungkan orang Farisi dengan cara mengarahkan perhatian mereka secara eksplisit kepada Daud, penulis manusia dari nas ini. Baik Yesus maupun orang Farisi sepakat bahwa Mesias haruslah keturunan Daud. Akan tetapi, di Palestina abad pertama, Daud lazimnya tidak akan menyebut keturunannya “Tuhan.”

Jadi, Yesus meminta orang-orang Farisi untuk menjelaskan mengapa Daud memberikan gelar ini kepada anaknya. Perhatikan bahwa argumen Yesus bergantung pada fakta bahwa makna Alkitab sebagian bergantung pada rincian kehidupan dari para pengarang manusianya. Ada banyak contoh-contoh semacam ini tentang para penulis dan tokoh Alkitab yang menyebut Musa, Yesaya, Yeremia, Daud, Paulus, dan orang-orang lainnya sebagai instrumen-instrumen dari Firman Allah. Instrumen manusiawi ini memberikan sejumlah kontribusi pribadi yang signifikan kepada Alkitab.

Dari contoh ini dan contoh yang lainnya, para Reformator dengan tepat menyimpulkan bahwa Alkitab muncul dari situasi manusiawi yang nyata, dan ditulis oleh manusia untuk keadaan-keadaan historis tertentu. Agar orang Kristen dapat mengerti Alkitab dengan tepat, mereka tidak boleh hanya menekankan asal-usul ilahi dari Alkitab, tetapi juga asal-usul manusiawinya yang historis.

Mementingkan sisi manusiawi dalam inspirasi Alkitab bukan sekadar teori bagi para Reformator; hal ini secara signifikan juga mempengaruhi cara mereka memahami makna Alkitab.

Makna
Kita dapat merangkumkan hal ini demikian: Ketimbang mengikuti teladan dari aliran Katolik Roma Zaman Pertengahan dengan mencari makna-makna ilahi yang tersembunyi di dalam Alkitab, para Reformator berusaha untuk mendasarkan semua penafsiran mereka pada pengertian harfiah dari teks alkitabiah, makna yang ingin dikomunikasikan oleh para penulis manusianya kepada para pembaca aslinya.

Memang kita harus menyadari bahwa kaum Protestan mula-mula tidak sepenuhnya meninggalkan pendekatan Zaman Pertengahan terhadap makna Alkitab. Kadang kala, sisa-sisa dari polivalensi klasik muncul dalam tulisan para Reformator. Sebagai contoh, tafsiran Luther tentang Mazmur memperlihatkan ketergantungan yang terus berlanjut pada metode penafsiran ini. Namun, dapat dikatakan bahwa para Reformator secara konsisten jauh lebih menekankan makna yang dimaksud oleh penulis manusia ketimbang kebanyakan penafsir Katolik. Dan secara umum, mereka mendasarkan banyak penerapan nas-nas Alkitab pada makna asli dari teks. Bagi orang Protestan, fokus historis ini sangat penting bagi penafsiran.

Untuk memahami penekanan Reformasi pada makna harfiah atau tersurat dari teks Alkitab, akan membantu jika kita mengingat bahwa pendekatan hermeneutis ini telah berakar di Eropa Barat selama masa Renaisans di abad ke-15.

Istilah Renaisans atau “kelahiran kembali” berasal dari munculnya kembali minat terhadap literatur dan kebudayaan Romawi klasik dan secara khusus Yunani yang terjadi di Eropa Barat sebelum terjadinya Reformasi. Sebelum Renaisans, biasanya para ahli hanya mengenal tulisan-tulisan kuno Yunani dalam bentuk terjemahannya, dan penafsirannya kebanyakan dilakukan di bawah pengawasan gereja. Pada saat-saat yang berbeda, gereja bisa dikatakan telah membaptis Plato, Aristoteles dan para penulis Yunani lainnya mereka ditafsirkan seolah-olah mendukung doktrin Kristen. Akan tetapi, selama Renaisans, banyak ahli menemukan patron yang mendukung keinginan mereka untuk memahami teks-teks kuno dari zaman klasik tanpa pengawasan gerejawi. Sebaliknya, mereka mulai menafsirkan tulisan-tulisan ini sesuai dengan maksud awal dari para penulisnya. Dan akibatnya, penafsiran terhadap sastra klasik yang sangat dihargai itu mulai berfokus pada makna historisnya, yang kerap memiliki kontras yang tajam dengan ajaran-ajaran gereja.

Pada masa Renaisans, edisi-edisi baru Alkitab Ibrani dan Yunani juga diterbitkan dan ini juga mengakibatkan suatu pergeseran yang signifikan di dalam penafsiran Alkitab. Sebagaimana telah kita lihat, sebelum masa itu, ayat-ayat Alkitab kebanyakan ditafsirkan di bawah panduan gereja dan untuk mendukung dogma gereja. Akan tetapi, mengikuti prinsip Renaisans, banyak sarjana Alkitab, khususnya sarjana Protestan, mulai membaca Alkitab tanpa dikendalikan oleh gereja, dan mereka berusaha untuk mendasarkan tafsiran Alkitab mereka pada makna historis aslinya.

Orientasi Protestan pada makna asli atau harfiah sebagai dasar untuk semua penafsiran bermuara pada suatu pergeseran yang signifikan dalam pengertian tentang makna Alkitab. Kaum Protestan berbicara tentang satu makna yang menyatu dan koheren bagi setiap nas Alkitab. Seperti yang dikatakan oleh Pengakuan Iman Westminster pasal I, bagian 9,

Makna yang benar dan lengkap dari bagian Alkitab mana pun – tidak jamak, tetapi satu.

Kita boleh menyebut pandangan ini sebagai pandangan tentang makna yang “univalen.”

Tentu saja, kaum Protestan menyadari bahwa seringkali ada jauh lebih banyak yang dikatakan oleh nas-nas Alkitab ketimbang yang mungkin diindikasikan oleh penilaian sederhana terhadap pengertian harfiahnya. Nas-nas Alkitab memiliki banyak implikasi dan kaitan dengan kebenaran-kebenaran Kristen yang melampaui apa yang mungkin dipahami oleh para penulis aslinya pada zaman mereka. Akan tetapi, semua dimensi ini merupakan bagian dari makna yang tunggal, benar dan lengkap karena dimensi-dimensi ini berkoordinasi dengan makna harfiah atau tersurat dari Alkitab.

Selain menekankan sisi manusiawi dari inspirasi, dan pentingnya makna harfiah yang menyatu dari Alkitab, kaum Protestan juga mengakui kejelasan atau kegamblangan dari Alkitab.

Kejelasan
Ketimbang melihat Alkitab sebagai kitab yang tidak jelas dan membutuhkan tafsiran gerejawi yang berotoritas, para Reformator berargumen bahwa Alkitab bisa dipahami. Sejumlah faktor berkontribusi secara signifikan bagi doktrin Protestan tentang kejelasan Alkitab.

Pertama, penggunaan yang meluas dari mesin cetak yang hurufnya dapat digerakkan telah membuat Alkitab semakin banyak tersedia. Dan ketersediaan ini memungkinkan orang Kristen membaca sendiri Alkitab dan mengevaluasi apakah penilaian Gereja Katolik benar ketika mengatakan bahwa Alkitab tidak jelas. Kedua, para pionir yang berani telah mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa rakyat jelata dan ini juga memungkinkan orang untuk menelaah sendiri kejelasan Alkitab. Ketiga, fokus Reformasi pada sensus literalis (makna harfiah) juga memampukan para teolog untuk mendasarkan penafsiran mereka pada sesuatu yang dapat ditelaah dan diuji. Mereka tidak lagi perlu untuk bersandar semata-mata pada otoritas gerejawi untuk memberitahukan makna Alkitab. Penelaahan Alkitab dengan cara-cara ini menghasilkan kesadaran yang meluas yang bertentangan dengan pandangan Katolik, bahwa Alkitab sangat jelas.

Bahkan Erasmus, penganut Katolik Roma yang setia, yang menentang Luther dan Reformasi, menuliskan kata-kata ini:

… orang yang membajak sawah dapat memahami Alkitab.

Perkembangan-perkembangan ini membuka jalan bagi kaum Protestan untuk mengukuhkan kejelasan Alkitab dan memperkenalkan kembali Alkitab sebagai otoritas praktis bagi Kekristenan. Ketika orang Protestan membaca Alkitab sekali lagi di dalam lingkungan baru ini, menjadi jelas bahwa banyak nas yang amat penting yang dinyatakan tidak jelas oleh Gereja Katolik sesungguhnya relatif mudah untuk dipahami. Para penafsir Protestan menemukan bahwa ketika mereka makin banyak mempelajari bagian-bagian Alkitab, ada semakin banyak ajaran alkitabiah yang tampak luar biasa jelas. Selama dekade-dekade awal Reformasi, kaum Protestan sangat optimis tentang kejelasan Alkitab. Semuanya terkesan sebagai hal yang agak sederhana. Membaca Alkitab dan menyesuaikan teologi dengan wahyu Allah yang jelas di dalamnya.

Akan tetapi, saat gerakan Protestan terus-menerus menggali isi Alkitab, kaum Protestan sendiri menjadi lebih realistis terhadap Alkitab dan mereka berbicara tentang derajat-derajat kejelasan di dalam Alkitab. Mulai tampak jelas bahwa makna dari beberapa bagian Alkitab lebih jelas daripada bagian-bagian lainnya.

Ketika terlihat jelas bahwa kaum Lutheran mempercayai satu hal, kaum Calvinis mempercayai hal lainnya, dan kaum Zwinglian mempercayai yang lainnya lagi, pandangan sebelumnya yang terlalu optimistis tentang kegamblangan Alkitab membuka jalan bagi suatu pandangan yang lebih berhati-hati. Sesungguhnya, pandangan Protestan yang lebih dewasa ini tidak seharusnya membuat kita terkejut.

Bahkan rasul Petrus mengakui bahwa beberapa hal dalam Alkitab sukar untuk dipahami ketika ia menuliskan perkataan ini di dalam 2 Petrus 3:16:

Dalam surat-suratnya [Paulus] itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain (2 Petrus 3:16).

Perhatikan bagaimana Petrus merumuskannya: Ia tidak mengatakan bahwa semua tulisan Paulus mudah dipahami; juga tidak mengatakan bahwa semuanya sukar dipahami. Sebaliknya, ia berkata bahwa ada hal-hal tertentu dalam tulisan Paulus yang sulit dipahami.

Jadi, berbeda dengan gereja Zaman Pertengahan, para Reformator Protestan meninggikan Alkitab melebihi otoritas gereja. Kaum Protestan mengerti bahwa mereka tidak terputus dari wahyu Allah di dalam Alkitab. Mereka mengukuhkan kejelasan Alkitab dan, sebagai akibatnya, Alkitab diperkenalkan kembali sebagai otoritas mutlak atas semua otoritas gerejawi.

Sesudah kita melihat pandangan kaum Protestan awal tentang Alkitab, kini kita siap melihat bagaimana kaum Protestan mula-mula juga memandang otoritas gerejawi.

Otoritas Gereja
Seperti yang sudah kita lihat, para Reformator mengandalkan pandangan mereka tentang inspirasi, makna dan kejelasan Alkitab untuk memperkenalkan kembali Alkitab sebagai satu-satunya kaidah teologi yang tidak dapat diragukan. Namun, kita juga harus menyadari fakta bahwa kaum Protestan mula-mula tidak sepenuhnya menolak otoritas teologi gerejawi. Sebaliknya, kaum Protestan percaya bahwa teologi gerejawi memiliki banyak otoritas, tetapi menegaskan bahwa otoritas ini sekunder dan tunduk kepada ajaran-ajaran Alkitab.

Ada baiknya kita menelusuri pandangan Protestan tentang otoritas gerejawi dengan memperhatikan dua aspek: pertama, bagaimanakah orang Protestan mula-mula memahami otoritas gereja dari masa lampau; kedua, bagaimana mereka memahami otoritas gereja kontemporer? Kita perhatikan dulu pandangan Protestan mula-mula tentang otoritas gerejawi dari masa lampau.

Otoritas Masa Lampau
Meskipun sukar bagi kebanyakan kita untuk membayangkannya, kaum Protestan mula-mula mengakui banyak sekali otoritas pengajaran dari para bapa gereja dan konsili gereja mula-mula. Para Reformator memegang doktrin yang sehat dan kuat tentang gereja. Mereka sungguh percaya bahwa Roh Kudus telah memimpin gereja mula-mula ke dalam banyak kebenaran penting yang perlu diakui oleh orang-orang Kristen di zaman mereka.

Sebagaimana yang kita lihat dalam pelajaran sebelumnya, para Reformator berbicara tentang otoritas Alkitab di bawah rubrik Sola Scriptura, “hanya [oleh] Alkitab.” Sayangnya, banyak orang injili masa kini memiliki kesalahpahaman yang serius tentang doktrin Sola Scriptura.

Sekarang ini banyak orang injili percaya bahwa doktrin Sola Scriptura menyiratkan bahwa kita tidak boleh memiliki otoritas lain selain Alkitab. Akan tetapi, ini bukanlah posisi dari Reformasi, dan bukan implikasi yang benar dari doktrin Sola Scriptura. Para Reformator menekankan Sola Scriptura bukan karena mereka percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas bagi orang percaya; sebaliknya, yang mereka maksudkan adalah bahwa Alkitab adalah otoritas satu-satunya yang tidak mungkin diragukan bagi orang percaya. Meskipun terdengar asing, kaum Protestan dengan teguh membela doktrin Sola Scriptura bukan karena mereka menolak semua otoritas lain yang ada, tetapi justru karena mereka sangat menghormati otoritas-otoritas teologis lainnya.

Demi memudahkan kita, ada baiknya kita mengacu kepada rangkuman tentang hal-hal ini di dalam Pengakuan Iman Westminster pasal I, paragraf 10:

Hakim Tertinggi, yang oleh-Nya semua kontroversi tentang agama harus diputuskan, dan segala ketetapan tentang konsili-konsili, opini-opini para penulis dari zaman dahulu, doktrin-doktrin manusia, dan pandangan-pandangan pribadi (private spirits), harus diperiksa, dan yang keputusan-Nya menjadi landasan kita, tidak lain adalah Roh Kudus, yang berfirman di dalam Kitab Suci.

Paragraf ini secara tegas mengukuhkan bahwa Roh Kudus yang berbicara dalam Alkitab adalah “Hakim Tertinggi, yang oleh-Nya semua kontroversi tentang agama harus diputuskan.” Dengan kata lain, semua keputusan gereja harus dibuat menurut standar Alkitab. Akan tetapi, perhatikan bahasanya di sini. Roh Kudus, yang berbicara di dalam Alkitab, adalah “Hakim Tertinggi.” Jika ada hakim tertinggi, berarti ada hakim-hakim lain yang bukan hakim tertinggi. Sesungguhnya, Pengakuan Iman tersebut menyebutkan sejumlah otoritas lain ini dalam bagian ini. Berdasarkan urutan kepentingannya, pernyataan ini menyebutkan konsili-konsili, para penulis dari zaman dahulu (atau para bapa gereja); doktrin-doktrin manusia, yang mengacu kepada ajaran dari para pengajar lainnya di dalam gereja di masa lampau dan di zaman itu; serta pandangan-pandangan pribadi, yaitu pengertian atau keyakinan di dalam hati tentang hal spesifik. Pengakuan Iman Westminster mengakui semua otoritas ini, tetapi memberinya kedudukan sekunder, yaitu sebagai otoritas di bawah otoritas mutlak Alkitab.

Para teolog Katolik kerap menuduh para Reformator menolak otoritas gerejawi, tetapi para Reformator berhati-hati untuk tidak menolak masa lampau ketika mereka mempertahankan doktrin Sola Scriptura.

Yang pertama, kaum Protestan mula-mula kerap mendukung pandangan mereka dengan rujukan kepada para bapa gereja mula-mula. Bahkan, ketika tulisan Calvin Institutes of the Christian Religion direvisi 20 kali, kita menemukan bahwa Calvin terus memperbanyak interaksi dengan para bapa gereja mula-mula. Yang kedua, satu bagian di dalam Institutes of the Christian Religion dengan jelas menyatakan pandangannya tentang otoritas konsili gereja.

Perhatikan ucapan Calvin dalam buku keempat Institutes.
Saya tidak berargumen bahwa semua konsili harus disalahkan atau semua keputusannya harus dinyatakan tidak berlaku, dan (seperti kata orang) harus dibatalkan sekaligus. “Akan tetapi,” Anda akan berkata, “ Engkau merendahkan semuanya, sehingga semua orang memiliki hak untuk menerima atau menolak keputusan konsili.” Sama sekali tidak! Namun, setiap kali suatu ketetapan dari konsili apa pun dikemukakan, saya berharap orang dengan rajin terlebih dulu merenungkan kapan keputusan itu diberikan, tentang isu apa, dengan maksud apa, dan orang seperti apa yang hadir; lalu memeriksa apa yang dibahas oleh keputusan itu dengan standar Alkitab – dan melakukan hal ini dengan begitu rupa sehingga definisi dari konsili itu dapat memiliki bobotnya dan menjadi semacam keputusan sementara. Namun, jangan menghalangi pemeriksaan yang telah saya sebutkan.

Ada beberapa ide penting yang menonjol di dalam perkataan Calvin ini: Pertama, ia menegaskan bahwa konsili-konsili gereja perlu dipahami secara historis. Konsili bukanlah penyataan langsung yang abadi dari Allah sendiri. Metode-metode penafsiran Renaisans – yaitu fokus pada makna harfiahnya – harus diterapkan pula kepada konsili gereja. Orang percaya harus “merenungkan pada saat kapan keputusan itu diadakan, tentang isu apa, dengan maksud apa, dan orang macam apa yang menghadirinya.”

Kedua, tidak mengherankan jika kita melihat doktrin Sola Scriptura mengarahkan Calvin untuk menegaskan bahwa ajaran gereja akhirnya harus dievaluasi di dalam terang Alkitab. Seperti yang ia katakan di sini, “standar Alkitab" harus diterapkan.

Namun, yang ketiga, dan yang paling penting untuk tujuan kita di sini, Calvin mengklaim bahwa doktrin-doktrin dari masa lampau harus diterima “sebagai keputusan sementara.” Artinya, temuan-temuan gereja dari zaman dahulu yang telah lama ada harus kita terima sebagai keputusan sementara atau pendahuluan; kita harus menerima ajaran mereka sampai bobot eksegesis alkitabiah yang teliti membuktikan kesalahan dari hal-hal itu.

Strategi Calvin mencerminkan hikmat yang membimbing semua orang Protestan pada zamannya kecuali mereka yang paling radikal. Mayoritas yang amat besar dari kaum Protestan memahami otoritas yang tinggi dari para bapa gereja mula-mula, dan juga dari pengakuan-pengakuan iman gereja yang harus diakui. Mereka memperlakukan otoritas gerejawi di masa lampau dengan penerimaan sementara, yang dibarengi dengan komitmen pada keutamaan Alkitab.

Sesudah memperhatikan pandangan Protestan mula-mula tentang otoritas gerejawi masa lampau, kita harus beralih kepada bagaimana kaum Protestan memahami otoritas dari karya-karya kontemporer mereka sendiri. Otoritas macam apakah yang mereka akui bagi diri mereka dan orang lain, sementara mereka untuk menjawab isu-isu hal teologis pada saat itu?

Otoritas Protestan Kontemporer
Seperti yang Anda ingat, Gereja Katolik Zaman Pertengahan mengembangkan suatu sistem yang kompleks yaitu otoritas teologis yang masih hidup, dengan paus yang infallible sebagai puncaknya. Reformasi Protestan terutama merupakan penolakan terhadap otoritas gerejawi ini. Hanya otoritas Alkitab yang harus diterima sebagai otoritas yang tidak mungkin diragukan. Paus, konsili-konsili gereja, dan otoritas gerejawi lainnya merupakan otoritas yang fallible dan bisa keliru.

Penting untuk kita pahami bahwa kaum Protestan mula-mula sangat menjunjung tinggi otoritas para guru yang ditahbiskan secara tepat di dalam gereja. Seorang ahli ataupun doktor di dalam gereja patut menerima penghargaan yang tinggi saat mereka mengembangkan teologi Reformasi lebih jauh. Bahkan, kaum Protestan mula-mula dalam hampir semua denominasi merumuskan sejumlah pengakuan iman, katekismus dan kredo mereka sendiri yang diakui sebagai otoritas sekunder di dalam gereja.

Kaum Protestan mula-mula begitu menjunjung tinggi para teolog kontemporer yang ditahbiskan secara tepat sebab mereka percaya bahwa Alkitab mengajar para pengikut Kristus untuk menghormati otoritas-otoritas yang Allah tempatkan di dalam gereja.

Banyak nas Alkitab menyinggung soal ini, tetapi sebagai contoh kita ambil instruksi Paulus kepada Titus di dalam Titus 2:1, 15. Di sana kita membaca kata-kata berikut:

Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:… Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah (Titus 2:1, 15)

Kaum Protestan mula-mula sadar bahwa ada banyak nas Alkitab seperti ini yang mengajar para pengikut Kristus untuk sebanyak mungkin tunduk kepada para pemimpin gereja yang ditahbiskan secara tepat. Membangun teologi Kristen bukanlah tugas bagi perorangan atau kelompok-kelompok yang terpisah dari struktur-struktur otoritas seperti ini.

Keseimbangan di antara otoritas alkitabiah dan otoritas gerejawi ini bisa disimpulkan dengan satu slogan kuno yang sering diulangi di kalangan Reformed. “Gereja Reformed selalu mengalami reformasi,” atau yang sering disingkat dalam frasa Latin semper reformanda: “selalu mereformasi diri.” Slogan ini menyatakan bahwa gereja dari cabang Reformed sepenuhnya mengakui bahwa sepenting apa pun otoritas gerejawi, semuanya itu harus selalu tunduk kepada pemeriksaan yang saksama dari Alkitab.

Sesudah kita melihat gereja di Zaman Pertengahan dan di awal Reformasi, kini kita siap mempertimbangkan topik ketiga dari pelajaran ini: bagaimanakah seharusnya kaum Protestan kontemporer memandang hal ini? Apa yang harus kita percayai tentang otoritas Alkitab dan otoritas gereja pada zaman kita sendiri?

OTORITAS GEREJA KATOLIK ROMA ZAMAN PERTENGAHAN

GEREJA KATOLIK ROMA ZAMAN PERTENGAHAN
Di sepanjang seri pelajaran ini, kita terutama telah memusatkan perhatian pada teologi Reformed atau Protestan, tetapi seringkali akan bermanfaat jika kita mulai dengan Gereja Katolik Roma Zaman Pertengahan sebagai latar belakang bagi pandangan-pandangan Protestan. Seperti yang akan kita lihat, pandangan Reformed tentang otoritas dalam teologi dibangun terutama sebagai respons terhadap kesalahan-kesalahan gereja di Zaman Pertengahan. 

Ketika kita menelusuri gereja Zaman Pertengahan, kita akan menyinggung dua topik: pertama, doktrin Zaman Pertengahan tentang otoritas Alkitab; kedua, pandangan yang dihasilkan tentang otoritas gerejawi. Mari kita perhatikan terlebih dulu otoritas Alkitab di dalam Gereja Katolik Roma Zaman Pertengahan. 

Otoritas Alkitab
Sebelum Reformasi, Alkitab diperlakukan secara berbeda oleh orang-orang yang berbeda dan ordo-ordo yang berbeda di dalam gereja. Meskipun begitu, cukup adil untuk mengatakan bahwa mayoritas yang sangat luas dari teolog Zaman Pertengahan mempercayai otoritas Alkitab, setidaknya secara teori. Akan tetapi, dalam praktiknya, gereja Zaman Pertengahan mengambil sikap terhadap Alkitab yang membuatnya hampir mustahil untuk menindaklanjuti komitmen kepada otoritas Alkitab ini. 

Ketika kita menyelidiki masalah ini, kita akan menyinggung tiga hal: pertama, pandangan ekstrim tentang inspirasi Alkitab pada Zaman Pertengahan; kedua, pandangan yang berlebihan tentang makna Alkitab; dan ketiga, klaim yang berlebihan tentang ketidakjelasan Alkitab. Pertama mari kita pikirkan terlebih dulu tentang pandangan Zaman Pertengahan tentang inspirasi Alkitab.

Inspirasi
Secara keseluruhan, para teolog Katolik Zaman Pertengahan mengakui bahwa Alkitab sepenuhnya diinspirasikan oleh Allah dan diberikan melalui instrumen-instrumen manusiawi. Sayangnya, selama periode sejarah gereja ini, banyak teolog menjadi terlalu ekstrim dalam cara mereka mengerti inspirasi. Mereka menekankan asal-usul ilahi Alkitab dengan mengabaikan asal-usul manusiawi dan historisnya. Zaman Pertengahan menekankan asal-usul ilahi Alkitab secara berlebihan karena sejumlah alasan. 

Sebagai contoh, para teolog Zaman Pertengahan sangat bergantung pada filsafat Yunani, seperti neo-Platonisme dan Aristotelianisme, dan dalam banyak cara filsafat-filsafat ini mengarahkan kategori-kategori dan prioritas-prioritas teologi Kristen. Karena filsafat-filsafat ini lebih menghargai realitas kekal ketimbang realitas sementara dan historis, para teolog Kristen belajar untuk berpikir bahwa asal-usul surgawi Alkitab jauh lebih esensial bagi karakter Alkitab ketimbang asal-usul historis dan manusiawinya. 

Selain hal ini, para sarjana biblika Zaman Pertengahan sedikit sekali mengetahui sejarah kuno zaman Alkitab sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan latar belakang historis Alkitab secara praktis. Jadi, mereka menekankan apa yang mereka ketahui – yaitu bahwa Alkitab mengandung kebenaran abadi yang telah diwahyukan oleh Allah surgawi yang kekal – dan mereka banyak meremehkan pertimbangan-pertimbangan lainnya. 

Penekanan gereja Zaman Pertengahan pada asal-usul ilahi Alkitab juga membawa kepada suatu kepercayaan yang merugikan tentang makna Alkitab. Secara luas diasumsikan bahwa asal-usul surgawi Alkitab mengimplikasikan bahwa Alkitab tidak menyampaikan makna dengan cara yang sama seperti kitab-kitab lain. Sebaliknya, karena Allah yang menginspirasikannya, Alkitab melimpah dengan makna. Banyak teolog abad pertengahan mengikuti Agustinus dalam meyakini bahwa salah satu bukti untuk inspirasi Alkitab adalah bahwa teks Alkitab memiliki makna majemuk. 

Perhatikan bagaimana Agustinus menyatakan ini dalam buku ketiga dari On Christian Doctrine:

Ketika... dua atau lebih tafsiran diberikan terhadap kata-kata yang sama dalam Alkitab, meskipun makna yang dimaksudkan oleh penulisnya tetap tidak ditemukan, tidak ada bahaya... Sebab hal apakah yang lebih berlimpah dan lebih bermanfaat yang bisa Allah berikan sehubungan dengan Kitab Suci yang Sakral selain bahwa kata-kata yang sama dapat dipahami dengan beberapa pengertian? 

Dalam banyak hal, kita dapat mengagumi pandangan Agustinus yang meninggikan Alkitab. Alkitab bukanlah buku biasa, dan banyak kualitasnya yang luar biasa menunjuk kepada inspirasi ilahinya. Kita juga bisa menyetujui bahwa banyak aspek Alkitab hanya dapat dijelaskan dalam kerangka pengawasan adikodrati Allah dalam penulisannya. 

Makna
Akan tetapi, pandangan Agustinus diteruskan lebih jauh lagi. Ia percaya bahwa inspirasi ilahi menyebabkan bagian-bagian Alkitab disarati dengan berbagai makna. Ketimbang memusingkan tentang pemikiran-pemikiran yang ingin disampaikan oleh para penulis Alkitab, Agustinus percaya kita harus memusatkan perhatian pada banyak makna yang Allah maksudkan. Kita akan menyebut pandangannya, dan pandangan-pandangan lain yang berkaitan sebagai “pandangan polivalensi klasik,” yaitu kepercayaan bahwa teks alkitabiah memiliki banyak tingkatan makna atau nilai karena berasal dari Allah. 

Barangkali ekspresi yang paling dikenal luas dari polivalensi klasik ini adalah pendekatan untuk penafsiran yang dipopulerkan oleh John Cassian, yang dikenal sebagai Quadriga. Menurut pendekatan ini, setiap teks Alkitab harus dianggap memiliki empat makna yang berbeda. Pertama, makna harfiah adalah makna langsung atau biasa dari suatu teks. Kedua, makna alegoris menafsirkan teks sebagai kiasan untuk kebenaran doktrinal. Ketiga, makna tropologis atau moral menghasilkan pedoman etis untuk perilaku Kristen. Dan keempat, makna anagogis menunjukkan bagaimana teks tersebut berbicara tentang penggenapan masa depan dari janji-janji ilahi di dalam eskhaton, atau pada hari-hari terakhir.

Detail-detail Quadriga dan ekspresi-ekspresi lain dari polivalensi klasik tidak penting untuk tujuan kita, dan banyak penulis telah menjelaskannya dalam tulisan lain. Kita hanya ingin memahami bahwa pada masa Reformasi, kebanyakan teolog Katolik percaya bahwa makna teks alkitabiah jauh melampaui apa yang kini kita sebut sebagai makna normal atau biasa. Dan secara signifikan, mereka cenderung percaya bahwa makna-makna tambahan ini tidak berakar pada makna yang ingin disampaikan oleh para penulis Alkitab. Bahkan, makna harfiah atau tersurat dari suatu nas kerap dianggap terlalu sederhana bagi perenungan teologis yang serius. Sebaliknya, para teolog didorong untuk mementingkan lapisan-lapisan makna yang lebih dalam dan tersembunyi sebab hal-hal itu menyatakan kedalaman pikiran Allah bagi gereja. 

Ketidakjelasan
Pendekatan Zaman Pertengahan kepada inspirasi dan makna Alkitab mengarahkan kita kepada penekanan yang berlebihan pada karakteristik lain dari Alkitab: ketidakjelasannya. Alkitab akhirnya diperlakukan sebagai sebuah kitab yang sangat tidak jelas, kecuali bagi mereka yang telah menerima wawasan-wawasan supernatural yang khusus. 

Kita tidak perlu heran bahwa isi Alkitab terkesan tidak jelas bagi rata-rata orang Kristen sebelum Reformasi. Pertama-tama, Alkitab sangat langka sehingga orang hampir tidak memiliki akses untuk membacanya. Lagi pula, bahasa Latin adalah bahasa utama Alkitab dan teologi, dan hanya sedikit orang berpendidikan tinggi yang cukup menguasai bahasa Latin cukup untuk dapat menggunakannya. Maka, masuk akal bahwa Alkitab merupakan kitab yang tertutup bagi rata-rata orang Kristen pada zaman itu. 

Akan tetapi, Alkitab juga dianggap tidak jelas bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk membaca Alkitab. Allah telah menaruh banyak lapisan makna di dalam Alkitab yang tersembunyi dari pandangan mata. 

Bayangkan seseorang memperlihatkan sebuah foto dari peti harta yang tertutup kepada Anda, dan meminta Anda untuk memberitahukan jenis harta apa yang ada di dalamnya. Tentu saja, mustahil untuk mengetahui apa yang ada di dalam peti itu sebab harta di dalamnya tersembunyi. Hal yang sama juga berlaku pada Alkitab di dalam gereja Zaman Pertengahan. 

Pada masa Reformasi, kepercayaan tentang ketidakjelasan Alkitab mengakibatkan Alkitab hampir tidak mungkin memiliki otoritas praktis atau nyata bagi perkembangan teologi. Tentu saja, Alkitab secara teori tetap merupakan peti harta Allah yang diinspirasikan bagi teologi Kristen. Akan tetapi, pada intinya, Alkitab tetap tertutup; Alkitab begitu tidak jelas sehingga tidak sanggup menuntun para teolog dalam tugas mereka. 

Sambil mengingat pandangan Zaman Pertengahan tentang otoritas Alkitab, kita siap untuk beralih kepada pertimbangan kedua kita: otoritas gerejawi di dalam gereja Zaman Pertengahan. 

Otoritas Gereja
Pandangan Zaman Pertengahan tentang otoritas gereja berkembang sebagai obat penawar bagi masalah-masalah yang dimunculkan oleh doktrin Zaman Pertengahan tentang Alkitab. Karena Alkitab dianggap tidak jelas, maka Alkitab tidak dapat berfungsi sebagai otoritas atas teologi. Akibatnya, otoritas gerejawi atau gereja mulai memainkan peran yang sangat penting dalam teologi. 

Untuk mengerti peran khusus dari otoritas gerejawi ini, kita akan melihat ke dua arah: pertama, bagaimana para teolog Zaman Pertengahan memahami otoritas gereja di masa lalu mereka; dan kedua, bagaimana mereka memahami otoritas gerejawi di zaman mereka sendiri. Mari kita lihat terlebih dulu otoritas teologi gerejawi dari masa lampau. 

Otoritas di Masa Lampau
Pada masa Reformasi, Gereja Katolik telah mengembangkan pendekatan yang cukup rumit tentang otoritas gerejawi di masa lampau. Tentu saja, Alkitab itu sendiri dilihat sebagai bagian dari warisan gereja. Namun, sebagaimana telah kita lihat, pada Zaman Pertengahan, ajaran-ajaran Alkitab itu sendiri dianggap begitu tidak jelas sehingga diperlukan sumber panduan lainnya. Akibatnya, para teolog Zaman Pertengahan menyelidiki sejarah teologi gerejawi untuk menentukan apa yang harus mereka percayai. Dan mayoritas terbesar dari mereka melihat sejarah gereja sebagai sejarah tentang Allah yang memimpin dan menuntun umat-Nya di dalam jalan-jalan kebenaran. Karena alasan ini, apa yang gereja ajarkan di masa lampau menjadi perhatian vital bagi para teolog Zaman Pertengahan setidaknya dalam dua hal.

Di satu pihak, banyak perhatian diberikan kepada para bapa gereja mula-mula. Tulisan-tulisan dari orang-orang seperti Polikarpus, Ignatius, Irenaeus, Tertulianus dan Yustinus Martir, dan para bapa gereja yang kemudian seperti Agustinus, Athanasius dan Hieronimus – orang-orang ini sangat mempengaruhi kepercayaan dari berbagai ordo di dalam gereja. Memang lazimnya para bapa gereja ini tidak dianggap infallible, dan berbagai cabang gereja cenderung menghargai arus-arus tradisi bapa gereja yang berbeda. 

Namun, secara umum orang masih mengasumsikan bahwa Allah telah memberikan wawasan khusus kepada para teolog agung di masa lampau ini, dan bahwa gereja harus memberi perhatian khusus kepada ajaran mereka. Para teolog Zaman Pertengahan jarang membuat penegasan teologis tanpa sejenis dukungan dari para bapa gereja mula-mula. 

Di pihak lain, gereja Zaman Pertengahan bahkan lebih bergantung pada konsili-konsili ekumenis gereja: konsili Nicea, konsili Konstantinopel, konsili Chalcedon. Temuan-temuan dari konsili-konsili ini dan konsili-konsili lainnya ditanggapi dengan sangat serius. Pada intinya, para teolog Zaman Pertengahan menganggap semua itu sebagai rangkuman yang tidak diragukan lagi dari ajaran Alkitab. Tidak sepaham dengan semuanya itu sama saja dengan tidak sepaham dengan Alkitab dan Kristus. 

Setelah berabad-abad berlalu, banyak ajaran para bapa gereja dan temuan konsili ekumenis berkembang menjadi tradisi gerejawi yang resmi. Dan ketika semua tradisi ini menguat, hal-hal tersebut ikut membentuk dogma ekstensif yang dianut gereja. Dogma gerejawi ini tidak dianggap sebagai teologi manusia yang fallible, tetapi sebagai teologi yang menyandang otoritas yang sama dengan Alkitab. Bahkan, pada intinya, dogma gereja menggantikan Alkitab. Sebelum Reformasi, orang Kristen yang setia tidak diharapkan untuk bertanya, “Apa yang Alkitab katakan?” tetapi “Apa yang gereja katakan?”

Walaupun otoritas gerejawi masa lampau penting bagi gereja Zaman Pertengahan, doktrin Alkitab masa tersebut juga menciptakan kebutuhan akan otoritas teologis yang tinggi pada situasi kontemporer.

Otoritas Kontemporer Zaman Pertengahan 
Yang pasti, gereja terus mengakui otoritas Alkitab dalam teori. Akan tetapi, Alkitab sendiri terlalu tidak jelas untuk memimpin gereja dalam isu-isu kontemporer yang belum diselesaikan di masa lampau. Jadi, bagaimana gereja mendapatkan panduan dalam menghadapi berbagai kontroversi teologis saat itu?

Sederhananya, para teolog abad pertengahan percaya bahwa Allah telah mendirikan suatu sistem otoritas hidup di dalam hierarki gereja, dan hierarki ini melengkapi tubuh Kristus dengan ajaran yang tidak perlu diragukan lagi. Otoritas untuk menyelesaikan kontroversi saat itu ada di tangan para imam, uskup, dan Paus yang oleh banyak pihak dianggap sebagai kepala gereja yang infallible. Ketika ada keputusan teologis yang harus ditetapkan, orang percaya tidak dianjurkan untuk bertanya, “Apa kata Alkitab?” Sebaliknya, mereka didorong untuk bertanya, “Apa yang dikatakan oleh hierarki gereja?”

Beberapa puluh tahun yang lalu saya melayani dalam proyek penginjilan untuk orang-orang jalanan di sebuah negara Eropa Timur, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Pada satu kesempatan, saya menawarkan Alkitab kepada seorang pemuda. Ia berhenti dan berbicara dengan saya, tetapi menolak untuk menerima Alkitab itu. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bisa mengerti Alkitab. Imam saya harus memberitahukan artinya kepada saya.” “Tidak, Anda bisa memahaminya,” saya berkata kepadanya sambil membuka ke Yohanes 3:16, “Coba baca ayat ini dan beri tahu saya apa artinya.” Ia memperhatikan Yohanes 3:16, lalu dengan sangat tulus berkata, “Sudah saya katakan, saya tidak bisa memahami artinya; hanya imam saya yang dapat memberitahukan artinya untuk saya.” Meskipun pemuda itu hidup dalam dunia modern, pendekatannya kepada Alkitab sangat mirip dengan kebanyakan orang Kristen Barat dalam Zaman Pertengahan. 

Jika satu-satunya cara untuk mengerti kehendak Allah adalah melalui otoritas gerejawi, maka tidak ada alasan yang baik bagi orang Kristen biasa untuk memperhatikan Alkitab sama sekali. Jika demikian, yang berfungsi sebagai pembimbing yang infallible bagi teologi kontemporer adalah hierarki resmi gereja, dan bukan Alkitab. 

Dengan mengingat pandangan dari Zaman Pertengahan ini, kini kita siap untuk menghargai bagaimana kaum Protestan mula-mula memahami otoritas alkitabiah dan otoritas gerejawi.

Wednesday, 22 March 2017

Pengertian, Teori dan Sejarah Gereja Dan Misi Dunia

Pengertian, Teori dan Sejarah Gereja Dan Misi Dunia
1. Arti kata sejarah
“Istilah sejarah dalam bahasa arab dikenal dengan tarikh, dari akar kata arrakha (a-r-kh),yang berarti menulis atau mencatat; dan catatan tentang waktu serta peristiwa”. Akan tetapi, istilah tersebut tidak serta merta hanya berasal dari kata ini. Malah ada pendapat bahwa “istilah sejarah itu berasaldari istilah bahasa Arab syajarah, yang berarti pohon atau silsilah. Makna silsilah ini lebih tertuju pada makna padanan tarikh tadi; termasuk kemudian dengan padanan pengertian babad, mitos, legenda dan seterusnya”. Syajara berarti terjadi, syajarah an-nasab berarti pohon silsilah.

Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal, dalam bahasa Yunani historia. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Perancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi; dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis.

Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. “Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodesasi”.

Pengertian Terminologis (Istilahi)
Istilah sejarah, dalam pengertian terminologis atau istilahi, juga memiliki beberapa variasi redaksi. R.G. Collingwood, misalnya mendefinisikan sejarah dengan ungkapan history is the history of thought(Sejarah adalah sejarah pemikiran); history is a kind of research or inquiry (Sejarah adalah sejenis penelitian atau penyelidikan). Pada kesempatan lain, Collingwood memaknakan sejarah (dalam artian penulisan sejarah atau historiografi), seperti membangun dunia fantasi (are peaple who bulid up a fantasy-word). Nouruzzaman Shiddiqie mendifinisikan sejarah sebagai peristiwa masa lampau yang tidak hanya sekadar memberi informasi tentang terjadinya peristiwa itu, tetapi juga memberikan interpretasi atas peristiwa yang terjadi dengan melihat hukum sebab-akibat.

Jauh sebelumnya, Ibn Khaldun (1332 – 1406), dalam kitabnya al-Muqaddimah, telah mendefinisikan sebagai “catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia; tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu, seperti kelahiran, keramah-tamahan, dan solidaritas golongan; tentang revolusi dan pemberontakan rakyat melawan golongan lain; akibat timbulnya kerajaan-kerajaan dan negara dengan tingkatan bermacam-macam kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk mencapai kemajuan kehidupannya, berbagai macam ilmu pengetahuan, dan pada umunya tentang segala macam perubahan yang terjadi di dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.”

R. Moh. Ali, mengemukakan pengertian sejarah mengacu dalam tiga makna:1) Sejumlah perubahan-perubahan, kejadian-kejadian dan peristiwa kenyataan; 2) Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian peristiwa realita; 3) Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian dan peristiwa realitas. Menurut Sartono Kartodidjo, sejarah dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu sejarah mentalitas (mentalited history), sejarah sosial (sosiological history), dan sejarah struktural (structural history).

Hegel berpendapat, bahwa sejarah terbagi menjadi sejarah asli, sejarah reflektif, dan sejarah filsafati. Pertama sejarah asli, yang memaparkan sebagian besar terbatas pada perbuatan, peristiwa dan keadaan masyarakat yang ditemukan di hadapan mereka. Kedua sejarah reflektif, adalah sejarah yang cara penyajiannya tidak dibatasi oleh waktu yang dengannya penulis sejarah berhubungan. Ketiga sejarah filsafati. Jenis ini tidak menggunakan sarana apapun kecuali pertimbangan pemikiran terhadapnya. Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, yaitu merekonstruksi apa saja yang sudah dipikirkan, dikejakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Namun, perlu ditegaskan bahwa membangun kembali masa lalu bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri.

Sejarah mempunyai kepentingan masa kini dan, bahkan, untuk masa akan datang. Oleh kerenanya, orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya. Kenyataannya, sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan disepanjang waktu. Hal ini, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu. Sejarah merupakan suatu dialog yang tiada akhir antara masa kini dan masa lalu. Ini dapat dilihat berdasarkan kerangka keragaman (diversity), perubahan (change), dan kesinambungan (continuity) melalui dimensi waktu. Sejak awal penulisan sejarah (historiografi) identik dengan politik. Bahkan Sir John Seeley, sebagaimana dikutip Mark M.Krug, mengatakan “History is past politics” dan politik adalah sejarah masa kini. Persepsi ini terbentuk karena kenyataan bahwa sejarah dianggap atau diperlakukan sebagai sejarah raja-raja, sejarah timbul atau tenggelamnya para penguasa, sejarah naik dan turunnya dinasti-dinasti, sejarah bangun dan runtuhnya rezim-rezim politik dan sebagainya.

Pada perkembangan penulisan sejarah kekinian berkembang tiga jalur:
  1. Perkembangan sejarah politik yang dominan,
  2. Perkembangan sejarah sebagai biografi, dan
  3. Teori sejarah orang besar
Jadi, berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sejarah mempunyai sifat yang khas, yaitu:
  1. Adanya masa lalu yang berdasarkan urutan waktu atau kronologis.
  2. Peristiwa sejarah menyangkut tiga dimensi waktu yaitu masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.
  3. Ada hubungan sebab akibat atau kausalitas dari peristiwa tersebut 
  4. Kebenaran dari peristiwa sejarah bersifat sementara (merupakan hipotesis) yang akan gugur apabila ditemukan data pembuktian yang baru.
2. Arti kata gereja
Banyak orang yang memandang gereja sebagai gedung. Ini bukanlah pengertian Alkitab mengenai gereja. Kata gereja berasal dari kata bahasa Yunani “Ekklesia” yang didefinisikan sebagai “perkumpulan” atau “orang-orang yang dipanggil keluar.” Akar kata dari ”gereja” bukan berhubungan dengan gedung, namun dengan orang. Adalah ironis bahwa saat Anda bertanya kepada orang mereka pergi ke gereja apa, biasanya mereka akan mengatakan Baptis, Metodis, atau denominasi lainnya.

Banyak kali mereka menunjuk pada denominasi atau pada bangunan. Baca Roma 16:5: “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka...” Paulus menunjuk pada gereja di rumah mereka, bukan pada gedung gereja, namun kumpulan orang-orang percaya. Gereja adalah Tubuh Kristus. Efesus 1:22-23 mengatakan, “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Tubuh Kristus terdiri dari semua orang percaya mulai dari saat Pentakosta sampai saat Pengangkatan. Tubuh Kristus terdiri dari dua aspek:
  • Gereja universal/sedunia yaitu gereja yang terdiri dari semua orang yang memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. 1 Korintus 12:13-14 mengatakan “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” Kita melihat bahwa siapapun yang percaya adalah bagian dari tubuh Kristus. Gereja Tuhan yang sebenarnya bukanlah bangunan gereja atau denominasi tertentu. Gereja Tuhan yang universal/sedunia adalah semua orang yang telah menerima keselamatan melalui beriman di dalam Yesus Kristus.
  • Gereja lokal digambarkan dalam Galatia 1:1-2, “Dari Paulus, seorang rasul, ... dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia.” Di sini kita melihat bahwa di propinsi Galatia ada banyak gereja – apa yang kita sebut sebagai gereja lokal. Gereja Baptis, gereja Lutheran, gereja Katolik, dll bukanlah Gereja sebagaimana gereja universal, namun adalah gereja lokal. Gereja universal/sedunia terdiri dari mereka-mereka yang telah percaya pada Yesus untuk keselamatan mereka. Anggota-anggota gereja universal/sedunia ini sepatutnya mencari persekutuan dan pembinaan dalam gereja lokal. Secara ringkas, gereja bukanlah bangunan atau denominasi. Menurut Alkitab, gereja adalah Tubuh Kristus – setiap mereka yang telah menempatkan iman mereka pada Yesus Kristus untuk keselamatan (Yohanes 3:16; 1 Korintus 12:13). Dalam gereja-gereja lokal terdapat anggota-anggota dari gereja universal/sedunia (Tubuh Kristus). Gereja berasal dari bahasa Portugis: igreja, yang berasal dari bahasa Yunani: εκκλησία (ekklêsia) yang berarti dipanggil keluar (ek= keluar; klesia dari kata kaleo= memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia memiliki beberapa arti:
  • Pertama, gereja ialah 'umat' atau lebih tepat persekutuan orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen. Jadi, gereja pertama-tama bukanlah sebuah gedung.
  • Kedua, gereja adalah sebuah perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Bisa bertempat di rumah kediaman, lapangan, ruangan di hotel, maupun tempat rekreasi.
  • Ketiga, gereja ialan mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristen, misalnya gereja katolik, gereja protestasn, dan lain sebagainya.
  • Keempat, gereja ialah lembaga (administratif) daripada sebuah mazhab Kristen. Contoh kalimat “Gereja menentang perang Irak”.
  • Kelima, gereja secara umum ialah sebuah rumah ibadah umat Kristen, di mana di tempat tersebut umat melakukan ibadah kepada Tuhan yang disembahnya. Gereja (untuk arti yang pertama) terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta, yaitu ketika Roh Kudus yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus.
3. Arti kata misi
Kata “misi” adalah istilah Indonesia untuk kata Latin “mission” yang berarti “perutusan”. Kata “mission” adalah bentuk subtantif dari kata kerja “mittere” (mitto, missi, missum) yang memiliki beberapa pengertian dasar, yaitu: pertama, membuang, menembak, membentur; kedua, mengutus, mengirim; ketiga, membiarkan, membiarkan pergi, melepaskan pergi; keempat, mengambil/ mengendap, membiarkan mengalir (darah).

Di dalam Vulgata, kata “mittere” adalah terjemahan dari kata Yunani “pempein” dan “apostelein” yang berarti juga mengutus. Kedua istilah Yunani ini terdapat 206x di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. “Orang yang diutus” atau “missionaries” diterjemahkan dari kata Yunani “apostolos” terdapat 79x di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, sedangkan tugas yang mereka laksanakan disebut “mission”, sebagai terjemahan dari kata Yunani “apostelo” terdapat 4x dalam Kitab Suci Perjanjian Baru”.

Dalam penggunaan selanjutnya, istilah “misi” dan “apostolate” yang pada dasarnya mempunyai arti yang sama mendapatkan modifikasi pengertian seperti dalam istilah “missionalis apostolatus” (kerasulan missioner) yang dipakai oleh Paus Pius XII dalam ensiklik misi Fidei Donum (1957). Kata “apostolate” atau “kerasulan” dipakai untuk menunjuk kegiatan pastoral umum sedangkan kata “misi” atau “perutusan” dipakai untuk kegiatan penyebaran iman. Istilah “misi” tidak hanya dipakai dalam lingkup keagamaan, tetapi juga di dunia profane seperti misi diplomatis, misi politis, misi ilmu pengetahuan, misi kebudayaan, misi dalam dunia kemiliteran. Semuanya berarti pelimpahan tugas dan tanggung jawab.

Di dalam gereja, istilah “misi” digunakan baik untuk menunjuk kegiatan yang lebih luas dan umum, yakni menyangkut semua kegiatan gereja maupun untuk karya khusus pewartaan dan penyebaran iman Kristen. Pengertian yang terakhir ini menyangkut pengutusan para misionaris. Goerge W. Peters menulis, misi adalah “the total biblical assignment of the church of Jesus Christ. It is a comprehensive term including the upward, inward and outward ministries of the church” menurut penulis ini, “missions” adalah “a specialized term. By it I mean the sending forth of authorized persons beyond the borders of the New Testament Church….”

Yakob Tomatala, mengatakan:
“Misi adalah karya Allah yang menghimpun bagi diri-Nya suatu umat yang bersekutu dengan Dia, melayani Dia dan menyembah Dia dalam hubungan yang harmonis dan utuh untuk kejayaan Kerajaan Allah. Menurut penulis ini, misi adalah karya Allah. Allah berkarya dalam pengutusan-Nya, yang menghimpun umat-Nya untuk bersekutu, menyembah dan melayani-Nya dalam hubungan yang harmonis bagi kejayaan kerajaan-Nya. Selanjutnya dikatakan bahwa penginjilan adalah rancangan dan karya Allah yang menghimpun bagi diri-Nya suatu umat untuk bersekutu, menyembah serta melayani Dia secara utuh dan serasi bagi kejayaan Kerajaan Allah”

Menurut Dr. Y. Jones Akal misi adalah pengutusan untuk pelayanan komperhensif. Pelayanan konperhensif berdiamensi empat yaitu pelayan ke bawah (downward ministry), pelayanan ke atas (upward ministry), pelayanan ke dalam (inward ministry), dan pelayanan ke luar (outward ministry).”

David J. Bosch merumuskan beragam pengertian tradisional tentang misi dan mengusahakan suatu synopsis teologis yang lebih khas sebagai konsep yang telah dipergunakan secara tradisional.

Ia mencatat bahwa kata ini telah diparafrasekan sebagai:
  1. Penyebaran iman;
  2. Perluasan pemerintahan Allah;
  3. Pertobatan orang-orang kafir;
  4. Pendirian jemaat-jemaat baru”.
Menurut penulis, misi adalah pola, cara dan model kerja yang digunakan oleh Tuhan dalam rangka menyelamatkan manusia berdosa yang ada di dalam dunia, sehingga mereka yang diselamatkan oleh Tuhan beroleh hidup yang kekal. Mereka yang diselamatkan oleh Tuhan dihimpun dalam suatu persekutuan dengan tujuan untuk menyembah dan melayani Allah serta menjadi alat anugerah Allah untuk memberitakan Injil kepada dunia.